“Syarif, siapa dia sebenarnya?” tanya pria itu pada seseorang yang ada sedang dihubunginya, ia pamit ke kamar mandi setelah mempersilahkan Syarif dan yang kedua orang tua Wulan untuk duduk.
Setelah beberapa menit ia menunggu seseorang itu mencari tau, pria itu mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan, tidak ada sama sekali informasi yang ia dapatkan, kepala sekolah Angga itu hanya seorang guru dan penulis biasa, namun bagaimana bisa mengetahui semua kebobrokannya, bahkan boroknya selama ini yang sangat ia sembunyikan dan pastikan bahwa tidak ada yang mengetahuinya, laki-laki itu juga mengetahui bahwa Angga harus sekolah di Indonesia, karena jika ia ditolak di SMA manapun, otomatis putranya itu harus bersekolah di luar negeri dan itu akan membutuhkan budget yang tidak sedikit.
“Bapak tidak perlu mencari tau tentang saya secara sembunyi-sembunyi seperti ini. Percuma sekali. Yang saya mau sekarang, Cuma berikan keadilan untuk Wulan dan keluarganya. Hanya itu.” Ucap seseorang dari belakang tubuh pria itu, sehingga membuatnya terpaksa menutup panggilan tersebut.
“Eh, baik. Kita bicarakan.” Pria itu berjalan melewati Syarif dan mempersilahkan laki-laki itu untuk kembali ke ruang tamu.
Disana telah ada kedua orang tua Wulan yang begitu cemas, antara kesal dan khawatir apa yang akan dilakukan oleh ayahnya Angga, sedangkan Syarif hanya memperlihatkan wajah datar dan tak tersentuhnya. Benar-benar laki-laki yang tidak bisa ditebak.
“Jadi, apa yang kalian mau?” tanya pria itu.
Kedua orang tua Wulan saling bertatapan, lalu mengalihkan pandangannya kearah Syarif secara bersamaan.
***
Syarif bersama kedua orang tua Wulan sudah sampai di rumah, dan mereka memberanikan diri untuk masuk kekamar, melihat putri mereka yang sedang tertidur pulas.
Aisya yang ada disamping Wulan pun terbangun ketika Syarif menyentuh puncak kepalanya, ia segera beranjak dan mempersilahkan kedua orang tua Wulan untuk mendekat ke putrinya. Ibu gadis itu pun mengelus lembut pipi Wulan, ia merindukan putrinya yang dulu, yang ceria dan sangat hangat.
“Gimana, Mas?” tanya Aisya.
Syarif memberi isyarat dengan tersenyum simpul, agar perempuan itu tidak membicarakan hal tersebut dahulu.
“Nak, ibu ada disini.” Bisik wanita itu pada Wulan, ia ingin membawa putrinya itu pulang, ia ingin memperbaiki semuanya dan memulai kehidupan putrinya itu dari awal.
Gadis itu perlahan membuka mata, sayup-sayup ia melihat kedua orang tuanya sedang tersenyum kearahnya. Ia hendak mengucapkan sesuatu, namun dihentikan oleh ibunya.
“Ibu dan Ayah sangat menyayangimu, kita pulang, kita buat cerita baru yang bahagia ya, Nak.” Ucap wanita itu dengan sangat lembut, hati seorang anak akan luluh mendengarnya.
“Maafin Wulan, Bu, Yah…” Wulan menangis dalam pelukan kedua orang tuanya, namun ibu dan ayahnya berusaha tegar, ia tidak boleh memperlihatkan kesedihannya didepan Wulan. Mereka harus memberikan motivasi untuk putrinya itu tegar.
“Keadilan yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan, Nak. Kamu nggak perlu mengkhawatirkannya lagi.” Ucap ayahnya Wulan.
Aisya yang mendengarnya pun ikut bahagia, apa yang telah terjadi tadi sehingga mereka bisa mendapatkan keadilan itu dalam kurun waktu yang tidak sampai berhari-hari.
“Kita pulang ya.” Wanita itu mengajak Wulan untuk pulang, ia juga merasa tidak enak pada Aisya dan Syarif karena telah melibatkan mereka dalam masalah keluarganya.
Sembari mengantarkan satu keluarga itu kedepan rumah, Aisya yang menggandeng tangan Syarif pun masih mencuri pandang ke suaminya itu, ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu.
Setelah mengantarkan Wulan dan istrinya ke mobil, ayah Wulan kembali ke Syarif dan Aisya untuk berpamitan.
“Saya berterima kasih sekali karena telah dibantu banyak oleh Pak Syarif dan Bu Aisya, saya tidak tau bagaimana anda bisa menggertaknya dan membuatnya tidak bisa berkutik, namun berkat Pak Syarif, anak saya mendapatkan keadilan, anak saya akan terlepas dari Angga dan keluarganya. Terima kasih banyak Pak, anda sangat hebat.” Ucap pria itu sembari menjabat tangan Syarif, seolah laki-laki itu sangat berjasa baginya dan keluarga. “Dan terima kasih juga untuk Bu Aisya, karena telah menjaga dan merawat Wulan sampai dia mulai membaik kondisinya.”
“Sama-sama, Pak. Kita senang sekali jika Wulan lebih membaik kondisinya dan sekaligus mendapatkan keadilan. Kalo ada apa-apa hubungi kita, selagi kita bisa bantu, kita akan semaksimal mungkin membantu.” Ucap Aisya yang merasa Wulan tetap butuh dampingan, tidak semudah itu mengeluarkan seseorang dari depresi.
“Kalo gitu, saya pamit. Sekali lagi terima kasih banyak. Assalamualaikum.” Pria itu berpamitan sembari berbalik menuju mobilnya dan tidak lama kemudian ia bersama keluarganya keluar dari pekarangan rumah Syarif.
“Aku buatin teh dulu ya, Mas. Kamu mau langsung istirahat atau didepan?” tanya Aisya pada suaminya.
Laki-laki itu memijat pelipisnya, “Aku mau langsung ke kamar aja ya, Sya.” Ucapnya, hari ini benar-benar sangat melelahkan, otak dan logikanya bekerja sangat keras.
Aisya yang mengetahui suaminya itu sangat lelah pun mengembangkan senyum sembari menggandeng tangan dan mengantarkannya ke kamar. “Mas bersih-bersih dulu, nanti aku nyusul bawa teh hangat spesial yang paling uwu. Okeee?” ucapnya berusaha menghibur, dan itu berhasil, Syarif tersenyum senang sembari mengusap puncak kepalanya lalu mencium kening perempuan itu.
“Oke, aku tunggu ya.” Ucapan itu penuh arti, membuat otak Aisya traveling.
Perempuan itu pun tersenyum penuh makna. “Tapi kamu harus cerita dulu apa yang terjadi hari ini.” Ucapnya sembari berbalik untuk ke dapur menyiapkan teh hangat untuk suaminya tersebut.
***
Setelah teh buatannya selesai, Aisya masuk kedalam kamar dan mendapati suaminya sudah duduk diranjang sembari membaca sebuah buku. Kebiasaannya tiap malam sembari menunggu Aisya.
“Teh hangatnya, Sayang. Ayo balik badan, aku gosok pake minyak angin dulu.” Ucapnya yang ditangannya sudah membawa sebotol minyak angin, ini menjadi rutinitas barunya semenjak menjadi istri, ia paling suka menggosok minyak angin ketika Syarif sudah terlihat kelelahan.
Seperti perintah Aisya, Syarif pun membuka bajunya dan mengambil posisi membelakangi Aisya. Sembari menggosok punggung laki-laki itu, ia jadi ingat masa lalunya ketika melihat punggung Syarif yang berlalu meninggalkannya sewaktu SMA, masa dimana laki-laki itu sedingin es padanya, ia kira hanya bisa mengagumi punggung tersebut, tapi ternyata sekarang ia bisa menyentuh dan memilikinya.
“Jadi tadi gimana? Kenapa bisa semudah itu membuat keluarga Angga setuju? Ya sebenarnya Alhamdulillah sih, tapi aku penasaran aja. Apalagi liat reaksi ayahnya Wulan, seolah-olah kamu itu pahlawannya.” Ucap Aisya begitu penasaran.
“Setelah mendengar kejujuran Wulan, dan sebelum orang tuanya datang, aku mencari tau tentang keluarga Angga, siapa ayahnya. Dan aku mendapatkan informasi kalo dia mempunyai jabatan tinggi di kota ini, lalu beberapa kali menangani proyek-proyek besar seperti pembangunan stadion Giri, Jalan Raya Patas dan jembatan di desa Terong Wangi.”