Anak Pembunuh

1215 Words
Nampan yang ada di tangan Lily seketika jatuh sehingga menimbulkan suara, botol minuman beralkohol itu pecah. Mata gadis tersebut membulat dan tubuhnya gemetaran melihat apa yang ada di depannya. Bunyi suara itu membuat Axel dan Luke menoleh ke belakang. Mata Lily berkaca-kaca, bibirnya seolah terkunci rapat melihat tiga orang pria yang sudah mati mengenaskan itu. Suara dentuman musik DJ dan suara jeritan-jeritan bahagia orang yang ada di sana yang membuat suara tembakan itu tidak terdengar. Lagian semua kamar yang ada di atas sudah diboking oleh Axel agar rencananya berjalan dengan lancar tanpa kendala. “To—to.” Belum sempat Lily melanjutkan kalimatnya, Axel lebih dulu menarik pelatuknya. Peluru itu tidak sampai mengenai tubuh gadis tersebut. Namun, karena kaget dicampur syok membuat Lily kehilangan kesadaran. “Luke, urus mereka. Jangan sampai ada jejak!” perintah Axel. “Baik,” jawab pria itu. Axel segera menghampiri gadis yang tidak sadarkan diri itu, lalu menggendongnya. Membawa gadis itu turun tanpa peduli dengan tatapan-tatapan orang yang ada di bar tersebut. Melihat Lily yang digendong seseorang membuat Albert jadi panik. Ia langsung mengejar Axel, sesuai janjinya dia tidak akan membiarkan Lily diapa-apain. “Maaf, Pak Axel. Tolong jangan bawa Lily, di bar ini menyediakan wanita bayaran dan anak itu ... dia bukan wanita penghibur. Tolong jangan bawa dia,” ujar Robert sesopan mungkin. Meski hati sudah ketar-ketir melihat aura dingin dan tidak bersahabat dari Axel. “Menyingkir dari hadapanku sebelum aku memastikan bar murahanmu ini ditutup selama-lamanya!” jawab Axel dengan dingin dan penuh ancaman. ‘Maafkan aku, Lily,’ batin Robert sambil menunduk. Dia dihadapkan dua pilihan yang rumit. Jika nanti bar ini ditutup, bagaimana dengan nasib Robert? Sedangkan penghasilannya hanya dari bar tersebut. Axel mulai melangkah membawa gadis itu ke mobil yang ada di parkiran. Robert terus menatap punggung pria tersebut, rasa bersalah semakin menghantuinya. Lily sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri dan sekarang gadis itu dalam masalah besar. Axel dikenal di kotanya sebagai pria yang kejam, tidak pernah main-main dengan perkataan. Ketegasan dan kewibawaan pria tersebutlah membuat dirinya ditakuti dan disegani banyak orang. Mobil sport itu melaju cepat sehingga tidak butuh waktu yang lama mereka sudah sampai di depan sebuah mansion besar. Beberapa pengawal yang berdiri di sana seketika menunduk setelah Axel turun dari mobilnya. Lily masih tidak sadarkan diri. *** Paginya. Lily mulai membuka kelopak matanya, lalu mengamati ruangan dengan nuansa hitam itu. Seketika ia merasa ngeri ketika melihat beberapa lukisan-lukisan yang menyeramkan. “Eh, di mana ini? Siapa yang membawa aku ke ruangan ini?” lirih Lily yang mulai panik. Ingatannya tentang kejadian tadi malam seketika muncul. Hal itu membuat gadis tersebut semakin dibuat ketakutan. “Apa aku akan dibunuh juga?” monolognya dengan panik. Gebrak! Pintu di dobrak paksa oleh seseorang sehingga Lily dibuat terlonjak kaget. ‘Tamat sudah riwayatmu, Lily! Itu psikopat yang semalam. Apa nasibku akan berakhir seperti lukisan itu?’ batin Lily ketakutan. Khayalan-khayalan aneh menari-nari di otaknya sehingga mata gadis tersebut berkaca-kaca. Axel dengan mata tajamnya terus menatap Lily dengan tatapan membunuhnya, membuat gadis tersebut semakin gemetaran di sana. “Tuan Axel, tolong jangan bunuh saya, saya janji akan menyimpan rahasia itu dengan baik. Saya akan tutup mulut, tolong jangan bunuh saya, saya masih ingin hidup.” Lily memohon. Axel melangkah dan terus menatap Lily, seolah ingin membunuh gadis tersebut detik ini juga. Spontan Lily mundur karena pria itu semakin mengikis jarak di antara mereka berdua. Lily memberanikan diri menatap netra biru Axel. Napas pria tersebut semakin memburu. “Akhhh!” jerit Lily ketika Axel mencekiknya. “Kau adalah anak pembunuh! Terima konsekuensi apa yang sudah dilakukan ayahmu pada orang tuaku!” Axel semakin kuat mencekik leher Lily. Gadis tersebut terus berusaha melepaskan tangan Axel karena Lily merasa oksigen yang dihirupnya semakin menipis. “Uhuk ! Uhuk! Uhuk!” Lily terbatuk-batuk setelah Axel melepaskan cekikan itu, lalu gadis tersebut memegang lehernya yang terasa sakit. “Maksud Anda mengatakan hal yang tadi apa?” tanya Lily memberanikan diri. Axel mencengkeram pipi Lily sehingga mengembung. “Apa kata-kataku yang tadi masih kurang jelas?! Ayahmu Margharet sudah membunuh orang tuaku!” Setelah mengucapkan kalimat itu, Axel langsung menghempaskan Lily. Lily menggeleng cepat dengan mata yang berkaca-kaca. “Pembunuh? Ayahku membunuh orang tuamu?” Bunyi suara tamparan keras menggema di ruangan itu. Lily memegang pipinya yang terasa sangat panas, sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah. Axel menarik kerah kemeja Lily. “Anak pembunuh ini enaknya diapain, ya? Dijual ke om-om hidung belang atau dijual ke agen perdagangan manusia?” Lily menelan salivanya dengan susah payah. Air mata terus menetes dari netra indahnya. Pria yang berada di hadapannya sungguh sangat mengerikan. Axel menyunggingkan senyuman smirk yang membuat Lily semakin ketakutan di sana. “Berhenti menatapku seperti itu! Aku tidak akan pernah merasa iba kepada sia pun, terlebih kepada anak pembunuh!” “Berhenti mengatakan aku anak pembunuh! Aku percaya, ayahku tidak sejahat yang kau katakan! Ayahku hanya dijadikan kambing hitam oleh orang yang tidak bertanggung jawab!” balas Lily yang tidak mau kalah. Dia paling benci ketika ayahnya dikatakan seorang pembunuh. Naluri gadis itu selalu mengatakan ayahnya buka seorang pembunuh. Plak!! Lagi-lagi tamparan ke dua mengenai pipi mulus Lily. “Berani-beraninya kau meneriakiku! Siapa kau? Hah?!” Tangan Axel sudah berada di udara, berniat memberikan pelajaran kepada gadis yang sudah meneriakinya itu. Lily sudah menutup wajahnya dengan telapak tangan. Suara deringan ponsel menghentikan aksi Axel. “Axel, di mana kau?” tanya via telepon. “Ada apa?” “Cepatlah datang ke kantor. Di sini ada sedikit masalah,” jawab via telepon. “Baiklah, aku segera ke sana!” Axel mematikan sepihak panggilan, lalu memasukkan ponselnya ke saku. Sebelum pergi, dia masih sempat melemparkan tatapan tajam ke arah gadis yang sedang menangis ketakutan itu. “Aku harus pergi dari sini!” Lily langsung menghapus air matanya, lalu turun dari ranjang. Namun, sialnya pintu malah dikunci. Lily beralih ke arah jendela, dia segera ke sana. Lagi-lagi tidak bisa turun karena ruangannya disekap berada di lantai atas. “Kalau aku lompat pilihannya ada dua, yaitu ke kuburan atau tidak ke rumah sakit. Bagaimana ini?” lirih Lily mondar-mandir di tempatnya. Tempat ini sungguh sangat mengancam nyawanya. Tidak lama dari itu, pintu dibuka oleh seorang pelayan yang membawa makan ke kamar Lily. Hal itu tidak disia-siakan Lily, gadis tersebut langsung mendekati pelayan itu. “Ini makanan untuk kamu, Tuan tidak ingin kamu mati kelaparan karena dia belum puas untuk menyiksamu!” cetus pelayan itu, lalu memberikan nampan berisi makanan tersebut. ‘Cuma ini satu-satunya cara,’ gumam Lily. Seketika gadis tersebut langsung mendorong pelayan tersebut sehingga tersungkur ke lantai. “Kurang ajar!” umpat pelayan itu sambil memegang pinggangnya yang terasa ngilu. Lily tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi, segera ia berlari secepat mungkin. Pelayan itu juga mulai berdiri dan mengejar Lily. “Aku harus ke mana lagi?” Lily mulai menuruni anak tangga, sambil menoleh ke belakang. Dia semakin mempercepat langkahnya ketika pelayan yang ia dorong tadi ternyata mengejarnya juga. “Pak, tangkap dia!” teriak pelayan itu sekuat mungkin. Penjaga yang ada di tangga dasar langsung menoleh ke belakang. Lily berhenti berlari ketika dia sudah berhasil di kepung. “Mau lari ke mana lagi kau gadis kurang ajar!” murka pelayan yang tadi di dorong Lily. “Pak, tolong lepaskan saya. Saya tidak mau di sini.” Isak Lily. Namun, para penjaga itu malah menyeret paksa Lily masuk ke dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD