Hari ini aku bahagia, entah esok

1000 Words
Syarif menggenggam tangan Aisya dengan erat, enggan untuk melepasnya. "Kamu kenapa sih suamiku?" Tanya Aisya yang terbangun dari tidurnya dan melihat Syarif yang menatap sembari menggenggam tangannya. "Kamu yang kenapa Humairaku? Kamu tadi menangis saat tidur." Ucap Syarif, ternyata dia sedang membangunkan Aisya yang sedang meng-igo. "Ya Allah, Alhamdulillah semua itu hanya mimpi." Aisya mengusap wajahnya dengan rasa lega. Sangat lega dengan apa yang terjadi dalam mimpinya. "Aku tadi mimpi suamiku, kalau Kak Faruq meninggal, dan dia minta untuk kamu menikahi Alfa. Tapi Alhamdulillah hanya mimpi." Ucapnya sembari menggenggam tangan Syarif. Syarif menatapnya dengan wajah menyedihkan. Ah ayolah ini hanya mimpi. Tidak akan terjadi apa-apa didunia nyata. Faruq sedang dinas keluar kota, dan semuanya masih baik-baik saja. Syarif tidak akan menikahi siapapun. Hanya Aisya lah satu-satunya orang yang akan dia bahagiakan dalam pernikahannya. Tidak ada perempuan lain yang akan menikmati kasih sayang Syarif sebagai seorang suami. "Sudah, ayo tidur lagi, Kak." Aisya mengajak Syarif untuk kembali tidur. Tapi Syarif masih menatapnya dan menggenggam erat tangannya, wajah laki-laki itu juga nampak begitu kalut. Aisya pun mengernyitkan alis bingung melihat ekspresi wajah suaminya. "Aku nggak apa-apa, sudah ayo tidur lagii." Meski mimpi itu seperti nyata, namun Aisya berusaha untuk segera melupakannya, mimpi buruk yang tidak berarti apa-apa. "Tapi itu bukan mimpi." Ucap Syarif yang membuat Aisya terdiam, perempuan itu meringis, merasakan sakit didadanya lagi, untuk kesekian kali. Ini yang dirasakannya juga tadi, apa sebenarnya ini emamng bukan mimpi seperti yang diaktakan oleh Syarif. Mimpi yang ternyata nyata. Bukan mimpi yang jadi kenyataan. Cairan bening pun keluar disudut matanya, menguarkan beban yang menghimpit dadanya. Ada banyak duri dan pisau yang menancap tepat dihatinya. Aisya masih meringis, tawanya tidak sinkron dengan airmata yang mengucur. "Iya ini bukan mimpi." Ucapnya yang sudah berada dalam pelukan Syarif. Pelukan yang selalu menghangatkan, dan selalu dirindukan. Tapi nanti akan terbagi, akan ada orang lain yang merasakannya. Dan Aisya bukan lagi satu-satunya orang yang dapat menikmatinya. Dia harus berbagi. Dan ikhlas. "Kamu kenapa sih Sya, menyanggupi permintaan Kak Faruq. Kamu bisa menolaknya. Aku tidak mau menyakitimu, aku takut tidak adil." Ucap Syarif yang masih memeluk Aisya erat. Namun tidak lama, perempuan itu melepas pelukannya. "Aku nggak mau denger itu." Aisya menghapus airmatanya yang mengalir. "Kenapa aku harus menolak? Jika dengan itu kita bisa menyelamatkan banyak orang." Kini ganti Aisya yang menggenggam erat tangan suaminya. "Aku tidak pernah mengenal Kak Syarif yang keras kepala dan tidak peduli dengan orang seperti ini? Kamu yang selalu bilang untuk mendahulukan kebahagiaan orang jika kita mampu kan? Kenapa tidak, Kak. Begini," tangan Aisya beralih ke kedua pipi Syarif, mengusapnya lembut. Ternyata ada bekas airmata yang mengalir juga disana. Laki-laki itu menyembunyikan kesedihannya, apa sedari tadi Syarif tidak tidur? "Pertama, ini permintaan terakhir Kak Faruq, kita akan menyesal jika tidak memenuhinya Kak. Kedua, lihat Rubi dan Alfa. Rubi akan tanya, dimana ayahnya? Dia akan kehilangan sosok ayah seperti Kak Faruq, dan aku yakin hanya kamu yang bisa menggantikannya. Lalu, Alfa? Batin seorang ibu mana yang tidak berat merawat sendirian anaknya, tanpa seorang pendamping. Dia akan merasa..." Suara itu berhenti saat tangan Syarif menutup mulutnya. "Kenapa kamu banyak bicara?" Syarif tidak suka itu. Aisya terlihat lebih dewasa darinya. Aisya menggelengkan kepalanya, harus berbuat apa dia. Harus seperti apa. Keadaan yang membuatnya pura-pura kuat. "Jangan berpura-pura kuat. Aku tidak suka." Tangan Syarif memegang kembali tangan Aisya, dia menatap perempuan itu. "Kita jalani hari esok, sekali lagi, takdir tidak ada yang tau, Sya. Takdir selama ini mempermainkan kita, dan semoga untuk kali ini kita bisa melewatinya." Aisya hanya tersenyum. Benar, takdir yang memisahkan, dan takdir pula yang menyatukan. Ada banyak rencana, tapi siapa yang bisa mengelak takdir. Karena terkadang takdir sama halnya dengan perasaan. Sekuat apapun kita menolak perasaan, mencoba mengenyahkan, tapi jika memang sudah takdir, maka takdir lah yang mengembalikan kita pada perasaan itu. Perasaan dan takdir yang tidak dapat ditebak dengan akal. "Semoga, Kak. Jujur, aku takut hari esok." Ucap Aisya. "Jangan takut. Selagi kita selalu bersama." Balas Syarif, dia mengusap airmata Aisya. Matanya sembab dan bengkak. "Bukannya selama ini yang kamu takutkan hanya ulat bulu ya?" Syarif coba mencairkan suasana malam itu. Membuat Aisya, sekaligus dirinya melupakan apa yang sudah terjadi. Aisya memukul pelan pundak Syarif sembari tertawa kecil,"Itu mah beda, Kak." Jawabnya malu. "Oh ya?" Syarif mulai menggodanya. "Kaak, aku cium nih." Ucap Aisya. "Eh, maksudnya aku cubit nih." Aisya semakin malu karena salah bicara. Syarif pun tersenyum geli, "Kita sholat tahajud dulu ya, mumpung jam segini." Dia pun sudah bangun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aisya memperhatikan punggung laki-laki itu. Dia ingat dulu saat baru sadar bahwa Syarif lah yang pernah ada dimimpinya, Mbah Kung yang datang bersama Syarif. Sejak itu, dia merasa Syarif yang dulu dibencinya, menjadi sosok yang memenuhi pikirannya. Yah. Dia tertawa sendiri mengingatnya. Bagaimana bisa melupakan hal itu. *** "Kita ada dimana ini?" Tanya Aisya sembari turun dari mobil, pandangannya menyusuri setiap sudut tempat itu. "Sok-sokan gak tau." Ucap Syarif yang membuat Aisya tertawa. Siapa yang lupa tempat itu? Tempat bersejarah bagi Syarif, dan begitupun untuk Aisya. Hutan mangrove. Mumpung hari libur, Syarif mengajak Aisya ke suatu tempat. Dan tempat itu bisa ditebak. "Laah bilangnya suatu tempat. Sudah pasti hutan mangrove kesukaanmu." Jawab Aisya dengan percaya diri. "Setelah ini aku ajak kamu ke suatu tempat. Dimana kamu tidak pernah kesana." Ucap Syarif. "Hmm, hutan mangrove yang mana lagi?" Goda Aisya. "Bukan hutan mangrove humairakuuu." Laki-laki itu mencubit pipi Aisya. Syarif menyadari suatu hal. "Kok sekarang kamu gendutan ya?" "Isssh Kak. Cukup. Ayo pergi." Aisya mengalihkan pembicaraan. Tidak sekali Syarif menggodanya seperti itu, tapi berulang kali. Dasar memang, Syarif dengan wajah datar dan lempengnya dulu kini sudah hilang. Laki-laki itu sekarang lebih banyak menggodanya. "Ini nanti kalo lewat jembatannya gak bisa jalan bersejajar." Ucap laki-laki itu sembari berjalan mensejajari Aisya, sebelum masuk ke hutan mangrove. "Loh kenapa Kak?" Tanya perempuan itu polos. "Lah mana muat jembatannya?" Tanya balik Syarif dengan maksud menggoda. Aisya tau itu segera cemberut. Hari ini aku bahagia, entah untuk esok. Apakah senyumku masih mengembang karena bahagia, atau sebagai penutup kesedihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD