“Hallo, Tuan Axel. Gadis itu mencoba melarikan diri, tapi sekarang sudah berhasil ditangkap oleh pengawal yang menjaga.” Adu seorang pelayan yang tadi mengejar Lily.
Terdengar umpatan dan geraman dari Axel dari balik telepon.
“Sial! Di mana sekarang dia?”
“Sudah di kamar, Tuan.”
“Baiklah, aku segera pulang. Gadis itu sepertinya ingin bermain-main denganku!”
Axel memutuskan panggilannya sepihak.
“Mampus kau gadis sialan! Pembalasanku akan dibayarkan oleh, Tuan Axel,” gumam Luna—pelayan di mansion Axel.
***
Axel sudah sampai di mansion. Dia sudah tidak sabar lagi untuk melihat anak pembunuh yang ingin melarikan diri itu. Pemuda tersebut berjalan dengan angkuh, lalu mendobrak paksa pintu tempat Lily dikurung.
“Lepaskan aku! Kau tidak berhak mengurungku seperti ini di sini!” teriak Lily.
“Kau masih berani menantangku, ya? Haruskah aku mencincang kakimu?! Kau pikir bisa keluar dengan mudah dari sini? Ingat satu hal Lily Agnesia Marghareta, aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bebas dan bahagia selama aku masih hidup! Selamat datang di neraka, Lily! Nikmati hidupmu setelah ini!”
Suara Axel memang tidak membentak, tetapi kata-katanya mampu membuat seseorang bergidik ngeri.
Axel kembali mencengkeram pipi Lily sehingga sang empu meringis kesakitan.
“Rasanya aku ingin meremukkan wajahmu detik ini juga! Namun, rasanya tidak etis membiarkanmu mati cepat,” geram Axel. Melotot tajam.
Semenjak mengetahui ayahnya dihukum mati karena membunuh orang tua Axel—pria yang ia kagumi selama ini, rasanya dunia Lily perlahan terkikis. Hari-hari cerianya kian berganti menjadi hari yang tragis. Apalagi saat mendengarkan ancaman-ancaman mengerikan dari Axel.
Dibesarkan di panti asuhan, lalu perlahan melupakan traumanya karena ayah dan ibunya dihukum mati saat Lily masih berusia delapan tahun. Lily memang tidak tahu siapa orang yang dibunuh oleh orang tuanya. Dia juga tidak berniat mencari tahu karena hal itu akan mengingatkannya pada hari di mana orang tuanya di makamkan secara bersamaan, lalu paman dan bibinya tidak ada yang mau mengasuhnya. Harta orang tua Lily mereka rampas. Dahulu, Margharet adalah seorang pengusaha.
“Tuan, sakit,” cicit Lily menatap sendu mata Axel. Lily melihat jelas kobaran kebencian di mata hitam itu.
“Sakit? Kau berani mengatakan sakit di hadapanku?” tekan Axel yang semakin kuat mencengkeram pipi Lily. Kali ini gadis tersebut tidak berani mengatakan sakit, bahkan meringispun tidak lagi berani.
Hanya air mata yang terus turun. Jika benar ayahnya yang sudah membunuh orang tua Axel, maka sangat pantas pria tersebut berbuat seperti ini.
‘Jika benar papa yang sudah membunuh orang tua Axel maka sangat pantas aku menerima semua ini. Tapi ... kenapa mama ikut dihukum mati saat itu?’ batin Lily mulai merasakan ada yang tidak beres dengan skandal pembunuhan yang dituduhkan pada ayah Lily.
Tidak lama dari itu, Axel melepaskan cengkeramannya dengan kasar membuat Lily tersungkur ke lantai.
“Jika sekali lagi kau berniat untuk melarikan diri, aku benar-benar akan memotong kakimu! Kau paham?!”
Axel ikut berjongkok untuk menyejajarkan posisinya. Lily terus menunduk, tidak lagi berani menatap wajah rupawan, tetapi sangat mengerikan itu.
Axel mengangkat dagu Lily agar menatapnya. “Tenang saja, aku tidak akan mengulitimu seperti orang tuamu yang telah menguliti ayah dan ibuku. Namun, satu hal yang harus kau ketahui, jika masih ingin bernafas maka ikuti alur yang kubuat karena mulai dari detik ini, akulah malaikat pencabut nyawamu.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Axel langsung pergi meninggalkan Lily yang masih terpuruk di sana. Hidup gadis itu memang selalu dipenuhi kejutan. Selama ini, Lily menyembunyikan lukanya di balik sikap cerianya, tetapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Jangankan ceria, tersenyum saja sudah tidak diizinkan oleh pria yang mengurungnya di tempat dengan nuansa hitam ini.
Tidak ada lampu, tidak ada jendela, hanya ada ventilasi di sini. Hari mulai gelap, Lily sangat takut dengan kegelapan, dia mulai meringkuk ke bawah meja yang ada di sana. Memeluk dirinya sendiri, lalu menyandangkan lagu masa kecilnya yang selalu Agnes—ibunya nyanyikan jika ia ingin tidur.
“Ma, Pa, Lily rindu. Lily takut di sini, Lily mau ikut kalian.” Tangisannya mulai pecah.
Di waktu yang sama, Axel masih berada di bar terbesar di kota itu. Menikmati malamnya dengan teman-temannya.
“Malam ini kalian ingin bermain tidak? Aku sudah menyewa beberapa model.”
Semuanya diam, tidak ada yang menjawab perkataan Yuta. Semua yang ada di meja itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Heh!” Yuta menggebrak meja sehingga teman-temannya yang ada di sana terkejut.
“Setan ini!” umpat Dave.
“Kalian sedang mikirin apa, sih?”
“Mikirin hutang negara!” cetus Leo.
Axel hanya diam saja, ia terus mengisap rokoknya sesekali menjentiknya, sedangkan Luke, pria itu sedang memikirkan misi yang akan dikerjakannya.
Tanpa sepengetahuan Leo, Yuta dan Dave, Axel dan Luke memiliki usaha yang terlibat dengan pasar gelap.
“Ah, aku punya ide.” Yuta menjentikkan tangannya sehingga semua mata tertuju padanya.
“Ide apa?” tanya Leo.
“Bagaimana kalau malam ini kita membuat perlombaan? Siapa yang mencetak rekor paling lama dalam permainan kuda-kudaan ini maka dia akan mendapatkan hadiah mobil Rolls Royce milikku. Bagaimana? Sepakat?”
“Cih! Maniak ranjang ini,” desis Leo.
“Kena penyakit kelamin nanti lu nangiss!” imbuh Dave sambil tertawa geli.
“Hei, Bro! Hidup ini Cuma sekali, kecuali mati suri. Oleh karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan waktu berharga ini! Mari kita hidup dengan bersenang-senang, menikmati indahnya dunia dan lubang surga milik wanita!”
Yuta semakin menggila di bangkunya akibat kebanyakan minum. Mungkin sebentar lagi akan teler.
“Piwwit! Hay Seksi.” Yuta bersiul saat wanita dengan pakaian dress merah melewatinya.
“Leo, antar dia pulang sebelum dia melakukan kekacauan di sini. Anak itu sepertinya akan teler,” ujar Dave.
“Heh! Siapa yang kau sebut teler? Aku masih kuat!” geram Yuta.
“Sudahlah! Sebaiknya kita pulang saja, ini sudah larut,” usul dari Axel. Lama-lama di sini membuatnya semakin pusing memikirkan semua masalah yang datang bertubi-tubi.
Leo dan Dave membantu Yuta berdiri.
“Di mana-mana kau selalu menjadi beban, Yuta!” kesal Leo.
“Aku tidak perduli. Aku hanya ingin menikmati dunia ini dengan wanita-wanita cantik di sampingku,” ucapnya dengan suara khas orang mabuk.
“Menjijikkan,” gumam Luke pelan. Di antara mereka semua, hanya Luke yang paling kalem dan tidak tersentuh.
“Siapa yang mengatakan aku menjijikkan? Heh, Luke sebenarnya kau ini normal atau belok, sih?” tanya Yuta.
“Intinya aku tidak semurahan dirimu.”
Jleb!
Kata-kata savage itu membuat teman-teman Axel ingin menertawai Yuta.
***
Axel sudah sampai di mansionnya. Para penjaga rumah yang ada di sana seketika menunduk hormat saat Axel lewat.
“Heh, kau! Ke sini,” perintah Axel pada Luna.
Gadis tersebut tersenyum, lalu menghampiri Axel.
“Ada apa, Tuan?” tanya Luna.
“Apa kau sudah memberikan gadis itu makan?”
“Sudah, Tuan.”