Lima belas tahun berlalu… semanjak Audrey mendapatkan donor jantungnya diusia tiga tahunnya,dan semenjak Audry juga di serahkan pada Jelita diusia tiga tahun juga. Kini mereka telah dewasa sudah berusia delapan belas tahun dan sudah menapaki dunia perkuliahan.
Sesuai dengan janjinya pada Adelia, Jelita tidak pernah menutupi siapa dia dan Audry sebenarnya. Anak angkatnya itu juga tahu siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya. Yang kini sudah pindah tinggal di Bandung.
Audry, dia besar menjadi anak yang cuek,blak-blakan,punya rasa ingin tahu yang tinggi juga sangat aktif.
Berbeda dengan Audrey yang tumbuh menjadi anak yang tertutup dan pendiam. Ya… betul-betul tertutup dan pendiam sampai-sampai dari TK sampai kuliah dia tidak punya banyak teman dia hanya punya satu teman sejak dia kecil yaitu Jessica.
Dan siang itu Jelita tengah duduk sendirian diruang tengah sambil menghadap kearah foto Jessie,tiba-tiba Audry datang menghampirinya.
“ ma…?”. Panggilnya sambil duduk disamping ibu angkatnya itu.
“ eh,ada apa sayang?”. Jelita sedikit kaget karena tadi fikirannya tertuju pada foto Jessie.
“ bulan depan aku ada acara kampus ke Bandung, nanti mama telponin ibu Adel ya pintain alamat rumahnya. sekalian maintain izin aku buat tinggal sama dia buat beberapa minggu selama acara!!!”. Audrey menuturkan maksudnya itu.
“ acaranya berapa lama?”. Tanya Jelita sambil mengelus rambut Audry.
“ dua minggu aja kok!”.
“ iya nanti mama telponin ibu Adel, oya sayang… kalau kamu ditempat ibu Adel jangan terlalu kaku ya sama dia. Gimana-gimana juga kan mereka orang tua kamu kandung malah!”. Jelita menasehati Audry yang memang terlihat jika bertemu dengan Adelia tidak terlalu akrab dan rada sungkan.
“ iya deh… aku usahain buat nggak sekaku itu1”. Timpal Audry dengan raut wajah bête karena mendapat nasehat dari Jelita.
“ eh… ngomong-ngomong suka gak sama sepatu yang kemarin papa bawain?”. Tanya Jelita yang sukses membuat mood anak angkatnya itu bertambah buruk.
“ iya suka “. Jawab Audry sambil menyalakan Televisi “ tapi ma aku bener-bener penasaran. Kenapa papa gak pernah datang kerumah pas ada aku,kenapa papa gak pernah muncul dihadapan aku ?”. lanjutnya memberikan pertanyaan yang sedari kecil sering ia tanyakan, karena sedari kecil dia selalu bingung kenapa dia tidak pernah melihat wujud suami dari ibu angkatnya itu.
“ kok nanyanya itu lagi sih…kan udah dibilang kalau papa itu…”. ucapannya disela oleh Audry.
“ karena papa itu gak pernah sudi buat liat aku karena aku itu Cuma anak angkat. Iyakan ma?”. Sela Audry.
Sebenarnya sudah sering terjadi perdebatan kecil seperti ini,apalagi dirumah itu sering terjadi hal-hal aneh yang sering membuat Audry bingung dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata atau logika. Apalagi dengan kegiatan-kegiatan aneh yang sering dilakukan Jelita atas perintah suaminya itu.
Semua yang terjadi hampir membuat Audry jadi gila tapi untung dia bukan orang yang percaya dengan tahayul begitu saja. Dia sendiri merasa bahwa kadang ada sesorang yang mengawasinya setiap beraktifitas dirumah itu, bahkan kadang dia merasa makhluk yang mengawasinya itu sama sekali tidak menyukainya.
Dan ini juga disebabkan karena memang sejak usia Audry lima tahun, setelah dua tahun dirawat Jelita suaminya tidak pernah mau muncul dihadapan anaknya itu. padahal diawal-awal kedatangan Audry dia begitu senang dan selalu ada untuk anak itu.
“ sayang bukan begitu…”. Ucap Jelita sambil mengelus rambut anak angkatnya itu. namun kembali Audry menyela ucapannya dan langsung bangkit dari duduknya.
“ yaudah deh aku capek. Nanti mama kabarin aku aja kalau dah dapet alamat rumah ibu Adel!!”. Setelah itu dia langsung berlari kekamarnya yang berada dilantai atas.
Dia menaiki anak tangga satu-persatu untuk meuju kamarnya. Namun ketika dipertengahan kaki kirinya terasa berat dan kaku tidak bisa dilangkahkan lagi, seperti ada yang meahannya.
“ aaww…awww, kenapa ini?”. Gumamnya sabil berusaha unutk menggerakkan kakinya, agar melangkah naik namun tidak bisa juga.
Lalu karena kakinya menjadi terasa sangat sakit dia memutuskan untuk duduk disana, sambil sesekali memeriksa kakinya juga berusaha untuk menggerakkannya. Melihat tingkah aneh dari anak angkatnya itu Jelita segera menghampirinya.
“ kenapa sayang?”. Tanya Jelita sambil mengampiri anaknya itu, lalu duduk disampingnya.
“ ini ma… kaki aku nggak bisa di ger…”. Ucapannya terhenti karena secara tiba-tiba kakinya dapat bergerak kembali. Diapun kebingungan dengan kejadian itu.
“ kakinya kenapa?”. Tanya Jelita lagi sambil memeriksa keadaan kaki anaknya itu.
Tapi Audry tak menjawab dia hanya diam karena kebingungan dengan kejadian itu, yang seharusnya kalau difikir-fikir dia harusnya sudah terbiasa dengan hal-hal aneh seperti ini.
“ eh, nggak… nggak kenapa-kenapa kok ma nggak!!!”. Jawabnya menutup-nutupi kebingungannya.
“ nggak kenapa-kenapa beneran?”. Jelita sekali lagi bertanya untuk memastikan.
“ iya… ma, e..aku nggak apa-apa kok. Yaudah aku kamar dulu ma!”. Jawabnya gugup. Lalu langsung pergi begitu saja ke kamarnya.
Jelita juga kembali keruang tengah, sementara itu Audrey sampai dikamarnyapun masih merasa sangat aneh karena kakinya yang tiba-tiba kaku tadi. Dia merasa kalau tadi ada yang memegang kakinya dan menahannya dengan sangat kuat sehingga dia tidak bisa melangkahkan kakinya lagi. Kejadian ini mengingatkan pada kejadian sewaktu dia masih SD dulu.
Waktu itu dia sedang marah pada mamanya entah karena hal apa dia sudah lupa, lalu terjadilah kejadian aneh ketika dia kekamar mandi. Tiba-tiba dia terkunci disana hampir seharian untungnya ada Jelita yang datang mengeluarkannya.
Belum lagi selama dikamar mandi tercium bau amis darah juga bau bangkai. Itu membuatnya hampir mati karena sesak nafas karena menghirup udara yang bau itu. namun bau busuk itu hilang ketika Jelita datang menyelamatkannya.
Dan hal-hal aneh akan terjadi ketika dia marah terhadap mama angkatnya itu, entah saat didalam rumah itu ataupun diluar rumah sekalipun. Lalu akan menghilang degan sendirinya ketika ia berbaikan dengan Jelita.
Tanpa disadari karena saking seriusnya memikirkan hal-hal aneh yang sering terjadi dirumah itu, dia jadi tertidur.
Naumn tak lama dia terbangun dengan suasana kamar yang gelap.
“ mati lampu apa ya?”. Gumamnya setelah sadar, lalu dia memicingkan matanya agar bisa menyesuaikan dengan keadaan didalam kamarnya.
Dia beranjak dari kasurnya. Dia berusaha mencari meja belajarnya untuk mengambil handphone yang ditaruhnya disana, perlahan dia mencari sambil meraba ruangn sekitar.
“ awwww…”. Teriaknya karena tiba-tiba tangannya terasa sakit seperti ada sesuatu yang tercabut dari tangannya. “ apaan sih tuh?”. Fikirnya, lalu kembali mencari meja belajarnya.