Aisya mendatangi Alfa lagi

1746 Words
“Aku berangkat dulu ya, inget, jangan masak apapun, tunggu aku pulang." Ucap Syarif dia mengkhawatirkan Aisya beraksi lagi di dapur. Dan bukannya menghasilkan makanan lezat, malah dapur yang gosong. "Iya iya sayaaang. Love you, mumumuuu." Ucapnya sembari mengecup pipi Syarif meski harus menjinjit. Halal mah bebas. Syarif tersenyum, "Kadar absurdmu masih ya." Laki-laki itu membalas kecupan Aisya di pipi perempuan itu. Aisya mengelus pipi Syarif, "Kayaknya ini," dia menekan telunjuknya pelan di pipi Syarif, "Akan menjadi santapanku setiap hari." Bukannya bergidik ngeri melihat Aisya yang seperti itu, Syarif malah mendaratkan kecupan dibibir perempuan itu. "Dan ini yang akan menjadi santapanku setiap hari." Ucapnya sembari tertawa puas melihat Aisya yang tertegun kaget. Aisya lalu mengkibas-kibaskan tangannya kearah Syarif, "Ya Allah suamiku kenapaaaaa. Dia menjijikkan sama halnya akuu. Tolong Ya Allah. Kak, aku mau nanti kita ke rumahnya Abah, aku mau ruqyah kamu." Aisya heboh karena mendapat balasan yang mengejutkan dari Syarif. Niatnya menggoda Syarif, kenapa malah dia yang digoda. "Gak perlu. Mencium istri sebelum keluar rumah itu malah dianjurkan kok. Kenapa harus di ruqyah?" Ucap Syarif. "Iya bener sih. Tapi... akh yasudah deh." Aisya kalah berdebat dengan suaminya kali ini. Mungkin tidak kali ini, tapi setiap kali. "Yaudah, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum. " "Waalaikumsalam." Aisya mencium tangan Syarif. Kemudian laki-laki itu mencium kening Aisya seperti biasanya. Setelah itu Syarif berjalan gontai keluar rumah, sedangkan Aisya menatapnya dengan nanar. Dia sangat mencintai Syarif, sangat, cintanya tidak pernah berkurang bahkan semakin bertambah. Tapi terkadang cinta itu harus dibagi, agar seseorang juga bisa merasakan betapa tulus cinta itu. Aisya hendak kedalam kamar untuk mengambil tas dan bergegas pergi ke sebuah rumah yang akan menjadi tujuannya. Namun pintu depan terdengar diketuk dari luar. Rumah sebesar itu memang tidak ada asisten rumah tangga, karena asisten rumah tangga yang sebelumnya sedang pulang kampung dan sementara tidak bisa bekerja. Aisya berbalik lagi untuk membuka pintu. "Assalamualaikum." Suara itu sangat lembut didengar begitupun pemilik suaranya yang enak dilihat. "Waalaikumsalam, Dokter Warna ada apa Dok?" Tanya Aisya kaget dengan kedatangan Warna. Aisya merasa Warna sudah seperti sahabatnya sendiri. Bersikap sangat baik dan peduli padanya ketika sakit bahkan sampai dirumah. "Hanya mau ngecek keadaanmu, dan mau main juga, mumpung lagi libur." Ucap Warna. "Oh iya boleh-boleh, kebetulan aku mau ke rumah seseorang. Mau ikut?" "Mau. Dengan senang hati." Jawab Warna. "Oke deh. Kita masuk yuk, aku ganti baju dulu." "Iyaa." *** Mereka sudah sampai di depan rumah seseorang yang sejak kemarin ingin dikunjungi oleh Aisya. "Assalamualaikum." Ucap salam Aisya dan Warna. "Waalaikumsalam." Suara itu muncul dari dalam rumah, dan seorang perempuan bersama bayi kecil yang menggemaskan muncul dari dalam rumah. "Eh Aisya, udah sembuh kamu? Kok main kesini gak bilang-bilang?" Tanya Alfa melihat Aisya ada didepan rumahnya. "Alhamdulillah udah enakan kok. Jadi aku sempetin main kesini. Oh ya, kenalin ini Dokter Warna." Ucap Aisya. "Iya udah kenal kok, Dokter Warna yang ngerawat kamu kan? Dokter Warna banyak tanya tentang kamu. Salut deh, perhatian banget sama pasiennya." Ucap Alfa yang membuat mimik wajah Warna berubah. Entah karena apa. Sedangkan Aisya terhenyak kaget, di ber wah ria. "Eh ayo masuk dulu. Kok kita ngobrolnya didepan rumah ya." Ucap Alfa seperti tidak ada beban sedikitpun setelah ditinggal oleh Faruq. Setelah mereka duduk, "Bentar ya aku buatin minum dulu." Ucap Alfa masuk kedalam rumah menuju dapur. Tidak lama kemudian, "Dokter Warna sebentar ya aku mau ke kamar kecil dulu." Ucap Aisya. Tapi bukan sesuai tujuannya, Aisya berbalik menuju dapur. Dia melihat masih ada Alfa disana. "Alfa," panggil Aisya. Alfa pun berbalik untuk melihat Aisya sembari masih menggendong Rubi. "Iya Aisya? Ada apa?" Tanyanya. "Sini aku bantu gendong Rubi. Kamu pasti kerepotan." Aisya sudah mengambil alih tubuh mungil gadis kecil itu. Alfa terkekeh, "Makasih loh Sya." Perempuan itu meneruskan menyeduh teh hangat. "Kasihan kamu kalo apa-apa sendiri. Harusnya ada yang bisa bantu kamu. Setidaknya gendong Rubi kayak gini kalo kamu lagi masak." Ucap Aisya. "Ya Sya udah biasa kok. Mas Faruq kan juga sering keluar kota. Jadi ya kerjaan kayak gini biasa aku lakuin sendiri." Jawab Alfa. "Tapi apa kamu mau selamanya ngelakuin ini semua sendiri?" Tanya Aisya yang buat Alfa berhenti mengaduk dan berbalik melihatnya. "Maksud kamu apa Sya?" "Aku bukannya mau ngingetin kamu dan buat kamu sedih. Tapi kamu ingat kan permintaan terakhir Kak Faruq? Dia ingin Kak Syarif bisa sama kamu, jaga kamu, jaga Rubi. Aku nggak keberatan kok. Aku malah seneng kalo kita bisa sama-sama." Ucap Aisya. Alfa langsung mengambil alih Rubi dari gendongannya. "Sya, kita bisa sama-sama, tapi tidak dengan Kak Syarif. Kenapa kamu selalu menanyakan ini? Aku nggak pernah mempermasalahkan permintaan terakhir Mas Faruq. Dengan menjadi saudara kalian, aku sangat bersyukur, aku juga tidak takut Rubi kehilangan kasih sayang. Karena Rubi sudah mendapatkannya dari kalian sebagai Amma dan Ammu. Aku bisa hidup sendiri, asal ada kalian sebagai saudaraku. Hanya itu." Jelas Alfa yang belum sempat diucapkannya. "Kamu tau, sejak dulu, sejak kita masih SMA, aku memang pernah sangat mencintai Kak Syarif, tapi aku sadar cinta Kak Syarif itu akan selalu untuk kamu. Bahkan ketika kamu menghilang, dia berusaha sekali untuk menjadi orang yang sukses, yang nantinya akan membuatmu bahagia tanpa kekurangan meski hanya menjadi seorang guru. Apa kamu lupa dia memperjuangkanmu, meski waktu itu kamu sudah dilamar orang. Kak Syarif, dia tidak akan mencintai siapapun selain kamu. Bahkan nanti apabila dia benar-benar harus menikah denganku, dia tidak akan tulus mencintaiku. Kak Syarif tidak mau itu. Dia sadar, dia tidak akan bisa adil, karena orang yang selama ini dicinta hanya kamu, Sya. Kamu." Alfa terus menyadarkan Aisya. Tanpa sadar perempuan itu menitikkan air mata. "Lalu gimana dengan aku yang tidak sedikitpun membuat dia bahagia? Bahkan memberikan keturunan pun tidak bisa, kandunganku lemah, Al. Aku tidak bisa membuatnya bahagia selama menikah denganku. Pernikahan selain sebagai ladang pahala, juga untuk membuat keturunan kan? Dan aku tidak bisa." Aisya terus menyalahkan dirinya. Alfa paham, dia mengelus lengan Aisya. "Sya, keturunan adalah titipan dari Allah. Dan mungkin apa yang aku katakan ini sudah dikatakan oleh Kak Syarif sebelumnya. Kak Syarif adalah imam yang baik. Dia tidak akan membenci ketika pasangannya buruk. Malah dia akan semakin mencintai apabila pasangannya itu berusaha baik. Mas Faruq dan Kak Syarif adalah orang yang sama kepribadiannya. Dia akan selalu membimbingmu. Kamu, jangan pernah berpikiran untuk mencari perempuan lain sebagai salah satu penikmat cinta Kak Syarif, karena tidak akan ada yang mendapatkan cinta itu. Bahkan jika kamu meminta aku sekalipun." Alfa mengeratkan tangannya di lengan Aisya, memberi keyakinan pada perempuan itu. Ia memahami apa yang dirasakan oleh Aisya, merasa sudah gagal menjadi seorang istri yang membahagiakan suaminya, namun Alfa jauh lebih tau siapa Syarif, laki-laki yang dulu sangat ia kagumi bahkan segala hal tentangnya Alfa ketahui, laki-laki yang tidak mudah merubah perasaannya, dan selama ini yang ia tau hanya Aisya pemilik hati Syarif. "Percayalah." Tambah Alfa kembali meyakinkan Aisya, perempuan itu harus membuka matanya lebar-lebar, bahwa Syarif akan menerima ia apa adanya. "Sudah puas?" Suara itu muncul dibelakang tubuh Aisya. Suara yang sangat Aisya kenal, yang selalu mengucapkan selamat pagi setiap ia membuka mata. Perempuan itu terhenyak ketika melihat Syarif ada disana. Sejak kapan laki-laki itu berada disana? Apa dia mendengar semua percakapan Aisya dengan Alfa. "Puas atas jawaban Alfa?" Syarif mengulangnya. Wajah laki-laki itu tidak tersentuh. Aisya langsung menghambur dipelukan suaminya itu. "Maafkan aku, Kak. Maaf. Aku mencintaimu." Ia merasa bersalah telah melakukan hal besar ini tanpa sepengetahuan Syarif, sebagai suaminya. "Sya udah, malu sama Rubi." Alfa menutup mata Rubi seolah tidak boleh melihat adegan pelukan Aisya. Namun Alfa juga menahan tawanya melihat betapa Aisya sangat manja pada Syarif. Apakah bisa mereka dipisahkan? "Biarin. Aku cinta Kak Syarif." Ucapnya masih memeluk erat laki-laki itu. Sebenarnya karena takut laki-laki itu marah dengan yang dilakukannya saat ini. Apalagi jika Syarif mendengar semua percakapannya tadi dengan Alfa. "Percuma. Kalo aku bilang gitu kamu gak pernah percaya. Kamu lebih percaya omongannya Alfa." Ucap Syarif tak tersentuh, meski sebenarnya laki-laki itu hanya menggoda, dan Alfa masih berusaha menahan tawanya agar tidak terdengar. "Enggak enggak. Aku percaya sama kamu, Kak. Percayaaa banget. Jangan bilang gitu." Aisya menangis sesenggukan dipelukan Syarif. Ia masih takut melihat laki-laki itu marah, namun kenapa dia seberani itu bersikap. Syarif pun membalas pelukan itu dengan mengeratkan tangannya di pinggang Aisya. "Jangan lakuin ini lagi. Aku bener-bener gak suka." Ucap Syarif menenangkan. Disana ia ingin memberi pengertian bahwa sudah cukup dengan apa yang dilakukan oleh Aisya hari ini, ia berharap kejadian itu tidak terulang lagi. Syarif ingin perempuan itu menyadari bahwa dirinya lah satu-satunya orang yang hatinya begitu dijaga oleh laki-laki itu. "Iya kak iyaaa." Jawab Aisya masih menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Syarif. ia menghirup aroma vanilla kesukaannya, beberapa waktu ini mereka memang sedang suka parfum beraroma vanilla, hingga mereka tidak berpikir Panjang untuk membeli dan stok parfum tersebut untuk waktu yang Panjang. “Yasudah, kita pamit pulang dulu ya, Al. Maaf sudah mengganggu waktumu dengan Rubi.” Ucap Syarif sembari menggandeng perempuan disampingnya untuk beranjak keluar dari dapur. Slruupppp…. Ingus Aisya sudah dimana-mana, ia menarik lagi cairan kental itu agar tidak membanjiri kerudungnya. “Aisya…” Alfa tidak habis pikir kenapa perempuan itu sangat jorok saat menangis. “Untung cantik.” Tambahnya sembari berdecak, kembali ia melihat kearah Syarif yang tidak merasa risih sedikitpun dengan tingkah istrinya itu. “Maaf dia kelepasan, yasudah. Assalamualaikum.” Pamit Syarif yang merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. “Eh, Kak. Tapi ada Dokter Warna, kita pulang deng…” Ucap Aisya yang dipotong oleh Alfa. “Biar Dokter Warna disini denganku, kalian pulang duluan aja ya.” Alfa ingin memberi waktu untuk mereka berdua, Syarif pasti punya cara menenangkan Aisya yang masih saja menangis. “Iya, minta tolong kamu temani Dokter Warna dulu ya, Al. Makasih banyak.” Ucap Syarif membawa Aisya keluar dari ruangan tersebut lalu melewati ruang tamu yang disana ternyata sudah tidak ada siapa-siapa, terus dimana Warna? Tapi karena tidak ingin membuat laki-laki itu marah lagi, Aisya hanya diam dan mengikuti langkahnya keluar dari rumah tersebut untuk menuju ke mobil dan pulang. Syarif, adalah definisi laki-laki bucin yang dibalutnya dengan charisma luar biasa, hingga yang melihatnya berdecak dan bertepuk tangan karena kagum. Laki-laki yang berusaha menerima setiap kekurangan Aisya, yang menyeimbangi perempuan itu, meletakkan dirinya bukan didepan, melainkan disamping sembari terus menggandeng tangan Aisya. Ia selalu mengartikan gandengan tangan itu sebagai bentuk dari caranya untuk melindungi dan menjaga Aisya. Dan lagi-lagi, siapapun yang melihatnya akan menganggap hal itu bukan salah satu unsur bucin, namun mereka akan menganggap Syarif adalah ksatria sesungguhnya dalam suatu hubungan. “Kak,” Aisya membuka suaranya sebelum masuk ke mobil. “Hmm?” Syarif tidak menoleh kesamping, pandangannya tetap kedepan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD