"Zayra kemana?" Tanya Nayra. Sesampainya Nayra dirumah Farzan, dia tak melihat Zayra disana. "Mungkin dia dikamarnya." Ucap Farzan. Mereka berdua segera pergi kekamar Zayra. Tak ada siapapun disana. Padahal Zayra berjanji akan menunggu mereka dirumah. Ada selembar kertas diatas tempat tidur. Sebuah surat dari Zayra untuk mereka. "Assalamu'alaikum Nayra dan mas Farzan. Maaf jika aku tidak ada. Aku harus pergi beberapa waktu. Maaf jika mendadak. Aku ingin menenangkan diriku. Tenang saja, aku akan mengurus semua berkas perceraianku dengan mas Farzan. Semoga kalian bahagia. Wassalamu'alaikum. Zayra." Nayra menangis tersedu. Nayra tahu betul, kalau sahabatnya itu saat ini sedang rapuh. Dia hanya berpura-pura tegar, tapi dia itu menyimpan sejuta luka dihatinya. "Kenapa begini? Dia berbo

