بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "barang siapa yang merusak hubungan istri dengan suaminya, maka dia bukanlah bagian dari kami."
Bilang sama Rifki, aku nggak bisa lanjutin lamaran dia.
Di dalam kamar yang temaram, Aiza mengirim pesan w******p kepada Indri dengan hati berat.
Hilya marah dengan keputusan yang Aiza ambil, bahkan ia juga tidak mau melihat wajahnya saking kecewa, dengan terpaksa Aiza meninggalkan Hilya sendiri di rumah sakit.
Tak lama kemudian, balasan dari Indri masuk.
Indriku
Lho? Kenapa, Lub? Kenapa kamu batalin? Aku telepon aja, ya?
Nggak usah. Tolong bilangin aja, aku nggak bisa terusin hubungan itu lagi. Di sini aku udah janji untuk menikah sama seseorang.
Indriku
Jangan becanda kamu, Lub! Ini nggak lucu. Astagfirullah, kamu jangan ngaco. Menikah? Sama siapa?
Aku serius. Ibu butuh biaya pengobatan, aku. Dan ini satu-satunya cara, supaya aku bisa memenuhi semua kebutuhan Ibu dan Aisyah.
Indriku
Gk ada cara lain apa? Ayolah, Lubna. Kamu emang mau nikah sama siapa?
Sama majikan Ibu aku.
Indriku
Maksud kamu anak majikannya, kan?
Bukan, majikannya.
Indriku
Astagfirullah. Kamu kenapa, sih? Ayo bilang sama aku kalau ini cuma becanda. Ini nggak lucu sumpah. Maksudnya kamu mau nikah sama bapak-bapak gitu?
Iya. Ini satu-satunya cara supaya aku bisa balas budi sama Ibu.
Indriku
Jangan gegabah, Lubna. Kamu harus pikir2 lgi. Aku yakin, ada jalan keluar lain. Jangan nyerah gitu, di sini kak Rifki udah nunggu kamu, lho. Aku yakin, setelah nikah nanti, dia bakalan ikut bantu.
Aku nggak mau ngebebanin dia.
Indriku
Lubna dengerin aku. Kalau kamu nikah sama majikan Ibu kamu, kamu gk bakal bahagia.
Tak kuat, Aiza memutuskan untuk menelepon Indri.
"Aku bingung harus gimana. Ini bener-bener kepepet. Ibu aku harus segera dioperasi, dan aku nggak punya biaya buat itu semua." Aiza kesulitan berpikir jernih.
"Plis aku mohon, jangan lakuin itu. Kamu berhak menikah dengan orang yang kamu cintain. Jangan sampai keputusan ini, bakal kamu sesalin di kemudian hari. Percaya sama aku, kamu harus tolak tawaran itu. Kamu cuma perlu lebih sabar lagi."
"Nggak, aku bener-bener bingung..."
"Dengerin, Lub. Kalau kamu menikah sama dia, terus gimana sama istri pertamanya? Apa kamu pengin disebut perusak rumah tangga orang? Kamu bakalan jadi orang ketika, Lubna. Kamu bakal hancurin rumah tangga mereka."
Astagfirullahaladzim.
Kenapa Aiza baru menyadari hal itu?
Aiza terdiam sembari terus meresapi kata-kata Indri yang lumayan membuat Aiza goyah dengan keputusannya. Kalaupun sebenarnya rumah tangga Eliza dan Marteen sudah tidak harmonis dari sebelumnya, tapi Aiza tidak mau menjadi salah satu wanita yang menyebabkan pernikahan mereka semakin kandas.
"Aku yakin, kamu nggak mungkin lakuin itu. Itu namanya takhbib, merusak rumah tangga orang. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam aja pernah bersabda, barang siapa yang merusak hubungan istri dengan suaminya, maka dia bukanlah bagian dari kami."
Mata Aiza terpejam. Dasar gegabah.
"Apa kamu tega sama istri majikan kamu? Ya walaupun aku juga yakin, kamu nggak bermaksud buat ngerebut suaminya. Kamu cuma butuh uang, makannya kamu terima tarawan itu. Tapi tetep aja, itu nggak bagus."
Tiba-tiba Aiza teringat Eliza. Dia perempuan yang beberapa hari ini sudah Aiza rawat seperti Ibu kandung sendiri. Menyuapi, mengganti pakaian, melantunkan ayat suci Al-Qur'an pengantar tidur, dan lain sebagainya. Bahkan Aiza selalu mendo'akan kesembuhan Eliza agar kembali hidup normal. Dan suatu saat nanti, keluarga dalam rumah ini akan kembali harmonis. Ruang makan yang hanya diduduki Mario bisa diduduki oleh kedua orang tuanya lagi.
Jika tindakan medis tidak mau memberikan tanda-tanda kesembuhan, maka apa salahnya jika panjatan do'a semakin gencar dilakukan? Karena pada hakikatnya, hanya Allah-lah sang penyembuh paling ampuh. Dia yang memberi penyakit, Dia pula yang menyembuhkan.
Eliza adalah salah satu nama yang Aiza sebut namanya kala berdo'a. Berangan agar suatu saat nanti mereka bisa mengobrol dan bicara banyak hal.
Dan sekarang? Aiza ingin menikah dengan Marteen sang kepala keluarga? Suami sah Eliza yang sedang depresi?
Aiza merasa berdosa. Pendek sekali pemikirannya tadi siang. Pantas saja Ibu semarah itu.
Inilah gunanya sahabat.
Dia yang selalu mengingatkan.
Dia yang selalu memberi solusi.
Dia yang selalu memberi nasihat dan petuah.
"Coba pikir lagi, Lubna. Sebagai sahabat, aku nggak mau kamu ada di jalan yang salah."
Aiza masih belum bisa berkomentar. Masalah pelik ini sukses membuat Aiza kelimpungan dan tertumbuk akal.
"Ya udah kalau gitu. Aku tutup, ya. Assalamu'alaikum."
Pandangan Aiza datar, ponsel masih menempel di telinga, padahal Indri sudah memutus sambungan telepon. "Waalaikumussalam." Namun menjawab salam, adalah salah satu kewajiban.
Indri hanya tidak tahu saja, kalau Eliza memiliki gangguan jiwa.
Indri juga tidak merasakan, bagaimana keadaan Aiza sekarang.
Detik berikutnya sebuah suara menyadarkan Aiza, gadis itu terperanjat begitu menyadari kalau pintu terbuka, ponselnya pun terpelanting ke atas kasur. Seseorang juga telah menyalakan saklar lampu. Aiza membeliak.
"Selamat malam, Aiza. Calon istriku."
Aiza yang saat itu melepas cadarnya, cepat-cepat memasangkan kembali dengan gerakan cepat. Sekujur tubuh tiba-tiba terasa kejur. Tuan Marteen ini masuk tidak mengetuk pintu dulu. Aiza turun dari ranjang dan merapikan baju.
Marteen berjalan semakin mendekat. "Aduuh, kenapa harus ditutupi, Aiza? Toh, saya juga sudah melihat bagaimana rupa kamu."
"Kenapa Tuan masuk tanpa mengetuk pintu? Itu namanya tidak sopan," ucap Aiza dengan berani. Persetan kalau lelaki tua di hadapannya ini adalah majikannya, menyangkut masalah kesopanan dalam adab membuka kamar orang sembarangan tanpa mengetuk apalagi mengucap salam, Aiza tidak bisa menoleri.
"Salah kamu juga, karena kamu tidak mengunci pintu."
Aiza merutuki diri. Lagi dan lagi, wajahnya harus terlihat oleh lelaki tidak tahu malu ini! Huh, sepertinya Aiza harus lebih bersabar dalam menghadapi Marteen. Jangan sampai karena ini, hatinya lebih sering menyimpan dendam dan mengumpat. Itu tidak baik Aiza.
"Apa kamu memiliki hubungan dengan Mario?"
"Tidak."
"Lalu kemarin malam?"
"Saya hanya membantunya untuk berbaring di kasur, karena kemarin dia mabuk berat."
"Syukurlah kalau begitu. Jadi saya bisa lebih leluasa menikahi kamu."
"Maaf Tuan, tiba-tiba keputusan saya berubah."
Roman Marteen berganti mimik. Yang awalnya antusias penuh kemenangan, kini tercenung menatap Aiza heran.
"Tiba-tiba saya kepikiran dengan istri Tuan, nyonya Eliza. Bagaimanapun dia masih sah menjadi istri Tuan. Saya tidak mau menjadi orang ketiga dalam pernikahan kalian."
Mata Marteen menyipit. "Kamu ingin main-main dengan saya, Aiza? Tadi siang jelas-jelas kamu menerima lamaran saya. Tapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran?"
"Maaf, tadi saya terlalu cepat mengambil keputusan. Saya tidak ingat dengan keberadaan nyonya Eliza."
"Saya tidak mau tahu, Aiza. Pokoknya kamu harus mau menikah dengan saya." Marteen semakin mendekat, sedang Aiza mundur sampai kakinya berhenti di nakas, ia sudah tidak bisa membuat jarak lebih jauh lagi. Buntu.
"Saya tidak bisa menikah dengan Tuan. Saya mohon, Tuan bisa mengerti."
"Apa-apaan ini?!" Marteen mulai naik pitam. Penolakan Aiza benar-benar menyulut api amarah.
"Saya tidak bisa..." lirih Aiza merunduk. Sekuat tenaga menahan ketakutan.
Tangan Marteen terangkat, mulai membelai pipi Aiza yang dibalut niqab, gadis itu dengan cepat membuang muka. Aiza tidak akan pernah sudi disentuh lelaki yang bukan mahram, apalagi lelaki semacam tuan Marteen di depannya ini. Dia sama sekali tidak pantas untuk menyentuh apa pun.
Tiba-tiba tangan itu beralih ke dagu Aiza, belum sempat Aiza menghindar, Marteen sudah lebih dulu mengangkat dagu hingga wajah Aiza mendongkak secara paksa. Tatapan Aiza menantang, dengan napas memburu. Marteen balas menatap tak kalah tajam, suasana berubah kencang dan mengeruh.
"Lepaskan saya, Tuan tidak berhak melakukan ini. Jangan sentuh saya."
"Saya tidak akan pernah melepaskan kamu. Kamu terlalu menarik untuk saya lepaskan, Aiza. Kamu pikir, saya akan menyerah begitu saja? Kamu pikir, saya akan menuruti penolakan kamu?"
Mata Aiza memanas, bahkan bulir bening sudah menggantung di pelupuk mata. Dagunya masih berada dalam tangan Marteen dengan tekanan lebih dalam.
Ya Allah, mengapa jadi begini? Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?
"Apa perlu saya melakukan suatu hal yang lebih besar?"
"Tuan benar-benar memalukan! Dulu sewaktu pertama kali melihat saya, Tuan seperti melihat seorang ninja yang merusak suasana atau seorang wanita aneh yang datang ke kota yang didominasi wanita seksi. Dan sekarang, Tuan memaksa saya agar mau menikah dengan Tuan?"
"Jaga ucapan kamu!"
"Awalnya dianggap remeh tapi pada akhirnya diterkam dan ingin dimiliki? Apa itu namanya Tuan?"
Marteen mengetatkan gerahamnya.
"Katakanlah, bahwa apa yang baru saja saya ucapkan adalah suatu kebenaran."
"Ya, itu memang benar. Karena pada saat itu saya tidak tahu kalau di balik kain ini, kamu menyimpan kecantikan yang luar biasa."
"Dan Tuan tidak memiliki hak untuk memaksa saya!"
"Oh, kamu ingin aku melakukan sesuatu yang..."
"Jangan lakukan apa pun," penggal Aiza telak.
Setelah menghimpun keberanian, Aiza menyingkirkan tangan Marteen dari dagunya, Marteen membelalang, berani sekali wanita ini. Di balik keanggunan dan keluguan, dia juga memiliki keberanian di luar prediksi. Lekas Aiza berlari menuju lemari, mengeluarkan semua baju-baju sampai berantakan lantaran emosi, membuat Marteen terkesiap. "Saya dan Ibu saya akan berhenti bekerja di sini. Terima kasih atas segala kebaikan karena telah mengizinkan kami untuk bekerja sebagai pembantu. Terima kasih juga, dengan tawaran Tuan sebelumnya. Tapi maaf, harga diri saya jauh lebih utama dari apa pun." Aiza melangkah mengambil koper, lalu memasukkan baju-baju ke dalam sana. "Saya lebih baik pergi meninggalkan tempat ini. Daripada harus menerima kebaikan dengan sebuah imbalan berupa pernikahan. Saya yakin, ada Allah yang akan membantu saya dan mengeluarkan saya dari masalah yang sedang saya hadapi."
"Saya tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi! Tidak semudah itu, Aiza!" Marteen menghampiri Aiza lagi, menarik-narik tangannya hingga ke dekat ranjang. "Lepaskan saya Tuan! Tuan tidak boleh menyentuh tangan saya! Lepas!" Aiza berupaya meronta, tapi tenaga Marteen jauh lebih besar, sudah pasti Aiza kalah. Tangan yang selalu ia jaga dari sentuhan lelaki yang bukan mahram, telanjur ternodai. Aiza mohon ampun. Aiza merasa telah rusak semenjak insiden malam itu.
"Jangan paksa saya untuk melakukan itu. Jadi, terimalah lamaran saya!"
"Tidak--akan--pernah!" Aiza menekan kalimatnya, membuat Marteen semakin jengkel. Didorongnya tubuh Aiza ke atas kasur, beruntung Aiza jatuh dalam posisi duduk. Marteen menarik ujung bibir ke samping.
"Apa yang akan Tuan lakukan?" Aiza bertanya dengan napas terengah-engah. Keringat pun tak urung keluar membasahi pelipis yang dibalut kerudung.
"Kamu yang memaksa saya untuk melakukan ini!"
Marteen mendorong bahu Aiza hingga tubuh Aiza terhempas ke kasur empuk, mata Aiza membesar. Lelaki itu memasang tampang tanpa belas kasihan, ikut mendaratkan lutut di atas kasur. Tanpa aba-aba dia langsung menarik cadar Aiza hingga lepas.
"Jangan lakukan ini Tuan, saya mohon! Lepaskan saya!" teriak Aiza, melihat Marteen yang semakin mendekat.
"Kamu yang memaksa saya untuk melakukan ini gadis cantik."
Sampai kapan pun, Aiza tidak akan pernah sudi diperlakukan hina seperti ini. Laki-laki macam Marteen memang tidak berprasaan! Tidak takut dosa, kah? Hanya memikirkan nafsu tanpa berbikir akibat. Baiklah, Aiza tidak akan tinggal diam.
Ya Allah, hamba melakukan ini demi melindungi diri. Maafkan hamba.
Ditendangnya perut Marteen yang tadi akan segera menindih tubuh hingga ia terjungkal ke belakang, punggungnya terjengkang di atas karpet.
Untuk mengambil kesempatan, Aiza lekas bangun dari rebahan, mengambil ponsel yang tergeletak di sebelah, dan langsung berlari sambil berteriak mengancam. "Saya akan laporkan Tuan ke polisi karena telah berusaha melakukan perbuatan b***t!" akibat intensitas emosi yang menggebu, Aiza mengancam. Tapi suara Marteen menginterupsi.
"Maafkan saya, Aiza! Saya benar-benar khilaf! Jangan lakukan itu! Baik-baik, saya tidak akan memaksa kamu!"
"Saya akan memaafkan Tuan, asal Tuan mau membebaskan saya dari sini dan berhenti memaksa saya untuk menikah dengan Tuan!"
"Baiklah."
Baru saja Aiza bernapas lega, tapi Marteen berhasil menghempaskannya kembali ke permukaan penuh kerikil. Seperti layangan yang ditarik-ulur tanpa perasaan. Asal menang.
"Sebenarnya saya datang ke sini untuk memberi kabar penting. Tadi dokter yang merawat ibumu mengatakan, kalau dia harus segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Karena operasi harus segera dilakukan. Jadi sekarang pilihan ada di tangan kamu, kalau kamu pergi, kamu akan melihat ibumu menderita dengan penyakit kankernya itu. Kalau kamu tetap tinggal dan menerima saya, kamu akan melihat ibumu sembuh dan kembali sehat." Marteen tersenyum kecut. "Nyawa ibumu, ada di tangan kamu sendiri. Kalau kamu tetap bersikukuh untuk menolak lamaran saya, berarti kamu telah membuat Hilya mati perlahan, sel kanker itu akan menggerogoti organ dalamnya, hingga merasakan sakit tak terkira. Kamu yakin, bisa membiayai pengobatan ibumu itu? Jelas, itu tidak membutuhkan uang sedikit. Bahkan orang kaya sekalipun, kadang jatuh miskin hanya gara-gara penyakit ganas itu. Uangnya habis dipakai untuk berobat."
Aiza menundukkan kepala, air mata hangat lolos jatuh mengaliri pipi. Layaknya air paling suci yang berasal dari kesakitan batin tak kuasa melihat ibunya menderita.
Mengapa rasanya begitu sakit?
Akankah penolakan ini berakhir dengan kegagalan?
Akankah takdir mengatakan, kalau pada akhirnya, Aiza harus menikah dengan lelaki yang lebih pantas menjadi seorang Ayah? Bisakah Marteen memberikan penawaran yang lebih baik selain ini? Oh tidak mungkin. Karena lelaki itu terlalu jahat dan biadap.
"Kamu tidak perlu khawatir soal Eliza. Saya tahu, dia pasti setuju dengan pernikahan ini. Dan apa yang perlu diharapkan dari wanita gila itu? Saya berhak menikah lagi untuk melanjutkan hidup."
Bergeming. Hanya itu yang dilakukan Aiza yang berada di ujung keputusasaan. Terombang-ambing oleh kenyataan.
Marteen berdiri, merapikan bajunya yang lumayan berantakan. Dia berjalan, dan berhenti di sebelah Aiza yang mulai terisak. "Kamu datang ke kamar saya jika kamu menerima. Tapi kalau tidak, kamu boleh pergi tanpa kekangan dari saya."
Isak tangis Aiza mulai terdengar, Marteen berlalu meninggalkannya.
Sambil berdiri di sana, sendirian, di antara keheningan, Aiza menangis sesenggukkan, bahunya ikut bergetar. Dadanya terasa pengap, sakit seperti ditimpa beban berton-ton.
Aiza sadar, dirinya telah kalah.
Karena orang yang memiliki kekuasaan selalu menang.
Selamat tuan Marteen, kamu telah berhasil memenangkan pertarungan ini.
Nah, bagaimana dengan Aiza? Apa yang akan dia pilih?
Penasaran?
Ayo komen
Syukron