Dua minggu setelah kejadian itu,Adelia masih sangat memikirkan permintaan Jelita. Semntara dia masih memikirkan itu sang suami justru malah mengizinkan untuk Jelita mengasuh salah satu puterinya itu.
“ kenapa nak,masih mikirin soal bu Jelita?”. Tanya ibunya yang melihat Adelia sedang melamun sendirian.
“ iya bu,dan lagi mas Syahid mengizinkan!”. Jawabnya lesu.
“ udah lah Del,jangan terlalu difikirkan. Lagi pula kamu sudah berterimakasih padanya “.
“ bu,tapi rasa hutang budi itu masih ada dan semakin besar. Itu sempet buat aku berfikir untuk memberikan Audry padanya!”. Fikirnya dengan penuh rasa hutang budi pada Jelita.
“ Del,kamu yakin?”. Tanya ibunya dengan raut wajah terkejut atas keputusan dari anaknya itu.
“ yaudah bu,aku mau kerumahsakit dulu mau ngecek keadaan Audrey. Kan dua minggu lagi dia udah boleh pulang!”. Ucapnya sambil menyeka air matanya.
“ yaudah ibu jaga Audry ya disini!”.
“ iya bu “.
Adelia pun pergi kerumah sakit untuk melihat perkembangan Audrey,tapi disepanjang perjalanan dia masih terus memikirkan permintaan dari Jelita.
Lalu terbesit kembali dalam ingatannya, bahwa suaminya juga telah mengizinkan jika Audry diurus oleh Jelita. Di sepanjang perjalanan Adelia terus menghitung iya atau tidak untuk memberikan Audry pada Jelita.
Akhirnya dia sampai di rumah sakit dan langsung menemui dokter yang menangani Audrey anakna itu.
“ bagaimana Dok,apakah kondisi anak saya sudah membaik?’. Tanyanya.
“ ya,seperti yang sudah saya katakana sebelumnya. Bahwa Audrey sudah membaik,sudah pulih dan sesegera mungkin dapat kembali kerumah “. Jelas Dokter itu.
“ lalu apakah sekarang dia masih butuh pengawasan?”.
“ untuk sekarang Iya. Kami masih memantau perkembangan jantungnya!”.
“ baik terimakasih Dok?’.
Setelah mengetahui keadaan anaknya dan mendatanginya sebentar,dia memutuskan untuk kembali kerumahnya.
Dengan terburu-buru dia keluar dari mobilnya dan melangkah kedalam r
“ ada apa,Del?”. Tanya ibunya yang berada dikamar itu juga,dia terbangun karena kaget. Tiba-tiba Adelia datang dan langsung menerobos masuk tanpa permisi kekamar itu.
“ bu…”. Ucapnya langsung menggendong Audry.
“ kenapa kamu Del,diakan sedang tidur ?”. Tanya ibunya yang kebingungan.
“ bu… aku akan berikan Audry pada Jelita. Bu aku harap ini yang terbaik,lagipula mas Sahid sudah mengizinkannya “. Jawabnya.
“ ya Allah… jangan Del,ibu tidak setuju!!!”. Bantah ibunya.
“ bu,saya harap ibu setuju ini juga sebagai tanda balas budi kita pada Jelita,bu tolong jangan biarkan saya terus menderita begini!”.
“ tapi Del,kamu sudah yakin?”. Tanya ibunya sekali lagi,sambil mendekat pada Adelia.
“ saya yakin bu!!!”. Tegas Adelia.
Lalu dengan terburu-buru Adelia membawa Audry yang masih tertidur masuk kedalam mobilnya.
“ pak, kita kerumah mba Jelita yang waktu itu ya?”. Pinta Adelia pada sopirnya. Yang langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah Jelita.
Di sepanjang perjalanan Audry tidak terbangun sama sekali, sementara Adelia terus memeluk anaknya itu dengan harapan apa yang dia putuskan itu terbaik untuk semuanya.
Dan akhirnya…
“ bu sudah samapi!”. Ucap sopirnya.
“ iya pak “. Adelia pun turun dari mobil dan melangkah menuju rumah Jelita yang seperti biasa terlihat sepi.
Dia melangkah kedalam dengan langkah yang ragu,dia sedikit merasakan hawa yang tidak enak setiap kali masuk kerumah itu. ditambah kali ini rumah itu terlihat semakin tidak terurus dengan daun-daun yang berserakan dari pohon didepan rumah ynag cukup besar. Solah pekarangan rumah itu tidak pernah di jamah oleh siapapun.
Adelia tidak berfikiran yang macem-macem, ia hanya berfikir ini mungkin karena Jelita terlalu larut dalam kesedihan dan belum bisa bangkit. ‘walaupun bulu kuduknya semakin merinding.
Saat hendak mengetuk pintu rumah tiba-tiba.
“ mama…”. Sayup terdengar suara anak kecil memanggilnya,dia melihat kearah Audry yang maasih terlelap tidur dan dia rasa juga tidak memanggilnya. Tapi disini hanya Audry yang anak-anak. Atau apakah tadi Audry mengigau atau hanya fikirnannya yang sedang tidak karuan jadi berhalusinasi.
Entahlah tapi yang jelas dia harus segera bertemu Jelita, “ tok… tok… tok…”. Dia mengetuk pintu rumah itu berkali-kali namun tidak ada jawaban atau orang yang keluar untuk membukakan pintu. “ tok.. tok… tok…”. Dia mengetuknya sekali lagi kali ini lebih kencang dari yang tadi.
Namun masih belum ada yang keluar dan membukakan pintu. Karena kesal akhirnya dia berteriak-teriak memanggil nama Jelita.
“ mba Jelita… mba…”. Panggilnya sambil terus mengetuk pintu.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil lagi seolah seperti memanggilnya. Dengan panggilan “ mama…” suara anak itu terdengar sangat parau. Bulu kuduk Adelia semakin merinding apalagi kali ini dia sadar kalau anaknya sedang tertidur pulas.
“ mama… mamam… mama… mama…”. Suara parau itu semakin jelas seolah terdengar di telinganya. Adelia semakin merinding dan memutuskan untuk berbalik saja ke mobilnya,tapi tiba-tiba…
“ aaaa…..!!!”. dia berteriak dan sontak membuat Audry terbangun dan menangis.
“ huwee…!!!”. Tangis Audry pecah karena terkaget oleh suara teriakan Adelia.
Bahunya kemudian ada yang menepuk membuat Adelia menggeliat kaget,setelah dia melihat siapa yang menepuk bahunya dan sopirnya berlari kearahnya barulah dia tersadar kalau yang menepuk bahunya adalah Jelita.
“ kamu kenapa ?”. tanya Jelita bingung.
“ ada apa bu?”. Tanya sopirnya juga.
“ huft…!”. Adelia hanya menarik nafas sambil menenangkan dirinya.
“ kenapa Del?”. Tanya Jelita lagi.
“ nggak… nggak… aku nggak apa-apa! Cuma tadi agak sedikit halu aja”. Jawab Adelia sambil menepk-nepuk punggung anaknya agar berhenti menangis.
Perlahan Adelia mengatur nafasnya agar tenang, namun anaknya belum juga tenang. Melihat Audry yang masih belum berhenti menangis Jelita menawarkan diri untuk menggendongnya.
“ Del, biar saya yang gendong Audry ? biar kamu tenagkan diri saja dulu!”. Pinta Jelita sambil langsung mengambil alih Audry dari gendongan Adelia, “ yasudah sekarang masuk saja dulu yuk… ayo pak ikut masuk juga?”. Ajak Jelita pada Adel juga Pak Sopir.
“ oh… tidak bu, biar saya kembali ke mobil saja!”. Tolak pak sopir dengan halus.
Sementara Adelia dan Jelita beserta Audry masuk kedalam rumah, Pak Sopir kembali ke mobil untuk menunggu disana.
Dia membuka pintu mobilnya namun tiba-tiba “ ckikkk “. Kakinya menginjak mainan karet berbentuk bebek berarna kuning.
“ waduh… mainan Audry kayaknya!”. Gumamnya dia pun berjongkok untuk mengambil mainan bebek itu.
Saat sedang berjongkok terlihat dari kolong mobil, di arah yang berlawanan dengannya ada anak kecil tengah berdiri disana namun yang dia liahat hanya kaki mungilnya saja yang menggunakan sepatu pink.
“ eh…!”. Dia terkaget “ Audry bukan ya?”. Tanyanya memastikan tapi tak ada jawaban.
Dia kembali berdiri dengan menggenggam bebek karet itu, dia berjalan kearah anak itu untuk memastikan apakah itu Audry atau bukan?
“ Au… dry?”. Ucapnya terputus karena ternyata tidak ada siapa-siapa disana.
Karena penasaran dia pun mengitari mobilnya dan tidak menemukan siapa-siapa,dia juga berinisiatif mencarinya ditempat lain disekeliling rumah itu. tapi juga tidak menemukan siapa-siapa?
“ kemana ya… itu Audry bukan ya?”. Gumamnya bingung kemudian dia kembali kemobilnya. Walaupun dia masih keheranan siapa dan kemana perginya anak tadi?
Sementara itu didalam rumah Adelia masih merasa merinding namun tidk setakut tadi karena sudah ada Jelita, dengan perasaan yang masih campur aduk akhirnya Adelia menuturkan maksud kedatangannya menemui Jelita.
“ mba jelita “. Ucapnya tertahan.
“ Del, mending kamu minum aja dulu ya?”. Ucap Jelita sambil menyodorkan gelas berisi air putih, dia juga masih melihat ketakutan dalam diri Adel.
“ iya “. Sambil meminum air pemberian Jelita.
“ ada apa Del,kamu tiba-tiba datang kemari?”. Tanya Jelita ketika melihat Adelia mulai tenang.
“ begini mba, aku datang kesini untuk mengantarkan Audry !”. ucapnya sambil melirik kearah Audry yang sedang asyik memakan kue yang disuguhkan Jelita.
Mendengar itu raut wajah jelita terlihat kaget. Dia solah tak percaya dengan apa yang diucapkan Adelia barusan, begitu juga dengan Adelia yang tidak percaya dengan keputusannya ini.
“ kamu serius Del?”. Tanya Jelita mulai berkaca-kaca.
“ iya mba,aku sudah bicarakan dengan suami ku juga keluargan. Dan mereka setuju!”. Ucapnya sambil menangis.
“ terimakasih-terimakasih Del…”. Ucap Jelita yang tiba-tiba memeluknya.
“ iya mba. Tapi aku punya syarat untuk itu. “ ucap Adelia.
“ apa itu?”. tanya Jelita melepas pelukannya.
“ mba,juga harus menceritakan pada Audry kalau aku itu ibu kandungnya. Dan jangan buat dia benci pada ku!”. Jelas Adelia.
“ iya… iya… itu pasti Del,aku dan suamiku tidak akan memisahkan kamu dan anak mu. Aku akan rawat dia dan beri dia pendidikan terbaik Del aku janji!”. Jelita menyetujui persyaratan dari Adelia.