"Mas, kenapa?" Aisya terkejut karena Syarif mengerem mobilnya secara mendadak.
Syarif belum menjawabnya, mungkin karena ia juga terkejut dan coba menetralisir dirinya sendiri. Lalu Aisya pun mengalihkan pandangannya ke depan, kearah jalanan. Ternyata ada seseorang berdiri tepat di mobilnya.
"Wulan?" ucap Aisya setelah mengetahui siapa seseorang tersebut.
Syarif pun langsung turun dari mobilnya, ia menghampiri gadis itu yang sekarang meringkik terduduk, ia menangis sejadi-jadinya disana.
"Wulaan," Aisya juga menyusul Syarif untuk menghampiri Wulan, dan dipeluknya gadis itu.
Aisya ikut menangis ketika gadis itu menangis histeris, ia tidak tega dengan apa yang telah terjadi pada Wulan, memang diluarnya gadis itu tidak terluka, namun didalamnya ia sudah hancur.
"Apa yang kamu lakukan, Lan." Ucap Aisya yang sadar bahwa Wulan ingin menabrakkan dirinya ke mobil, membiarkan tubuhnya juga hancur seperti hati dan batinnya.
Gadis itu hanya terdiam sembari masih terus menangis.
"Sya, bawa ke mobil aja. Ayo." Syarif meminta Aisya untuk membawa Wulan ikut kedalam mobilnya.
Gadis itu pun tanpa menolak, mau diajak Aisya masuk kedalam mobil.
Didalam mobil Aisya masih memeluk Wulan, menyalurkan kehangatan dan meyakinkannya bahwa hidup Wulan belum berakhir, masih banyak orang yang peduli padanya, Wulan masih berhak melanjutkan hidup dan lebih bahagia lagi.
Wulan kini berhenti menangis, namun pandangannya kosong. Luka yang cukup besar telah membuatnya sedepresi ini.
"Bu Aisya," Ucap gadis itu setelah beberapa waktu terdiam dan berperang dengan pikirannya sendiri.
"Iya, Lan? Kenapa? Kamu mau apa?" tanya Aisya, sebisa mungkin dia akan menjaga gadis itu agar tidak melakukan tindakan seperti tadi yang bisa menghilangkan nyawanya.
"Wulan mau ke rumah Angga." Ucapnya, ia berpikir harus menunjukkan kondisinya sekarang pada laki-laki itu. Ia telah membuat keluarganya malu dan hidupnya berantakan, ia tidak mau menanggungnya sendiri sedangkan kesalahan itu diperbuatnya bersama Angga, kekasihnya.
"Biar Pak Syarif saja yang ke rumahnya, lebih baik kamu kembali istirahat ya." Sahut Syarif yang merasa tidak memungkinkan Wulan mendatangi Angga dalam keadaan seperti sekarang, yang ada malah akan sangat ribut. "Kita balik ke rumah sakit, keluarga kamu sudah menunggu." Tambahnya, yang sejak tadi dihubungi oleh keluarga Wulan, namun mereka lebih sedikit tenang ketika Syarif memberi kabar bahwa putri mereka telah bersama Syarif dan Aisya.
Wulan segera menggeleng lalu mendongak menatap Aisya, "Wulan masih belum siap melihat Ayah dan Ibu, mereka pasti sangat kecewa dengan Wulan. Wulan nggak mau ketemu mereka dulu." Air matanya kembali berlinangan, memohon pada Aisya bahwa ia tidak ingin bertemu dahulu dengan keluarganya, rasa bersalahnya sangat besar hingga tidak sanggup melihat wajah kecewa kedua orang tuanya.
"Mereka masih sangat menyayangimu, Wulan... Mereka ingin..." Aisya melihat Wulan yang menatapnya dengan wajah memohon.
Ya, Mereka tidak bisa memaksa Wulan untuk bertemu dengan keluarganya dulu, akan semakin menekan emosi dan membuatnya semakin depresi. Lalu perempuan itu mengangguk, "Baiklah, kita pergi ke rumah saja, Mas. Biarkan Wulan tinggal sebentar dengan kita, sampai keadaaan membaik." Ucapnya yang membuat Syarif melihat kaca mobil kearah perempuan itu, dan Aisya memberikan isyarat agar suaminya itu melakukan seperti yang dimintanya.
Dan seperti permintaan Aisya, Syarif pun putar balik dan kembali menuju ke rumahnya.
***
Aisya mengkompres kaki Wulan yang bengkak, setelah membuatkan gadis itu s**u putih.
"Apa mereka semua menghujat keluargaku, Bu?" Ucap gadis itu sembari matanya kosong menerawang jauh. Yang ada dalam pikiran dan kekhawatirannya sekarang adalah nama baik keluarganya. Mungkin nama baiknya sendiri juga telah hancur, namun ia tidak ingin membawa nama keluarganya dalam masalah ini.
Aisya berpindah tempat ke samping Wulan, ia mengelus pundak gadis itu. "Nggak. Nggak ada yang tau tentang masalah ini. Percaya sama Ibu, Ibu yang menjamin orang-orang itu tidak akan menghujat kalian." Ucap Aisya meyakinkan gadis itu bahwa keadaan merka akan tetap baik-baik saja. "Sekarang, yang terpenting adalah kamu harus kuat, kamu harus bangkit, masa depan kamu masih panjang, dan diluar sana masih banyak kebahagiaan yang lain." Tambahnya sembari merangkul dan membawa anak didiknya itu berada dalam pelukan.
Terkadang orang yang sangat kita percaya, lebih banyak punya kesempatan untuk menhancurkan diri kita.
Namun tinggal pilih, mengambil kesempatan itu atau menjaga kepercayaan.
Seperti Angga, yang telah mendapat kepercayaan itu dari Wulan maupun keluarganya untuk menjaga hubungan mereka, namun nafsu membuat ia mengambil kesempatan itu. Ia menghancurkan sendiri kepercayaan itu hingga membuat keadaan menjadi seriuh ini.
"Tapi Bu, keluarga Angga bukan orang yang main-main." Ucap Angga yang takut malah akan tejadi apa-apa dengan keluarga dan gurunya tersebut. Ia hanya ingin mencari keadilan itu sendiri tanpa melibatkan siapapun.
"Siapapun orangnya, mereka Hamba Allah. Yang sekali Allah mengucap kun fayakun, semuanya bisa terjadi pada mereka. Kamu nggak perlu khawatir. Serahkan semuanya sama Allah, ya." Ucap Aisya kembali meyakinkan bahwa tidak ada Dzat Yang Maha Segala selain Allah.
Saat Aisya masih didalam kamar dengan Wulan, Syarif berada diluar sembari menunggu kedatangan kedua orang tua Wulan. Bagaimanapun juga kedua orang tua Wulan harus mengetahui keadaan putrinya, meski gadis itu sendiri menolak.
Laki-laki itu melihat sebuah mobil berhenti dipelatarannya, dan tidak lama kemudian sepasang suami istri menghampirinya dengan wajah cemas.
"Pak, gimana keadaan Wulan? Apa dia baik-baik saja?" tanya wanita paruh baya sembari menatap kedalam rumah berharap bisa melihat putrinya.
"Bu, tenang dulu." Sahut pria disampingnya sembari menahan wanita itu agar tidak masuk dan menemui Wulan seperti yang diminta oleh Syarif saat ditelepon. Syarif melakukan itu agar memberi ruang untuk Wulan tenang.
"Tolong Ibu dan Bapak tenang ya, kita beri waktu untuk Wulan menenangkan diri. Dia hanya takut mengecewakan Ibu dan Bapak, dia masih belum sanggup untuk bertemu." Ucap Syarif memberikan pengertian bahwa bukannya melarang, namun hal itu ia lakukan demi kesehatan mental gadis itu.
Pria yang ada didepannya mengangguk dengan pasti, ia memahami apa yang dimaksud oleh Syarif.
"Mmm, saya boleh menyampaikan sesuatu?" tanya Syarif.
"Boleh, Pak. Gmana Pak?" tanya pria itu.
"Tadi Wulan sempat meminta untuk pergi ke rumah Angga, dia ingin mencari keadilan. Kalau boleh tau siapa Angga dan kenapa dia?" tanya Syarif beigut hati-hati, meski sebenarnya ia sudah tau dari semua kejadian tersebut bahwa Angga adalah penyebabnya, namun ia ingin mendengarkan hal itu langsung dari kedua orang tua Wulan.
Pria itu saling bertatapan dengan wanita disampingnya yang kini sudah mulai sedikit tenang.
"Kalau bisa saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Wulan," Ucap Syarif yang ia ingin memperjuangkan hak Wulan sebagai seorang perempuan.