بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Tepat di sepertiga malam, dia mengatakan ingin melamar.
Semenjak perkenalan itu, Aiza merasa lebih bahagia. Sebab hatinya, telah terpikat oleh seseorang. Aiza bingung harus mengartikan apa senyum yang selalu membingkai wajah, entah itu menimbulkan pahala, atau dosa. Katanya, senyum itu ibadah. Ah, Aiza jadi merasa serba salah. Memikirkan seseorang yang belum halal sama saja dengan zina---zina pikiran dan hati.
Di grup chat yang Indri beri nama 'Calon Pasangan Halal'---ah dasar! Aiza sempat protes dengan nama grup chat yang Indri buat, kadang Rifki bertanya pada Aiza, tentu, tanya-jawab itu harus dilakukan ketika Indri online. Rifki dan Aiza begitu menjaga agar tidak timbul fitnah. Bertanya seperlunya, tanpa menggunakan emotikon apa pun. Bukannya sombong, tapi memang begitulah aturan chatting dengan lawan jenis, harus memiliki batasan tertentu.
Setiap kali Aiza mengikuti kajian rutin, tak pelak dia bertemu Rifki. Keduanya sama-sama cuek, seolah tidak saling mengenal, padahal hati begitu ingin menyapa. Namun mereka sadar, barangkali setan sedang berusaha mendekat-dekatkan, bisikan untuk melempar senyum dan saling tatap itu berasal dari roh jahat, jadi mereka mencoba menahan nafsu. Cinta mereka harus dijaga, jangan sampai setan berhasil m*****i.
Aiza kagum dengan cara Rifki menjaga. Yang ia tahu, mencintai adalah menjaga. Dan Rifki telah mempraktekannya dengan sedemikian rupa. Rasa kagum semakin tumbuh berkembang seiring berjalannya waktu.
Sampai sekarang Rifki tidak pernah berani mengirim pesan lewat chat pribadi. Diam-diam memendam rasa, dan hanya bisa melirik status w******p satu sama lain.
Bukan hanya Aiza yang semakin kagum, tapi Rifki juga.
Di saat semua wanita selalu memamerkan kecantikan, seperti mengunggah foto selfie ke status, atau memasang profil di sosial media, tapi Aiza berbeda. Sama sekali Rifki belum pernah melihat Aiza mengunggah fotonya sendiri, entah itu foto selfie, atau jarak jauh sekalipun. Padahal yang Rifki tahu dari Indri, Aiza kerap mengikuti berbagai acara.
Mungkin ilmu agama Aiza sudah mumpuni, ia tahu bahwa mengunggah foto sama saja dengan riya. Aiza hanya ingin menyimpan kebahagiaannya bersama orang-orang yang ikut merayakan, orang lain yang tidak berkepentingan tidak usah tahu. Apa yang semua ia lakukan, orang lain tidak berhak tahu.
Untuk meminta petunjuk, kini Aiza menyematkan satu nama kala ia melaksanakan salat tahajud di sepertiga malam. Jika dia adalah jodohnya, maka dekatkanlah. Tapi jika bukan, maka jauhkanlah. Jangan biarkan rasa itu tumbuh lebih besar, Aiza takut nantinya kecewa. Mencintai seseorang yang belum halal secara berlebihan akan berakibat fatal. Dua kemudharatan langsung ia dapatkan; dosa dan rasa sakit.
Ketika tak sengaja Azia melihat Rifki selesai wudu setelah mendengarkan kajian, hatinya selalu berbisik. Kamu adalah topik paling menarik untuk aku diskusikan di sepertiga malam. Setelah itu, Aiza memilih memalingkan muka. Memerhatikannya lebih lama hanya akan menimbulkan zina. Ya Allah, jangan sampai rasa ini melebihi rasa cintaku pada-Mu.
Selesai salat, Aiza melipat sajadah. Ia meraih ponsel, dan menyalakan data.
Satu pesan w******p masuk.
Pesan dari Kak Rifki
Deg! Jantung Aiza serasan ingin copot dari d**a. Segeralah ia membuka isi pesan tersebut. Untuk apa dia chat jam segini? Aiza jadi bertanya-tanya, akankah Rifki menyebut namanya di sepertiga malam seperti apa yang Aiza lakukan barusan? Sisi ge'er dari dalam diri Aiza mencuat. Dasar!
Kak Rifki
Assalamu'alaikum ukhty...
Waalaikumussalam...
Kak Rifki
Boleh saya bertanya sesuatu?
Tentu boleh
Masih dengan jantung berdebar, Aiza menunggu balasan dari Rifki. Ini adalah kali pertama, Rifki mengirim pesan secara pribadi.
Ponsel kembari bergetar, Aiza nyaris terlonjak.
Kak Rifki
Bolehkah saya main ke rumah kamu?
Maaf, ada keperluan apa, ya?
Kak Rifki
Saya ingin bertemu orang tua kamu.
Maaf sebelumnya, ada keperluan apa ya dengan orang tua saya?
Kak Rifki
Saya mau bilang ke orang tua kamu, kalau saya ingin melamar putrinya...
Apa kamu berkenan?...
Aiza menelan liur, jemarinya yang gemetar kembali mengetik di atas keyboard. Benarkah ini?! Rifki mengajak serius? Aiza merasa hatinya berbunga-bunga. Inikah yang dinamakan pepatah 'jodoh janganlah dicari, tapi dia akan datang sendiri, asal kita terus memperbaiki diri'?
Datang saja ke rumah, dan bicara pada orang tua saya
Kak Rifki
Boleh saya bertanya lagi?
Silakan...
Kak Rifki
Jika orang tua kamu menerima lamaran saya..., apa mahar yang kamu inginkan?
Maharku mudah, kok.
Kak Rifki
Boleh aku tau apa itu?
Saya hanya minta maharnya itu surat Ar-Rahman
Apa kamu sanggup?
Kak Rifki
In syaa Allah saya mampu
Boleh saya bertanya?
Kak Rifki
Silakan...
Sudah berapa juz ayat Al-Qur'an yang kamu hafal?
Kak Rifki
In syaa Allah saya sudah hafal 30 juz
Besok orang tuaku tidak ada di rumah. Kalau kamu memang benar, saya akan beritahu kapan Ibu saya pulang.
Kak Rifki
Baiklah, saya akan menunggu
Terima kasih
Kira-kira, itulah isi percakapan pesan antara Aiza dan Rifki yang membuat Aiza pontang-panting. Dari balasan yang ia kirim ke Rifki, kelihatan biasa saja, tapi pada realitanya, dia senang bukan kepalang. Rasanya ingin sekali mengirim berjuta emotikon senyum dan tawa pada Rifki. Nyatanya cinta dia tidak bertepuk sebelah tangan. Tepat di sepertiga malam, dia menyatakan perasaan, dan berniat melamar. Sungguh, Allah telah mendengar semua do'a, dan mengabulkan segala harap.
Allah telah menepati janji, pria baik, untuk perempuan baik. Apakah itu artinya, Aiza perempuan baik?
Bukti cinta yang sebenarnya adalah dia yang datang ke rumah dan bicara langsung pada orang tua. Rifki akan melakukannya, dan umpan balik langsung dia dapatkan, yaitu cinta Aiza yang tak perlu diragui lagi.
Sebelumnya Aiza tidak pernah merasakan euforia sesenang ini. Cinta itu indah, jika dilibatkan langsung dengan si pemilik hati. Wahai Allah dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia, teguhkanlah hati Aiza pada seseorang yang nanti menjadi pendampingnya. Begitu pula dengan Rifki, teguhkanlah hatinya pada janji.
Ana uhibbuka fillah... Aku mencintaimu karena Allah.
Dulu Bapak pernah memberi pesan. Jikalau nanti ada dua pria yang ingin memiliki Aiza, yang satu memiliki rumah, mobil, dan harta berlimpah tapi tidak paham ilmu agama, dan tidak pernah salat di masjid. Sedangkan yang satunya lagi miskin harta, tapi dia hafal Al-Qur'an dan rutin melaksanakan salat shubuh di masjid, maka Aiza harus memilih opsi kedua.
Sekarang Aiza mengerti, mengapa Bapak berkata demikian.
Senyum bulan sabit tercetak di bibir Aiza, tangannya terulur mengambil mushaf di atas nakas.
Besoknya Aiza langsung menelepon Ibu, untuk memberi tahu kabar bagus ini. Tapi sebelum Ibu, Aiza terlebih dahulu mengabari Indri. Anak itu langsung kegirangan, berarti pilihannya tidak salah. Rifki benar-benar serius.
Indri sendiri, kalau ada pria seperti Rifki yang ingin melamar, ia tak akan pikir dua kali lagi. Indri akan langsung menerima dengan senang hati. Rifki sudah mendekati sempurna, dan dia memang cocok untuk Aiza.
Aiza dan Indri berpelukan, bibir Aiza terus mengucapkan kata terima kasih pada Indri. Jika saja ia tidak menuruti keinginan Indri untuk berkenalan dengan Rifki, pasti sekarang keadaannya berbeda. Indri sempat menasehati: apa pun yang kamu lakuin, kalau dijalani dengan orang yang dicintai, semuanya begitu mudah. Aku tau, kamu butuh seorang penyemangat, dan yang paling penting, dia bisa nuntun kamu ke Surga.
"Bukan aku, Lub. Tapi Allah." Begitulah jawaban Indri.
"Beneran?! Teteh Lubna mau dilamar?!" suara dari luar menyahut, perempuan berseragam putih abu sedang membuka sepatu dengan gerakan cepat.
"Iya, teteh kamu akhirnya sebentar lagi ketemu jodoh," jawab Indri tersenyum bahagia.
"Itu artinya, sebentar lagi aku bakalan punya kakak ipar!" lanjutnya penuh semangat.
"Iya, dong. Mana nanti kakak ipar kamu teh ganteng pisan!"
"Baca Qur'an-nya bagus nggak, teh?"
"Bagus!"
"Jenggotan nggak, teh?"
Aiza memelotot ke arah Aisyah. Sadar, ia pernah curhat blak-blakkan pada Aisyah, kalau nanti dia menikah, penampilan calonnya harus sesuai sunnah. Berjenggot salah satunya.
"Nanti juga jenggotnya tumbuh."
"Tapi jangan terlalu lebat, ya."
"Kenapa?"
"Nanti teh Lubna ilfeel."
"Aisyah!" sentak Aiza tidak terima, anak itu benar-benar telah membocorkan semua kelakaran yang terjadi di kamar. Mereka memang acap kali bercerita tentang jodoh. Tipe bagaimana yang mereka suka, setelan bagaimana, dan fisik juga sering dijadikan topik. Tapi itu semua hanya sekadar gurauan, sebab pada dasarnya, Lubna dan Aisyah hanya ingin mendapatkan pria yang paham agama, sesederhana itu. Karena dengan paham agama, maka laki-laki itu akan memiliki rasa tanggung jawab. Yang shaleh pasti setia, yang shaleh, pasti mencangkupi segalanya. Kendati finansial di bawah rata-rata, tapi akan terasa indah, jika dilewati sama-sama. Daripada hidup mewah, tapi kesenangan batin tidak dipenuhi.
"Ooh tenang aja, calon teh Lubna ini ganteng banget, kok. Jadi nggak bakalan ilfeel. Mau berjenggot, mau nggak, dia tetep ganteng."
"Oh, ya?!" sorot mata Aisyah berapi-api.
"Iya doong."
"Aku kira, nggak ganteng. Soalnya kalau perempuannya cantik, jodohnya pasti biasa aja. Begitu pun kalau cowoknya ganteng, pasti pasangannya nggak cantik. Makannya aku mikir, kalau jodoh teh Lubna itu bakalan jelek, nah kalau jodoh aku, bakalan ganteng, soalnya kan aku jelek."
Koor tawa renyah terdengar dari mulut Indri. Aisyah ini ada-ada saja.
"Terus-terus, kalau aku sama teh Lubna jalan-jalan, pasti ngeliat kekasih halal. Nah, selalu begitu. Kalau yang cowoknya ganteng, ceweknya nggak. Kalau ceweknya cantik, cowoknya nggak."
"Berarti teteh kamu beruntung!"
Aiza hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Aisyah dan Indri yang berlebihan. Itu baru rencana, selebihnya, hanya Allah yang menentukan.
"Ada yang mau melamar Lubna," kata Aiza, berkata pada ibunya lewat telepon. Di sini, Hilya sedang menyetrika baju, gerakannya terhenti begitu mendengar suara syahdu dari anaknya yang sangat ia rindukan, bahkan dia juga memberi kabar bahagia. Orang tua mana yang tidak senang ketika mendengar putrinya akan segera dilamar?
"Serius, kamu?" tanya Hilya memastikan.
"Iya, Bu. Dan aku pengin, Ibu pulang dulu, dia pengin ketemu Ibu."
Hilya menutup mulut takjub, dia melupakan setrika yang kala itu sedang diletakkan di atas kemeja warna abu. Saking senangnya, mata Hilya berbinar. Semua apa yang tadi ia kerjakan, terlupakan begitu saja. Ia harus memberi waktu Aiza bercerita.
Uhuk! "Kamu nggak bercanda, kan? Kamu tahu? Ibu seneng denger kabar ini."
Terdengar tawaan merdu dari telepon, rasanya Hilya ingin pulang saat ini juga, lalu melihat wajah berseri putrinya yang cantik. Siapa pun yang datang melamar, dia adalah laki-laki beruntung. Aiza adalah putri kebanggaan Hilya. Hilya percaya, dia pasti pria baik-baik.
"Iya-iya, nanti Ibu pulang. Lusa Ibu pulang! Ibu bakalan minta izin sama majikan Ibu buat pulang kampung."
Seorang laki-laki sedang bersedekap, bersandar di lawang pintu, memerhatikan Hilya yang asyik menelepon sembari berurai air mata. Pembantu itu pasti sedang bahagia. Pikir Mario---anak dari majikan tempat Hilya bekerja, otomatis Mario juga ikut menggunakan jasa pembantu.
Lalu, tak lama kemudian, keningnya mengernyit, melihat asap mengepul, dan matanya pun tertuju pada setrika di atas kemeja 'miliknya'.
Pria itu melangkahkan kaki, bersamaan dengan Hilya yang baru menyelesaikan acara teleponannya. Pandangan beralih pada tempat ia menyetrika, ia terkejut, bau asap mulai menyeruak.
Sebuah tangan telah lebih dulu mengangkat setrika tersebut sebelum Hilya, Hilya semakin terperangah.
"Siapa yang telepon? Sampai kamu membuat kemeja saya gosong?"
Mulut Hilya gelagapan. Dia merasa bersalah, telah merusak kemeja tuan mudanya yang pasti mahal. Harus bagaimana ini? Apakah dia akan marah? Hilya dirundung rasa gamang, memilin ujung kerudung panjang.
"Anu, Tuan, saya habis dapat telepon dari anak saya. Katanya, saya harus pulang, ada yang ingin bertemu dengan orang tuanya."
Lelaki pemiliki mata tajam kecokelatan itu masih mengamati pembantunya dengan intens, menelisik lebih dalam. Pasalnya, kemeja yang telah ia rusak, adalah baju yang akan dipakai besok.
"Maafkan perihal kemeja ini. Saya akan menggantinya dengan uang."
"Tidak perlu." Alih-alih marah, Mario malah kelihatan santai, tidak ada tanda-tanda kegusaran.
"Kenapa, Tuan?"
"Sebagai hukumannya, saya tidak akan mengizinkan kamu pulang kampung."
Hilya terhenyak. Ditelannya air liur dengan susah payah.
Ini lebih kejam daripada disuruh membersihkan semua toilet yang ada di rumah megah bertingkat ini.
Begitulah Mario, selalu seenaknya mengambil keputusan.
Mario jahat