بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ini teguran untukku, karena pernah mencintai melebihi cintaku pada sang Pencipta.
Selesai menyuapi Eliza dan membuatnya kembali terlelap, pintu kamar terbuka dari luar. Aiza mendapati sosok Mario yang belum berbenah, masih dengan pakaian kemarin---kemeja putih yang kusut. Barangkali Mario tidak tahu tentang kejadian kemarin, Aiza memaklumi, malam itu dia sedang kacau. Tapi entah mengapa, Aiza menyimpan sedikit kesal. Tanpa password, dia sudah berani membuka apa yang tidak pantas ia buka bagai hacker.
Tanpa mengatakan apa-apa, Aiza berjalan keluar melewati Mario yang masih berdiri di lawang pintu, memerhatikan ibunya yang tidur. Tidak ada sepatah kata pun yang mereka lontarkan. Awalnya Aiza ingin menunggu Mario mengatakan maaf, tapi mustahil, lelaki itu tidak menengok ke arahnya sama sekali.
Dia sedang bersedih.
Mario melenggang mendekati kasur. Dari wajahnya, dia kelihatan sedang memendam banyak cerita. Tapi yang dilakukan Mario hanya berdiam diri di tempat. Entah lidahnya yang kelu, atau memang merasa percuma.
Mario menyayangi ibunya lebih dari apa pun.
"Sekarang aku menyesal, pernah menuruti apa katamu Ibu. Semenjak kita memutuskan untuk melakukan itu, berbagai masalah terus datang tanpa henti."
Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Mario. Memandang Eliza penuh harap.
Aiza kalang-kabut, tadi dokter mengatakan kalau Hilya harus segera dioperasi agar kankernya tidak cepat menyebar ke organ lain. Operasi pengangkatan sel kanker pasti membutuhkan biaya besar, dan mana mungkin Aiza bisa mendapatkan uang dalam waktu sebentar? Itu mustahil.
Ujian demi ujian datang silih berganti. Baiklah Aiza, kamu harus kuat. Katanya, kalau Allah memberi ujian, berarti Dia ingin mengangkat derajat hamba-Nya. Samakan saja ketika kita ingin naik kelas, berarti harus melewati ujian. Kalau lolos, maka naiklah derajat.
Tenang Aiza, ada Allah.
Kalimat itu terus berbisik di telinga.
Tenang Aiza, ada Allah.
"Kamu nggak usah khawatir, Ibu iklas kalau harus jadi begini. Ibu juga lega, karena di saat seperti ini, ada seorang laki-laki yang akan segera melamar kamu."
"Ibu bicara apa, Bu? Ibu bakalan sembuh. Aku janji, bakal dapetin uang untuk biaya operasi Ibu."
"Masa depan kamu dan Aisyah jauh lebih penting."
"Nggak, Bu. Ibu juga jauh lebih penting!"
Belum sempat Hilya berbicara, pintu tiba-tiba terbuka. Mereka berdua mengalihkan pandangan ke arah pintu, sosok pria yang tak lain dan tak bukan adalah majikannya muncul, dan sedang menutup pintu kembali.
Entah mengapa, jika melihat Marteen, rasa takut sekonyong-konyong menyusup. Aiza masih ingat kejadian kemarin, di mana Marteen---pria yang selalu membawa gadis muda ke rumah---melihat wajahnya tanpa niqab. Ya Allah, semoga kedatangannya hanya sebatas menjenguk. "Waalaikumussalam," ucap Aiza pelan tanpa suara.
"Tuan Marteen? Ada perlu apa?" tanya Hilya ketika Marteen sudah berada di dekat bed-nya. Tentu ini menjadi tanda tanya besar, sebab ini terkesan aneh jika majikan seperti tuan Marteen datang membesuk.
"Saya ada perlu dengan putri kamu."
"Aiza?"
Marteen mengangguk. Aiza semakin curiga. Pandangan Marteen tertuju pada Aiza, lalu ia melempar senyum ramah. Aiza berusaha memalingkan muka, rasanya ia ingin menghilang dari bumi ini.
"Begini Aiza. Saya akan membayar semua biaya pengobatan ibumu, bahkan saya bersedia membayar uang operasi. Saya bisa membantu segalanya sampai ibu kamu sembuh total."
Mengangkat kepala, mata Aiza berbinar. Di zaman modern seperti sekarang, masih ada orang sebaik dia?
"Tapi dengan satu syarat. Kamu harus mau menjadi istri saya."
Sorot mata gembira itu berubah getir.
Istri lelaki tua di depannya ini?
Ya Allah. Drama apa ini?
Di tempat lain, Hilya tak kalah shock.
"Bagaimana? Apa kamu setuju?"
"Apa Tuan sudah gila?" respons Aiza tak menyangka. Rasa takut akhirnya terjawab. Kejadian kemarin mungkin berefek buruk. Ayolah, Tuhan! Katakan kalau semua ini mimpi! Katakan kalau apa yang barusan ia dengar hanya delusi atau fatamorgana semata. Cerita seperti ini hanya ada dalam sinetron atau novel.
"Tidak, saya masih waras. Itu sebabnya, saya langsung terpikat melihat wajah cantik kamu, Aiza."
Hilya yang mendengar kontan membulatkan bola mata secara sempurna. Dia menatap Aiza penuh penagihan. Apa yang terjadi dengan Aiza selama di rumah tuan Marteen? Wajah cantik? Apa Aiza pernah membuka niqab-nya?
"Saya tidak mau. Saya tidak mungkin menikah dengan pria yang lebih cocok menjadi Ayah ketimbang suami." Aiza menjawab lugas.
"Oh, jadi kamu mau menolak penawaran brilian saya? Apa kamu rela, melihat ibumu sakit-sakitan dengan perawatan seadanya? Apa kamu masih sanggup menjalani hidup yang kejam ini? Apakah kamu sanggup menjadi pembantu dengan sistem gaji yang berputar?"
"In syaa Allah saya sanggup. Ada Allah yang akan membantu saya."
"Coba pikirkan ini secara matang-matang. Kalau kamu menikah dengan saya, Ibu kamu bisa sembuh total. Kamu akan menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Selama ini kamu sudah menyusahkan ibumu ini. Jadi, sebagai timbal balik, kamu harus membuatnya bahagia. Biarkan dia sembuh dan bisa menjalani kehidupan secara normal, tanpa kekurangan. Percayalah, hidup kamu akan terasa lebih mudah dan berjalan lancar."
Aiza menatap ibunya ambigu, sedangkan Hilya memasang tampang tidak setuju. Sampai kapan pun ia tak akan pernah mau menyerahkan putri sulungnya ke tangan laki-laki seperti Marteen. Biarpun kaya, tapi itu semua tidak menjamin kebahagiaan. Apalagi lelaki itu memiliki umur yang terpaut sangat jauh dengan Aiza. Dan yang lebih parah, dia sudah beristri. Sebutkan satu saja kelebihan Marteen! Dalam pandangan Hilya, tidak ada sama sekali.
"Ayolah, Aiza. Anggap ini sebagai balas budi seorang anak pada ibunya. Lagi pula, kamu masih menunggu pertolongan Tuhan yang lamban itu?"
"Tuan boleh merendahkam saya. Tapi Tuan tidak berhak menghina Tuhan kami."
"Aku ikhlas membiayai Aiza, karena dia adalah anakku. Jadi Tuan tidak perlu ikut campur dengan urusan keuangan kami. Aiza bebas memilih siapa yang menjadi pendampingnya. Saya, Hilya, sebagai Ibu yang selama ini merawatnya, tidak akan pernah setuju dengan tawaran Anda, Tuan." Hilya mencoba menimpali dengan pembelaan.
Di saat Aiza kehilangan semangat dan buntu, Marteen datang lalu memberikan penawaran yang cukup baik. Baik untuk Ibu, dan baik untuk masa depan Aisyah di sana. Aiza sadar, selama ini dia sudah menjadi beban pikul bagi sang Ibu. Mungkin sekarang waktu yang tepat, untuk membalas jasanya yang tak terhingga.
"Tolong beri saya waktu untuk berpikir, Tuan." Suara Aiza menginterupsi, Hilya yang awalnya bersikukuh melarang majikannya menikahi Aiza, melempar tatapan kaget, apa Aiza akan mempertimbangkan ini? Hal yang jelas-jelas tidak perlu diestimasi lagi.
"Buat apa kamu berpikir, Lubna?!" Hilya berupaya mengeluarkan suara yang tinggi, agar Aiza mengerti, kalau sekarang ini dia sedang marah.
"Bolehkan aku berpikir, demi kesembuhan Ibu?" lirih Aiza tak kuasa melihat kilatan amarah dari mata Hilya yang biasa lembut. Wanita itu sudah saatnya beristirahat, kini giliran Aiza yang menjadi tulang punggung keluarga.
"Baiklah, saya akan tunggu jawabanmu, Aiza. Saya beri waktu satu jam untuk kamu berpikir." Marteen langsung setuju dengan keinginan Aiza.
"Baik, terima kasih," balas Aiza pasrah.
Marteen keluar dari kamar rawat Hilya, menyisakan pasangan anak dan Ibu yang kini mulai terasa suasana tegangnya. Aiza masih belum berani mengalihkan atensi pada Hilya. Terlalu tak tega.
"Jangan mengecewakan Ibu, jangan bikin Ibu menyesal, karena udah ngizinin kamu dateng ke sini dan gantiin posisi Ibu sebagai pembantu."
Aiza terdiam kutu. Tungkainya terasa lemas.
"Apa yang terjadi sampai tuan Marteen bilang, kalau dia tertarik sama wajah cantik kamu?" Hilya mencoba menginterogasi Aiza.
"Kemarin malam sesuatu terjadi, Bu," jawab Aiza memulai percakapan. Gadis berniqab itu menarik napas panjang.
Hilya masih menatap putrinya nanar sekaligus penasaran.
"Kemarin Mario pulang dalam keadaan mabuk. Lubna salah masuk kamar, aku malah bawa Mario ke kamar ayahnya, karena waktu itu aku bener-bener kewalahan bantu Mario yang limbung." Aiza menjeda beberapa jenak, mengatur napas, Hilya masih dengan setia mendengar bersama debar jantung tak keruan.
"Entah karena apa, Mario ngelepasin cadar aku."
Hilya mengembuskan napas resah.
"Dan saat itu pula, ayah Mario dateng, dan liat wajah aku." Mata Aiza memejam, menyesali kejadian kemarin. Betapa teledornya dia. Aiza pikir, semua akan baik-baik saja. Tapi nyatanya, Marteen benar-benar membuktikan tatapan terpesona yang kemarin ia pamerkan itu tidak main-main.
"Astagfirullah, Lubna." Terdengar suara risau dari mulut sang Ibu yang kini memegang d**a. Hal yang selama ini ia takutkan terjadi. Ini yang menjadi alasan, mengapa Hilya begitu gencar menjaga dan melindungi Aiza. Mata para pria jelajatan adalah musuh terbesarnya dalam kehidupan Hilya sebagai perisai untuk Aiza.
"Maafin aku, Bu. Ini semua terjadi di luar nalar aku. Aku nggak tau, jadinya bakal kayak gini. Aku..."
"Lebih baik kamu tolak lamaran tuan Marteen. Sampai kapan pun Ibu nggak akan pernah setuju kalau kamu sampai menikah dengan dia. Dia udah punya istri, kamu ingat itu!"
Aiza memilih bungkam. Entah apa yang ada dalam pikiran dan hatinya sekarang. Sementara jam dinding di tembok terus berputar, waktu untuk berpikir mengurang.
Aiza harus segera mengambil keputusan.
Seperti yang dijanjikan, Marteen kembali masuk tepat waktu. Pukul 12 siang. Ini menandakan kalau Marteen benar-benar serius dengan tawarannya.
"Apa Tuan yakin ingin menikah dengan saya?" tanya Aiza dengan intonasi pelan, tapi pandangannya ia lempar ke sembarang tempat, terlalu jijik untuk bersipandang dengan pria tidak tahu umur, yang bisa-bisanya tertarik dengan gadis 20 tahun.
"Tentu yakin sekali."
"Tuan berjanji akan membuat Ibu saya sembuh total? Tuan berjanji, akan membahagiakan kami?"
"Tentu saja!"
"Baik, saya akan menerima lamaran Anda." Aiza mengambil keputusan sepihak, dengan tatapan mata menusuk, walau sebenarnya ia ingin menumpahkan air mata. "Nggak apa, Bu. Dengan aku menikahi dia, keinginan kita akan terpenuhi. Ibu bisa sehat, Aisyah bisa sekolah tinggi-tinggi, dan pastinya, aku juga bakalan fokus ngurus Ibu. Jadi...?" Aiza melirik Hilya yang masih memelotot, dadanya semakin pengap. "Aku mohon, Ibu setuju dengan keputusan aku."
Di sana, Marteen tersenyum puas.
"Ibu nggak akan pernah setuju, Nak! Ibu nggak mau kamu jadi istri majikan Ibu. Enggak cuma itu, kamu juga bakalan jadi istri keduanya!"
Ucapan Hilya menukik batin. Tapi Aiza sedang hilang akal.
"Udah waktunya zuhur, aku mau salat dulu." Azan zuhur yang berkumandang lewat alarm hape Aiza, menyelamatkan Aiza dari suasana getir ini. Ia tahu, ibunya sedang naik pitam.
"Lubna! Dengerin Ibu, Lubna!"
Aiza melangkah cepat meninggalkan ruangan, mengabaikan panggilan Hilya yang membuat hati teriris. Tangan Marteen terulur, ingin meraih lengan Aiza, tapi perempuan itu langsung menampik.
"Jangan sentuh saya, bukan mahram. Nanti saja kalau sudah halal. Tuan bebas melakukan apa pun," suara Aiza gemetar, ia pun berlari keluar dengan hati hancur berkeping-keping. Hati menolak bertalu-talu, tapi otak memaksa untuk berpikir realistis.
Tujuan utama adalah musala, Aiza tak kuasa menahan tangis, dia akan bersimpuh di hadapan Allah. Air mata berjatuhan membasahi niqab. Keputusan yang Aiza ambil memang berat, tapi mungkin inilah jalan terbaik.
Selalu ingat Allah dalam keadaan apa pun. Karena Dia adalah Dzat penenang paling ampuh. Dia akan memberi jalan bagi siapa saja yang ingin mengadu. Allah itu Mahabaik, Mahapenyayang, Mahapemberi pertolongan.
Di sinilah, di atas sajadah, Aiza bersimpuh. In syaa Allah, ia ikhlas.
Aku melakukan ini demi Ibu, agar Ibu bisa sembuh. Aku melakukan ini demi masa depan kita semua. Biarlah hatiku terluka, asalkan orang-orang yang aku sayang bisa bahagia. Terutama Ibu dan Aisyah, perempuan-perempuan penting, yang harus selalu aku prioritaskan. Aku tahu ini salah, dengan terpaksa aku melepas Rifki, mungkin dia memang bukan jodohku. Aku harus merasakan sakitnya sebuah pengharapan, aku tau, ini teguran untukku. Aku lancang berharap pada selain-Nya. Maafkan aku. Aku mengerti, hidup ini bukan hanya tentang cinta. Biarkan cintaku kandas di dunia, aku yakin, Allah akan membalasnya di akhirat nanti. Entah ini ujian atau azab, yang jelas, aku harus tetap bersyukur. Aku yakin, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. In syaa Allah, aku ikhlas. Kuberikan kehormatan ini pada lelaki yang akan mencukupi semua kebutuhan keluargaku. Aku rela menjadi korban, mereka lebih berharga daripada cintaku.
Oh Allah, maafkan hamba jika keputusan yang hamba ambil salah.
Oh Allah, izinkan hamba berbakti pada Ibu.
Oh Allah, berikan hamba kekuatan untuk ikhlas.
Ikhlas dalam segala hal. Termasuk mengabdikan hidup pada laki-laki yang tidak pernah dicintai.
Oh Allah, hamba mohon ampun.
Aiza mendaratkan keningnya di atas sajadah, air mata jatuh, membasahi sajadah, tak hiraukan sesak di d**a. Aiza yakin, Allah pasti sedang bersamanya, mengusap kepala. Beberapa kali bibir ranumnya mengucap kalimat istigfar.
Ada Allah.
Ada Allah.
Ada Allah.
Allah pasti telah menrencakan yang terbaik di balik musibah ini.
Rifki. Maafkan aku. Ini terguran untukku, karena pernah mencintai kamu yang belum pantas untuk aku cintai.
Ini teguran untukku, karena pernah berharap begitu dalam.
Ini teguran untukku, karena pernah mencintai melebihi cintaku pada sang Pencipta.
Masih penasaran dengan cerita ini?
Jangan lupa voment-nya! ✌❤
Syukron