Seminggu telah berlalu. Nayra mulai menjalani kehidupannya. Namun, terkadang dia juga termenung sendiri. Dia masih berharap jikalau Farzan datang dan menjemputnya. Walau bagaimanapun, dia juga masih mencintainya. Tapi, disisi lain diapun juga enggan kembali. Sudah cukup Ucapan Farzan yang menyakiti hatinya. Dia boleh menuduh Nayra semaunya. Tapi, mengatakan Bayi dikandungan Nayra bukan Bayinya, itu tak bisa dimaafkan. Nayra mengelus perutnya. Perlahan air matanya menetes. Dia sakit hati pada Farzan. Yang lebih menyakitkan lagi, Zayra telah menghianatinya. "Kak Nayra. Ibu...!!" Jerit Risa. Nayra segera berlari kedalam. Dia melihat Ibunya dalam keadaan kesakitan. Nayra dan keluarganya langsung membawa Ibunya ke Puskesmas Desa. Disana Perawat dan juga Dokter langsung menangani Ibunya. "K

