"Assalamualaikum," Aisya memasuki dapur yang disana sudah ada Umik dan beberapa santriwati, mereka sedang mempersiapkan masakan untuk syukuran. "Aisya bawa kue, Mik.. Piringnya dimana?" Ucap perempuan itu saat wanita paruh baya menghampirinya sembari tersenyum lebar karena ekspresi Aisya yang menggemaskan.
"Kok repot-repot sih, Sya. Udah banyak loh yang dimasak." Ucap wanita tersebut.
"Masakan Umik kan berat, kue ini untuk camilan aja. Lagian Aisya sangat berterima kasih sekali karna sudah dibantuin masak oleh Umik dan santriwati lainnya." Ucap perempuan itu.
Aisya meletakkan kue kebeberapa piring yang sudah dicuci dan dibersihkannya, ia melihat keluar dimana ada Syarif sedang mengobrol dengan Abah dan Vero. Aisya juga menghubungi sahabatnya Adiva untuk datang membantu, sekaligus temu kangen karena sudah beberapa bulan tidak bertemu. Adiva baru saja menyelesaikan pasca sarjananya di luar kota, perempuan yang sampai saat ini masih fokus ke pekerjaan dan pendidikan.
"Assalamualaikuuuum. Umik," Baru saja ada dalam ingatan Aisya, perempuan yang dimaksud datang dan menyalami Umiknya yang sedang membantu Aisya meletakkan kue dipiring.
"Kemana aja sih lo! Lama banget." Gerutu Aisya yang sebenarnya hanya untuk menggoda sahabatnya itu saja. Ia paling suka melihat Adiva cemberut karena omelannya.
"Jalan macet, ada truk berhenti." Ucap Adiva yang kesal karena baru saja datang sudah disuguhi protesan dari Aisya.
"Lah ngapain truk berhenti lo ikut berhenti?" Balas Aisya mendengar jawaban Adiva yang tidak masuk akal.
"Truknya mogok. Ya Rabb, Aisya udah dong, baru ketemu juga udah ngajak debat aja." Gerutunya kesal.
Aisya dan umik pun tertawa melihat ekspresi menggemaskan Adiva yang sedang kesal.
Aisya ingat betul ketika dulu masih berjuang untuk bersatu dengan Syarif, sahabatnya itu selalu ada menguatkan.
Setelah sedikit bersenda gurau sembari menyiapkan makanan, Aisya keluar.
"Mas, udah siap." Ucapnya pada laki-laki yang masih asyik mengobrol dengan abahnya. Sepertinya banyak sekali yang disampaikan oleh Syarif.
"Oke, Sya." Jawabnya sembari beranjak.
Acara pun dimulai, abah memimpinnya dengan sangat khusyuk, dibagian membaca surat Yasin, Abah meminta Syarif yang memimpinnya.
Tanpa menolak laki-laki itu pun menyanggupinya, dan betapa membuat Aisya kagum, Syarif melantunkan ayat demi ayat dengan sangat merdu, para santri pun serempak membacanya juga.
Acara berjalan dengan sangat khidmat.
Hingga pada saat doa, abah membubuhkan "Huwallazi yusawwirukum fil-ar-hami kaifa yasya`, la ilaha illa huwal-'azizul-hakim" berkali-kali hingga tanpa sadar membuat air mata Aisya mengalir deras. Terdengar juga seluruh yang berada disana mengaminkan dengan keras, seolah mengerti apa yang menjadi kegusaran pemilik hajat.
Adiva bingung, kenapa? apa yang terjadi pada Aisya? Oh ya, sejak berada diluar kota memang Aisya jarang memberinya kabar, apa ada sesuatu yang terjadi saat ini pada Aisya?
Mendengar doa Abah, Adiva mengerti bahwa hajat Aisya memang ingin mendapatkan momongan, suatu hal yang wajar bagi keluarga kecil seperti Syarif dan Aisya. Namun kenapa Aisya sesedih itu?
"Kak Syarif," Suara itu terdengar dari balik tubuh Syarif yang sedang berada didepan rumah.
"Adiva, iya kenapa?" tanya Syarif melihat perempuan itu menghampirinya. "Aisya belum menceritakannya?" tambahnya seolah sudah mengerti maksud dan tujuan Adiva menghampirinya.
Perempuan itu mengangguk, sudah tidak diragukan lagi insting Syarif, ia bisa langsung tau maksudnya menemui Syarif.
"Aku nggak berani tanya langsung ke Aisya, memangnya ada apa?" tanya Adiva penasaran. "Aku tau setiap orang yang menikah pasti ingin mendapat momongan, kalian baru saja menikah..." Ia tidak meneruskan ucapannya, karena merasa ada hal lain yang membuat Aisya menjadi sesedih itu.
"Ada baiknya juga kamu untuk nggak tanya ini ke Aisya, cukup kamu menguatkannya saja. Aisya sempat hamil, tapi kita belum tau, sampai pada suatu waktu Aisya mengalami keguguran dan dokter menyatakan kalo Aisya punya PCOS dan kista sehingga kandungannya lemah, kecil sekali kesempatan untuk punya anak lagi." Jelas Syarif atas apa yang telah terjadi, yang telah mereka lewati.
"Ya Allah, Aisya." Ucap perempuan itu terkejut dengan kenyataan yang ada, sahabatnya yang terlihat ceria tersebut menyimpan luka sedalam itu.
"Aku harap kamu bisa menguatkannya." Ucap Syarif, mungkin dengan adanya Adiva dapat membuat Aisya sedikit menahan keegoisannya.
"Tentu, Kak." Ucap Adiva. "Yang passus besok katanya ada lomba ya, Kak?" tanya perempuan itu tiba-tiba, karena dari ekor matanya melihat Aisya sedang menuju kearahnya dengan Syarif.
Seolah mengerti perempuan itu sedang mengalihkan pembicaraan karena ada Aisya datang, Syarif pun menimpalinya. "Iya, datang ya."
"Div, enak-enakan ya lo disini, ogah bantuin didalem." Ucap Aisya menggoda perempuan itu. Ia tau semuanya sudah selesai di bersihkan, namun karena umik memanggilnya akhirnya Adiva harus sendirian dan memilih keluar ruangan.
"Udah kali, lo ya dari tadi ngajak gue ribut aja." Ucapnya ysng tidak sinkron dengan gerakan tubuhnya, ia memeluk Aisya saat sedang berdebat.
"Kenapa heh?" tanya Aisya yang merasa ada sesuatu.
"Ngggh gapapa," Adiva tidak mau dia ketahuan sedang sedih memikirkan kondisi Aisya saat ini. "Aku sedih lagi putus cinta." Tambahnya meyakinkan Aisya bahwa tidak ada apa-apa, ia sudah berjanji pada Syarif untuk tidak mengungkit masalah itu bersama Aisya.
"Nggak nggak, mana mungkin lo putus cinta." Ucap Aisya tidak percaya Adiva sedang putus cinta.
"Maksud lo? lo kira gue apaan nggak bisa putus cinta?" Ucapnya yang sebenarnya membenarkan ucapan Aisya, sejak lahir ia tidak pernah mempunyai hubungan dengan laki-laki, mungkin ada kalanya ia jatuh cinta pada seseorang, namun itu hanyalah jatuh cinta, tidak berharap untuk memiliki.
"Sudah selesai beres-beresnya, Sya?" tanya Syarif membuyarkan perdebatan antara kedua sahabat itu.
"Sudah, Mas. Mau pulang? Kan besok kita honey moon." Ucap Aisya sembari mempertegas kalimat terakhirnya.
Adiva mengerti sekali kalau perempuan itu sedang menyindirnya.
"Iyaaa, yang mau honey moon, iya. Pulang dulu sana." Ucap Adiva yang membuat Aisya dan Syarif tertawa, sepertinya ia harus mencarikan jodoh untuk sahabatnya itu, sudah waktunya perempuan itu berkeluarga.
"Gitu aja ngiri." Celetuk Aisya.
***
Setelah banyak mengobrol dengan Adiva, Aisya dan Syarif pun berpamitan pada abah dan umiknya, lalu segera menuju mobil untuk pulang.
"Kamu cerita sama Adiva ya, Mas?" tanya Aisya yang langsung skakmat Syarif.
Ini pasti Adiva yang tidak bisa berpura-pura untuk tidak tau.
Syarif terdiam, apa mungkin ia jujur pada Aisya bahwa Adiva menghampirinya untuk tau sesuatu yang terjadi.
"Aku juga kenapa nggak cerita sama dia, Adiva pasti kecewa sama aku." Ucapnya yang diluar ekspektasi Syarif. Perempuan itu malah menyalahkan dirinya sendiri.
"Jangan membiasakan untuk menyalahkan diri sendiri." Jawab Aisya, karena memang ini bukan kesalahannya.
"Mas," Belum juga menyelesaikan pembicaraannya, Aisya mau beralih ke topik lain.
"Hmm?"
"Keadaan Wulan gimana ya, Mas? Apa dia udah baikan?" tanya Aisya yang mengingatkan Syarif, laki-laki itu juga ingin tau kabar tentang muridnya tersebut.
Aisya merasa banyak sekali disekelilingnya yang sedang depresi, mulai dari Warna hingga Wulan.
"Oh ya, kita belum tau kabarnya." Ucap Syarif sembari melihat ke jam tangannya, waktu masih menunjukkan tidak terlalu malam. "Coba aku hubungi orang tuanya, "
Namun belum sempat menekan tombol panggil, panggilan dari orang tua Wulan masuk. Syarif pun menjawab teleponnya dan mengaktifkan speaker agar Aisya juga dapat mendengarnya.
"Pak, apa Bapak tau keberadaan Wulan? Setelah operasi, dia melarikan diri dari rumah sakit Pak." Ucap pria itu histeris, membuat Syarif dan Aisya terhenyak. "Saya sudah hubungi teman-temannya, tapi nggak ada yang tau."
"Pak, kalo boleh tau laki-laki yang dekat dengan Wulan akhir-akhir ini siapa?" tanya Aisya.
Dari seberang belum ada jawaban, "Angga. Dia pacarnya Wulan, Pak." Ucap pria itu pada akhirnya. "Apa Wulan ke rumah Angga ya?" tanya pria itu yang menyadari bisa saja Wulan nekat ke rumah Angga.
Namun tiba-tiba disaat mobil melaju dengan kencang, sosok perempuan berlari ke tengah jalan dan berhenti disana sembari merentangkan tangannya untuk siap dihantam oleh kerasnya mobil.
"Ya Allah, Maaaaas." Aisya berteriak saat Syarif dengan sekuat tenaga mengerem mobil tersebut.