Menghadiri lomba passus

1088 Words
“Aku hanya menggertaknya atas tuduhan korupsi dan pencucian uang, tanpa menunjukkan bukti yang lebih spesifik, tapi dia ternyata sudah sangat ketakutan, bahkan dia memberikan lebih dari yang diminta oleh kedua orang tua Wulan.” Jelas Syarif yang membuat Aisya sedikit berpikir. Gertakan yang dibuat oleh Syarif ternyata membuat kedua orang tua Angga ketakutan, padahal Syarif sendiri tidak tau apakah benar pria itu korupsi atas beberapa pambangunan yang ditanganinya, namun melihat pria itu yang sangat ketakutan, membuat Syarif yakin bahwa memang terjadi korupsi dan pencucian uang dalam proyek besar tersebut yang dilakukan oleh ayahnya Angga. “Jadi maksud Mas, orang tua Angga itu bodoh?” tanya Aisya yang tertawa terbahak-bahak, menangkap penjelasan suaminya tersebut. “Itu kenapa kita perlu berpikir matang-matang sebelum mengambil keputusan, dan diperlukan juga orang yang jujur untuk negara ini.” Ucapnya yang miris jika apa yang dilakukan oleh ayahnya Angga itu benar, demi kehidupan pribadinya ia mengambil hak masyarakat. Aisya menghembuskan nafasnya dengan kasar, hingga terasa dipunggung laki-laki itu. “Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat seperti itu ya, Mas. Menjadi pemimpin itu tanggung jawab yang sangat besar.” Ucapnya. “Lalu keadilan seperti apa yang diminta oleh kedua orang tua Wulan, Mas?” tanya perempuan itu. “Yang pertama, mereka ingin nama putrinya tetap bersih dan yang terjadi saat ini tidak menghalangi Wulan dalam meraih cita-citanya, mereka ingin Angga serta keluarganya tidak menampakkan diri didepan Wulan dan keluarganya lagi, mereka meminta agar Angga dan keluarganya pergi dari kota ini dan tidak menghubungi Wulan lagi. Sebenarnya aku sendiri sempat meminta Angga untuk menyerahkan diri karena ini sudah masuk ke tindakan kriminal, tapi kedua orang tuanya memohon agar tidak melanjutkan permasalahan ini ke hukum, dan atas persetujuan orang tua Wulan, Angga akan bertanggung jawab secara finansial. Untuk jumlahnya sesuai kesepakatan mereka, dan tertulis diatas materai.” Jelas Syarif tentang apa yang terjadi tadi, sehingga kedua orang tua Wulan bisa pulang dengan tenang dan memberikan kabar baik untuk putrinya. Aisya lagi-lagi menghembuskan nafas lega, hari itu memang sangat melelahkan bagi suaminya, ia bisa menjadi seorang yang cerdas sehingga lawannya mati kutu. “Aku bangga banget punya suami kayak kamu.” Ucap perempuan itu sembari memeluk Syarif bersama bau minyak angin menyengat diindera penciumannya. Syarif tersenyum, ia berbalik dan menatap Aisya dengan sangat meneduhkan. “Aku jauh lebih bangga punya kamu, kamu bisa menenangkan Wulan disaat masa-masa terendahnya, sehingga dia bisa tenang.” Ucap Syarif. Yah, ternyata keduanya punya peran masing-masing, dan mereka berhasil melewatinya, hari itu dapat terselesaikan, dan semoga Wulan segera membaik dari depresinya, meski bukan hal yang mudah, namun Aisya berjanji akan terus memantaunya. Syarif kembali menyentuh puncak kepala Aisya sembari tersenyum pada perempuan itu. “Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma inni as-aluka min khoirihaa wa khoiri maa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzu bika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaih..” Aisya mengerti bahwa suaminya itu sudah hmmm. Syarif pun mendekatkan wajahnya, sehingga tidak ada sejengkal pun antara dirinya dengan Aisya. “Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa…” *** “Selamat pagi, Humairakuu.” Ucapan itu seiring sebercak cahaya menyilaukan matanya, ternyata sudah pagi, dan Syarif sudah rapi dengan setelah kaos berkerah warna matcha dengan perpaduan celana jogger. Terlihat fashionable sekali suaminya tersebut. “Kelelahan ya?” tanyanya mengingatkan Aisya pada aktivitasnya tadi malam, membuat perempuan itu sudah tersenyum dipagi hari. “Semalam ada yang bilang kelelahan, kok sekarang malah semangat sekali.” Ucap Aisya balik menyindir, ia ingat semalam laki-laki itu terlihat lesu dan kelelahan, namun pagi ini laki-laki itu terlihat bersemangat dan segar dengan rambut yang basah. “Ya kan sudah dapat asupan.” Ucap Syarif yang membuat Aisya cekikikan, dia beranjak dan langsung memeluk suaminya itu dari belakang. “Kenapa menggemaskan sekali sih suamiku ini.” Ucapnya sembari mengeratkan pelukannya. Syarif pun tertawa lalu berbalik dan membalas pelukan itu, “Ayo bersiaplah, kita ke acaranya anak passus, setelah itu kita pergi berlibur.” “Memangnya kita mau berlibur kemana?” tanya Aisya karena sejak kemarin mereka belum memutuskan akan berlibur kemana dan sampai kapan, karena mereka hanya punya waktu satu setengah hari saja. “Kita ke Malang, sudah nanti aja ngobrolinnya, anak-anak udah nungguin.” Ucap Syarif yang melepas pelukan dan berganti dorongan lembut agar perempuan itu segera menuju kamar mandi dan bersiap untuk menghadiri acara passus. *** “Aku sudah siaaap..” Aisya keluar dari kamar dan menuju suaminya yang ada dipelataran, laki-laki itu sedang melihat latihan para anggota passus, yang dikirimkan oleh ketuanya atas permintaan Syarif. “Kita sarapan di luar ya, Mas.” Ucap perempuan itu. “Aku pengen makan pecel madiun.” Tambahnya yang bisa membayangkan betapa enaknya makanan itu disantap dipagi hari. “Perasaan beberapa hari ini kita makan pecel terus, Sya.” Sahut laki-laki itu, bisa-bisa mereka jadi kacang jika setiap hari menu makannya pecel terus. “Tapi kan beda genre pecelnya, ini pecel madiun loh, Mas.” Elak Aisya, seolah banyak pecel yang perlu mereka eksplor lagi. “Memangnya kamu masih mau coba semuanya?” tanya Syarif yang tidak habis pikir. “Iyalah, Mas. Masih ada pecel ndeso, pecel ponorogo, pecel turi, pecel punten, pecel kecombrang, pecel tumpang. Dan aku mau cobain itu semuaa.” Jawab Aisya sangat antusias menyebutkan jenis-jenis pecel yang ada di Indonesia ini. “Kamu mau buat warung pecel?” ucap Syarif sembari beranjak, “Yasudah, kamu tau tempatnya pecel madiun?” tanyanya pasrah dengan keinginan istrinya tersebut, daripada kelaparan. “Tauuuu, ayo cusss.” Aisya pun penuh semangat menuju mobil. Sebelum mereka menghadiri acara passus, mereka wajib makan dahulu. *** “Yaaah, nggak bisa makan ditempat ya, Mas.” Ucap Aisya yang kini membawa dua bungkus pecel madiun, mereka sudah berada ditempat perlombaan dengan perut yang masih kosong. Aisya paling tidak bisa makan didalam mobil, sehingga mereka harus mencari tempat yang nyaman untuk sarapan. “Kita duduk disitu aja, Mas.” Ajak Aisya sembari menunjuk sebuah tempat duduk yang dibentuk seperti sebatang kayu besar. Sembari mengikuti istrinya tersebut, Syarif menghubungi ketua passus yaitu Vino bahwa mereka sudah berada ditempat, namun sedang sarapan. “Vino sudah kamu hubungi, Mas?” tanya Aisya yang juga takut kalau muridnya menunggu kedatangan mereka, padahal mereka sudah ada ditempat tersebut namun sedang sarapan. “Sudah, tenang aja. Mereka sedang persiapan.” Jawab Syarif. “Okay.” Aisya membuka sebungkus nasi pecel madiun yang dipesannya tadi, ia melihat suaminya masih sibuk dengan ponselnya saja. Aisya pun membukakan sebungkus nasi pecel milik Syarif. “Sudah, makan dulu. Taruh ponselnya.” Ucap Aisya sudah seperti ibu kepada anaknya, tidak biasanya perempuan itu bersikap seperti itu, padahal biasanya Syarif lah yang menasehatinya seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD