بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pamer aurat itu kebiasaan yang bisa dibilang lumrah, tapi hakikatnya, itu kebiasaan buruk, memicu bertambahnya dosa.
"Apa?! Pernikahannya sudah berlangsung?! Bagaimana bisa? Aku kan mempelai pria, mengapa acaranya selesai begitu saja tanpa aku ketahui?!"
Mendengar suara keributan di luar, Aiza merinding sendiri ketika ingin keluar kamar. Namun Mario berusaha menenangkan. Untuk menghadapi Marteen, bukanlah perkara sulit. Bertengkar dengannya? Sudah biasa? Dicaci maki dan dianggap bukan anak? Sudah lumrah. Didamprat sesuka hati? Sudah jadi makanan sehari-hari.
Sosok seorang Ayah yang penuh kasih sayang sudah sirna dari dalam dirinya sejak beberapa tahun lalu.
Sejak dia memutuskan untuk berselingkuh.
Karena Eliza memilih sesuatu yang kontra dengan jalan hidup Marteen.
"Seharusnya dia intropeksi diri. Sudah tua, tapi menginginkan wanita muda. Mana cocok?" gerutu Mario saking jengkel.
Sosok menyebalkan tapi membuat tergilitik kembali muncul, Aiza ingin tertawa. Mulutnya yang senang berkomentar pedas itu sudah tidak asing masuk ke telinga Aiza.
Mario membuka kamar, Aiza memilih berdiri di belakang. Tubuhnya dialiri kegentaran kentara. Tak kuasa melihat kemurkaan Marteen. Astagfirullah. Apa jadinya jika ia menikah dengan lelaki itu? Bodoh sekali Aiza saat itu. Ketika pikiran buntu dan kacau berantakan, itulah yang terjadi; mengambil keputusan tanpa pikir panjang dulu.
Para pembantu dari mulai tukang kebun dan asisten rumah tangga lain berkumpul di sana. Semuanya mendapat semprotan amarah seorang Marteen.
"Tidak usah menyalahkan mereka, karena aku yang sudah menggagalkan perikahan itu."
Marteen mengalihkan pandangan ke asal suara, pemandangan tak senonoh pun tak bisa dimungkiri dari matanya. Dia melihat Mario berpegangan tangan dengan Aiza---calon istrinya---yang hanya berpakaian gamis dan khimar biru dongker, tak lupa dengan cadar berwarna merah. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Seharusnya Aiza mengenakan gaun pengantin.
Ingatan Mario terputar kembali ke waktu beberapa jam lalu. Waktu di mana dia mengambil keputusan, berniat menikahi Aiza. Jika ia membiarkan Marteen menikah dengan Aiza, maka dua wanita akan tersakiti. Ibunya, juga Aiza yang Mario yakini, terlalu kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah. Aiza masih terlalu muda untuk menikah dengan ayahnya, dia akan tersiksa dengan itu semua, gadis seusia dia tidak akan mampu menghadapi ujian hidup tinggal bersama lelaki seperti Marteen. Mana mungkin Mario tinggal diam sementara dialah penyebab Aiza berada dalam masalah rumit ini.
Sampai kapan pun, Marteen tidak akan setia pada wanita manapun.
Mario memasuki dapur, salah satu pembantu sedang mencicikan air ke dalam gelas.
"Itu untuk siapa?"
"Untuk tuan Marteen. Katanya, dia ingin minum air putih sebelum ijab dimulai. Untuk menghilangkan rasa gugup."
"Aku ingin kamu menuangkan obat ini ke dalam gelas ini."
Bi Surti membelalang. "Hah? Kenapa harus dikasih obat tidur? Bukankah tuan Marteen akan segera melangsungkan pernikahan?"
"Perempuan yang akan Ayah nikahi adalah seorang gadis muda. Memiliki masa depan panjang. Lakukan ini untuk menolongnya."
Dengan ragu, bi Surti menerima obat tersebut.
"Tenang saja, aku akan membayarnya."
Mario mengeluarkan uang dari dompetnya, lalu disodorkan kepada bi Surti.
"Tapi saya takut dia akan marah besar."
"Masalah itu urusan aku."
"Ya sudah, baiklah." Bi Surti menerima uang tersebut seraya mengangguk.
Mario keluar dari dapur, sedangkan bi Surti mulai mencampurkan obat tersebut ke dalam minuman tuan Marteen dengan hati tak tenang. Tapi demi menyelamatkan Aiza, ia harus mau melakukannya.
Kalau dengan ini ia akan berhadapan dengan masalah besar, itu urusan nanti.
Yang penting, niatnya baik, ingin membantu seseorang yang berada dalam masalah genting. Lagi pula, bi Surti tahu betul bagaimana perangai tuan Marteen. Dia tidak pantas menikah lagi.
Membawa gelas di atas nampan, bi Surti memasuki kamar tuan besar.
"Silakan diminum, Tuan. Supaya rileks."
"Simpan di sana."
Ketika Marteen sibuk berkaca sambil merapikan jas hitam mengilap yang membalut kemeja putihnya, bi Surti meletakkan air minum di atas nakas.
Setelah siap, Marteen duduk di sisi ranjang untuk menenggak air putih tersebut.
Marteen meminumnya sampai habis.
Tapi tak lama kemudian, kepalanya terasa sangat berat.
Matanya yang menyipit, disempatkan untuk melihat jarum jam. Masih ada waktu setengah jam untuk beristirahat sejenak.
Rasa kantuk itu kian memuncak, hingga akhirnya Marteen tertidur, masuk ke alam lain. Pengaruh obat tidur itu begitu cepat menguasai.
Marteen tertidur pulas di sana, sampai Mario menggantikan posisi dia untuk menjadi pengantin pria.
Untungnya, semua berjalan lancar. Mario sudah hafal nama ayah Aiza, diberitahu saat meminta izin pada Hilya di rumah sakit.
"Acara sudah selesai, karena aku yang menikahi Aiza. Jadi..." Mario merogoh sesuatu dalam saku celana, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu. "Aku yang sudah membiayai operasi Ibu dari Aiza." Diletakkannya segepok uang itu di atas meja. "Jadi Ayah sudah tidak memiliki tanggung jawab apa-apa lagi pada Aiza. Semuanya sudah aku tanggung. Aku sudah sah menjadi suaminya, aku yang akan membiayai semua kebutuhannya."
Aiza melihat wajah Marteen yang memerah, siap menyemburkan luapan api amarah. Tangannya mengepal. Sepertinya, Aiza harus menyiapkan mental penuh. Bagaimanapun, dia masih mengingat ancaman Marteen yang selalu mengganggu ketenangan.
"Berani-beraninya kamu melakukan ini, Mario!"
"Ya, aku memang berani. Kenapa? Ayah tidak terima?"
"Jadi kamu sudah menceranakan semua ini sejak awal?!"
"Ya, aku lebih cerdas dari Ayah. Mulai sekarang, lebih baik Ayah fokus pada Ibu. Tidak usah genit dengan perempuan lain. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan Ayah menduakan Ibu."
Pandangan yang awalnya tertuju pada Mario, kini terlempar pada Aiza.
"Aiza, berani-beraninya kamu mengkhianati saya! Bukankah kita sudah membuat komitmen?! Bukankah kamu sudah berjanji akan menikah dengan saya?! Kenapa kamu ingkar? Kamu sedang bermain-main dengan saya, Aiza?"
"Aiza tidak tahu apa-apa. Ini murni rencanaku sendiri," penggal Mario.
"Ayah tidak peduli! Yang jelas, Ayah tidak terima dengan ini semua. Ayah tidak akan tingga diam."
"Terserah."
Mario melangkah, membawa Aiza keluar dari rumah megah itu. Mengabaikan teriakan Marteen yang berbahana dan menggema keras. Membuat para pembantu yang ada di sana tegang.
Di tempat ramai seperti ini, Aiza merasa dirinya sebagai Ghuraba, terasa begitu asing. Karena semua wanita, nyaris tidak ada yang berpakaian seperti dirinya.
Semua orang melempar tatapan seolah Aiza adalah makhluk aneh yang sedang tersesat di Bumi.
Pelataran rumah sakit seperti sedang kedatangan tamu tak diundang.
Aiza sudah kebal, ini biasa. Walaupun risi, tapi apalah daya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Harusnya ia bersyukur, lantaran menjadi asing di antara orang-orang yang memakai pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuh. Jadi kenapa harus malu dan merasa tersisihkan?
Tanpa rasa malu dan dosa, mereka membiarkan rambut indah mereka terlihat oleh orang lain yang bukan mahram. Kebiasaan yang bisa dibilang lumrah, tapi hakikatnya, itu kebiasaan buruk, memicu bertambahnya dosa.
Selalu banyak alasan yang mereka katakan untuk menunda berjilbab.
Belum siap.
Memang, mau menunggu sampai mati?
Gerah.
Memang, panasnya di dunia sebanding dengan panasnya di akhirat? Padahal panas api neraka jauh lebih dahsyat.
Jangan sampai membuat malaikat bingung. Ketika di dunia mereka tidak berjilbab, tapi kenapa sewaktu di kuburan mereka berjilbab?
Tiba-tiba, langkah Aiza dan Mario dihentikan oleh seorang satpam.
Astagfirullah. Aiza tahu mengapa satpam itu bertindak seperti ini. Karena sebelumnya, Aiza juga pernah dicegat. Katanya, takut kalau Aiza membawa s*****a berupa bom.
Sakit hati?
Iya.
Sama saja dengan fitnah. Harus Aiza katakan bagaimana lagi pada mereka?! Kalau ia bukan teroris.
Jika dengan berpakaian seperti ini membuatnya sering dituduh teroris, Aiza rela dan menerima dengan ikhlas. Daripada harus melepas niqab dan berubah pakaian layaknya orang biasa yang tak pernah sedikitpun dicurigai. Ketaatannya pada sunah, tidak bisa dibantah dengan apa pun.
Dulu juga Aisyah sempat marah-marah sewaktu Aiza dilarang masuk ke pasar. Lagi-lagi, karena masalah pakaian yang mencurigakan. Perempuan yang pakaiannya pendek tidak pernah sekalipun dipandang hina, tapi kenapa kakaknya yang tertutup sering dituduh yang tidak-tidak? Padahal dalam Islam, para wanita dianjurkan untuk menutup aurat. Seharusnya yang dinasehati, adalah mereka yang berpakaian minim.
Terserah mereka mau bicara apa.
Tugas Aiza hanya satu.
Mendo'akan mereka agar cepat diberi hidayah.
Sekali lagi, bukan hak kita untuk membenci mereka. Mereka begitu, karena mereka belum mengerti dan paham.
Begitulah tanggapan Aiza.
"Lepas dulu cadarnya, mbak."
"Kenapa harus dilepas?" tanya Mario pada satpam tersebut dengan wajah heran.
"Saya hanya menjaga-jaga. Akhir-akhir ini kan berita teror bom sedang panas, dan yang dicurigai adalah wanita dengan pakaian seperti ini."
"Bapak tahu, kalau dia melepas cadar dia, bapak akan langsung jatuh hati."
"Hah, masa, sih, Mas?! Ngaco!" si bapak berkumis tebal itu terkekeh jenaka.
"Dia bukan teroris, melainkan bidadari cantik yang harus dijaga. Makannya ditutupi."
Satpam tersebut mulai menilik-nilik Aiza, terutama pada daerah matanya yang bulat. Jika dilihat-lihat dengan jelas, memang, perempuan ini terlihat cantik walaupun wajahnya ditutupi. Mata si satpam menyipit.
"Sewaktu pertama kali saya melihat pun, saya pernah menyangkanya sebagai teroris. Tapi pada akhirnya? Sekarang dia menjadi istri saya. Itu tandanya, dia tidak sebahaya yang ada di pikiran orang-orang."
Aiza menggeleng-gelengkan kepala mendengar cerita Mario, astaga. Dia jadi ingat saat pertama kali masuk ke rumah mewah yang mampu membuatnya terpukau. Begitu masuk, Mario menyangkanya sebagai teroris yang salah alamat.
"Jadi Anda tidak perlu takut. Dia istri saya. Dan percayalah, begitu masuk, rumah sakit ini tidak akan hancur," tandas Mario yang membuat si satpam so tau itu bungkam.
"Ya sudah, silakan masuk."
"Terima kasih, Pak. Saya jamin, saya tidak akan melakukan apa pun," ucap Aiza menundukkan kepala.
Wajah satpam itu berubah kikuk. Mungkin, merasa bersalah.
"Kamu nggak malu, jalan sama saya?" bisik Aiza pada Mario yang berjalan santai memasuki gedung rumah sakit tanpa memedulikan orang-orang yang mulai berbisik-bisik. Iya, memang aneh. Setelan Mario dan Aiza sangat bertolak belakang. Dan yang pastinya, yang menjadi perbincangan, adalah Aiza yang berniqab. Sebab masyarakat di sini, jarang menemukan wanita seperti Aiza.
"Kenapa harus malu?"
"Semua orang pasti berpikir, saya adalah ninja yang sedang bekerja, menjadi bodyguard kamu."
"Kamu lucu, Aiza."
"Karena itu yang bisa saya lakukan, ketika mendapatkan tatapan tak suka dari mereka."
Mereka berdua tertawa. Konyol sekali. Seolah tidak ada makhluk apa pun selain dari mereka.
"Sebelumnya terima kasih, tadi kamu bela saya."
"Bukankah itu sebuah kewajiban? Mana mungkin aku menyuruh kamu membuka cadar? Bukan hanya kamu yang rugi, tapi aku juga."
"Kenapa kamu merasa rugi?"
"Karena wajah kamu, hanya bisa dinikmati oleh aku seorang."
Aiza terkekeh. Tidak susah menjalin komunikasi dengan Mario yang memiliki sifat supel dan gampang ngomong.
"Dulu juga saya pernah dicegah. Tapi, begitu sulit membujuk dia sampai akhirnya saya harus cari pintu lain."
"Mulai sekarang, kamu tenang saja, karena ada aku yang akan selalu membela kamu."
"Saya senang mendengarnya."
"Kamu tau, Aiza. Kamu telah mengubah pandangan aku tentang wanita bercadar," ucap Mario. "
"Sekarang di mata kamu, bagaiman wanita bercadar itu?"
"Sangat mulia, karena mereka begitu pandai menjaga diri. Penyabar, karena tidak pernah peduli dengan cacian orang-orang."
Di balik niqab, Aiza tersenyum.
Mario dan Aiza memasuki lift. Aiza sudah tidak sabar bertemu Hilya.