"Sudah, berhenti nangisnya. Aku tidak memarahimu, atau menegurmu. Tapi dari tadi kamu terus-terusan menangis." Ucap Syarif yang ada disamping Aisya.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang, setelah perempuan itu dengan tidak jelasnya memanggil Syarif lalu tidak melanjutkan ucapannya. Ia masih takut laki-laki itu akan memarahinya jika berbicara.
Aisya berusaha menahan tangisnya, namun ia sendiri tidak tau bagaimana caranya berhenti, ia begitu menyesal atas apa yang telah dilakukannya, kenapa ia bisa bersikap bodoh seperti tadi, mengambil keputusan yang gegabah disaat pikirannya sedang kalut.
Perempuan itu juga menyesal telah meragukan cinta Syarif yang begitu besar padanya, hingga berusaha mencari perempuan sebagai penggantinya memberi keturunan. Tapi sekarang dia sadar, bukan itu yang diinginkan suaminya. Laki-laki itu menerima Aisya sebagaimana istri sempurna dalam hidupnya.
Perempuan mana yang tidak Bahagia mendapatkan suami seperti Syarif.
"Maafin aku, Kak.." Aisya menenggelamkan wajahnya di lengan Syarif yang sedang menyetir. "Aku sangat menyesal. Aku mencintaimu."
Slurrpppp…
Lagi-lagi ingus Aisya hendak keluar, sehingga ia harus menariknya lagi agar tidak mendarat dilengan baju suaminya itu.
Kini lengan Syarif bergetar, membuat perempuan yang sesenggukan itu mendongak untuk menatap wajah laki-laki itu.
Sembari menghapus ingusnya yang hendak keluar itu dengan tisu, perempuan itu bertanya "Kenapa?"
"Sudah berapa kali kamu bilang cinta? Aku tau kamu sangat mencintaiku, Sya. Sudahlaah." Ucap Syarif yang malah ingin tertawa melihat istrinya menangis. Ia mengelus lembut puncak kepala Aisya untuk berusaha menenangkannya.
"Tapi aku hampir saja kehilanganmu..." Aisya berhenti berbicara ketika Syarif menatapnya. Tatapan itu sangat meneduhkan.
"Tidak akan ada yang kehilangan. Mengerti? Sudah, sekarang hapus airmatamu. Kamu mau kemana?" Tanya Syarif mengalihkan pembicaraan agar perempuan itu lebih membaik.
Akhir-akhir ini mereka memang jarang pergi berdua, apalagi sejak kejadian Aisya keguguran. Perempuan itu memilih berada di rumah, menyendiri dengan pikirannya yang tidak-tidak. Harusnya Syarif tidak membiarkan perempuan itu sendirian dan merenungi hal-hal yang membuat pikirannya semakin kalut.
"Aku gak tau." Aisya berusaha menghapus airmatanya seperti perintah Syarif. Ia mengambil tisu untuk mengusap airmata dan ingusnya.
"WBL? Wego? pilih mana?" Tanya Syarif coba memberi referensi perempuan itu, berharap Aisya akan memilih salah satu atau pilihan lain yang diinginkan oleh istrinya tersebut.
Setelah menangis, Aisya merasa otaknya tidak bisa diajak berpikir keras.
"Wego? Kenapa tidak." Ucapnya sembari masih menahan ingusnya yang hendak keluar lagi. "Kak tisu kita habis." Dia menyodorkan kotak tisunya yang sudah kosong. Syarif pun mengalihkan pandangannya ketempat sampah dan beberapa tisu sudah menggunung disana.
"Kita mampir supermarket dulu. Kamu sih kebanyakan nangis, sampek tisunya habis. Hmm." Ucap Syarif dengan nada menggoda.
"Iya iya, Kak maaf. Tapi bisa agak lebih cepat sampek di supermarketnya?" Ucap Aisya seolah sedang buru-buru.
“Memangnya kenapa?” Syarif pun menoleh dan melihat perempuan itu sudah menahan ingusnya dengan kerudung yang dia pakai. Syarif menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu, ia pun segera tancap gas. "Kita balik ke rumah dulu aja, aku nggak mau bawa anak kecil yang ingusnya dimana-mana."
Mendengar itu, Aisya pun menatap kerudungnya sudah penuh dengan bekas ingus. Ah menjijikan juga pikirnya. Sudah seperti anak kecil. Apakah Alfa yang melihatnya tadi juga berpikiran seperti itu padanya?
Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap kembali ke rumah sebelum pergi ke liburan dadakan mereka.
Sekarang tidak ada lagi memaksa Syarif menerima perempuan lain, atau juga tidak ada lagi mencari perempuan pengganti. Tidak akan ada. Aisya akan tetap menjadi satu-satunya perempuan yang dicintai Syarif. Meski dengan kekurangannya, Aisya akan berusaha menjadi istri sempurna bagi laki-laki itu.
Jika Syarif sudah menjadi suami sempurna, kenapa dia juga tidak berusaha melakukannya sebagai istri.
***
"Kak, ada dramulun. Naik itu yuk." Aisya menarik tangan laki-laki itu untuk mengikutinya.
Tujuan mereka berubah, akibat Aisya yang terlalu lama berdandan, membuat waktu mereka tersita cukup banyak. Dan perjalanan ke wisata Wego tidak dapat ditempuh dengan waktu yang tersisa karena tempat itu akan tutup dimalam hari.
Akhirnya mereka menjadwal ulang liburan ke wisata itu. Dan memilih liburan dadakan kali ini ke pasar malam yang dekat dengan rumahnya. Meski masih sore, tempat itu sudah ramai pengunjung.
Tempat hiburan yang hitz dahulunya, menjadi destinasi yang menarik bagi mereka berdua. Sudah jarang sekali ditemukannya pasar malam. Dan sudah jarang juga pengunjung, yang dahulunya didominasi oleh anak-anak. Sekarang, mereka lebih tertarik dengan permainan yang ada dalam ponsel, daripada pergi mengelilingi permainan yang ada didalam tempat itu.
Aisya sendiri masih menyukai tempat itu, lampu warna-warni dan suara-suara khasnya masih membuat perempuan itu rindu dengan masa kecilnya. Beberapa makanan yang ada dimasa kecilnya juga ternyata masih dijual disana. Membuat Aisya sangat Bahagia malam itu.
"Apa itu dramulun?" Tanya Syarif yang menahan langkahnya untuk tidak ikut Aisya.
"Itu loh Kaaak." Aisya menunjuk sebuah permainan berbentuk lingkaran besar, disetiap sudutnya ada lampu warna-warni. Dan memiliki beberapa keranjang, yang nantinya akan mereka masuki. Dan permainan itu biasa disebut bianglala.
"Aisyaa, darimana kamu mendapatkan sebutan itu?" Syarif tertawa terpingkal-pingkal mendengar sebutan aneh bianglala.
Beberapa pengunjung yang melewati mereka memperhatikan Syarif yang sudah seperti hiburan bagi mereka, apalagi para perempuan dengan mata memuja. Aisya yang tidak suka itu segera mencubit lengan Syarif.
"Kak, diam." Aisya mendengus kesal. Antara tidak suka ditertawakan, atau tidak suka suaminya menjadi pusat perhatian.
"Maaf maaf, kamu aneh sih." Ucap laki-laki itu sembari merangkul Aisya. Yang membuat perempuan-perempuan dengan mata memuja seketika menunduk dan memegangi dadanya. Mereka merasa nyeri dengan tiba-tiba dibagian dadanya.
Aisya melirik mereka dengan senyum kemenangan, dan seolah berkata "Heiii, dia sudah halal menjadi milikku ya. Melihatnya lagi, ku cocol mata kalian."
"Sudaaah, jangan cemburu seperti itu." Ucap Syarif yang membuat perempuan itu langsung kelabakan.
"A-apa Kak?" Aisya berpura-pura tidak paham.
"Aku baru saja memberitahu mereka kamu milikku." Ucap Syarif sembari lebih mengeratkan rangkulannya. "Maaf ya tadi kelepasan, kamu sih." Laki-laki itu tau istrinya sedang cemburu dengan pandangan-pandangan perempuan yang ada disana padanya.
"Ih, apasih." Aisya masih dengan kepura-puraannya. Ia tidak mau dianggap mudah cemburu dan jatuhnya akan posesif. Namun apa boleh dikata, dia tidak bisa menyangkal bahwa memang dirinya sedang cemburu melihat tawa suaminya dikagumi oleh perempuan lain.
"Jadi naik apa tadi namanya?" Syarif mengalihkan pembicaraan, ia rasa hal itu tidak perlu diperpanjang.
"Dramulun Kak, waduh." Ucap Aisya yang kesal karena suaminya tidak juga mengerti, ia berpikir Syarif tidak pernah ke pasar malam, sampai-sampai permainan itu saja tidak tau sebutannya.
"Iya itu, jadi gak?"
"Jadi lah. Sambil menatap senja." Aisya memasang wajah sendu. Membayangkan mereka berdua menaiki bianglala sembari menatap senja dan matahari terbenam dari atas, Aisya mendaratkan kepalanya dipundak Syarif, dan laki-laki itu menggenggam erat tangannya. Pasti akan sangat menyenangkan.
Setelah selesai menikmati bianglala, keduanya turun, Aisya memegangi lengan Syarif dengan bergetar.
"Mana yang namanya nikmatin senja." Syarif menggerutu. "Orang tiap sampai atas teriak-teriak, hmm." Laki-laki itu masih memegangi Aisya yang bergetar karena takut. Ekspektasi yang disampaikan oleh perempuan itu tidak sesuai dengan realitanya. Aisya malah berteriak-teriak saat sampai diatas, apalagi kalau keranjang yang mereka naiki berderit karena gesekan antar besi. Bukannya Syarif yang menggenggam tangan Aisya, malah perempuan itu yang mengeratkan pegangannya dan menutup rapat matanya.
Untuk menetralkan rasa tegangnya perempuan itu, Syarif pun menuju tempat penjual air mineral, dan segera menyodorkan satu botol untuk istrinya. Laki-laki itu masih menertawakan tingkah Aisya yang awalnya sangat bersemangat, sekarang mati kutu karena ketakutan.
"Kamu tau Kak," Aisya membuka percakapan.
"Gak tau." Syarif memotong ucapan Aisya yang hendak bercerita. Mereka kembali berkeliling, dan Aisya sudah sedikit reda ketakutannya.
"Kok gitu sih, aku mau cerita." Gerutu Aisya yang merasa Syarif sedang menggodanya.
"Iya iya, cerita gih." Sahut Syarif, dia yakin Aisya akan bercerita tentang ketakutannya dan mengutarakan segala alasan agar tidak dianggap lemah.
"Kamu tau Kak, setiap naik ke atas, jantung itu langsung kayak berhenti berdetak gitu. Langsung keringat dingin. Kayaknya keranjangnya itu perlu diperbaiki, banyak besi-besi yang berkarat dan takutnya malah mencelakai pengunjungnya." Aisya membayangkan bagaimana perasaannya tadi ketika mendengar besi-besi itu berderit dan saat mereka berada diatas.
"Dan menyebabkan kemejaku lusuh kayak gini." Syarif menunjuk ke lengan bajunya yang sudah tidak beraturan karena dicengkram kuat oleh perempuan itu. Dan itu yang membuatnya sejak tadi menertawakan perempuan itu.
Aisya pun nyengir, "Aku minta maaf ya, Sayangkuu. Kan nggak terkendali." Ucapnya sembari memberi kedipan manja yang membuat Syarif semakin tertawa.
Selalu membuat jatuh cinta. Syarif jatuh cinta melihat kedipan manja Aisya yang lucu, dan Aisya jatuh cinta setiap kali melihat tawa khas Syarif. Mereka saling jatuh cinta dipernikahan yang dibilang memang masih seumur jagung.
"Hoaah. Kak, ada robanat Kaaak." Ucap Aisya dengan antusiasnya melihat sesuatu didepan matanya.
"Apalagi itu?" Aisya memijat pelipisnya sembari melihat apa yang ditunjuk perempuan itu. "Arum manis?"
Aisya mengangguk. "Beli yuk."
"Ya Rabb, Aisyaaa. Tinggal dimana sih kamu dulu." Syarif mendengus mendengar satu lagi sebutan aneh dari Aisya untuk jajanan khas pasar malam.
Syarif tidak habis pikir, sebutan-sebutan itu didapat Aisya darimana. Setelah ini apalagi yang ada ditempat itu disebut Aisya dengan aneh.
***
Setelah membeli arum manis. Aisya dan Syarif kembali berkeliling, masih banyak yang ingin mereka cicipi dan naiki. Kini mereka berada disebuah permainan mincing botol. Disana berjejer hadiah besar mulai dari handphone sampai laptop, hanya dengan membeli sepuluh ribu perpancingnya. Dirasa sangat tidak masuk akal, hanya dengan uang segitu, hadiahnya begitu besar.
“Waaah, Kaaaak. Ayo kita coba permainan inii.” Ucap Aisya kembali antusiasnya, “Aku ingin membuktikan betapa cerdasnya aku.” Ia menarik suaminya itu untuk memperhatikannya bermain.
“Pak, satu ya.” Ucap Aisya pada orang yang menjaganya.
“Oke, Mbak.. Saya beri contoh dulu ya.” Ucap orang tersebut sembari meletakkan sebatang korek api diatas tutup botol.
Aisya kira hanya memasukkan karet kecil dengan pancing kebotol, tapi ternyata karet kecil tersebut tidak boleh sampai menjatuhkan korek api yang sudah diletakkan diatas tutup botol tadi.
Penjaga permainan itu memberi contoh dengan sangat mudah, ia bisa memasukkan karet kecil itu kedalam botol tanpa menjatuhkan korek api, membuat orang-orang yang melihatnya juga penasaran dan ingin mencoba. Mereka tergiur dengan hadiahnya.
Aisya masih mengingat sedikit trik pria itu, namun ia masih enggan mencobanya setelah melihat orang-orang yang mencobanya juga tadi gagal dalam permainan tersebut.
“Ayo, Sya.. Masukin karet kecilnya.” Ucap Syarif yang tidak sabar. “Aku ingin melihat betapa cerdasnya istriku.” Tambahnya yang membuat perempuan itu mendengus kearahnya, merasa suaminya itu sedang mengolok-oloknya.
“Aku kira nggak ada korek api, cuma masukin karet kecilnya. Ini mah sama aja tetep kalah, Sayang.” Ucap Aisya ingin membela dirinya, agar ketika ia kalah nanti tidak diolok-olok oleh Syarif.
“Kok udah pesimis? Kamu belum mencobanya. Ayo coba dulu..” Ucap Syarif agar perempuan itu tidak semakin mengulur waktu.
Aisya pun akhirnya mencoba permainan itu, masih sedikit diingatnya cara penjaga memasukkan karet kecil tersebut kedalam botol tanpa menjatuhkan korek api, namun ia tau bahwa pria itu sudah mahir, sedangkan dirinya?
Dan dalam hitungan detik, Aisya sudah gagal. Karet kecil tersebut menjatuhkan korek api, dan perempuan itu baru sadar ternyata dirinya sedang diperhatikan oleh banyak orang disana. Mereka bersorak “Yaaaaaah.” Ikut merasa kecewa karena gagal dalam permainan itu.
Aisya pun langsung menarik lengan kemeja Syarif, “Loh Kak, dari tadi mereka ngeliatin aku.” Ucapnya yang masih terkejut.
Syarif pun tertawa, “Iya memang, makanya aku suruh kamu cepet-cepet mainnya, mereka udah nggak sabar.” Jelasnya.
Aisya mendesis, suaminya itu memang menyebalkan, tapi ia sangat mencintainya. “Kalo gitu, sekarang gentian kamu. Pak, coba satu lagi.” Tanpa persetujuan Syarif, Aisya langsung memesan satu pancing lagi untuk suaminya itu mencoba.
“Nggak mau.” Syarif mengelak, bisa-bisanya Aisya memaksa untuknya bermain juga.
“Nggaaaaak, harus mau. Ayo, Kaaak.” Aisya memaksa sembari menarik lengan kemeja Syarif untuk mendekat ketempat permainan tersebut.
Mau tidak mau Syarif menurutinya, daripada Aisya semakin meronta-ronta dan mempermalukannya ditengah-tengah banyaknya pengunjung pasar malam.
Aisya memberikan pancing tersebut kepada Syarif sembari memberikan wejangan padanya. “Kamu harus focus, Kak. Jangan sampek kita kalah untuk kedua kalinya, aku punya triknya; nanti karetnya agak miringin terus masukinnya hati-hati banget, abis gitu…”
“Waaaaaaah, keren.”
“Gilaaa, keren banget masnya.”
“Waaaaaah ajaib. Sakti.”
Suara itu mengganggu Aisya yang sedang memberikan wejangan pada suaminya, ada apa dengan pengunjung disana, kenapa mereka berteriak-teriak heboh seolah Indonesia menang dipertandingan sepak bola melawan negara tetangga.
“Udah, ayo cari permainan lagi.” Ucap Syarif.
“Loh.” Aisya masih melongo, antara terkejut dan bingung. Ia melihat karet kecil yang ada diujung pancing itu sudah masuk kedalam botol, dan korek api yang ada diatas tutup botol tidak bergerak sedikitpun apalagi jatuh. “Kak, kamu?” Aisya masih terheran-heran.
Sedangkan sang penjaga permainan itu ketar-ketir, ia berkeringat dingin karena hadiah yang didapatkan oleh Syarif adalah laptop. Selama ini, para pengunjung pasar malam tidak ada yang berhasil menang dipermainannya, dan ia selalu optimis oleh hal itu. Namun sekarang? Permainan itu dengan mudah ditaklukkan oleh seorang Syarif.
“Mas, saya siapkan laptopnya ya. Tunggu sebentar.” Ucap pria itu, ia memikirkan kerugiannya.
“Nggak usah, Pak. Saya ambil permennya saja.” Ucap Syarif sembari mengambil permen yang ada ditangan pria itu, hadiah bagi orang-orang yang kalah dalam permainan itu.
“Loh, Kak…” Aisya kembali dibuat terheran-heran oleh suaminya tersebut, harusnya ia mendapatkan hadiah laptop, tapi kenapa malah memilih permen.
“Ayo, Sya.” Laki-laki itu menggandeng Aisya untuk ikut bersamanya kembali mengelilingi tempat tersebut.
“Kak, tolong jelaskan!” Aisya masih tidak bisa mencerna semua kejadian yang begitu singkat tadi. “Kenapa kamu bisa menang? Dan kenapa nggak kamu ambil hadiahnyaaaaa!” Ucapnya yang gemas dan meremas lengan laki-laki disampingnya itu.
“Aku hanya bermain seperti yang dicontohkan oleh bapak tadi, dan untuk hadiah; rasanya tidak sepadan dengan kita yang hanya membelinya sepuluh ribu. Jadi, tidak ada yang perlu kamu pertanyakan dan aku jelaskan lagi. Oke?” Syarif tidak ingin memperpanjang hal sepele itu.
Namun Aisya malah tiba-tiba bertepuk tangan sembari berdecak, “Aku benar-benar kagum sama kamu, Kaaaaak. Semakin cintah deh.” Ucapnya yang terdengar menjijikkan, keabsurdan Aisya masih saja tidak hilang, dan sepertinya Syarif sudah hafal dan terbiasa.
Perempuan itu melingkarkan tangannya dilengan Syarif, “Sayaang,”
“Hmmmm?”
Syarif yang menunggu perempuan itu mengatakan sesuatu, ternyata tidak mendapatkan apapun.
“Sejak tadi kamu Cuma memanggilku saja, tapi nggak ngomong apa-apa.” Gerutu Syarif pada akhirnya karena tingkah istrinya tersebut.
“Kenapa?” tanya Syarif lagi.
“Gapapa, aku cuma bilang kalo sayang sama kamu aja.” Ucapnya dengan enteng.
Syarif menarik bibirnya sebelah tanda ia tertawa mendengar jawaban Aisya.
“Kalo aku lebih dari kamu, apa aku harus setiap detik bilang sayang?” ucap Syarif yang membuat Aisya mendongak dan menatap wajah meneduhkan suaminya tersebut.
“Apasih, Kak. Kok jadi kamu yang lebih receh.” Ucapnya yang tidak terima, karena setiap ia ingin menggombali Syarif, laki-laki itu seribu langkah didepannya, dan naasnya Aisya selalu jatuh hati tiap mendengar kerecehan suaminya itu.
Terima kasih, Tuhan. Engkau telah menunjukkan padaku bahwa malaikat tak bersayap itu benar adanya.
Ia sekarang sedang bersamaku, menggenggam erat tanganku, dan sesekali mengecup keningku.
Seseorang yang menyebut dirinya suami biasa, namun menurutku ia sempurna dan luar biasa.
Aku mempercayainya, seperti aku percaya bahwa dua warna dalam Selat Gibraltar akan menyatu pada waktunya.
Tuhan, Engkau Maha Baik. Hingga memilihku menjadi pendampingnya.
Dari seluruh perempuan, aku yang dipilihnya. Aku yang mendapatkan cinta tulusnya.
Ia yang menerima kekuranganku tanpa mengeluh, yang menyertai setiap langkahku tanpa Lelah.
Ia laki-laki yang kusebut suami sempurna.