Bab 15 - Tujuh Jam Yang Lalu

1617 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Muliakanlah istri, perlakukan dia dengan baik. Itulah sebaik-baiknya seorang suami. Dokter mengatakan kalau Hilya akan sadar sebentar lagi. Operasi yang berjalan lancar tanpa ancaman membuat Aiza lega. Tapi nanti, rawat jalan harus tetap dilakukan. Takut kalau-kalau kanker itu tumbuh lagi. Aiza merasa beruntung karena kanker yang diderita Ibu cepat terdeteksi jadi bisa langsung disembuhkan. Tapi, apa yang terjadi jika cadar yang ia pakai tidak terbuka? Akankah operasi ini berjalan? Apakah Ibu bisa terselamatkan? Apakah kanker itu akan menyebar ke mana-mana hingga menyulitkan untuk sembuh? Entahlah. Hanya Allah yang tahu. Mungkin memang sudah begini jalannya. Aiza harus bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sekarang. Ia janji tak akan banyak mengeluh, percaya bahwa apa yang Tuhan berikan, memiliki maksud tertentu. Insiden terbukanya cadar itu melahirkan dua keadaan. Antara musibah, dan anugerah. Selesai melaksanakan salat ashar di musala, masih mengenakan mukena, Aiza membuka ponsel karena ada pesan masuk dari w******p. Batrainya nyaris kehilangan daya, Aiza lupa mematikan data. Ternyata pesan tersebut dari Rifki. Jantung Aiza berdetak dua kali lipat lebih cepat, siap membaca balasan dia setelah sebelumnya Aiza bicara jujur, kalau ia sudah telanjur menikah. Melihat ke belakang, Mario mendapati Aiza yang sedang menatap ponsel. Bahkan Mario bisa melihat sendiri tangan Aiza yang gemetar. Rifki Baiklah Aiza, tidak mengapa. Itu artinya kita memang tidak berjodoh. Maaf sudah pernah lancang mencintai kamu. Saya ikhlas jika harus melepas kamu. Asalkan, kamu tetap bahagia. Aku dapat kabar dari Indri kalau kamu menikah dengan anak dari majikan kamu. Aku lega, karena tidak dengan lelaki tua itu. "Kamu kenapa Aiza?" Sadar ada Mario yang mendekat, Aiza mengangkat kepala, saat itu pula ponselnya mati. Lekas Aiza membawa tangan Mario yang mengecup tangannya. "Maafin saya, telat." "Tidak pa-pa." "Karena sekarang kamu itu suami saya, jadi saya harus terbuka dan bicara jujur." Aiza memasukkan benda pipih tersebut ke dalam tas. Mario tidak lantas bicara, dia memilih menunggu Aiza meneruskan ucapannya yang menggantung. "Jadi begini. Sebelumnya saya sempat menaruh perasaan pada seorang lelaki, dan lelaki itu adalah lelaki yang pernah berniat untuk melamar saya. Dan hari ini, kita memutuskan untuk berhenti saling mencintai. Karena saya sudah telanjur menjadi istri kamu. Saya akan mengubur perasaan itu, dan berharap, perasaan itu bisa berpindah kepada kamu, tuan Mario." "Kamu serius, tidak akan kembali kepadanya? Kalian saling mencintai." "Pernikahan itu sekali seumur hidup. Dengan siapa pun saya menikah, itu berarti sudah menjadi takdir Tuhan, ketetapan Tuhan. Saya nggak mau repot-repot menolak dan berontak, terima saja yang sudah digariskan Allah, karena saya tau, pilihan-Nya adalah pilihan terbaik. Dia tidak mungkin salah menjodohkan pasangannya." "Sepertinya, aku juga harus melakukan itu..." Nama seseorang terlintas dalam benak, yang sampai saat ini, masih terpahat dalam hati. "Tolong beritahu aku Aiza, bagaimana caranya menjadi seorang suami yang baik?" "Gampang, tuan Mario." "Bagaimana?" "Muliakanlah istri, perlakukan dia dengan baik. Itulah sebaik-baiknya seorang suami." "Haruskah aku melakukan itu padamu, Lubna?" "Kalau saya, terserah kamu." "Baiklah, siapa takut." Lalu, tak lama kemudian, dibukanya mukena Aiza sampai membuat perempuan itu membulatkan kedua bola mata, tidak menyangka dengan tindakan Mario saat ini. Dia melepas atasan mukena yang melekat di tubuh Aiza dengan gerakan pelan. "Contohnya begini, bukan?" Lalu, Mario pun membenarkan letak kerudung Aiza dan cadarnya. "Apa aku sudah memuliakan istriku?" "Masyaa Allah, ini sudah lebih dari cukup." "Tidak, masih kurang." "Kenapa?" "Aku masih harus belajar yang lainnya." "Semuanya butuh proses." "Kamu mau bersabar menunggu?" "Selama orang itu mau belajar, saya akan terus berada di sampingnya." Sambil menunggu, Aiza dan Mario memutuskan untuk mengunjungi kantin. Mereka sama-sama lapar, sadar, dari pagi belum makan. Hari ini sungguh melelahkan. Lagi dan lagi, Aiza merasa terasingkan. Baiklah, jadikan ini sebagai menu santapan sehari-hari. Aiza setuju dengan pendapat yang mengatakan kalau perempuan harus berada di rumah. Sebab jika sering keluar, akan menimbulkan banyak fitnah. Setan sengaja mempercantik wanita agar menarik di mata laki-laki. Itulah mengapa, jika ada wanita yang melewati sekumpulan pria, mereka akan berusaha menggoda. Lain halnya dengan itu, Aiza setuju dengan pendapat itu bukan karena tentang fitnah dunia, tapi supaya terhindar dari tatapan aneh orang-orang yang kurang mengerti syari'at agama. Sebab kalau mereka mengerti, pasti mereka setuju-setuju saja dengan pakaian yang dikenakan Aiza tanpa memandang rendah. Dua piring makanan tersaji di atas meja. Bismillah... Ini yang sulit, makan di waktu memakai niqab. Tenanglah Aiza, ini sudah biasa. Tapi orang-orang di sini, melihatnya dengan tatapan menelisik. Seolah mempertanyakan cara makan Aiza yang bisa dibilang terlalu merepotkan. Sebelum makan, Aiza melihat tangan Mario melambai ke arah belakang Aiza sambil tersenyum dan memanggil. Seperti berjumpa dengan seorang teman yang telah lama tak bersua. Betul saja, sesosok lelaki menghampiri meja Aiza dan Mario. Otomatis Mario berdiri, dan berjabat tangan dengan lelaki yang masih menjadi tanda tanya di benak Aiza. Teman, kah? "Bagaimana kabarmu, Mario?" "Baik. Kamu sendiri?" "Tentu, baik juga." Mario tersenyum ramah. "Boleh aku bergabung di sini? Kebetulan, aku lapar, ingin memesan makanan. Makan bersama, mungkin menyenangkan?" "Silakan." Mario kembali duduk, begitupula dengan lelaki yang kini mulai memokuskan pandangan pada Aiza yang diam mematung. "Dia siapa?" tanyanya pada Mario. "Dia Aiza..." "Siapa?" "Istri." "Istri?!" dia tampak terkejut. "Aiza, kenalkan, dia teman kuliahku dulu. Namanya Dean," ucap Mario memperkenalkannya pada Aiza yang mulai kikuk. Aiza sadar, respons tiap orang pasti terkejut ketika mendengar kalau dia dan Mario adalah sepasang suami istri. Pasalnya, dari segi mana pun, mereka itu begitu kontra. Bagai langit dan bumi. Mario kaya, Aiza miskin. Mario pintar, Aiza bodoh. Mario modis, Aiza? Sederhana. Tapi dengan gampanya Tuhan menyatukan. Mungkin, untuk saling melengkapi. Lelaki itu mengulurkan tangan, tapi dibalas Aiza dengan rapatan tangan yang berbalut handshock. "Salam kenal, Aiza." Merasa jengah karena uluran tangannya ditolak, dengan terpaksa Dean menarik tangan kembali. Lalu atensinya kembali pada Mario. "Kapan menikah?" "Tujuh jam yang lalu." "Wow." Dean kembali mendapat kejutan lebih memukau. Dan kali ini, tak kalah menarik dari berita sebelumnya. "Kenapa? Keren, ya? Iya, pernikahan paling unik. Seharusnya kita sedang berada di pelaminan, tapi, sekarang? Kita berada di rumah sakit. Kita habis jalan-jalan keliling rumah sakit kan Aiza? Mendo'akan mereka yang sakit agar cepat sembuh?" Uhuk!! Aiza tersedak oleh makanan suapan pertama. Mario pandai sekali mengarang cerita. Segeralah Mario menyodorkan air minum. "Pelan-pelan." "Terima kasih." "Waah romantis sekali, ya?" tanggap Dean takjub. Itu adalah pernikahan terunik yang pernah dia dengar. "Percuma juga kan acara pernikahan mewah tapi rumah tangganya tidak awet?" "Betul." Aiza memilih diam sambil meneruskan makan, membiarkan Mario bercakap-cakap dengan temannya itu. Pasti sudah lama sekali mereka tidak bertemu. "Bukankah sewaktu terakhir bertemu, kekasih kamu itu bernama Claudia. Lalu..." "Sudah putus." Dean sedikit tercengang, ingin bertanya banyak, namun ia urung. Hingga memilih manggut-manggut seolah paham. Mendengar pembicaraan mereka, Aiza juga mengerti. Dalam hati Mario, pasti masih tersimpan nama Claudia, tapi dia pura-pura kuat, amnesia, dan tidak mau tahu. Mengingat malam itu, di mana Mario pulang dalam keadaan mabuk karena harus berpisah dengan Claudia, membuktikan kalau dia benar-benar mencintainya. Aiza tidak pernah menyangka pernikahannya harus diawali dengan cara seperti ini. Di mana Mario yang masih mencintai perempuan lain, juga Aiza yang masih menaruh hati pada Rifki. Ya Allah, maafkan kami. Semoga semua berjalan baik-baik saja. Teguhkanlah hati kami untuk tetap menjalani rumah tangga ini. "Ceritanya panjang," jawab Mario ketika diberi pertanyaan mengapa pernikahannya dibuat sesederhana mungkin dan tidak mengundang siapa pun. "Omong-omong, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mario basa-basi. "Aku baru menjenguk pacarku." "Ooh. Akhirnya kamu memiliki kekasih juga." Yang Mario tahu, dulu Dean tidak pernah menjalin asmara dengan lawan jenis. Katanya, belum menemukan yang cocok. Ini berita bagus. "Berita bagus apanya?" Aiza bertanya sewaktu mereka sudah kembali berjalan mengunjungi ruang rawat Hilya. Alhamdulillah, setelah operasi, tidak menimbulkan komplikasi apa-apa, hingga Hilya bisa langsung dipindahkan ke ruang rawat. "Karena akhirnya dia berpacaran juga setelah sebelum-sebelumnya menjomblo. Itu artinya, dia sudah mendapatkan pasangan." "Saya rasa, itu tidak bagus. Malahan buruk." "Lho? Kenapa?" "Pacaran sebelum menikah, sebelum ada ikatan halal, itu namanya zina." Langkah Mario tercekat. Aiza pun ikut berhenti karena menyadari Mario yang tiba-tiba menyendat langkah. Kepala Aiza tengadah. "Zina itu apa?" "Hubungan antara dua lawan jenis sebelum ada ikatan halal." "Tapi kan itu hanya pacaran biasa? Tidak sampai melakukan hubungan intim di atas kasur." "Berzina bukan hanya melakukan hubungan layaknya suami istri yang sudah sah, tapi juga berpegangan tangan, berpandangan, berpelukan, dan apa pun itu yang dilakukan oleh mereka yang berpacaran. Sebenarnya, bukan kata pacaran itu yang haram, tapi aktivitasnya yang banyak melanggar aturan agama. Makannya dikatakan haram." "Oh jadi begitu, ya?" Mario mulai melanjutkan langkah. "Aku pun dulu begitu, dosa ya?" "Asal kamu mau bertaubat, Allah pasti mengampuni." "Terima kasih atas ilmunya, aku sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah." "Ada apa di rumah?" "Belajar agama bersamamu." Mario merangkul bahu Aiza, namun refleks Aiza menjauh. Punggung itu serasa disengat aliran listrik ratusan volt, padahal baru sentuhan kecil. "Kenapa? Bukankah sudah halal?" Astagfirullah. Bodoh sekali Aiza ini. Aiza mencoba tersenyum. Lihatlah, niqab ini begitu berguna bagi Aiza. Selain menyembunyikan kecantikan, kain ini juga menyembunyikan rona merah akibat rasa malu. Ternyata, cadar itu memiliki banyak sekali manfaat. Seharusnya para perempuan tidak perlu repot-repot melakukan perawatan wajah demi menghasilkan wajah bersih dan cantik sampai harus mengeluarkan uang puluhan juta. Pakai saja niqab, pasti wajah bisa terlindungi dari debu atau sinar matahari yang dapat menyebabkan kulit wajah kotor dan kusam. Betapa indahnya jika kita memperdalam agama Islam dan mengikuti aturannya. "Oh iya, ya. Sudah halal. Mari." Berada sedekat ini dengan lelaki yang sudah sah menjadi suami, membuat Aiza seperti baru pertama kali mengenal lelaki. Ternyata begini. Terkesan canggung dan ganjil. Jantung seperti tidak mau berhenti berdetak tak terkendali. Walaupun Mario tidak begitu tahu ilmu-ilmu agama, tapi dia tau bagaimana caranya memperlakukan wanita dengan baik. Itu semua sudah cukup. Aiza tidak akan mempermasalahkan masa lalu Mario. Yang akan dia lihat, adalah Mario yang sekarang. "Tidak perlu canggung. Anggap saja aku ini seorang teman." "Teman?" "Iya, tapi teman halal." Ia tertawa. Aiza ikut tertawa. "Baiklah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD