Semua berjalan begitu cepat. Zayra merasa sungkan berada diantara Farzan dan Nayra. "Mama senang, kamu kembali pada Farzan." Bu Mirza memeluk putrinya "Ini cuma sementara ma. Sampai anakku lahir. Keputusanku masih sama. Akan bercerai setelah melahirkan." "Sayang, kamu pikirkan lagi. Kasihan sama anak kamu nanti. Kamu harus pertahanin semua ini. Kalau dia tanya siapa ayahnya? Kamu akan jawab apa? Coba pikirkan lagi. Dia butuh ayahnya." Zayra berfikir sejenak. Apa yang dikatakan mamanya benar. Tapi, hidup dimadu seperti sekarang justru semakin membuatnya sakit. Apalagi, dengan keadaannya yang masih mencintai Farzan. Bu Mirza berdiri dan mengambil tasnya yang diletakkan diatas meja. "Mama pulang dulu. Mama harap kamu bisa berpikir dengan jernih." Bu Mirza pergi . Tapi, Zayra tak be

