بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Salat itu kewajiban umat Islam. Mau bahagia, atau tidak, tetap saja, salat itu wajib dilaksanakan
"Aku tidak akan menikahinya sebelum mendapat restu dari Ibu."
Sebelum melakukan aksinya itu, Mario terlebih dahulu menemui Hilya yang sudah dipindahkan ke rumah sakit jauh lebih besar.
"Jika itu untuk menolong putri saya, saya ridha. Tapi, kalian tidak saling mencintai. Dan bagaimana bisa kamu menikah dengan Aiza? Apa kamu menyukai perempuan seperti anak saya?"
"Kenapa? Tidak cocok, ya? Ya, aku tahu. Pemahan agama dia begitu tinggi..."
"Tidak, jangan memuji anak saya seperti itu. Dia hanya ingin menjaga diri."
"Sedangkan aku, aku ini laki-laki yang selalu berprasangka buruk pada Tuhan-Nya."
"Maksud saya, Tuan adalah laki-laki cerdas dan kaya, sementara anak saya? Dia hanya gadis kampung dengan pendidikan SMA."
"Memang Tuhan memandang umatnya dari segi di mana dia tinggal dan batas pendidikan?"
Hilya terdiam beberapa jenak.
"Dan sepertinya, di hadapan Tuhan, derajatku dan Aiza beda jauh. Yang jelas, Aiza lebih tinggi."
"Aiza hanya wanita akhir zaman, yang masih memperbaiki diri."
"Apa Ibu ridha, jika aku menikahinya? Aku akan menggantikan uang Ayah dengan uangku. Aku yang akan membiayai rumah sakit dan operasi. Bukan karena aku ingin menikahi Aiza, anggap ini permintaan maafku, karena sempat melarang Ibu pulang kampung untuk menemui Aiza dan laki-laki yang akan melamarnya."
Jujur, ini keputusan berat.
Tapi entah mengapa, Hilya merasa tenang jika harus menyerahkan Aiza pada Mario. Walaupun ilmu agamanya sangat dangkal, tapi Hilya tahu, dia anak yang baik.
Mario sering memuji masakannya.
Mario sering memberi uang tambahan sebagai ucapan terima kasih, karena Hilya sudah merawat ibunya dengan sabar.
Setiap kali ada pengemis yang datang ke rumah, ia pasti memberi.
Tapi dalam urusan salat dan patuh pada aturan, Mario seringkali lalai. Bahkan dia tidak pernah berbibadah sama sekali.
Hilya sendiri tidak tahu, mengapa Mario seperti orang yang selalu menentang pada aturan Agama, seolah membenci. Ada pertanyaan konyol yang kerap Mario lontarkan ketika memergoki Hilya salat di kamar Eliza.
Untuk apa salat? Sampai sekarang, kamu masih tetap menjadi pembantu, kan?
Agama Islam itu sempurna, maka, biarkan Aiza yang melengkapi.
Hilya sudah menganggap Mario seperti anak sendiri.
Apa salahnya menerima niat baiknya untuk menyempurnakan separuh Agama Aiza?
"Saya lebih baik menyerahkan Aiza pada tuan Mario ketimbang tuan Marteen. Bahagiakanlah putri saya. Dan berubahlah menjadi lebih baik. Tanya padanya, mengapa kita harus salat?"
Menggenggam erat tangan Eliza, Mario merenung.
Entahlah, menikahinya tidak membuat aku berat. Justru aku merasa tenang.
Iya, aku sempat ingin melakukan kebodohan, yaitu pindah keyakinan demi cinta. Karena yang aku rasa, Claudia telah memberi aku kebahagiaan nyata dibandingkan Tuhanku sendiri.
Ke mana Dia selama ini?
Ketika mendekat pada Dia, masalah datang bertubi-tubi. Tapi ketika menjauh, hidupku jauh lebih baik, apalagi setelah mengenal Claudia.
Namun lagi-lagi Tuhan menjauhkan dia dariku. Membuat luka baru di hati.
Tapi untungnya, aku selalu teringat dengan Ibu. Apa jadinya ketika Ibu sembuh dan melihat aku sudah berpindah keyakinan?
Pasti Ibu marah besar, kan?
Aku salut pada Aiza. Demi balas budi, dia rela mengenyampingkan kebahagiaan.
Aku pun harus melakukan hal yang sama. Melindungi Ibu. Karena yang aku tahu, Ibu sangat mencintai Ayah. Aku tidak tega, ketika sadar nanti Ibu melihat Ayah memiliki wanita lain.
Aku tidak percaya dengan yang namanya cinta. Cinta itu menyakitkan.
Mungkin dengan menikahi Aiza, kehidupkanku akan jauh lebih baik. Sekaligus untuk menghukum Ayah. Karena tidak semua yang ia mau, harus dimiliki. Dia harus menerima kenyataan.
Dan selamat untuk Ibu, Ibu mendapatkan menantu salehah.
Yang akhir-akhir ini, selalu membacakan Al-Qur'an di sebelah Ibu.
Dengan tangan gemetarnya, Aiza mengetik di papan pesan.
"Afwan, saya tidak bisa menelepon. Tidak ada pulsa. Hehe..."
Mencoba tersenyum, walaupun hatinya sakit. Kembali tangan itu menari di atas keyboard.
"Untuk tawaran kamu tadi, dengan terpaksa saya harus menolak. Karena pernikahan itu sudah telanjur terjadi. Saya telah menyadarinya kalau tindakan saya itu salah. Saya terlalu gegabah, pemikiran saya sempit. Tapi saat menyadari, semuanya sudah terlambat. Jadi, mungkin sampai di sini saja hubungan kita. Sekali lagi saya minta maaf.
Tapi kamu tenang saja, saya baik-baik, kok di sini.
Wassalamu'alaikum.
Pesan w******p terkirim, tapi tidak ada tanda-tanda Rifki sedang online. Pesan yang terkirim masih berstatus belum diterima.
Sambil menunggu pesan itu dibalas, Aiza meletakkan ponsel di meja rias. Karena memang, sekadang Aiza duduk menghadap cermin.
Membuka khimar dan segala pernak-pernik yang sedari tadi menghiasi di depan cermin, Aiza berspekulasi. Bagaimana caranya tadi Mario menghentikan pernikahannya dengan Marteen. Apa yang dia lakukan pada ayahnya itu. Ke mana Marteen?
Setelah melepas kerudung, Aiza membuka ikat rambut hingga rambut hitam panjangnya tergerai. Azan zuhur sudah berkumandang, waktunya melaksanakan salat empat rakaat. Aiza menyisir rambut untuk merapikan.
Pintu terbuka dari luar, kontan Aiza mengalihkan pandangan ke belakang dengan wajah tegang. Astagfirullah! Tidak ada yang boleh melihat auratnya.
Saat ingin memakai kerudungnya lagi dengan gerakan gentar, Aiza baru menyadari sesuatu.
Dasar bodoh!
Pria yang membuka pintu kamar itu Mario. Lelaki yang beberapa jam ke belakang sudah mengucapkan ijab kobul. Jadi, bukankah dia sudah berhak melihat auratnya?
"Maaf." Aiza melepas kerudungnya lagi. Berusaha serileks mungkin.
Ya Allah, kenapa rasanya deg-degan gini?
Aiza malu menampakkan diri dengan keadaan terbuka begini, walaupun hanya rambut.
"Ada kabar bagus." Mario mulai bersuara setelah sebelumnya mematung melihat Aiza tanpa penutup kepala. Benar-benar berbeda, dan itu membuat Mario seperti melihat orang lain.
Rambutnya begitu indah.
Dan, wajahnya begitu lugu.
Di balik niqab yang selama ini menutupi wajahnya, dia menyimpan kecantikan luar biasa. Jika perempuan lain selalu bangga memamerkan kecantikan mereka dengan cuma-cuma, tapi Aiza dengan apik menyembunyikan. Dia menjaganya sepenuh hati. Melindungi kecantikan, untuk diberikan pada orang yang berhak menikmati.
Hanya ada segelintir orang yang bisa melihat parasnya, apakah Mario termasuk lelaki beruntung?
Tidak, Mario merasa tidak pantas mendapatkan perempuan seperti Aiza. Ia juga tidak pantas melihat kecantikan hakiki itu.
Sekarang Mario paham, mengapa Islam menyuruh wanita untuk menutupi kecantikan mereka. Aiza saja, ketika cadarnya terbuka, ia langsung mendapat musibah; dicintai lelaki tua.
Coba bayangkan saja, jika Aiza tidak menjaga kecantikannya, pasti banyak sekali laki-laki yang bisa menikmati secara gratisan.
Ya, sekarang Mario paham.
"Kabar apa?"
"Ibu kamu sudah selesai operasi. Dan, operasinya berjalan lancar."
"Benarkah?"
Mario menangguk.
"Alhamdulillah..." Aiza menangkup wajahnya. Mengucap syukur tiada henti atas nikmat ini. Beban yang memberatkan, perlahan luruh, membuat hati lega. Kesembuhan Ibu bagai hadiah terindah yang Aiza dapat di hari ini.
"Aku tunggu kamu di luar, kita pergi sama-sama." Mario hendak keluar kamar lagi, tapi Aiza langsung mencegah.
"Tunggu, Tuan!"
"Jangan panggil Tuan, aku suami kamu."
"Emm, maaf. Saya lupa." Aiza mulai gelagapan. Entahlah, rasanya begitu kaku. Bagaimanapun, dari dulu, ia tidak pernah bergaul dengan laki-laki. Sekarang juga, Aiza merasa benar-benar kikuk setengah mati. Selain Ayah atau keluarga yang mahram, Aiza belum pernah menampakkan wajah apalagi rambut.
Jadi, wajar bukan bila Aiza merasa asing dan kelihatan jengah?
"Apa bisa kita salat dulu?"
Mario termangu.
"Iya, salat." Aiza melanjutkan untuk memperjelas walaupun terkesan malu lantaran tidak enak. Jika dulu, Aiza tidak akan memaksa Mario, terserah dia mau salat atau tidak. Itu urusannya dengan Tuhan. Tapi sekarang, Aiza memiliki tanggung jawab besar untuk mengingatkan Mario.
"Nanti saja, di rumah sakit."
"Saya maunya sekarang. Karena umur tidak pernah ada yang tahu. Bisa aja terjadi sesuatu di perjalanan."
"Tapi aku lupa tata cara salat."
Lupa?
Jadi, Mario juga pernah melakukan salat?
Aiza pernah mendengar, ketika sudah menikah, kita akan menemukan hal-hal baru dari pasangan. Aiza belum kenal Mario lebih dalam, begitu pun sebaliknya. Mulai sekarang, mereka bisa berbagi cerita.
Masyaa Allah, ini berita baik.
"Akan saya ajarkan," ucap Aiza lugas.
Aiza melangkah, mendekati Mario yang masih terdiam seribu bahasa. Aiza menutup pintu dahulu, lalu meraih pergelangan tangan Mario. "Akan saya ajarkan," katanya dengan nada lembut, menatap Mario penuh makna.
Sentuhan tangan mereka melahirkan gentar. Gelenyar aneh merambat, karena untuk pertama kali juga, Aiza menyentuh tangan seorang pria. Dan, rasanya, begitu ... Ma syaa Allah. Tidak bisa diungkap kata-kata. Ternyata begini rasanya, menjalin kasih dengan lawan jenis?
Walaupun belum ada cinta, tapi mengapa rasanya secanggung ini? Apa karena ini efek dari Aiza yang selama ini anti menyentuh tangan yang bukan mahram?
Dia sudah halal, Aiza. Kamu bebas memperlakukannya. Dia suami kamu. Kamu wajib menuntunya ke arah yang lebih baik.
Sisi baik Aiza berbisik demikian, mendorong Aiza untuk terus yakin, kalau Mario memang pantas untuk dimiliki.
Perlahan Mario mengangguk.
Setelah mereka berada di toilet, Aiza mengajarkan Mario berwudu yang benar. Beruntungnya, Mario langsung paham.
Melihat Mario wudu, rasa bahagia menyusup relung hati. Mungkin benar perkiraannya, hati Mario memang lembut, tidak keras. Dia hanya butuh dibimbing, dia hanya butuh panutan. Dan tentunya, itu adalah tugas orang tua. Tapi takdir membuatnya tersesat seperti di hutan antah berantah yang kehilangan peta. Marteen sebagai Ayah, kerap tidak peduli pada anaknya, sedangkan Eliza, dia tidak bisa apa-apa lantaran sakit.
Tugas Aiza sekarang, melupakan semua sikap buruk Mario. Apa pun yang ia perbuat di masa lalu, jangan sampai membuat dia terhambat untuk berubah.
Aiza jadi ingat saat pertama kali masuk ke rumah ini.
Di waktu Magrib, Aiza melihat Mario masih asyik menonton televisi di atas sofa dengan cemilannya. Tidak menggubris suara samar-samar azan yang berkumandang.
Aneh. Seharusnya, dia bersiap untuk melaksanakan ibadah salat fardu tiga raka'at. Tapi kenapa dia masih asyik di depan tivi?
"Tuan tidak siap-siap untuk melaksanakan salat?"
Mario mengalihkan pandangan ke tempat Aiza berdiri. "Untuk apa?" tanyanya dengan nada sinis.
"Untuk salat, laki-laki itu lebih baik salat di Masjid daripada di rumah. Dan, tidak baik membiarkan televisi menyala di waktu Magrib."
"Untuk apa aku salat kalau hidupku sudah bahagia? Buang-buang waktu. Menonton tivi jauh lebih menyenangkan."
"Astagfirullah. Salat itu kewajiban umat Islam, Tuan. Mau bahagia, atau tidak, tetap saja, salat itu wajib dilaksanakan."
Mario malah mendengus malas. Mengganti saluran tivi dengan remote tanpa memedulikan ucapan Aiza.
"Salat dilakukan ketika bahagia, itu petanda kita mensyukuri nikmat Tuhan. Salat ketika kita bersedih, sebagai sarana untuk menenangkan hati."
"Kamu tidak berhak menyuruh dan menasehati. Sekarang kamu pergi, aku malas salat."
Aiza mengangguk. Yang penting dia sudah mengingatkan. Terserah Mario mau nurut atau tidak. Lagi pula, Aiza tidak berhak mengatur. Gadis itu pun berlalu, Mario menjangkau kepergian Aiza, lalu tak lama kemudian bergumam.
Untuk apa salat? Aku tidak pernah mendapatkan timbal balik apa-apa.
Mungkin ini cara Tuhan, sudah jalannya begini. Akulah yang akan membuat Mario berubah.
Jika dulu ketika dinasehati dia selalu acuh tak acuh, tapi sekarang, begitu mudah Mario nurut. Untuk membuat Mario berubah, memang begini caranya. Harus memiliki ikatan halal. Agar Aiza bisa leluasa membimbingnya.
Ternyata ini jawaban, mengapa Allah memberikan ujian pelik sebelumnya.
Ilmu agama Aiza memang belum tinggi, tapi menuntun Mario, adalah sebuah kewajiban.
Selesai wudu, Mario melihat Aiza yang matanya berkaca-kaca.
"Kenapa kamu menangis?
"Saya terharu."
"Aku tau, Aiza. Aku terlalu b***t dan berengsek untuk menikahi wanita suci seperti kamu." Mario mengusap wajahnya yang dipenuhi bulir air. "Ini memang sebuah kesalahan."
"Tidak, saya tidak suci. Hanya saja Allah yang menutupi aib saya. Dan kamu, jangan berkata seperti itu. Jangan pernah merendahkan diri."
"Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan aku, sejak pertama kali membuka cadar kamu sampai akhirnya menikahi kamu. Jadi, aku harus menjadi laki-laki yang lebih baik. Aku harus memantaskan diri. Jujur, aku merasa tidak pantas bersanding sengan perempuan seperti kamu. Aku ini si pendosa besar, Aiza."
"Saya berjanji, akan terus membantu kamu. Setiap orang berhak berubah, termasuk kamu. Laki-laki yang sudah sah menjadi suami saya. Teman hidup saya, orang yang akan menjadi imam saya. Orang yang telah dipilih Tuhan, untuk menjadi pelengkap iman."
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa? Katakan."
"Bimbing aku untuk menjadi laki-laki yang baik. Ajari aku untuk mengubah pandanganku terhadap Tuhan. Barangkali selama ini aku keliru."
"In syaa Allah..." lirih Aiza terenyuh. Hal yang paling Aiza sukai, ketika ada orang yang mau berubah menjadi lebih baik. Tak pelak air mata pun ikut jatuh.
"Terima kasih, Lubna." Mario menghapus air mata Aiza yang baru turun.
"Apa saya tidak salah dengar? Kamu memanggil saya dengan sebutan Lubna?"
"Tidak salah."
Aiza terpukau.
Mario sedikit menyungging senyum. "Sekarang giliran kamu yang wudu."
Aiza mengangguk pasti.
Mario pun keluar, meninggalkan Aiza yang masih mematung karena terlalu bahagia.
Ma syaa Allah.
Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia.
Terima kasih, sudah membuat Mario mau mengubah paradigma tentang Tuhan-nya.
Bab berikutnya Pak Tua muncul, sudah siapkah kalian para pembaca setia? Siap perang nih. Doi gk terima lah Aiza-nya dinikahin anaknya sendiri. *cie doi
Masih mau baca romansa manis Aiza & Mario?
Bagaimanakah konflik berikutnya?