"Gapapa, lain kali aja, Mas." Ucap Aisya seolah bukan masalah besar jika hari ini tidak ada dokter kandungan dan mereka tidak bisa berkonsultasi mengenai program hamilnya.
"Baiklah, kita ke Abah aja ya? kita syukuran, juga minta doanya dari anak-anak pesantren." Syarif ingat janjinya untuk berbagi di pesantren milik Abahnya tersebut.
"Okaaaay, Mas." Jawab Aisya bersemangat sembari menggandeng tangan Syarif keluar dari tempat itu.
Syarif tau, meski Aisya bersikap ceria dan seolah ini adalah hal yang biasa, namun perempuan itu pasti merasakan kecewa, hari yang ditunggu-tunggunya ternyata tidak menghasilkan apa-apa.
"Mas," Aisya tiba-tiba memanggil laki-laki yang sejak tadi digandengnya, ia menatap Syarif dengan sangat dalam. "Aku mencintaimu." Ucapnya.
Sepertinya kata-kata itu memang wajib diucapkan, agar Syarif mengerti bahwa perempuan itu sangat mencintainya. Meski pada dasarnya laki-laki itu sudah sangat paham bahwa Aisya sebucin itu, begitupun juga dengannya.
"Kamu itu kenapa sih." Ucap Syarif sembari tertawa geli, ia mengelus lembut puncak kepala Aisya yang tiap hari selalu menggemaskan baginya. "Mau dipeluk?"
"Iiih nanti aja akh, diliatin orang." Ucap Aisya. Kini pembicaraan mereka jadi seabsurd itu.
"Jangan pernah tinggalin aku ya, Mas." Ucap Aisya lagi sembari mengeratkan genggamannya.
"Tidak akan pernah, Humairaku." Jawab Syarif meyakinkan perempuan itu. Mana mungkin dia bisa meninggalkan Aisya, saat seluruh hatinya sudah dimiliki perempuan itu.
Pipi Aisya bersemu merah ketika sang suami memanggilnya Humaira, seperti panggilan sayang Rasulullah pada Sang Istri Aisya.
"Maaas," Ditengah perjalanan, setelah mereka tiba-tiba hening dan menikmati langkah menuju parkiran, Aisya membuka percakapan lagi.
"Hmm?" Sahut Syarif, ia tau sekali istrinya itu tidak akan bisa membiarkan ada keheningan diantara mereka. Dan hal itu yang membuat laki-laki itu merasa bahwa hidup dengan perempuan itu seperti berwarna.
Ketika terang tenggelam bersama senja, dan gelap mulai menghadirkan sunyi. Pada saat itu juga, Aisya memeluknya, menanyakan kabar hari itu yang sebenarnya ia tau apa saja yang telah dilalui oleh Syarif. Namun karena ingin semakin dekat dan hangat, Aisya selalu bisa merangkai percakapan, sampai keduanya tertidur.
"Aku lupa ngabarin kamu." Ucap Aisya, ia ingat tadi pagi salah satu murid mendatanginya dan meminta bantuan padanya.
"Ada apa?" tanya Syarif sembari mengalihkan pandangannya kearah perempuan yang ada disampingnya tersebut.
"Tadi Vino menghadap ke aku, dia minta bantuan supaya aku menyampaikan ke kamu, Mas. Mengenai Ekskul Passus." Jawab Aisya, setelah mendengar penjelasan Vino yang tadi pagi menemuinya, perempuan itu ternyata baru menyadari bahwa Syarif dianggap oleh para muridnya sebagai guru terkiller dan menakutkan, bahkan dalam hal sepele pun mereka takut untuk menyampaikannya ke laki-laki itu.
"Ya, kenapa memangnya? Mereka ada masalah?" tanya Syarif yang masih belum menemukan jawaban dari pertanyaan sebelumnya.
Aisya menggeleng, "Aku masih nggak habis fikir, kenapa semua orang kalo liat kamu bawaannya takut mulu, Mas. Padahal bagiku kamu itu seperti Monster Senja, pemilik segala ketenangan." Jelas perempuan itu sembari mengeratkan pelukannya dan bersandar dipundak laki-laki itu, seolah memang tempat itu lah yang sangat nyaman baginya.
"Aisyaaa, aku masih belum ngerti apa yang kamu maksud. Mereka kenapa? Apa yang mau mereka sampaikan?" tanya Syarif.
"Besok, anggota Passus ada lomba disekolahan lain, dan mereka berharap kamu datang untuk melihat perform mereka." Jelas Aisya seperti yang disampaikan oleh Vino tadi pagi.
"Oh. Aku kira apa... Iya, besok kita datang, lagian besok penentuan siapa tim yang akan maju ke tingkat nasional." Ucap Syarif, karena bagaimanapun juga ia masih memantau sampai dimana ekskul tersebut berkembang, ia masih ingat betul ketika masih bersekolah dan menjadi anggota passus, ia dan timnya selalu memborong piala kemenangan. Kini Syarif juga berharap kesuksesannya yang dulu bisa terjadi juga dimasa-masa yang akan datang.
Aisya tersenyum sumringah, "Tapi gimana dengan rencana liburan kita, Mas?" tanyanya yang mengingatkan keduanya bahwa ada rencana liburan untuk besok, namun sampai saat ini mereka tidak menemukan tempat yang pas untuk keduanya refreshing.
"Ngggh iya, jadi gimana?" tanya Syarif bingung, menghadiri lomba tersebut atau berlibur dengan Aisya.
"Melihat mereka perform juga kan kayak liburan, Mas. Jadi kita datang ke acara itu dulu, lalu pergi. Lagian kita juga belum nentuin mau kemana, kan?" Ucap Aisya memberikan saran, daripada mereka bingung sendiri, jadi ada baiknya mereka melakukan apa yang sudah ada didepan mata saja.
"Oke. Yasudah masuk dulu, Abah pasti nyariin kita." Ucap Syarif ketika mereka sampai diparkiran.
"Iya, kita juga belum nyiapin apa-apa buat syukuran." Timpal Aisya, meski sebenarnya mereka sudah menghibahkan persiapan tersebut pada Umik dan pengurus di pesantren tersebut, namun ia merasa harus terlibat juga.
"Kita mampir ke toko kue dulu ya, Mas. Tadi aku sudah pesen sama mbaknya, tinggal ambil aja." Tambah Aisya.
"Oke, Sya." Jawab laki-laki itu sembari mengecup kening Aisya, ia berani melakukan itu ketika sekitar sepi dari lalu lalang orang. Dan hal itu membuat Aisya sangat terkejut, pipinya tiba-tiba memanas. Sudah berapa bulan menikah dengan laki-laki itu, tapi kenapa setiap Syarif berbuat yang manis, yang membuatnya bersemu merah lagi. Sepertinya ia harus lebih membiasakan diri menerima hal-hal tidak terduga dari suaminya itu.
***
Dalam perjalanan menuju pesantren, tepatnya setelah mereka mengambil pesanan di toko kue. Aisya asyik berselfie ria, menampakkan suaminya yang sedang serius menyetir, meski sebenarnya itu sebagai bahan pengalihan Syarif agar Aisya tidak memaksanya untuk ikut eksis.
"Maaas, kamu senyum dikit dong." Ucap Aisya yang kesal melihat wajah datar suaminya.
"Memangnya ini mau kamu post?" tanya Syarif.
"Ya enggak siiih," Jawab Aisya cemberut, ia ingat sesuatu. "Mana mungkin aku membiarkan cewek lain melihat senyum kamuuu." Tambah perempuan itu sembari memasang wajah kesal. "Enak ajaa mereka, aku yang berjuang tahun-tahunan untuk menyatukan urat senyummu, masak mereka yang nikmatin." Gerutu perempuan itu yang mengingat betapa datarnya ekspresi Syarif, betapa dinginnya laki-laki itu, sampai mengobrol dengan Syarif saat itu saja butuh keberanian tingkat dewa. Ckckck, memang dulu Syarif prinsip hidupnya seperti apa sih? sampai mengirit urat senyumnya.
Syarif yang mendengar gerutuan Aisya pun tidak bisa menahan tawanya, "Karena senyum itu hanya bisa dinikmati oleh orang yang membuatku jatuh hati." Ucap Syarif yang membuat Aisya lagi-lagi bersemu merah.
"Maaaas, aku meleleh sumpaaah!" Aisya tidak bisa membiarkan suaminya itu terus mengumbar kata-kata puitisnya, sangat menyebalkna ketika ia ketahuan sedang senyum-senyum sendiri karena Syarif.
Ucapan Syarif itu tidak seperti seorang raja gombal yang siap sedia dengan kalimat-kalimat manisnya, namun ia seperti seorang penyair yang dapat menciptakan kata-kata indah.