بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pernikahan itu sekali seumur hidup.
Sebuah janji sakral, antara dua insan, yang disaksikan langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Memandang pantulan wajah di cermin, Aiza bergeming. Tidak ada gairah apa-apa, malahan wajah itu melukiskan kesedihan berarti. Membuat tukang rias yang sedari tadi menata kerudung Aiza keheranan. Karena biasanya, setiap wanita yang akan segera melangsungkan pernikahan, dia akan bahagia. Bila sedih pun, karena alibi lain, yaitu lepas dari orang tua. Barangkali memang itulah yang dirasakan perempuan berwajah putih langsat ini.
Giliran Aiza, yang memasangkan cadarnya sendiri.
"Masyaa Allah, mbak cantik sekali. Beruntung lelaki yang memiliki mbak."
Aiza tersenyum tipis. Tidak beruntung, mbak. Saya hanya wanita biasa, bahkan di bawah rata-rata.
Mungkin dia kira, Aiza akan menikah dengan lelaki sebaya. Yang saling mencintai, dan memberi kebahagiaan satu sama lain. Membangun cinta dan asa dengan kesederhanaan pasangan. Tapi kenyataannya, tidak seindah itu. Aiza menerima uang, sedangkan Marteen menerima kepuasan nafsu.
Untuk saling menguntungkan.
Namun, Aiza lebih merasakan kerugian. Dia akan yang tersiksa sendirian.
"Tidak ada keluarga?"
"Ayah sudah meninggal. Ibu sedang sakit, dan adik saya ada di kampung."
Hanya percakapan itu yang terjalin di antara keduanya sampai proses merias selesai. Aiza tak banyak bicara.
Tinggal menunggu, kapan ketegangan ini berakhir. Semestinya berakhir bahagia, tapi malah menjadi momok.
Mungkin, ini sebabnya mengapa Tuhan melarang umatnya untuk mencintai seseorang sebelum ada ikatan halal.
Jika tidak berjodoh, maka jatuhnya akan sakit. Dia ingin kita menjaga hati, untuk orang yang berhak mendapatkan. Kalau hati sudah tertambat pada dia yang bukan jodoh, maka siapakah yang akan menderita?
Bukannya Allah melarang hamba-Nya untuk saling mencintai. Tapi karena Dia tahu, mencintai itu hanya akan menyiksa si pecandu. Namun mereka sering keliru. Larangan agama Islam dianggap sebagai kekangan, padahal niatnya adalah untuk melindungi.
Maka, berikanlah cinta itu ketika sudah menikah. Cintai dia semaunya, tapi tetap ada batasan; jangan sampai melebihi cinta kita kepada Tuhan.
Di luar, para tamu undangan mulai berdatangan untuk menyaksikan akad nikah yang akan segera berlangsung. Rumah dihias sesederhana mungkin. Yang diundang hanya segelintir orang-orang penting. Kerabat-kerabat Marteen di kantor.
Entahlah, betapa bahagianya Marteen di hari itu.
Di tempat lain, sehabis melaksanakan salat duha, Rifki berdoa agar Aiza mengehentikan kegilaannya untuk menikah dengan laki-laki yang umurnya jauh lebih tua. Semoga dia sadar, bahwa apa yang ia lakukan itu salah. Sebab hanya akan menyiksa diri sendiri. Menghadap ke kiblat, di masjid, Rifki merenung. Ia pasrahkan semuanya pada Allah, jika Aiza bukan jodohnya, maka ikhlaskanlah.
"Yang Aiza nikahin itu bukan laki-laki biasa. Tapi, majikan ibunya, A. Bapak-bapak yang udah punya anak dan istri."
"Astagfirullah..." Mata Rifki menyipit. "Kenapa Aiza nggak bilang?"
Indri menunduk gemas, memilin ujung jilbab.
"Kenapa dia ngelakuin itu? Aku kira, dia laki-laki yang seumur sama Aiza."
"Nggak. Ceritanya panjang. Aku bingung harus ngasih tau gimana lagi ke Aiza. Dia keras kepala, aku udah nggak bisa larang dia lagi."
"Aku juga nggak berhak larang Aiza. Dia bukan siapa-siapa aku."
"Tapi kan Aa cinta sama Aiza? Ayo, Aa perjuangin Aiza. Bilang sama dia, kalau apa yang dia lakuin itu salah."
Rifki terdiam, sambil terus berpikir.
Aiza duduk di pinggiran kasur dengan pikiran gelisah, gaun pengantin putih yang tersemat di tubuhnya membuat dia tidak tenang. Pasalnya, di luar sana, seorang laki-laki akan segera mengucapkan ijab kobul. Laki-laki di luar angan, impian indah berubah mimpi buruk. Dalam bayangan, Rifki-lah yang akan meminang. Tapi pada hakikat, malah pria yang lebih pantas menjadi seorang Ayah.
Ponsel yang tegeletak di atas kasur, tiba-tiba berdering. Aiza meraih benda pipih itu, melihat layar yang menampilkan nama Rifki.
Deg!
Dia datang saat dibutuhkan, membuat hati menjadi tenang. Aiza pun menempelkan ponselnya ke telinga. Biarkan Rifki saja yang membuka percakapan.
"Bismillah... Assalamu'alaikum Aiza."
"Waalaikumussalam..." mendengar suara Rifki, jantung Aiza bergetar. Hingga ia hanya mampu mengeluarkan suara pelan.
"Saya tahu ini kelewatan. Ini tidak sopan. Niat saya menelepon, adalah untuk memberi tahu. Kalau saya, sangat mencintai kamu. Jadi saya mohon, hentikan pernikahan itu. Kemarin saya diam, saya pasrah, mungkin laki-laki yang kamu pilih lebih baik dari saya. Tapi setelah tahu laki-laki seperti apa yang akan kamu nikahi, saya tidak terima. Saya tidak mau kamu jatuh ke tangan laki-laki yang tidak pantas. Saya mohon, Aiza, jangan lakukan itu. Saya mau berjuang dengan kamu, kita memulai dari nol. Merintis usaha sama-sama, bukankah itu menyenangkan? Membangun rumah tangga dengan hasil jeri payah berdua, bukankah sangat menyenangkan?
Baik, ini memang sudah keterlaluan. Saya terlalu lancang melarang kamu dan berharap kamu mau mendengarkan. Tapi ketahuilah, ini sebagai bentuk cinta saya. Entah kamu akan menerimanya atau tidak. Saya pasrah. Lagi, keputusan ada di tangan kamu."
Tidak ada kata yang terucap di bibir Aiza, ini terlalu sulit. Digigitnya bibir bagian bawah sampai merasa asin.
"Setelah ini, telepon saya. Saya menunggu jawabannya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam..." Tangan Aiza terkulai lemas, termenung bagai orang kehilangan akal.
Setelah mendengar penuturan Rifki, jantung Aiza berdetak tidak keruan. Membayangkan, bagaimana hidupnya setelah menikah dengan lelaki tua itu?
Banyak uang?
Tentu, pasti!
Kebutuhan terpenuhi?
Ya, sangat.
Ibu akan sembuh dan sehat. Keperluan Aisyah akan terjamin, dan dia tidak perlu berpikir masalah finansial. Bisa fokus sekolah dan mengejar cita-cita. Aisyah bisa mengejar ilmu tinggi-tinggi, memilih universitas yang ia mau. Bebas. Uang sudah di tangan, tinggal Aisyah yang harus belajar sungguh-sungguh.
Bagaimana dengan Aiza?
Dia akan sengsara, karena hidup bersama lelaki tua bangka---seperti apa yang Mario katakan kemarin.
Mario berjanji, dia akan tanggung jawab.
Tapi mengapa Aiza malah menolak hanya karena kesal padanya? Sebab Mario yang telah menyebabkan ini semua.
Dia yang membuka cadar Aiza di waktu yang sangat tidak tepat.
Aiza memicingkan mata.
Bukan hanya dia yang sengsara, tapi Mario juga.
Oh, mengapa Aiza egois sekali?
Sosok Eliza terbayang-bayang di benak. Apa yang terjadi jika suatu saat nanti Eliza sembuh dan mengetahui kalau suaminya sudah beristri lagi? Dan ternyata istrinya adalah anak dari pembantu yang akhir-akhir ini sudah merawat Eliza dengan sabar.
Apa yang akan terjadi jika pernikahan ini diteruskan?
Ibu akan kecewa, apakah perempuan itu akan memaafkan putrinya yang durhaka itu?
Sebagai sahabat, Indri juga akan kecewa.
Oh Allah, maafkan hamba.
Hamba tahu, ini salah.
Tidak seharusnya hamba selemah ini.
Tidak seharusnya hamba mengecewakan orang-orang yang hamba sayang. Ibu, Aisyah, Indri, Rifki, Eliza, dan ... Mario?
Hamba harus kuat melawan Marteen. Dia tidak berhak mendapatkan hamba.
Tidak, pernikahan ini harus segera dihentikan.
Mata Aiza terbuka. Kembali pada kenyataan. Bersama gaun pengantin, dia bangkit, berlari keluar kamar, untuk menghentikan Marteen yang mungkin sudah menghadap penghulu.
Pasti belum terlambat.
Namun, ketika Aiza ingin membuka pintu, pintu sudah terbuka dari luar.
Menampakkan sesosok pria berkemeja putih bersih nan rapi.
"Tu ... an?"
Aiza tercenung, apa Mario ikhlas dengan pernikahan ini? Itulah mengapa, dia berpakaian formal.
"Kamu mau ke mana?"
"Saya ingin keluar, pernikahan ini harus dihentikan. Tuan benar, saya hanya akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga tuan Marteen dan nyonya Eliza. Saya tidak mau itu terjadi. Saya tidak mau membuat nyonya Eliza sedih ketika sembuh dari penyakitnya." Aiza kelabakan sendiri. "Saya tahu, saya salah."
"Sudah telanjur."
"A ... apa?" suara Aiza tersendat, matanya berputar, menimbulkan bening bulat.
"Pernikahan itu sudah telanjur dilaksanakan. Percuma kamu keluar, acara ijab kobul sudah selesai. Sesuai kemauan kamu. Sesuai keinginan kamu."
"Tidak. Katakan kalau semuanya belum terlambat." Aiza menggeleng lemah. Jantungnya seakan copot dari rongga. "Saya akan menerima tawaran Tuan, saya tidak mau menjadi istri tuan Marteen. Saya tidak mau."
"Sudah telanjur."
Tuhan, apakah ini teguran untuk hamba? Karena hamba begitu pengecut dan bodoh?
Kini semuanya sudah terlambat.
Tidak ada jalan untuk menghentikan.
Tidak ada kesempatan untuk lepas dari terkaman Marteen.
Aiza telah sah menjadi istri dari Marteen---lelaki b***t yang senang menggoda wanita. Lelaki tua yang telah beristri tapi selalu tebar pesona. Lelaki jahat, yang tidak pernah memedulikan anaknya. Lelaki tidak tanggung jawab yang menelantarkan istri yang sedang sakit.
Tak kuat menahan kepedihan dan kengiluan di d**a, Aiza ambruk ke bawah dengan pandangan datar, seperti tidak menyangka, kalau pada akhirnya dia jadi menikah dengan lelaki berengsek. Ke mana janji Tuhan itu? Jika yang baik, akan disandingkan dengan yang baik? Tapi kenapa malah ini yang Aiza dapatkan? Apa janji Allah tidak berlaku untuknya? Sungguh, ia tak akan sekuat Siti Asiah. Atau memang mungkin, ini azab? Apakah aku seorang pendosa besar? Hingga diberi suami tak taat.
Rifki, nama itu tiba-tiba terlintas di benak Aiza. Bukankah ia akan bahagia jika meneruskan lamaran dengan Rifki? Bukankah mereka akan hidup saling melengkapi? Bukankah Aiza akan dituntun menuju Surga olehnya? Bukankah mereka akan membangun rumah tangga dengan iman kokoh? Bukankah Rifki akan membimbing Aiza menuntaskan hafalan Al-Qur'an? Bukankah mereka akan menggelar sajadah bersama di waktu tahajud? Bukankah Aiza akan mencium punggung tangannya kala selesai melaksanakan salat berjama'ah?
Ke mana semua angan itu?
Sudah hilang. Raib ditelan realita karena sebuah kebodohan.
Akibat keteledoran Aiza sendiri.
Dasar otak udang! Aiza mendamprat dalam hati.
Aiza meremas d**a, mengapa sakitnya dalam sekali? Membelenggu dengan sedemikian rapat.
Kenyataan tak seindah bayangan.
Karena sekarang, Marteen-lah pendampingnya.
Tangis Aiza pecah. Bukan membenci keadaan. Tapi membenci diri sendiri karena terlalu bodoh.
Aiza merasa dirinya gagal.
Oh, sungguh. Ini menyesakkan.
Melihat Aiza yang tak berdaya, Mario lantas berjongkok di hadapannya. Memerhatikan air mata Aiza yang berjatuhan tak terkira. Apa dia menyesali keputusannya?
"Tidak usah menangis."
Aiza tidak peduli. Menangis adalah cara ampuh untuk mengeluarkan segala kesesakkan yang mengungkung.
"Jika tidak menangis, saya bukan perempuan normal."
Mungkin dengan menangis, akan meringankan beban. Walaupun tidak merubah kenyataan dan bisa memutar ulang waktu.
"Tidak usah menangis. Ijab kobul memang telah dilakukan. Tapi bukan Ayah yang melakukan..." Mario menggantung ucapannya, lalu menghela napas pasrah. "Melainkan aku."
Isak Aiza berhenti, ia tersentak. Mario adalah objek utama yang kini terpancar di pupil mata, melahirkan sinar getir.
"Aku minta maaf. Tidak ada cara lain selain ini."
Aiza masih mati kutu.
"Kalaupun kamu menerima banyak uang dariku, dia tidak akan tinggal diam. Jadi untuk menebus rasa bersalah, aku melakukan ini. Melindungi kamu, apa salahnya? Bukan hanya itu, aku juga tidak mau Ayah menduakan Ibu yang sedang sakit."
"Tapi kita tidak saling mencintai."
"Iya, aku tau. Tapi ini satu-satunya cara. Kita jalani saja. Lagi pula, aku sudah tidak peduli lagi pada cinta. Cinta itu menyakitkan. Mulai sekarang, aku akan prioritaskan kebahagiaan ibuku. Dia perempuan yang selama ini tersakiti akibat sebuah pengkhianatan."
"Nyonya Eliza pasti sembuh. Saya yakin."
Mario mengangguk.
"Terima kasih telah membantu."
"Sekarang, aku sudah membuka password-nya. Boleh aku membukanya?" Jemari Mario mulai menyentuh cadar Aiza, memandang Aiza dengan tatapan paling lembut.
Ya Allah, ternyata dia lelaki baik.
Aku merasa terlindungi.
Walaupun dia penyebab segala kekacauan ini, tapi aku tau malam itu dia tidak sengaja melakukannya. Akibat patah hati.
"Untuk apa?"
"Untuk menghapus air mata kamu."
"Tuan pernah berkata tidak mungkin menikahi saya. Lalu kenapa sekarang?"
"Aku sudah mengatakan jawabannya tadi."
"Jika password sudah dibuka, lalu mengapa saya harus menolak?"
Seharusnya, pernikahan dibanjiri oleh air mata kebahagiaan. Tapi mengapa Aiza malah sebaliknya? Air mata ini jatuh karena sebuah pesakitan.
Pernikahan adalah momen paling ditunggu-tunggu, karena tahu, itu adalah momen paling bersejarah, yang tentunya akan membuat Aiza menjadi perempuan paling bahagia. Karena dalam benak, ia akan mendapatkan imam solih, sesuai janji Allah.
Tapi takdir telah menjungkir-balikkan asa.
Aiza harus menerima dengan lapang d**a.
Mario mulai membuka cadar putih Aiza, pelan-pelan, diplomatis. Tubuh Aiza bergetar, menunggu dalam kekakuan. Ini pertama kalinya, ia merasakan seseorang membuka langsung kain suci yang selama ini menjadi tameng. Mario memang tampan, baik, tapi, hanya satu kekurangannya.
Aiza berjanji, akan membuatnya menjadi lebih baik.
Ketika wajah Aiza sudah tampak, Mario mengangguk paham. Menyentuh pipi Aiza, mengusapnya. "Sudah halal, kan?"
Aiza mengangguk, mencoba tersenyum.
Selesai menghapus air mata Aiza yang masih mengalir, Mario berhenti. "Ya, kamu ... memang cantik." Mario ikut duduk di sebelahnya, membiarkan Aiza menangis lagi.
Mereka terdiam di sana, sama-sama bungkam tanpa kata.
Meratapi predestinasi.
Pernikahan itu sekali seumur hidup.
Sebuah janji sakral, antara dua insan, yang disaksikan langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Ya Tuhan, jadi, Mario-lah yang menjadi jodohnya?
Memang bukan kriteria yang Aiza impikan. Tapi dia jauh lebih baik dari ayahnya.
Jauh ... lebih ... baik.
Maafkan saya, Rifki. Kita memang tidak berjodoh.
Lega, gak?
Terus, Pak Tua ke mana, ya?
Syukron sudah membaca kisah Aiza sampai sini
Bagaimana kisah Aiza dan Mario berikutnya?
Rido gk Aiza sma Mario?
Masih mau baca?