Bab 10 - Cinta Tidak Harus Memiliki

2419 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Ana uhibbuka fillah. Tapi sayang, kita tidak berjodoh. Keluar dari kamar, Aiza berjalan dengan kepala menunduk. Rumah ini begitu sepi, Aiza benar-benar merasa sendiri. Termasuk sendiri dalam menghadapi ujian. Setelah mencoba menghubungi keluarga dari almarhum Bapak yang Aiza pikir akan bersedia membantu lantaran mereka termasuk orang berada, tapi dengan teganya mereka berkata kalau ibunya itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka, jadi masalah yang terjadi pada keluarga Aiza, tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. Padahal dulu, sewaktu mereka masih susah, mereka datang ke rumah Bapak dan meminta pinjaman uang. Bapak selalu membantu saudaranya yang tengah kesusahan. Tapi kali ini, giliran istrinya yang membutuhkan bantuan, mereka seolah tidak peduli. Menggunakan asumsi, bahwa hubungan persaudaraan mereka sudah putus semenjak Bapak meninggal. Hal itu membuat luka di hati Aiza kian mengaga. Ketika dibutuhkan mereka menjauh. Ketika susah, mereka mendekat. Tak lama kemudian, Aiza tiba di depan pintu kamar. Tempat di mana awal mula masalah muncul. Apa Aiza juga harus menyalahkan dirinya? Andai saja malam itu dia tidak membawa Mario ke kamar ini, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini, kan? Barangkali Aiza bisa meminjam uang kepada majikannya untuk biaya operasi Ibu. Aiza juga rela menjamin dirinya untuk bekerja di sini sampai yang mereka mau sebagai hutang. Walaupun itu masih prediksi, tapi kemungkinan diberi, pasti sedikit. Ingatlah, Aiza masih gadis berumur 20 tahun. Yang emosinya masih dibilang labil dalam menyikapi masalah kepepet. Tangan Aiza terangkat, meraih kenop pintu. Beberapa kali matanya memejam, untuk bersiap. Anggap pintu ini sebagai garis pembatas. Jika dibuka, ia akan melihat jurang. Maka ia harus siap akan risiko yang dihadapi. Menghadapi Marteen, sama dengan menghadapi kematian. Sama-sama menakutkan. Tapi bagi Aiza pribadi. Marteen jauh lebih menyeramkan. Karena kematian, Aiza merinduinya. Hanya saja, Aiza belum siap merasakan, lantaran dia sadar, amal ibadahnya belum tentu cukup untuk menghadap sang Pencipta. Keputusan sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Pintu terbuka lebar, ada Marteen yang duduk di sofa dengan kaki selonjoran di atas meja. Benar-benar tidak sopan. Begitulah Aiza menilai. Aiza teringat kisah-kisah mulia wanita penghuni Surga. Mereka diberikan ujian dengan sedemikian pelik nan menyesakkan. Salah satunya adalah Siti Asiah Sang Mawar Gurun Fir'aun. Asiah yang dipaksa menyembah dan menjadikan suaminya yang tiada lain dan tiada bukan adalah raja Fir'aun sabagai Tuhan. Awalnya Asiah menuruti, walau dalam hati berontak. Tapi seiring berjalannya waktu, Fir'aun semakin berlaku laknat pada Allah. Iya. Kadang, yang baik tidak disandingkan dengan yang baik pula. Contohnya Siti Asiah. Bukan karena Allah benci, tapi karena Dia ingin mengangkat derajat. Itu namanya ujian. Hidup mewah bersama Fir'aun, tidak membuatnya ikut-ikutan ingkar pada Allah. Kisah Siti Asiah, begitu menyentuh. Kadang Aiza merasa malu. Cobaan yang ia hadapi sekarang, tidak ada bandingannya dengan Siti Asiah dulu. Asiah adalah wanita paling mulia, yang rela disiksa agar tetap pada keyakinan dan setia pada Allah. Menyadari kedatangan si gadis cantik jelita yang ia yakini akan segera menjadi miliknya, Marteen menurunkan kaki. Tangannya melambai, menyuruh Aiza untuk maju lebih mendekat. Seperti anak yang nurut pada perintah sang Ibu, Aiza melangkah. Dia berbeda dengan Aiza beberapa menit ke belakang yang tampak seperti macan buas. Kini lebih lembut, dan sopan. "Tidak usah basa-basi. Langsung saja katakan. Kamu bersedia, atau tidak? Em, tunggu! Maksud bersedia di sini, bersediakah kamu menjadi istri saya, atau melihat ibumu menderita." Menatap Marteen tegas, Aiza menjawab. "Saya bersedia, menikah dengan Anda." Wajah Marteen langsung semringah, senyum mengembang terpancar. Katanya, kalau kita membuat orang tersenyum dan senang, berarti kita akan mendapatkan pahala. Tapi bagi Aiza, ia merasa sedang mendapatkan dosa. "Asal dengan satu syarat." "Apa? Katakan saja?" "Biarkan Ibu saya dioperasi dan dirawat sampai dia benar-benar pulih. Dan tentunya, harus menggunakan uang Anda." Marteen tidak memedulikan panggilan Aiza terhadapnya. Yang Marteen tahu, itu sebagai pengungkapan amarah seorang Aiza. Begitu, amat, sederhana. "Anda harus bisa menjamin kebutuhan dia dan adik saya di kampung." "Akan saya turuti. Kamu tenang saja." "Terima kasih." "Kamu pun harus setuju. Saya ingin pernikahan itu segera dilaksanakan, dan pastinya..." "Saya ingin pernikahan dilakukan ketika Ibu dioperasi. Karena saya yakin, Ibu tidak akan setuju dengan ini." Marteen tersenyum petanda setuju. "Oh, pintar sekali kamu, Aiza. Calon istri yang cerdas." Sepulang kajian, Indri meminta Rifki untuk berbincang sejenak di teras masjid. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Kini, mereka duduk di sana. Rifki seperti tidak tertarik dengan kabar yang akan segera diluncurkan Indri. Tidak seantusias biasanya. "Kayaknya a Rifki harus cepet lamar Aiza." Kalimat itu yang pertama meluncur dari mulut Indri. "Nggak bisa, Ndri." "Lho kenapa? Bukannya a Rifiki udah mantep mau lamar Aiza? Kenapa sekarang bilang nggak bisa? Apa a Rifki nggak mau nunggu Aiza? Aa udah berpaling?" Rifki terdiam, seperti sedang menyembunyikan sesuatu, atau seperti baru mendapat tamparan yang begitu menyakitkan. Yang jelas, Indri bisa melihat roman Rifki yang tidak secerah biasanya. "Aiza lagi butuh bantuan Aa. Mungkin, dengan kalian menikah, a Rifki bisa bantuin beban Aiza." "Aku mau, tapi aku nggak bisa. Karena tepat tadi malam, Aiza bilang, aku nggak usah nunggu dia pulang. Karena dia nggak akan pernah mau nerima lamaran aku. Dan sejak saat itu, hubungan kami putus." Jujur, Indri baru tahu akan hal ini, membuatnya terkejut bukan main. "Aa serius?" Rifki mengangguk. "Jangan becanda, A." "Kamu boleh liat chattingan aku sama Aiza kemarin malem." "Boleh aku liat?" Rifki merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan diberikannya pada Indri. "Nggak mungkin, Aiza nggak mungkin lakuin itu." Sambil terus bergumam, Indri menerima ponsel milik Rifki, dan lekas membuka aplikasi w******p. Tanpa ada password untuk membuka dekstop, menandakan dia pria baik-baik yang tidak neko-neko. Cuek. Aiza Assalamu'alaikum. Waalaikumussalam. Aiza Afwan mengganggu. Bagaimana kabarnya? Alhamdulillah baik, Za. Kamu sendiri? Aiza Alhamdulillah (walaupun sebnarnya tidak) Saat itu, rasanya Aiza ingin menangis. Melepas Rifki, adalah keputusan paling berat nan pilu. Cinta yang baru bermekaran seumpama bunga matahari yang tumbuh, dari tandus, layu, dan hilang. Alhamdulillah Aiza Boleh saya bicara sesuatu? Boleh Aiza Kamu dulu pernah bilang, kalau kamu mau lamar saya. Kamu mau datang ke rumah saya, dan meminta izin Ibu untuk meminang putrinya. Kamu pun pernah berjanji, akan beri saya mahar berupa surat Ar-Rahman. Kamu tau? Itu adalah hal yang paling saya impi-impikan, yaitu mendapatkan imam solih. Saya pikir, semenjak kamu memutuskan untuk melamar, kamulah takdir saya. Tapi di sini saya baru aja mendapatkan kenyataan lain. Yang mengharuskan saya untuk menghentikan ini. Kamu nggak perlu datang ke rumah, Ibu saya sakit parah. Saya nggak bisa pulang, karena saya harus gantiin Ibu sebagai pembantu sekaligus memantau kondisi Ibu di rumah sakit. Dan di sini, saya akan segera menikah dengan laki-laki lain. Laki-laki yang akan membiayai semua kebutuhan kami dan kesembuhan Ibu. Jadi, apa kamu nggak keberatan kalau saya menolak lamaran waktu sepertiga malam itu? Menunggu Aiza mengirim pertanyaan, membuat Rifki penasaran. Dan ketika balasan itu sampai, lalu Rifki membuka pesan dan membaca kata demi katanya, membuat Rifki terhempas. Dan percayalah, selama Aiza menyampaikan pesan itu, tangannya gemetar tidak tega. Kalau bisa, saya bakal nyusul kamu ke sana, boleh? Saya mau merawat Ibu kamu dan kamu bisa fokus menjadi pembantu. Tidak bisakah laki-laki yang kamu sebutkan barusan diganti menjadi saya? Saya bisa membantu kamu, Aiza. Kenapa harus laki-laki lain? Aiza Ibu saya sakit kanker. Saya nggak mau membebani kamu. Saya akan berusaha, demi membuktikan cinta saya. Saya tau, tidak mudah mendapatkan berlian seperti kamu. Jadi mungkin sekarang, saya harus mulai berjuang. Aiza Kamu mau memperjuangkan saya? Iya, saya mau. Aiza Maaf, bukan karena saya nggak percaya sama kemampuan kamu. Tapi, saya bener-bener nggak mau lihat orang yang saya cintai berjuang untuk hal ini. Sama aja, saya seperti memaksa kamu memiliki banyak uang. Ana uhibbuka fillah. Tapi sayang, kita tidak berjodoh. Saya pikir, cukup saja sampai di sini. Maaf, dan terima kasih. Maaf bilamana saya telah membuat hati kamu patah. Dan terima kasih, telah membuat saya merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang karena iman. Kamu cinta pertama saya. Sekali lagi terima kasih. Saya tidak bisa memaksa. Baiklah kalau itu yang kamu mau. Bila memperjuangkan akan membuat kamu merasa bersalah, saya akan mundur. In syaa Allah. Saya ikhlas melepas kamu, Aiza. Karena cinta, nggak harus memiliki. Semoga di sana, calon suami kamu bisa membahagiakan kamu. Sekarang aku tahu, siapa cepat dia yang dapat. Sekarang aku menyesal, tidak menyusul kamu ke Jakarta. Aiza Terima kasih atas pengertiannya, Rifki. Ya, sama-sama. Setelah membaca semua isi percakapan tersebut, mendadak Indri langsung mengembalikan ponsel Rifki ke pemiliknya. Dia lekas berdiri, mengeluarkan ponsel dari tas, dan menghubungi seseorang. Beruntung orang yang ia telepon langsung mengangkat. "Assalamu'alaikum." "Waalaikumussalam. Ada apa, Ndri?" "Kamu jahat, Lubna! Jadi kamu terima lamaran majikan kamu itu?!" Di belakang, kening Rifki mengernyit kala telinganya mendengar kata 'majikan' yang kemungkinan besar adalah calon suami Aiza. Ah, mungkin majikannya masih muda dan kaya raya. Itulah mengapa, Aiza lebih memilih dia. "Aku bener-bener nggak nyangka sama kamu. Kamu tega lakuin itu. Bahkan kamu ngambil keputusan tanpa sepengetahuan aku. Kenapa kamu nggak cerita sama aku?" Di Jakarta, Aiza sedang berada di kamar Eliza. Kebetulan saat itu Eliza sedang tidur, jadi Aiza bisa leluasa berbicara. Dia berdiri, dan sedikit menjauh dari Eliza. "Bukanya kemarin aku udah ngasih tau kamu? Jangan gegabah, Lub. Plis. Aku mohon. Kamu nggak hanya nyakitin diri kamu, tapi kamu juga nyakitin laki-laki yang udah tulus cinta sama kamu." "Kamu nggak tau gimana rasanya ada di posisi aku, Ndri. Kamu nggak tau gimana rasanya saat kamu tau, di sana Ibu kamu lagi sakit dan harus segera mendapatkan pertolongan. Selain itu, di sana juga, ada adik kamu yang harus kamu biayai. Makan, sekolah, keperluan lainnya. Dan kamu, nggak bisa berbuat apa-apa. Apa kamu akan diam? Aku mohon, kamu ngertiin aku. Aku harus ngelakuin ini, demi Ibu dan adik aku. Cukup selama ini aku ngebebanin kamu, dan cukup, aku nggak mau ngebebanin siapa-siapa lagi. Sekarang, akulah yang harus berkorban." "Lubna aku mohon." "Makasih karena kamu udah mau ngasih solusi. Makasih karena kamu udah baik sama aku. Tapi untuk kali ini, aku bener-bener nggak bisa. Semoga kamu ngerti." "Lubna jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari." "Aku nggak bakal nyesel, karena aku bakalan liat Ibu aku sembuh." "Aku tau, emosi kamu belum stabil. Coba pikir-pikir lagi." "Aku udah pikir berulang kali. Dan aku akan tetap pada keputusan aku, yaitu menikahi majikan Ibu aku sendiri." Ada nyeri yang menjalar ketika mengatakan hal yang begitu kontradiktif dengan hati. Terlalu serius berteleponan, Aiza tidak menyadari bahwa seseorang telah menguping pembicaraannya, bahkan semenjak pertama kali Aiza menerima telepon. Semua percakapan, telah terekam di benak laki-laki yang kini terkejut dalam diam. Mario kembali menutup pintu dengan pelan, agar tidak terdengar. Lalu termenung lama di sana dengan otak yang terus berspekulasi. Apa barusan ia tidak salah dengar? Dan aku akan tetap pada keputusan aku, yaitu menikahi majikan Ibu aku sendiri. Maksudnya majikan? Ayahnya? Marteen Herlambang? Tidak menemukan ayahnya di kamar, Mario mengunjungi ruang kerja Marteen, barangkali dia ada di sana. Menekuni pekerjaannya yang dijadikan prioritas utama. Mario langsung membuka pintu, lalu menemukan ayahnya sedang bersandar di atas kursi, di depan berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Lelaki tua itu mengangkat kedua alis, mempertanyakan eksistensi Mario yang datang secara tiba-tiba. Karena biasanya, dia benci menemui ayahnya sendiri. "Apa yang membuatmu datang kemari, putraku?" Rasanya Mario ingin mencopot telinga daripada harus mendengar Marteen mengatakan 'putraku'. "Ada hubungan apa Ayah dengan anak pembantu yang bekerja di rumah ini?" "Ooh masalah itu. Maaf, Ayah belum beritahu kamu. Ayah kira, kamu sudah tidak peduli lagi." Mario mengangkat ujung bibirnya, tersenyum kisut. "Dia calon ibumu, Mario. Dia akan segera menikah dengan Ayah." Mario terhenyak. Senyum kecut itu sirna oleh gelegar petir yang tiba-tiba menyambar. "Akhirnya Ayah menemukan seorang perempuan yang memiliki wajah sedemikian cantik. Sudah muda, cantik pula. Akhirnya Ayah bisa menjalani hidup didampingi oleh wanita yang nanti akan dijadikan pelampiasan nafsu Ayah. Oh, Aiza sungguh wanita sempurna. Dia itu istimewa, kecantikannya belum pernah diekspor pada siapa pun. Dan nanti, hanya Ayah yang akan bisa menikmatinya. Ayah..." "Aku tidak setuju Ayah menikah lagi," penggal Mario cepat. Wajah itu mengeras, berubah merah. Ia juga tidak mengerti, bagaimana mungkin Marteen tahu wajah Aiza di balik niqab-nya. Bukankah selama ini dia tidak pernah memperlihatkan rupanya itu? "Sampai kapan pun aku tidak akan setuju Ayah melakukan itu." Marteen mengerutkan kening. "Aku tidak akan pernah mengizinkan Ayah untuk menikah lagi! Oke, selama ini Ayah selalu mengkhianati Ibu. Tapi untuk menikah lagi, aku tidak setuju!" "Apa hakmu, Mario? Apa hakmu melarang Ayah?!" "Karena aku adalah anak dari Ibu yang selalu Ayah sakiti. Aku berhak melarang Ayah untuk berpoligami. Apalagi wanita yang akan Ayah nikahi adalah wanita seperti Aiza. Wanita itu terlalu polos, pemikirannya pendek, dan ... mungkin terlalu baik. Demi ibunya, dia rela menjadi istri kedua dari lelaki tua. So pahlawan! Tapi dia sendiri menangis meratapi keputusannya!" Mario melangkah lagi, mendekati meja kerja Marteen dengan sorot murka. Lelaki b******n ini memang ayahnya, tapi bagi Mario, dia adalah pria yang menyerupai iblis. "Kamu tidak perlu ikut dengan campur masalah ini!" bentak Marteen tak terbantahkan. "Tidak ada istilah orang tua yang ingin menikah lagi karena ingin melanjutkan hidup, harus mendapat restu dari anak. Omong kosong." "Aku perlu ikut campur. Karena ini menyangkut Ibuku!" Mario mendebrak meja hingga menimbulkan suara lumayan keras. Apa yang menjadi kelidan Eliza, Mario berhak tahu. Apalagi tentang pernikahan kedua. "Apa lagi yang harus Ayah harapkan dari ibumu itu, Mario? Dia gila, dia stres, dia depresi! Perempuan itu seharusnya ada di rumah sakit jiwa!" "Apa Ayah tidak ingat, yang menyebabkan Ibu begitu, adalah Ayah sendiri?" "Why? Kenapa kamu jadi menyalahkan Ayah?" "Aku malas membahas itu. Dan sekarang, lepaskan Aiza, hentikan pernikahan itu. Memang apa yang Ayah lihat dari gadis kampung yang selalu menutupi wajahnya itu? Apa keistimewaan gadis bodoh itu?" "Dia memiliki wajah yang sangat cantik, sangat-sangat cantik. Matanya indah, hidungnya mancung, juga bibir yang memesona. Kulit putihnya pun tampak mulus sekali." Marteen kembali membayangkan wajah Aiza sewaktu malam keberuntungan itu, yang membawanya pada surga dunia. Karena bisa menemukan gadis secantik Lubna Aiza Az-Zahra. "Darimana Ayah tau tentang rupa perempuan itu? Karena setiap hari, dia selalu menutupinya. Atau jangan-jangan ... Ayah yang membuka paksa kain itu karena Ayah telah kehabisan stok p*****r hingga mengharuskan untuk mengganggu seorang pembantu?" Marteen tersenyum, lalu kemudian tertawa terbahak-bahak, bahagia sekali, tapi terselip kecurigaan, membuat Mario keheranan di tengah kemarahan yang membara di d**a. Tawa itu masih menggelitik, sampai pada akhirnya Marteen bicara lagi. Mengungkapkan kebenaran paling konyol yang pernah Mario dengar. "Bukankah kamu sendiri yang sudah membuka cadar Aiza sampai akhirnya Ayah melihat wajah cantik dan mulusnya itu?" Tergemap. Itulah yang terjadi pada Mario sekarang. Ayahnya pasti sedang menghayal. Menciptakan ilusi tak masuk akal. "Aku tidak pernah melakukan itu." "Kamu yang melakukannya, sewaktu kamu dalam pengaruh alkohol." Kaki Mario tiba-tiba bergetar, lidahnya kelu. Tapi ia berupaya untuk bertanya. Itu tidak mungkin. "Benarkah?" Hayoo Mario tanggung jawab ya Cieee penasaran... Syukron
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD