Bab 4 - Wanita Hebat

1891 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Kamuflase yang ia buat, sudah saatnya terungkap. Hilya belingsatan. Setelah memohon berkali-kali, Mario tetap pada keputusan pertama. Ia tidak mengizinkan pembantunya itu pulang kampung. Bagaimana ini? Aiza bisa kecewa, lantaran tamu penting sedang menunggu untuk segera melamar. Hilya juga akhir-akhir ini merasa tubuhnya sering sakit-sakitan. Batuk tak kunjung reda, sering merasakan sesak setelah bekerja normal. Hilya takut ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Semenjak bekerja di sini, Hilya selalu mengabaikan rasa sakit yang kerap menghampiri. Terlalu giat bekerja hingga ia lupa harus berobat. Hilya juga yakin, sakit yang dideritanya hanyalah hal sepele, batuk biasa atau memang ini tanda-tanda badan yang sudah mulai menua. Maklum, dia bukan ibu-ibu yang masih mempercantik penampilan maupun kesehatan. Baginya, pakaian syar'i saja sudah cukup. Hilya jarang mengurus diri, kalau di rumah pun, Aiza selalu memaksa Hilya untuk mandi tiap hari. "Ibu ih, mentang-mentang pakek kerudung, rambutnya nggak pernah disisir," cibir Aiza sewaktu membantu ibunya menyisir rambut yang kusut. Mereka duduk di atas lantai dekat pintu yang sedikit terbuka, agar cahaya bisa masuk. "Ah buat apa? Orang nggak bakal ada yang naksir Ibu." "Ih siapa tau aja nanti ada yang naksir Ibu, duda kaya gitu misalnya," seloroh Aiza, masih berusaha meluruskan rambut Hilya dengan telaten. Aiza akan melakukan apa pun untuk perempuan hebat yang telah melahirkan sekaligus merawatnya hingga sebesar ini. "Ibu mandinya harus tiap hari, jangan males, Bu. Nanti susah dapet jodoh, lho." "Siapa coba yang mau sama Ibu? Lagi pula, cinta Ibu ke Bapak itu setia. Bapak nggak akan pernah tergantikan." "So sweeeet." Aiza kembali bergurau dengan nada manis yang dimanja-manja. Aiza bersikap seperti anak kecil ketika bersama Ibu tercinta. Sementara di depan yang lain, Aiza berubah menjadi gadis dewasa. Ya, memang seharusnya begitu. Bagi Aiza, Ibu adalah wanita terhebat. Tanpa Bapak, dia bisa membesarkan anak-anak tanpa merasa kekurangan---kurang harta, maupun kasih sayang. "Ibu cinta sama Bapak?" Hilya mengangguk. Aiza tertawa cekikikan, Ibu pernah cerita kalau dulu Bapak itu jelek. Jadi pas setelah nikah, Ibu yang mengubah penampilan Bapak, membedahnya menjadi laki-laki rapi. Katanya, sebelum nikah, Bapak itu jorok. Jarang mandi, dan cuek pada penampilan dan gaya busana. Ibu sering membelikan kemeja bermerk, pakai uang sendiri, lantaran Bapak tidak pernah menyisihkan uang untuk membeli baju bagus. Sudah diceritakan sebelumnya, Bapak itu orangnya terlalu cuek. Cita-cita Hilya sebelum nanti meninggal, ia sangat ingin melihat kedua putrinya menikah, melihat mereka bahagia di tangan laki-laki yang tanggung jawab, mengerti akidah dan akhlak. Dengan begitu, ia bisa pergi dengan tenang, sebab kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan mereka sudah selesai. Sebelum ada yang menikahi putri-putrinya, Aiza dan Aisyah adalah tanggung jawab Hilya. Maka, jika ada laki-laki yang mempersunting, maka tanggung jawab tersebut beralih pada suami. Inilah alasan mengapa Hilya begitu gigih menenuhi kebutuhan ananda-ananda. Kerja keras yang dibarengi do'a tak akan pernah mengkhianati hasil. Setiap do'a yang baik, akan diijabah oleh sang pemilik Bumi. Setelah mendapat telepon dari Aiza, Hilya merasa do'anya sudah terkabul. Tidak sia-sia jika selama ini Hilya selalu melaksanakan salat tahajud. Salat malam itu seumpama panah yang menancap tepat pada sasaran. Buktinya, sudah ada pria yang berniat melamar Aiza, sesuai do'a yang kerap dipanjatkan Hilya di atas sajadah, dalam keheningan malam, memohon pada Allah sunhanahu wa ta'ala dengan khidmat. Do'a seorang Ibu, akan senantiasa membantu setiap langkah anak dalam menempuh hidup. "Aku ngerasa suara Ibu beda ya, Ndri. Aku juga ngedenger Ibu batuk-batuk," cerita Aiza pada Indri setelah berteleponan dengan sang Ibu yang kini telah membuat putri sulungnya ini khawatir. "Mungkin Ibu kamu emang lagi sakit?" "Kalau emang Ibu lagi sakit, kayaknya kita jeda kak Rifki dulu buat ke sini," gumam Aiza tak tenang. Ikanan batin antara dirinya dan Ibu di sana begitu kuat. Bahkan orang-orang di kampung, selalu menyebut Hilya, Aiza dan Aisyah adalah tiga bersaudara yang jomblo. Kata Ibu, rugi di Aiza dan untung di Ibu. Haha. Ada-ada saja wanita itu. "Mending nanti, kamu telepon Ibu kamu lagi. Terus kamu ngomong sama dia. Kira-kira Ibu kuat nggak buat pulang." Indri memberi saran. Saran diterima Aiza, ia mengangguk pelan. Tangan Indri terangkat untuk mengusap punggung sahabat karibnya, mengirim partikel ketenangan. Tak pelak Aiza tersenyum melihat wajah Indri yang kelihatan tulus. Dia memang sahabat paling baik. In syaa Allah. Sahabat dunia dan akhirat. Selain selalu mengingatkan pada kebaikan, mereka juga senantiasa memberi kekuatan atau sekadar menghilangkan kegundahan. "Ibu nggak bisa pulang, Nak." Kembali Aiza mendengar suara Ibunya yang batuk-batuk. Ucapan Ibu pun membuat Aiza kaget sekaligus terheran-heran. Padahal tadi siang, ibunya bilang dia akan pulang lusa, suara Ibu juga terdengar bahagia sekali. Jujur, kabar ini membuat Aiza kecewa. Bukan kecewa pada Ibu, tapi kecewa karena pernah berharap secara berlebihan. Dengan suara berat, Aiza bertanya, "Kenapa nggak bisa, Bu? Ibu sakit?" "Nggak, Ibu baik-baik aja, kok. Ibu nggak sakit. Ini Ibu cuma batuk aja. Kamu nggak perlu khawatir, ya." "Terus, kenapa Ibu nggak bisa dateng?" "Ibu dilarang sama majikan Ibu untuk pulang." Aiza tergemap. Perlahan keningnya membentuk lipatan garis. "Lho, kenapa emangnya? Majikan Ibu butuhin Ibu?" Jika itu alasannya, Aiza bisa memaklumi. Maklum, ibunya hanya seorang pembantu, yang tidak bisa bebas pergi ke mana-mana. "Bukan, Nak. Tapi, tadi waktu Ibu teleponan sama kamu, Ibu kelupaan kalau Ibu lagi nyetrika baju majikan Ibu yang paling muda. Dan akhirnya, baju itu gosong..." "Terus apa hubungannya?" "Dia marah. Sebagai hukumannya, Ibu dilarang pulang." Aiza merapalkan kalimat istighfar dalam hati, kemudian menggeleng tidak terima. Bagi Aiza, hukuman itu terlalu kelewatan. Bukankah dia orang kaya? Pastinya dia bisa beli baju yang baru. "Sebesar itukah kesalahan Ibu sampai dia ngasih hukuman nggak logis gitu ke Ibu?" "Ibu nggak bisa nolak, Nak." "Kalau gitu, biarin Lubna aja yang ngomong sama dia. Kalau dia mau, aku bisa kasih dia baju lebih banyak. Asalkan Ibu bisa pulang." "Nggak bisa. Mau kamu gimana pun, dia nggak bakal ngubah keputusannya. Dia emang begitu orangnya. Kalau dia udah ngasih satu perintah, siapa pun dilarang ngebantah." Aiza mengeluarkan napas frustrasi. "Terus, kalau dia memutuskan untuk membunuh orang yang nggak bersalah, apa orang-orang terdekat dia bakalan diem aja?" "Astaghfirullah, Nak. Kenapa ngomongnya begitu? Masalahnya beda, Lubna." "Tapi tetep aja, keputusan yang dia ambil udah bikin orang lain rugi. Pasti dia cewek kan, Bu? Biasanya cewek yang suka rewel tentang pakaian." "Bukan, dia laki-laki, anak tunggal majikan Ibu." "Laki-laki?" Aiza dibuat tersentak lagi. "Iya." "Ibu, Ibu jangan diam aja. Ibu bilangin ke dia, kalau Ibu punya kepentingan mendesak." "Sudah Ibu bilang, Nak. Dia orangnya keras kepala." "Egois." "Jangan ngomong begitu, Nak. Kamu nggak berhak ngatain dia." "Terus gimana, Bu? Emang dia egois, kan?" "Ibu bisa maklumi, Ibu tau bagaimana latar belakang orang tuanya. Ibu tau sebab akibat kenapa dia begitu." Aiza mendengus. Dia paling benci dengan orang yang suka memanfaatkan kedudukan demi keuntungan atau kenikmatan sendiri, apalagi kalau kedudukan itu dipakai untuk melakukan sebuah permainan. Sesuka hati memutuskan sesuatu, tanpa peduli perasaan orang lain. "Daripada mencibir, lebih baik kamu berdo'a, semoga secepatnya Ibu bisa pulang. Kamu bersabar, ya." "Astaghfirullah. Maafin aku, Bu. Aku khilaf. Aku cuma kebawa emosi. Maaf, Bu." Aiza menyesali ucapan buruknya. "Iya nggak pa-pa." Setelah ini Aiza harus berwudu, agat setan bisa cepat menyingkir setelah berusaha membuat emosi Aiza meletup. "Tapi Ibu baik-baik aja, kan? Ibu nggak lagi sakit?" "Nggak, Ibu sehat, Nak. Cuma batuk biasa." "Iya, kalau Ibu kenapa-napa, Ibu hubungin aku, ya." "Iya, pasti, Nak. Ya udah, Ibu tutup dulu ya, masih banyak pekerjaan yang mau Ibu selesain. Wassalamu'alaikum." "Waalaikumussalam." Sambungan terputus. Setelah beberapa menit menahan batuk dan sesak, kini Hilya bisa bebas meredakan gatal di tenggorokan dengan batuk. Ia harus segera mengganti pakian Eliza. Dan jam segini juga jadwal majikannya itu makan. Tapi batuk itu begitu mengganggu, menghambat segala aktivitas. Hilya takut penyakitnya menular. Selama ini ia sudah berusaha keras agar terlihat baik-baik saja. Namun sekarang, sepertinya sudah final. Hilya sempat membekap mulut, agar bakteri yang ia keluarkan tidak berbaur dengan udara. Dan ketika ia melepas tangannya kembali, matanya menangkap bercak darah dari telapak tangan. Astaghfirullah. Mungkin karena melihat darah mengerikan itu, dan kondisi tubuh yang kian menurun, bola mata Hilya memutar dan perlahan mengatup. Hilya tumbang---hilang kesadaran. Dunia berubah gelap. Tak ada satu pun yang melihat. Kamuflase yang ia buat sudah saatnya terungkap. Ruang tamu dengan desain elegan terpampang nyata di mata Aiza. Tembok berpelitur putih yang dipadu dengan warna abu kehijauan menambah kesan kelasik, tak lupa juga dengan ornamen artistik yang mendekorasi. Kursi-kursi tertata rapi, dengan meja di tengah yang di bawahnya teregelar karpet bercorak biru. Mereka yang datang, akan melihat langsung keindahan taman dengan pohon hijau cerah, lantaran sebagian bangunan didindingi oleh jendela menjulang tinggi sampai atap. Ada tangga setengah melingkar sebagai jalan menuju lantai dua. Indah sekali. Ini kali pertama, Aiza menapakkan kaki di rumah mewah yang letaknya di kota besar. Para manusia pintar sekali menciptakan desain semenarik ini. Ah, dasar Aiza. Ia terlalu berlebihan. Maklum, dia datang dari kampung yang notebane daerah pelosokan. Aiza yang kala itu memakai gamis merah, khimar hitam, dan cadar hitam memaski rumah bak istana ini, sosok Mario datang, dengan pakaian super rapi. Kemeja putih yang dibalut jas abu senada dengan warna rumah dan juga kulitnya, semakin kelihatan berenergik. Wangi parfum khas cowok maskulin menyergap indra penciuman. Dia memandang wanita di depannya ini dengan pindaian tak terbaca. Mungkin ... sangat aneh? Dan Aiza? Sudahlah! Ia sudah terbiasa menerima tatapan seperti itu. Layaknya makanan sehari-hari yang tak bisa dihindari. Orang Garut saja sudah banyak yang memandang curiga---takut bawa bom, katanya. Apalagi orang Jakarta? Lelaki di depannya ini pasti cowok modis, elegan, dan selalu mengedepankan penampilan, dan otaknya pun pasti cerdas, cara dia berpakaian sudah mendeskripsikan segalanya. "Anda ... teroris?" Huh! Aiza tersentak. Teroris lagi?! Pria itu masih memasang tampang tak terdeteksi. "Sepertinya salah alamat." "Bukan, saya Aiza, anak dari Ibu Hilya yang bekerja di sini." Aiza berupaya untuk bersikap sopan, meskipun sempat dituduh teroris dan membuat batinnya bergejolak ingin berteriak. Please! Ini bukan setelan teroris! Tapi ini setelan orang Islam yang cinta sunah. "Lalu, untuk apa Anda datang ke sini?" tanya Mario dengan gelagat pilon. "Saya ke sini untuk menggantikan posisi Ibu Hilya yang sekarang dirawat di rumah sakit." "Tapi kami tidak menerima pembantu dengan pakaian seperti ini. Saya yang melihatnya pun, agak risi." Aiza mendelikkan mata. Tega sekali dia bilang begitu. "Terserah. Ini sesuai perintah orang tua Anda, saya hanya menjalankan amanah." "Oh, begitu, ya?" Untuk mengakhiri percakapan tak berfaedah, Aiza mulai melangkah melewati Mario yang kemudian bergeming. Sampai akhirnya, hanya hening yang menaungi. Mario pikir, ia tidak perlu ikut campur dalam problema pembantu. Itu terlalu menggelikan. Ya sudahlah. Langkah Aiza terhenti. "Boleh saya berkata sesuatu?" Mario berusaha tak acuh. Apa pun yang dikatakannya, pasti tidak ada yang penting. "Jika Anda mengatakan perempuan bercadar teroris, bolehkah saya mengatakan pria seperti Anda pecundang?" Merasa dikatai dengan perkataan tak enak, Mario mengalihkan atensinya ke belakang. Aiza yang tidak mau berdebat, melangkah lagi. Anggap saja, itu sebagai balasan telak karena dia telah mencurigainya sebagai teroris. Kebetulan ada salah satu pembantu yang lewat, Aiza segera menghampiri, menanyakan kamar Ibu Hilya, tak lupa juga ia berkata kalau dirinya adalah anak dari Hilya yang kini dirawat di rumah sakit. Pembantu itu sempat syok, dan kelihatan tidak percaya. Tapi, begitu bertanya pada Mario yang berdiri tak jauh dari sana lewat tatapan mata, Mario mengangguk membenarkan perkataan Aiza. "Ya udah, mbak saya antar." "Terima kasih." Mario masih belum percaya, pria seperti dia disebut sebagai pecundang oleh anak pembantu. Oh, Mario. Apa ini masuk akal? Di balik niqab itu, Aiza tersenyum tipis. Team Aiza - Rifki atau Aiza - Mario? Untuk endingnya, biar author yang menentukan. Syukron Jangan lupa baca Al-Qur'an-nya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD