بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Semua agama memuliakan wanita. Tergantung wanita itu sendiri mau menaati peraturan yang ada atau tidak.
"Shitt!! Dia laki-laki b***t!"
"Kenapa dengan laki-laki itu?" Aiza bertanya sambil terus membersihkan suvenir-suvenir yang berada di atas laci dengan kemoceng. Kebetulan Mario sedang libur, ia bisa menikmati waktu senggannya dengan menonton tivi---acara berita yang sedang hangat-hangatnya. Rasanya telinga Aiza panas, karena dari tadi Mario terus saja mengumpat. Dia kerap mengomentari hal sepela yang terjadi di acara tivi, terutama berita mengenai politik. Bibirnya itu tidak bisa diam.
"Dia melecehkan seorang penyanyi dangdut, dia telah merendahkan perempuan itu!" Mario menjawab seraya terus menatap layar tipis di depannya dengan serius. Meskipun ia tidak suka dengan penyanyi dangdut yang sedang tenar itu, tapi Mario merasa nama baik seorang laki-laki bisa tercoreng akibat ulah salah satu kaum adam yang telah merendahkan si artis seksi yang selalu berada di atas panggung menghibur para penonton dengan suara khasnya.
"Seorang pedangdut yang sedang naik daun itu?"
"Kamu pembantu ter-update ternyata."
"Aku tau beritanya dari i********:. Banyak para netizen yang membela dengan membuat hastag." Di balik cadarnya Aiza terseyum sambil menggeleng. "Saya heran dengan mereka."
"Maksud kamu?"
"Kamu tidak akan mengerti tuan Mario."
Mario mendesah, baru kali ini dia kenal dengan perempuan aneh yang sedang menyapu debu di atas bingkai foto. Kebetulan foto itu adalah foto Mario ketika masih kecil. Memang lucu dan tampan, tapi Aiza menyayangkan itu, lantaran Mario sama sekali tidak mengenal siapa pencipta-Nya. Ini buruknya lahir dari keluarga kaya tanpa ilmu agama.
Baru bekerja beberapa hari, Mario dan Aiza kerap mengobrol seperti ini, dengan suasana yang bisa dibilang akrab, tapi sedikit dibumbui konteks antipati. Entahlah. Lagi-lagi Mario selalu bicara tentang cadar.
"Coba saja kalau artis itu mau menutup aurat, bisa menjaga kecantikan dan keindahan tubuhnya, dia tidak mungkin dilecehkan seperti begitu. Itu sebabnya, mengapa Islam menganjurkan para wanita untuk mengenakan jilbab, bahkan ditekankan untuk bercadar, karena Islam begitu memuliakan wanita. Hanya agama kami, yang sangat menghormati kedudukan wanita."
Mario tidak menggubris, walaupun sebenarnya ucapan Aiza cukup logis dan masuk akal. Sebab perempuan yang tertutup, sama sekali tidak menarik hati. Seperti apa yang Mario rasakan ketika melihat Aiza, dia tidak merasakan gairah apa-apa. Di mata Mario, Aiza itu tidak menarik nafsu. Tapi ada satu yang membuat Mario penasaran: tentang wajah Aiza yang terlindungi di balik kain tipis itu.
"Berbahagialah wanita zaman sekarang, karena islam telah memuliakannya. Berbeda dengan dulu, ketika Islam belum ada, wanita-wanita dipandang hina. Para lelaki bisa m*****i mereka bagai piala bergilir. Para suami menyerahkan istri-istrinya pada lelaki lain demi mendapatkan keturunan sempurna. Pada saat itu wanita berada pada keadaan serendah-rendahnya. Dan sekarang, ketika Islam berhasil ditegakkan, mereka malah dengan sengaja merendahkan dan mempermalukan diri."
"Jadi itu adalah kesalahan perempuan?"
"Jangan menyalahkan salah satu, sebab manusia harus selalu intropeksi diri. Lalu apa bedanya laki-laki itu dengan kamu Tuan Mario?" tanya Aiza sedikit menyindir. Dia sudah gerah dengan tingkah Mario dengan Claudia yang seenaknya melakukan hubungan intim di mana saja.
"Kamu menyamakan aku dengan dia? Ya jelas beda. Aku mencintai perempuan yang aku sebut sebagai kekasih. Itu tidak salah, karena aku mencintainya."
"Itu bukan cinta, melainkan nafsu. Tuan berani menyentuhnya padahal Tuan tau, dia belum halal untuk dinikmati."
"Kamu tidak usah so tahu."
"Baiklah. Sudah saya katakan, Tuan tak akan mengerti." Setelah membersihkan semuanya, Aiza mulai meninggalkan ruang tivi untuk beristirahat sejenak di dapur. Berdebat dengan Mario tidak akan ada ujungnya.
"Lalu kenapa Islam selalu melakukan pemboman di mana-mana?" Mario melontarkan satu pertanyaan yang selama ini mengganjal pikiran, lagi-lagi Aiza harus mau menjelaskan, meskipun tak akan rinci. Membuat Mario diam adalah opsi terbaik.
"Sekarang saya kasih pertanyaan. Tuan tahu p*********n tentara Israel di Palestina? Mereka melakukan pemboman di daerah Gaza, melenyapkan banyak nyawa. Lalu, apakah pernah mereka disebut teroris? Nyatanya sampai sekarang, ketika rakyat Israel melakukan aksi penembakan dan pemboman Islam di Palestina, mereka tidak pernah sekalipun dituduh sebagai Yahudi Teroris. Orang Budha yang membunuh orang islam Rohingya di Myanmar, apakah mereka pernah dituduh Budha Teroris? Islam dibantai di Kashmir oleh orang-orang agama lain, pernah juga kah dituduh sebagai Hindu Teroris? Lalu kenapa hanya Islam yang dituduh Teroris?" Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Aiza melanjutkan. "Karena Islam agama mulia, Islam tinggi, agung, dan terhormat." Kata Islam sengaja Aiza tekankan. Di zaman sekarang, Islam sedang dipandang buruk dan sebelah mata. Bahkan orang-orang Islam sekalipun, lebih takut anak-anaknya mengikuti pengajian ketimbang main keroke di club. Mereka takut anak-anak mereka bergabung dalam pasukan isis, teroris, dan lain sebagainya.
Mario kelihatan sedang berpikir keras. "Jadi menurut kamu, itu semua fitnah?"
"Benar. Semoga Tuan paham dengan apa yang saya ucapkan."
Aiza kembali melenggang, meninggalkan Mario yang masih menatap tayangan berita siang, tapi dengan pikiran melanglang.
Sesampainya di dapur, Aiza menghampiri ponselnya yang tergeletak di atas meja, kebetulan ada panggilan masuk w******p berupa panggilan video. Aiza sedikit menyungging senyum.
Nama Indriku tertera di sana.
Aiza lekas menerima panggilan tersebut, lalu tak lama kemudian wajah big close up Indri terpampang di layar.
"Assalamu'alaikum..." sapanya ceria seraya melambaikan tangan.
"Waalaikumussalam..." balas Aiza dengan binar mata bahagia. Dan Indri tahu, sahabat yang kini berada jauh itu sedang tersenyum, meski tertutup niqab.
"Aku kangen banget tau sama kamu, Lub. Kapan pulang, sih? Ni, a Rifki nanyain kamu terus. Kapan dia bisa dateng ke rumah kamu?"
Aiza terdiam sejenak, selalu itu yang ditanyakan Indri ketika melakukan video call. Membuat Aiza bingung, karena ibunya belum diperbolehkan pulang. Sekarang Aiza ingin fokus pada Hilya, dokter telah mendiagnosa ibunya kalau dia terkena kanker paru-paru.
Sewaktu pertama kali mendengar kata kanker, tubuh Aiza seperti kehilangan ruhnya. Yang ada dalam benak, kanker itu penyakit mematikan. Siapa pun yang menyidap penyakit tersebut, selalu berakhir kematian. Aiza tak sanggup menahan beban ini sendirian. Tapi ia harus kuat, ia tidak boleh menyerah, pandangan tentang kanker yang mematikan, tidak boleh membuat Aiza putus asa, ia harus tetap bekerja demi membiayai semua pengobatan sang ibu dan segala t***k bengeknya.
"Kok malah ngelamun?" tanya Indri diplomatis.
Aiza menggeleng. "Emm maaf, Ndri. Bilangin ke Rifki, aku dan ibuku belum bisa pulang. Mungkin masih lama."
Indri ikut memasang wajah prihatin, ia sudah tahu tentang kabar Ibu Aiza. Indri turut berduka, di sana ia juga ikut mendo'akan mereka.
"Iya, kamu tenang aja. Nanti aku sampaiin ke a Rifki. Semoga dia ngerti, ya."
Aiza mengangguk setengah hati, pasalnya ia tidak enak dengan Rifki. Niat dia baik, tapi Aiza malah membuat sulit. "Aku kangen banget, udah lama nggak ikut kajian di IC," ia mengalihkan pembicaraan. Membahas Rifki hanya akan membuat ketenangan hatinya goyah.
"Kangen kajian, atau kangen ketemu a Rifki?" Indri malah mengerluarkan seloroh garingnya. Membuat Aiza tergelak setengah marah. Untung saja wajahnya tertutup, jadi Indri tidak akan melihat rona merah di pipi. Mendengar nama Rifki disebut, aliran darah Aiza seketika berdesir. Oh Allah, inikah yang dinamakan cinta?
"Ih, kamu, mah! Aku beneran kangen ikut kajian. Asal kamu tau, iman aku lagi turun, udah lama nggak dicas."
"Emang di sana nggak bisa?"
"Yaah mana aku tau di sini tempat kajian di mana. Lagian seharian aku harus ada di rumah, namanya juga pembantu, Ndri."
"Hehe iya, ya. Aduh, sabar ya, Lub. Allah pasti jalan keluar. Aku nggak sabar soalnya, liat kamh bersanding sama kak Rifki."
"Jangan mendahului takdir Tuhan. Aku sama dia belum tentu jodoh."
"Nggak jodoh gimana? Buktinya dia bilang mau serius, terus dia juga bakalan nunggu kamu sampai pulang, kok."
"Ndri, aku pusing nih kalau bahas itu. Oh, ya. Besok aku transfer uang ke Aisyah. Kalau besok kamu mau ambil, kamu bilang aja, aku bakal nyuruh dia buat narik uang."
"Udahlah, Lub. Nggak usah berlebihan gitu, kayak ke siapa aja."
"Ya tapi, kan, aku udah banyak hutang sama kamu."
"Nggak pa-pa, aku ikhlas kok bantu kamu. Mending uangnya kamu pakai buat keperluan yang lebih penting."
"Tapi hutang harus dibayar." Aiza tidak mau terjerat hutang. Dosa hutang itu sangat berbahaya. Bahkan mereka yang mati syahid pun tidak akan diampuni dosa hutangnya. Padahal mati syahid berarti menghapus semua dosa, tapi untuk hutang, tidak berlaku.
"Kamu inget nggak hadis ini, Allah akan bersama atau memberi pertolongan pada orang yang berhutang, yang ingin melunasi hutangnya, sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah. Hadis Riwayat Ibnu Majah nomor 2400. Kamu tenang aja, asalkan kamu punya niat, Allah bakal mempermudah. Dan aku tau, kamu punya banyak keperluan. Santai aja, Lub. Aku ikhlas bantu kamu."
"Kamu emang sahabat terbaik aku." Aiza berlirih, temannya itu memang pengertian. Aiza memang baru mendapat gaji, itu pun setengahnya, dipotong untuk biaya penginapan Hilya di rumah sakit. Setengahnya ia transfer untuk Aisyah di Garut, untuk biaya SPP dan sehari-hari.
Tiba-tiba sambungan terputus, Aiza mengerjapkan mata. Ada apa ini? Kenapa mati? Beberapa jenak kemudian, satu pesan masuk ke ponsel, sebagai pemberitahuan kalau kuota internetnya sudah habis. Huft! Ya Allah, semerana ini, kah? Notifikasinya telat! Sepertinya ia akan kehilangan kontak dengan teman-teman di Garut, ia juga tidak bisa mengontrol Aisyah di sana. Uang untuk beli kuota pun tidak ada. Aiza semakin dirundung rasa putus asa. Allah benar-benar sedang menguji kesabaran.
Tanpa sadar, Aiza ingat, kalau di rumah ini, pasti pasang wifi. Aiza keluar dari area dapur, untuk bertanya pada Mario perihal password wifi.
"Kamu mau pakai wifi? Itu tidak gratis, Aiza." Begitulah reaksi Mario ketika dimintai password wifi, dia baru saja mematikan tivi.
"Satu jamnya berapa? Saya mohon, saya lagi butuh untuk menghubungi adik saya di sana."
"Saya akan beritahu passwor-nya, asal kamu mau membuka kain itu."
Astaghfirullah! Mengapa Mario ngeyel sekali?! Apa tidak ada permintaan lain selain itu?
"Tuan tahu? Syarat untuk membuka kain ini juga harus memerlukan password?"
"Apa?"
"Saya terima nikah dan..."
"What? Akad maksudmu?!" Mario nyaris terperanjat, menjaga image untuk tetap santai, adalah prioritas utama.
"Ya itu. Dan Tuan, tak akan pernah bisa melakukannya."
"Ya, ya. It is impossible."
"Ya sudah, saya tidak akan memaksa." Kemudian Aiza berlalu. Daripada harus membuka cadar di depan pria yang tak pantas untuk melihat, Aiza lebih baik mengalah. Membeli kuota internet adalah jalan terbaik, Aiza harus mulai berhemat, meminimalisir membuka aplikasi i********: yang paling banyak menguras kuota. Padahal di i********:, banyak sekali video motivasi dan berita terhangat tentang Islam. Di aplikasi itu, Aiza bisa mendapatkan banyak ilmu.
"Tunggu dulu! Mengapa kamu gampang sekali marah?"
Suara Mario menghentikan langkah Aiza.
"Karena aku adalah majikan yang baik, jadi aku akan memberitahu password-nya. Hanya saja, setelah ini, kamu tidak boleh tertawa."
"Kalau baik, mengapa Tuan sempat mempersulit Ibu saya untuk pulang kampung? Padahal hanya masalah kecil, merusak salah satu baju, dan itu dilakukan secara tidak sengaja."
"Karena tidak setiap orang memiliki watak baik selamanya. Ada kalanya, mereka ingin marah, dan yang menjadi sasaran, adalah orang yang berbuat salah tepat di depan mata. Itu terjadi secara refleks."
Untuk apa pula Aiza mengungkit masalah itu? Lagi pula, tanpa Mario larang pun, ibunya tidak akan pulang karena sakit.
"Apa password-nya?"
"Mario Tampan."
"Apa?" Aiza berbalik, untuk memastikan. Apa yang sebenarnya Mario katakan? Apa dia baru saja memuji dirinya?
"Yes, aku memang tampan, kan? Jadi kamu tidak perlu sekaget itu. Huruf awal pakai kapital, begitupula dengan huruf T-nya."
"Terima kasih." Aiza berbalik lagi untuk segera melanjutkan langkah. Selain menyebalkan, Mario juga memiliki sifat percaya diri yang tinggi.
Dulu juga Mario pernah memberikan tawaran berupa uang, asal Aiza mau mencopot cadarnya. Huh, laki-laki itu benar-benar nekat saking penasaran. Dia akan memberi gaji dua kali lipat, tapi Aiza tetap menolak meski sempat tergiur. Pesan Ibu selalu terngiang-ngiang di telinga.
"Jangan sampai, ada lelaki yang melihat wajah kamu, karena setelahnya dia akan membayangkan rupa kamu secara terus-menerus. Sejatinya memang tidak suka, tapi yang namanya lelaki, mereka punya s*****t lebih besar. Ada baiknya menghindar."
Aiza akan memegang janji yang pernah ia ikrarkan sewaktu Ibu memberi pesan.
Wajahnya tidak boleh dilihat walaupun dihadiahi uang, rasa malu dan istiqomah untuk tetap tersembunyi lebih berharga dari apa pun. Aiza tidak mau menambah dosa. Katanya, perempuan cantik itu lebih banyak menimbulkan fitnah. Tapi di zaman sekarang, perempuan justru ingin terlihat cantik, perawatan sana-sini demi memikat perhatian lawan jenis. Mereka sengaja mengundang s*****t hingga menimbulkan ftinah. Salah satu dosa yang tidak pernah disadari.
Entah sampai kapan, Aiza bertahan dengan desakan Mario.
Mungkin, setelah ibunya sembuh.
Dan itu memerlukan waktu lama.
Pria itu memang majikannya, tapi bukan berarti dia bisa berlaku seenaknya.
Kalau ada yang salah mohon koreksinya Tapi harus dengan etika yang benar. Kalian bisa japri langsung, jangan di komentar. Oke?
Kalau untuk typo, boleh komen di cerita.
Jangan lupa ajak teman2 untuk membaca cerita ini
Syukron