Kedatangan Syarif ke rumah Angga

1049 Words
“Angga adalah pacarnya Wulan,” Jawab pria itu setelah beberapa waktu menimang. Pertanyaan Syarif tiba-tiba membuatnya berpikir sesuatu. Apakah putrinya tersebut hamil oleh Angga? Apakah laki-laki yang selama ini dianggapnya sangat bertanggung jawab, ternyata yang telah merampas masa depan putrinya? “Apa Angga?” Perempuan itu tidak lagi meneruskan pertanyaannya, ia tau arti dari pembicaraan suami dari gurunya Wulan tersebut. Ia tidak menyangka akan seperti ini terjadi, laki-laki yang datang ke rumahnya dengan sopan dan baik, tidak lebih hanya seorang binatang. Meskipun jika memang iya, perbuatan itu atas persetujuan dengan putrinya, namun disaat seperti ini harusnya Angga ada buat Wulan. “Setelah mendengar kejujuran Wulan, saya harus meminta pertanggung jawaban Angga, karena bukan hanya menghamili, tapi Angga juga yang meminta Wulan untuk menggugurkan kandungannya.” Jelas Syarif yang membuat keduanya terkejut, mereka tidak menyangka dengan apa yang diungkapkan oleh laki-laki itu. Setelah Wulan sedikit tenang, akhirnya gadis itu berani bercerita pada Aisya dan Syarif tentang kronologi yang terjadi, bahkan saat Angga memberikan dua pil untuk menggugurkan kandungan yang hampir juga merenggut nyawanya karena kehabisan darah. “b******k, b******n dia.” Umpat pria yang dimatanya penuh kekecewaan, sedangkan wanita yang ada disampingnya berusaha menenangkan dengan mengelus-elus lengannya, pria itu punya riwayat stroke, ia takut penyakit tersebut kambuh. “Sabar, Yah.” Ucap wanita itu sembari berlinang airmata, kini bukan saatnya ia juga marah besar, ia harus bisa tenang dan menenangkan suaminya itu. “Ibu dan Bapak lebih baik menenangkan diri dulu. Setelah itu kita ke rumah Angga.” Ucap Syarif. *** Syarif dan kedua orang tua Wulan menggunakan mobilnya, sudah sampai didepan rumah mewah, megah dan luas milik keluarga Angga. Mereka berhenti didepan pos security. “Maaf dengan siapa dan cari siapa?” tanya pria itu keluar dari pos dan menghampiri Syarif. “Saya Syarif, gurunya Angga. Saya mau bertemu dengan orang tuanya. Bisa?” Jawab Syarif dengan tegas dan tenang. Orang yang mendengarnya pun jadi segan. “Ada keperluan apa ya, Pak?” tanya security itu lagi. “Saya mau mengundang ayah dari Angga untuk menghadiri rapat, karena beliau dipilih menjadi ketua komite sekolah.” Jawab Syarif. “Oh, baik-baik. Sebentar ditunggu, Pak.” Ucap pria itu sembari berlari ke pos untuk menghubungi tuan rumahnya, lalu tidak lama kemudian pria itu memberikan izin Syarif masuk kedalam pekarangan rumah tersebut, rumah yang benar-benar megah, disamping rumah tersebut ada lapangan golf pribadi dan beberapa tanaman langka tumbuh ditaman rumah itu. “Yah, yakin kita bisa?” tanya wanita itu setelah melihat semuanya. “Kalau bukan kita, siapa yang akan memperjuangkan Wulan, Bu?” ucap pria itu yang membuat Syarif terenyuh. Yah, siapa lagi kalau bukan kedua orang tua Wulan? Siapapun orang tuanya, pasti mereka tidak ingin melihat anaknya berada difase paling terendah ini, mereka tidak akan kuat menyaksikan putrinya hampir saja meninggal dan berusaha bunuh diri kembali karena keputus-asaannya. Orang tua mana yang tidak sakit masa depan putrinya direnggut begitu saja oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Perjuangan mereka adalah kekuatan Wulan sekarang, meski sebenarnya mereka harus maju-mundur mendapati sosok yang akan dimintai pertanggung jawaban, dengan jabatannya bisa saja nama baik dan kasusnya diputar seolah keluarga Wulan lah yang bersalah. “Ibu jangan khawatir, saya juga orang tua Wulan di sekolah, saya akan memperjuangkannya juga, sampai dia mendapatkan keadilan.” Ucap Syarif yang juga merasa ini adalah tanggung jawabnya sebagai orang tua, ia harus menjaga dan merawat Wulan sampai gadis itu membaik lagi. Saat memarkirkan mobilnya tepat dipelataran rumah tersebut, seorang pria dengan jas hitam dan tampilan yang perfeksionisnya tersenyum ramah ketika Syarif turun dari mobil, lalu disampingnya ada seorang wanita dengan pakaian glamor dan perhiasannya pun ikut tersenyum, dan satu orang lagi yang ada dibelakang mereka; yaitu Angga, ia sama dengan kedua orang tuanya, menyambut Syarif dengan senyuman, seolah tidak ada masalah yang terjadi, tiba-tiba Syarif menjadi kesal sendiri, harusnya laki-laki itu tidak ada disana, harusnya Angga ada untuk menemani Wulan yang sedang berjuang difase paling terendahnya, harusnya laki-laki itu merangkul dan menggenggam tangan Wulan agar perempuan itu tidak merasa sendirian seperti sekarang. “Selamat malam, Pak Syarif.. Kenapa tidak mengabari dulu kalau mau kesini?” tanya pria itu begitu akrab. Suara itu berhenti, dan senyuman yang tadinya mengembang dari keluarga tersebut berubah, wajah mereka jadi masam setelah melihat kedua orang tua Wulan turun dari mobil. Apalagi Angga yang mundur selangkah ketika kedua orang tua Wulan menghampirinya. “Enak ya kamu disini senyum-senyum, setelah mau bunuh anak saya!” Ucap ibunya Wulan yang coba ditahan oleh suaminya. “Hei, jaga bicara kamu ya! Siapa yang mau bunuh anak kamu. Ngaco!” Ucap wanita yang tadinya bersikap elegan dengan senyumannya kini marah karena anaknya disebut pembunuh. Namun ibunya Wulan tidak bisa menahan amarahnya melihat Angga pada saat itu. “Bisa kita ke dalam? Kita bicarakan ini secara kekeluargaan dan tenang.” Ucap Syarif menengahi kedua ibu tersebut. “Tapi maaf, Pak. Kalau Cuma untuk ngomongin ini kita nggak punya waktu.” Ucap pria itu dengan mudahnya dan tidak ada lagi sikap wibawanya, seperti anaknya; pria itu tidak lebih dari anak remaja yang lari dari kesalahan. “Bukannya tadi Bapak sudah menyambut saya? Dan ini bukan Cuma, ini masalah besar yang harus diselesaikan.” Jawab Syarif yang mengkoreksi ucapan pria didepannya, mau tidak mau mereka harus menemukan titik terang hari ini. Semua yang ada disana terdiam. “Anda tadi kesini untuk mengundang saya karena terpilih menjadi ketua komite, tapi ujung-ujungnya bahas hal lain, ya saya berhak untuk menolak, dan ini rumah saya, saya bisa melakukan apapun disini.” Ucap pria itu tidak mau kalah. “Begitu, Pak? Baiklah, artinya Bapak sudah siap jika besok pagi ada panggilan dari kepolisian atas tindakan korupsi dan pencucian uang untuk pembangunan Stadion Giri, Jalan Raya Patas, dan jembatan Desa Terong Wangi. Angga juga harus siap besok masuk ruang BK dan mendapatkan surat bahwa dia harus dikeluarkan dari sekolah, saya pastikan juga Angga tidak diterima di SMA manapun.” Ucap Syarif yang membuat semua orang disana terperangah, apalagi pria yang ada didepannya. Bagaimana bisa semua kecurangan ayah Angga diketahui oleh Syarif, bahkan sangat detail. Laki-laki itu tersenyum miring, seolah ia menjadi orang paling jahat dengan mengungkap segala kesalahan pria didepannya. “Pa,” Bisik wanita yang tadinya terlihat marah kini berubah menjadi cemas. “Ba-baik, kita ke dalam. Silahkan.” Ucap pria itu mempersilahkan Syarif dan kedua orang tua Wulan untuk masuk kedalam rumah megah tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD