Bab 7 - Di Balik Ujian

2229 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Ketika Allah memberi ujian, bukan tanda Dia benci. Tapi Dia ingin hamba-Nya kembali ke jalan yang benar. Justru Dia sayang. "Sepertinya, ini saat yang tepat." Claudia mengangkat kedua alis, menatap Mario intens, menunggu lelaki berkemeja putih yang berbalut jas warna krem itu melanjutkan ucapan. Mereka sedang berada di sebuah restoran bintang lima, dengan pakaian super elegan. Musik yang berasal dari gesekan biola menambah kesan romantis. Ini adalah acara makan malam Mario dan Claudia yang paling ditunggu dan paling serius. Mario bosan melajang, di usianya yang sudah menginjak 25 tahun, dia membutuhkan seorang pendamping. Dan Claudia, adalah pilihan terbaik. "Ini saat yang tepat untuk aku melamar kamu, Clau." Mario mengeluarkan sekotak beledu warna merah. Senyum Claudia merekah, kala itu dia mamakai dres pendek berbahan brokat, warna senada dengan jas yang Mario pakai. Pasangan itu semakin kelihatan cocok, sama-sama memiliki rupa di atas rata-rata. "Oh, sayang. Kamu itu tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Kamu tahu? Aku sering menonton film romance, dan acara melamarnya tidak sesederhana ini. Si lelaki menaruh cincinya di dalam piring, atau bahkan, dalam tumpukan kue." "Kamu juga tahu, kan? Aku bukan tipe pria romantis seperti itu. Aku adalah Mario, manusia yang paling tidak mau diajak ribet dan susah," elak Mario membela diri. Respons itu mendapat kerlingan dari Claudia. Mario memang lelaki paling percaya diri dan simple. "Ya sudah, ayo pasangkan." Claudia mengulurkan tangan, membuka bebas jemari tangan kanan. Melambai-lambai gemas. "Ini namanya to the point, dear." Mario lekas membuka kotak beledu itu, dan mulai memasangkan cincin berbahan berlian tersebut ke jari manis Claudia. "Apakah kamu bersedia menjadi istriku?" Tanpa pikir panjang, seolah yakin dengan pilihan, Claudia langsung menganggukkan kepala. "Aku bersedia, tuan Mario." Lelaki itu tersenyum kecil mendengar jawaban Claudia. "Baiklah." Dimasukkannya cincin itu pada jari manis dengan mulus, atmosfer bahagia melingkupi. Beberapa jenak kemudian, Claudia menarik tangannya kembali, menatap cincin yang tersemat manis di jari begitu takjub. Bukan karena cincinnya yang pasti bernilai mahal, tapi karena orang yang memasangkannya, adalah orang yang sangat ia cintai. "Tapi, orang tua aku tidak akan setuju dengan ini. Kecuali kamu ikut aku, kamu mau kan berpindah keyakinan?" Mario berpikir sejenak. Usul dari Claudia ada benarnya juga. Dari dulu, hubungan mereka memang tidak pernah direstui oleh orang tua dari Claudia karena perbedaan agama. Claudia yang menganut agama Kristen Katolik, dilarang berhubungan dengan orang Islam. Yang keluarga Claudia tahu, Islam adalah agama paling buruk. Ingat kejadian pemboman di salah satu gereja? Mereka percaya, pelakunya adalah orang islam. Meskipun banyak larangan dari sana-sini, Claudia tetap memilih Mario. Claudia yakin, Mario adalah cinta sejatinya. Tidak peduli dengan agama yang Mario anut. Cinta adalah cinta. Apa pun rintangannya, cinta haruslah diperjuangkan, meskipun ditentang agama sekalipun. "Apa-apaan ini, Clau?!" Suara besar itu menyentak Claudia yang sedang menikmati kebersamaan manis dengan Mario. Refleks ia mendongkak, mendapati pria bertubuh jangkung sedikit beruban di kepala, memakai pakaian formal layaknya pejabat besar. Dan dia adalah papanya. "Papa?" "Jadi ini yang kamu lakukan di belakang Papa?" Claudia berdiri dengan gerakan kaku. Ya, hubungannya dengan Mario memang sengaja disembunyikan. Awalnya memang terang-terangan, tapi begitu orang tua Claudia tahu kalau Mario ini adalah orang Islam, mereka langsung tidak setuju. "Ayo ikut Papa. Kita pulang. Dan kamu, tidak boleh bertemu dengan pria ini lagi! Papa akan membawa paksa kamu ke Belanda!" "Aku tidak mau, Pa! Lihat ini!" Claudia memamerkan cincin pemberian Mario di hadapan papanya. "Mario baru saja lamar aku. Please, Pa. Beri Mario waktu. Dia berjanji, akan melepaskan agamanya demi aku." "Apa pun itu, Papa tidak akan setuju, Claudia! Apa kamu akan menjadi anak pembangkang terhadap orang tua? Lagi pula, Papa sudah menjodohkan kamu dengan pria yang lebih baik." Mario ikut angkat suara, dan bangkit dari duduk. "Saya janji, Om. Saya akan melepaskan agama saya demi Claudia." "Sudah telanjur! Saya sudah telanjur menjodohkan dia dengan seseorang. Percuma kamu melakukan itu." Yunus---papa Claudia---segera meraih pergelangan tangan Claudia, melepas cincin yang terpasang di jari manis putrinya dan melemparnya ke sembarang tempat. Sontak Claudia membelalakkan mata. "Papa! Apa yang Papa lakukan?!" protesnya dengan aksen tinggi. "Papa menolak lamaran dia. Ayo! Ikut Papa!" Yunus menarik paksa tangan Claudia, membawa pergi putrinya yang kini berusaha bertahan di tempat namun nihil, tenaga papanya yang jauh lebih besar membuat Claudia kalah. Mario hanya bisa mengamati kepergian Claudia dengan sorot pasrah. Percuma melawan Yunus, ia pasti kalah. "Untung Papa meeting dengan klien di sini, kalau tidak, Papa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya!" "Aku cinta sama Mario, Pa! Papa harus mengerti!" Samar-samar Mario mendengar perdebatan Ayah dan anak itu yang semakin menghilang di telan pintu utama. Sudah dipastikan, acara makan malam dan lamaran ini gagal total. Ketika cinta diuji oleh perbedaan agama, juga ketidaksetujuan orang tua, Mario kehilangan cara untuk mempertahankan. "Sekali lagi Papa lihat kamu masih berhubungan dengan Mario, Papa nggak akan segan-segan untuk kirim kamu ke Belanda! Camkan itu! Jangan pernah berpikir bahwa ucapan Papa ini main-main." Hari ini, menit ini, ancaman yang terucap beberapa hari lalu, terbukti adanya. Apakah Mario akan kehilangan Claudia untuk selama-lamanya? Mario sadar, dirinya terlalu pecundang. Menemani Eliza terlelap, Aiza membacakan beberapa ayat suci Al-Qur'an berupa surat Al-Mulk, agar Eliza bisa tenang dan damai dalam tidurnya, dan perlahan Allah mau menyembuhkan penyakitnya. Aiza diberi gaji lebih besar, karena tugasnya ada dua. Menjaga Eliza, sekaligus menjadi asisten rumah tangga. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Aiza merasa sedih, sebab suami Eliza, sering berkhianat. Aiza kerap memergoki Marteen membawa perempuan muda yang ia akui sebagai sekretaris dari kantor. Aiza mengerti, Marteen membutuhkan kepuasan batin karena istrinya di sini tidak bisa melakukan apa-apa. Pada dasarnya sifat pria memang seperti itu, perempuan adalah ujian terberat bagi mereka. Perempuan adalah tempat pelampiasan nafsu yang paling tepat. Maka sebagai perempuan, janganlah menjadi w**************n, janganlah mau meladeni ketika ada laki-laki yang mencoba menggoda dengan menggunakan dalih cinta. Itu semua omong kosong, karena yang mencintai benar-benar, adalah dia yang berani datang ke rumah dan menjabat tangan ayahmu duluan. Kelakuan Ayah dan anak sama saja. Selalu merendahkan wanita. Hanya bedanya, Mario cukup satu wanita. Sedangkan Marteen? Dia selalu ganti-ganti. Setan sengaja memperindah wanita, agar terjadi perzinahan. Itulah mengapa, lelaki begitu tertarik dengan wanita. Tidak heran lagi. Karena sepertinya, itu sudah menjadi hukum alam. Terkecuali, jika lelaki itu memiliki iman dan ketaaatan yang kuat, maka ia bisa dengan mudah menghindari hal-hal yang memicu perzinahan: yaitu dengan menundukkan pandangan. Itulah gunanya ilmu agama, agar hidup tenteram, damai, tanpa ada kekacauan sedikit pun. Andai Marteen memiliki iman, pasti ia tidak akan berani membagi cintanya, dan beliau akan sangat sabar merawat sang istri yang sedang sakit. Kenapa demikian? Karena lelaki beriman tahu, ia memiliki Tuhan, dan cara menaati perintahnya, adalah dengan setia pada satu wanita, dalam keadaan apa pun dan kondisi bagaimanapun. Aiza sering merenung. Tidak pernah tebersit sekalipun, kalau dirinya akan bekerja di lingkungan seperti ini. Anggota keluarga seringkali meninggalkan kewajiban seorang muslim, yaitu salat lima waktu. Bel pintu rumah terdengar berkali-kali, menghentikan aktivitas Aiza yang baru membaca dua halaman. Aiza menutup mushaf, meletakkannya di atas nakas, dan bergegas keluar untuk segera membukakan pintu. Mata Eliza yang awalnya tertutup, kini membuka begitu Aiza pergi. Seperti sadar, kalau lantunan ayat suci yang amat menenangkan, hilang berganti hening. Ketika Aiza membuka pintu, ia dihadapi dengan Mario dalam keadaan kacau. Bau alkohol begitu menusuk indera penciuman, dia tidak serapi saat tadi pergi. Bagai manusia yang terlunta-lunta di jalanan, dia bukan Mario yang Aiza lihat ketika pertama kali bertemu. Salah jika Aiza mengira pria di hadapannya ini orang gila, karena dia benar-benar Mario, tuan mudanya yang sedang berada dalam masalah besar. Laki-laki seperti Mario tidak pantas berpenampilan masai begini. Melihat Mario yang sempoyongan sambil bergumam tak jelas, Aiza membantu memberikan tumpuan. Tidak ada orang di sini, jadi Aiza harus mau membantu walaupun pada akhirnya dia harus menyentuh Mario, memapahnya menuju kamar. Semoga Allah mengerti. Aiza tidak mungkin membiarkan Mario ambruk hanya gara-gara takut menyentuh. Ini keadaannya darurat. Dengan terpaksa Aiza membopong Mario menuju kamar yang terletak di lantai bawah, ia tak akan kuat jika harus membantu Mario sampai lantai dua, di mana kamar Mario berada. Setelah berhasil masuk kamar dengan segala perjuangan, akhirnya Mario berhasil dibaringkan di atas tempat tidur. "Ini semua gara-gara perempuan seperti kamu," telunjuk Mario ditunjukan ke wajah Aiza yang menatapnya heran. Selama perjalanan ke sini, Mario terus saja mengumpat. Mau dalam keadaan sadar atau tidak, mulutnya selalu mengeluarkan serapah. Awalnya Aiza tidak menggubris, tapi kali ini, ia harus mau bertanya. Orang mabuk memang mirip orang gila yang hilang akal. "Mengapa Tuan langsung menyalahkan saya?" "Iya, gara-gara orang Islam seperti kamu, aku kehilangan dia!" wajah Mario yang biasa putih berubah merah. Yang biasa rapi berubah kusut. "Maksud Tuan apa?" "Aku membenci agamaku sendiri. Seharusnya aku tidak lahir dari agama so suci ini!" Dada Aiza serasa ditohok ketika mendengar kalimat tajam bagai belati itu. Seseorang telah menghina agamanya yang selama ini begitu Aiza banggakan. "Mengapa Tuan bisa mabuk?" Aiza mengalihkan pembicaraan. "Karena aku sedang patah hati! Dan itu gara-gara agamaku! Setelah ini, aku akan segera keluar dari islam, dan membawa lari Claudia untuk aku nikahi." "Kamu seharusnya bersyukur, di antara miliaran manusia yang Allah ciptakan, kamu termasuk orang Islam." "Apanya yang harus disyukuri? Ibuku gila, dan sekarang, cintaku juga harus kandas. Apa yang harus disyukuri, hah? Coba saja, kalau aku ini lahir dari agama lain, pasti semuanya baik-baik saja. Asal kamu tahu, ya. Tuhan itu selalu memperlakukan manusia secara buruk. Itu sebabnya, mengapa orang Islam kebanyakan menderita!" "Tapi mereka, yang hidupnya baik-baik saja, ketika sewaktu-waktu patah hati atau terluka, mereka akan memilih menyerah, dan kadang berakhir dengan bunuh diri. Salah satunya seperti Tuan saat ini. Andaikan Tuan dekat dengan Tuhan, ketika patah hati itu datang, Tuan akan memiliki cara ampuh untuk menghilangkan kesakitan tanpa harus menyiksa diri seperti ini." "Apa lagi yang harus aku lakukan selain ini? Apa lagi?! Mungkin setelah ini, aku akan hilang ingatan." Mario terkekeh miris. "Dan itu lebih baik." "Seorang aktor luar negeri, memilih mengakhiri hidup akibat depresi, disebabkan oleh tekanan hidup yang semakin menyiksa batin. Coba saja kalau dia tau Tuhan itu ada, dan akhirat itu nyata, maka dia akan pikir dua kali untuk melakukan aksi bunuh dirinya itu. Karena dengan mati, bukan berarti beban akan lepas, tapi kematian malah mengantarkan kita pada beban yang lebih berat, yaitu menghadapi siksaan Allah yang dahsyat. Hidup di dunia hanya sementara, sedangkan akhirat selama-lamanya. Jadi mengapa harus bersedih ketika Allah menguji hamba-Nya di dunia? Kalau Dia sendiri sudah menyiapkan Surga di akhirat sebagai hadiah untuk hamba-Nya yang berhasil lolos ujian. Dan mereka yang tidak lolos lantas memilih jalan pintas, sudah dipastikan, surga saja haram untuk ia injak." "Aku tidak butuh ceramahmu, Aiza! Yang aku inginkan, aku bisa kembali dengan dia! Ujian apa? Ini namanya tidak adil! Ini namanya p********n!" "Istigfar Tuan. Anggap saja, Tuan dengan dia memang tidak berjodoh. Kadang Tuhan menguji hamban-Nya dengan cara cinta beda Agama. Agar Dia tahu, apa yang hamba-Nya pilih. Ciptaan-Nya, atau Pencipta-Nya." "Yang jelas aku akan memilih Claudia." Mario tertawa ironis. "Karena jelas, dia telah memberi aku kebahagiaan dan cinta. Sedangkan Tuhan? Apa yang dia beri untukku?" Aiza memicingkan mata. Mario terlalu gila dunia dan cinta. Hingga ia lupa, siapakah yang telah memberinya napas. Ya Allah, maafkanlah Mario. Dia hanya tidak mengerti, dia hanya manusia tanpa ilmu yang sedang terluka dan tidak tahu cara menyembuhkan. "Ini semua gara-gara wanita seperti kamu! Aku benci agamaku sendiri. Aku membencinya, aku sangat membencinya." "Tuan sepertinya butuh istirahat." Aiza membungkuk untuk memasangkan selimut dengan gerakan telaten. Mario yang kehilangan akal, menatap Aiza dalam. Selama ini, tidak ada orang yang peduli padanya selain Claudia, hanya perempuan itu yang memperlakukan Mario dengan sedemikian baik. "Claudia..." Mata Aiza membelalang secara sempurna. Sesuatu telah terjadi. Aiza menyadari, bahwa kain yang selama ini melindungi wajahnya dari berbagai fitnah dunia, terbuka bebas. Tangan Aiza yang gemetar terangkat, memegang pipinya yang serasa t*******g gentar, napas tersekat di tenggorokan. Mata Aiza menatap Mario tak habis pikir. Rasa panas menjalari bagian mata. Hawa dingin merasuk bagai menukik pori kulit. Mario baru saja membuka paksa cadarnya. Aiza menelan saliva. Saking kagetnya, Aiza hanya bisa mematung. Otaknya mati. Tubuh pun ikut mati rasa. Dari lawang pintu, seseorang masuk. "Apa yang Tuan lakukan?" "Ada apa ini? Mengapa pintu kamarku terbuka?" Kontan Aiza mengalihkan pandangan ke samping, tak kalah kaget dengan kejadian sebelumnya, sosok Marteen---sang majikan besar---kini sedang berdiri tak jauh dari tempat Aiza berdiri. Kontak mata tak bisa dihindari, lelaki itu tertegun cukup lama. Air mata Aiza sudah menggenang di kelopak, lalu detik berikutnya, air itu jatuh, apalagi ketika melihat reaksi Marteen yang tampak antusias. Ya Allah, semoga setelah ini semuanya akan baik-baik saja. Apa yang perlu ditakuti? Sementara Mario, yang tanpa sadar telah lancang membuka niqab, masih bergumam dengan mulut komat-kamit. Nama Claudia beberapa kali terucap dari bibir bau alkohol miliknya. Bisa saja Mario tidak melihat jelas karena dia sedang mabuk, tapi bagaimana dengan Marteen? Segeralah Aiza merebut cadar yang berada di tangan Mario, dan lekas berlari meninggalkan kamar. "Permisi, Tuan." Ada getar dalam suara Aiza. Marteen menjangkau kepergian anak pembantu itu dengan sorot mata terpesona. Sambil berjalan dengan langkah lebar-lebar, Aiza memakai kembali niqab-nya dengan memendam amarah. Lagi-lagi ia harus merapalkan kalimat istigfar gara-gara kelakuan Mario. Mario benar-benar kelewatan. Dia, sudah, kelewatan. "Apa yang kamu lakukan dengan anak pembantu itu, Mario?" Mata Mario mulai memejam tersebab lelah. Tidak menghiraukan suara ayahnya yang penasaran penuh ketertarikan, mata itu menyipit untuk menerawang. "Apa kalian sedang menjalin hubungan? Kamu pandai memilih wanita, di balik kain itu, dia menyembunyikan kecantikan yang tidak pernah Ayah lihat sebelumnya." Jangan lupa follow akun i********: aku, ya. @jaisiquatul Ajak temen-temen buat baca cerita ini. Syukron
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD