Terpaksa Bertanggungjawab
Story By Ratuqi
.
.
.
Lili tahu ia tak bisa terus-terusan berharap. Tapi hati dan perasaan miliknya tak mau diajak kerjasama.
Terjebak pada satu kenyataan bahwa ia menginginkan Rangga untuk jadi miliknya. Ia mau pria rupawan itu membalas perasaannya. Meski tak mungkin.
Rangga pria berkarisma, memiliki daya pikat tak hanya dari fisik dan materi melainkan juga kecerdasan otak dan tatakrama yang baik.
Satu kekurangannya hanyalah terjebak pada rasa cinta pada wanita yang kini sudah bahagia dengan anak dan suaminya.
Dan Lili ingin sekali menghapus nama dan wajah wanita itu dari benak Rangga agar pria yang kini sedang bercanda dengan Tinky bisa melihat ke arahnya, atau setidaknya dapat menemukan kebahagiaan lain selain berkubang dengan cinta lama yang tak usai.
"Papa, besok kita jadi jalan-jalan ke PlayZone?"
Nampak pura-pura berpikir, Rangga membuat Tingky merajuk manja, "Papaaa ..."
Rangga tertawa renyah, suka sekali menggoda Tinky yang kini hampir berusia lima tahun. "Iya-iya, besok kita pergi ke PlayZone. Kamu senang?"
Tinky mengangguk antusias lalu memeluk leher Rangga erat. "Terimakasih Papa."
"Sama-sama Boy."
Melihat keakraban tersebut, Lili mendekat untuk meyuruh anaknya segera bersiap gosok gigi dan cuci muka sebelum tidur.
"Tinky, udah malam. Tidur yuk! Besok katanya mau jalan-jalan. Papa juga harus pulang, istirahat yang cukup supaya bisa temani Tinky di PlayZone."
Bujukan lembut dari sang ibu membuat sedikit bibir bocah lelaki tampan itu merengut. Ia masih belum rela kalau harus berpisah dari sang ayah.
Mendapat anggukan dari Rangga, Tinky lalu turun dari pangkuan pria yang ia panggil Papa dengan wajah murung.
"Jangan sedih, besok kita main seharian, Boy." Janji Rangga lagi.
Terseyum penuh semangat Tinky kembali berlari ke arah Rangga duduk dan mencium pipinya sebelum masuk ke dalam rumah bersama seorang asisten rumah tangga.
Terkekeh kecil Rangga terus memperhatikan sosok mungil Tinky yang menaiki tangga ke lantai dua.
"Mas, terimakasih ya. Maaf besok hari libur Mas Rangga terganggu karena Tinky." Ucap Lili tak enak.
"Santai aja. Apapun yang buat Tinky senang pasti saya usahakan."
Ah ... begitu, memang sejak Tinky lahir, di mata Rangga putranya itu masuk ke dalam prioritas. Meski tidak memiliki hubungan sama sekali, namun Rangga sangat menyayangi anaknya. Sungguh berbeda dengan sang ayah biologis yang membenci Tinky.
"Kalau begitu, saya pamit dulu Li. Selamat Malam."
Tanpa diminta, Lili ikut mengantar Rangga ke depan. Hingga mobil yang pria itu kendarai keluar dari halaman rumahnya. Menghela nafas, Lili lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah berat.
"Makasih ya Mbak." Ucap Lili pada sang ART yang selesai membantu anaknya bersiap sebelum tidur.
"Mama, kenapa sih, Papa harus pulang ke rumahnya? Kenapa Papa nggak tinggal di sini aja sama kita, kayak Papanya Albert?"
"Sayang," ditatapnya Tinky dengan lembut, "Mama, kan sudah sering bilang ke kamu, Papa punya rumah sendiri, kalau Papa tinggal di sini nanti rumahnya kosong. Lagian, kapan pun Tinky butuh Papa, pasti Papa selalu ada, kan?"
Tinky yang masih terlalu kecil hanya mengangguk, merasa penjelasan ibunya adalah jawaban paling tepat dari rasa ingin tahunya.
"Sekarang kamu tidur, ya. Besok harus bangun pagi buat siap-siap."
"Baik Mama."
Lili lalu menyelimuti tubuh sang putra dan memberikan kecupan di kening.
Entah sampai kapan hidup seperti ini ia jalani. Rasa hati sudah tak sanggup lagi. Terus berdusta, hanya untuk menenangkan hati Tinky.
Setahun belakangan, setelah umur Tinky menginjak angka empat, putranya itu mulai bertanya kenapa Rangga tidak tinggal bersama mereka seperti papa Albert, teman Tinky yang rumahnya berjarak tiga rumah dari tempat mereka tinggal.
Lili awalnya kebingungan untuk menjawab. Saat ia hamil dan memutuskan untuk mempertahankan Tinky dalam kandungan, tak sekalipun ia berpikir jawaban apa yang akan ia berikan jika anaknya bertanya perihal sosok ayah.
Ia yang berasal dari keluarga kaya, tidak merasa akan kesulitan membesarkan Tinky meski menjadi orangtua single. Juga, karena sejak awal Rangga selalu ada di sampingnya setelah mendapat perintah dari Kusuma Negara, ayah Lili.
Entah karena takut karir sebagai pengacara terganggu, atau memang Rangga sangat menaruh hormat pada Ayahnya hingga tugas untuk menjaga ia dan Tinky mau lelaki itu lakukan.
Rangga jugalah orang pertama yang menemukan alasan untuk Tinky, kenapa mereka yang dipanggil papa dan mama harus tinggal terpisah.
*.*.*.*.
Menjadi pengacara di kantor Kusuma Negara, umumnya memiliki jam kerja dari senin hingga jum'at. Namun terkadang banyak panggilan mendadak dari klien yang ingin bertemu di luar jam kerja.
Lili tidak paham hal menarik apa yang bisa didapat dari profesi pengacara. Kerjanya menghafal banyak undang-undang dan berkutat dengan masalah orang lain. Belum lagi ancaman dari kubu lawan yang jika kalah sering kali merasa tak terima.
"Kita makan di sana, tempatnya luas dan nggak terlalu ramai."
Setelah berkata itu, Rangga bergandengan tangan dengan Tinky melangkah lebih dulu. Lili mengikuti dari belakang. Memperhatikan dua laki-laki yang sibuk bercanda satu sama lain layaknya ayah dan anak.
Di taman bermain yang luas itu, tak hanya terdapat beragam permainan, namun juga terdapat banyak waralaba dari merek makanan juga minuman.
Salah satunya restoran cepat saji bermaskot badut dengan logo 'M' kuning yang menjadi tempat makan siang Lili, Tinky dan Rangga. Di dalam restoran itu juga terdapat sudut bermain untuk anak-anak dengan dinding jaring-jaring, memudahkan para orangtua mengawasi anak mereka selagi makan.
"Hati-hati!" Seru Rangga saat melihat Tinky melompat begitu semangat ke dalam kolam bola.
Energi anak-anak memang tidak ada habisnya. Hanya istirahat sebentar, menghabiskan satu burger ukuran sedang dan minum es s**u coklat, semangat bermain Tinky kembali.
Ponsel Rangga berdering, laki-laki itu lalu terlibat percakapan dengan seseorang yang Lili tebak salah satu klien Rangga.
"Mmh ... Mas Rangga sibuk? Kalau memang ada pekerjaan yang harus ditangani, nggak apa-apa Mas pulang duluan. Biar nanti aku bilang sama Tinky." Usul Lili khawatir kalau Rangga memiliki urusan yang lebih penting daripada sekedar menemani Tinky.
"Kamu ngusir saya?"
"Hah?" Terkejut, Lili buru-buru menggeleng, "bukan. Maksud aku kalau Mas Rangga punya kepentingan lain, nggak apa-apa Mas pulang duluan," hati-hati Lili menjelaskan.
"Sama aja kamu ngusir saya." Tukas Rangga.
Bermaksud menyangkal kembali, namun Rangga keburu berucap, "buat saya memenuhi janji itu wajib. Dan saya sudah janji sama Tinky kalau hari ini i'll be with him all day long."
Sejak awal pun Rangga terlibat dengan dirinya dan Tinky juga karena sebuah janji. Janji pada Kusuma Negara, pengacara senior sekaligus atasan di firma hukum Kusuma N Partners.
Tidak mau Rangga semakin tersinggung, Lili mengangguk pelan. Meminum kembali cola sembari memperhatikan Tinky yang kini sudah bermain bersama dengan anak lelaki seusianya. Nampak sama sekali tak canggung. Putranya itu mudah sekali bergaul.
Selesai dengan makan siang, mereka kembali mencoba permainan yang belum sempat dinaiki. Adakalanya, yang naik menemani Tinky hanya Rangga, dan Lili menunggu di luar arena permainan. Mengabadikan beberapa potret bahagia putranya dengan kamera ponsel.
Jam tujuh malam mobil milik Rangga sampai di depan rumah Lili. Tinky tertidur di kursi belakang akibat terlalu lelah. Saat Lili akan menggendong Tinky, Rangga mengambil alih tanpa bicara. Ingin menolak bantuan tersebut namun melihat gurat lelah terpatri pada wajah pria yang mencuri hatinya ia mengurungkan niat dan membantu Rangga membukakan pintu kamar tempat ia tidur dengan sang putra.
"Makasih ya, Mas." Ucap Lili setelah mereka berdua keluar dari kamar tersebut.
"Hmm," Rangga hanya bergumam pelan. "Saya pamit ya, selamat malam."
Belum juga Lili menjawab, Rangga sudah berlalu menuju tangga dan turun. Lagi-lagi begini. Jika hanya berdua, Rangga seperti tak betah dan berubah lebih dingin. Seakan waktu hampir lima tahun yang membuat mereka sering terlibat bersama tidak membuahkan perasaan apapun. Padahal hati Lili sudah tertaut.
Terpesona akan cara laki-laki itu melindungi Lili ketika ada orang usil bertanya kemana suami yang harusnya mendampingi saat menjalani kehamilan.
Terkagum akan semua perhatian tulus yang diberikan untuk Tinky. Sejak lahir hingga saat ini.
"Li, kamu belum tidur?"
Pertanyaan itu menyentak Lamunan. Buru-buru ia tersenyum pada sang mama dan memberi alasan.
"Ini mau masuk kamar Mah, terus tidur. Mama kok belum tidur juga?"
"Tadi Mama sudah tidur, tapi kebangun karena haus. Terus mau ngecek kamu udah pulang atau belum."
"Aku baru aja pulang, Ma. Yaudah, aku masuk duluan ya, Ma. Good night."
"Sayang," panggilan Meira menghentikan Lili di ambang pintu.
"Rangga ..."
Mengerutkan kening, "Mas Rangga kenapa Ma?"
"E-enggak, Mama salah ngomong. Yaudah kamu masuk gih, bersih-bersih terus tidur. Good night Sayang."
"Mama ngantuk kayaknya," gumam Lili lucu. Wanita dua puluh lima tahun itu lalu masuk ke kamar.
Di dalam kamarnya sendiri, Meira melamun. Ia sempat melihat ketika Rangga pamit pulang pada Lili. Pemuda didikan suaminya, kini berubah menjadi pria dengan prestasi memukau. Rupawan juga mapan. Siapa yang mampu menolak. Bahkan putri sematawayangnya pun jatuh hati pada lelaki itu. Sayang nampaknya sekian lama bersama perasaan putrinya tetap tak berbalas. Rangga murni menjalankan permintaan suaminya untuk menjaga Lili dan Tinky, tanpa melibatkan perasaan apapun.
"Ma? Ada apa?" Suara serak Kusuma menyapa indera pendengaran Meira.
"Papa kenapa bangun?"
Kusuma menolak menjawab, pria itu kembali bertanya apa yang membuat istrinya melamun malam-malam.
"Mama nggak yakin sama rencana Papa mau jodohin Lili dan Rangga. Junior Papa itu cuek sekali sama putri kita, Pa. Mama juga sering dengar kalau mereka cuma berdua, Rangga Kaku dan formal sama Lili. Sebelum Lili semakin sakit hati, lebih baik kita-"
"Ma," potong Kusuma. "Papa memilih Rangga bukan hanya karena dia bertanggungjawab, tapi karena Papa yakin hanya dia yang bisa membuat anak dan cucu Papa bahagia."
"Bahagia bagaimana, Pa? Tadi aja Mama lihat Lili sedih ngelihat Rangga pamit begitu aja. Mama takut Lili semakin berharap tapi tanpa kepastian."
"Rangga itu sebenarnya nyaman sama Lili, Ma. Dia memang tipikal pria yang cuek. Bisa aja dia belum sadar dengan perasaannya sama anak kita."
"Hampir lima tahun. Apa ada laki-laki setidak peka itu, Pa? Mama nggak yakin."
Kusuma tertawa, "Nanti Ma. Akan ada saatnya Papa menarik Rangga dari hidup Lili, tapi tidak dari Tinky. Cucu kita itu sangat menyayangi Rangga, begitu pun sebaliknya."
Untuk itu Meira setuju. Rangga dan Tinky bagai ayah dan anak sesungguhnya. Kasih sayang mereka satu sama lain begitu besar dan tulus.
*.*.*.*.
"Acara nanti malam, Papa sudah minta Rangga untuk jemput kamu."
Lili menghentikan kunyahan roti gandumnya, "Papa kenapa nggak bilang aku dulu? Aku masih bisa kok, Pa berangkat sendiri."
Kusuma menggeleng sembari menelan sarapannya. "Rangga lagi nggak sibuk dan dia udah bersedia berangkat ke acara nanti malam sama kamu."
Menghembuskan nafas, Lili kembali melanjutkan sarapannya. Menghabiskan dua lembar roti gandum dan segelas s**u putih. Ibu muda itu berpamitan pada ke dua orangtuanya.
Rutinitas pagi seorang Liliana Kusuma Negara berangkat dari rumah untuk mengantar Tinky ke TK lalu setelah itu melanjutkan perjalanan menuju butik miliknya.
Sempat terpuruk karena kehamilan dan berhenti dari universitas ternama Australia, Lili kembali melanjutkan kuliah di tanah air setelah Tinky lahir. Lulus dari jurusan Fashion design Lili membuka butik miliknya sendiri.
Meski menjadi anak dari seorang pengacara kondang, tak lantas membuat Lili tertarik pada bidang hukum.
"Hati-hati ya, Sayang. Belajar yang rajin, jangan nakal. Nanti siang Mama jemput." Pesan Lili pada sang putra yang menyalami tangannya.
"Dadah Mama ..." Tinky melambai saat mobil Lili bergerak menjauh.
Di butik, dua orang pegawai Lili sudah datang lebih dulu. Hari ini Lili akan menegerjakan sebuah desain gaun pernikahan yang cukup rumit. Detail dari gaun tersebut bahkan akan di pasangkan batu ruby ukuran kecil untuk mempercantik tampilannya.
Dibanding dengan gaun cantik yang sudah jelas bernilai fantastis itu, Lili lebih iri pada ekspresi sang calon mempelai wanita yang saat memesan gaun impiannya terlihat sangat bahagia. Bahkan ketika wanita itu mengutarakan niatnya untuk menambahkan batu ruby pada detailnya, sang pasangan sangat mendukung. Terlihat mereka begitu saling mencintai.
Kapan kiranya ia mendapat laki-laki seperi itu? Mau mencintainya dan menerima segala masalalunya yang buruk. Pasti sulit. Bahkan meski tahu latar belakang keluarga Kusuma Negara, saat tahu ia sudah memiliki Tinky, pasti laki-laki akan mundur perlahan.
*.*.*.*.
Malam hari, Rangga menjemput Lili di rumahnya. Tinky melepas keberangkatan mereka dengan wajah setengah tak rela karena tak bisa ikut pergi.
Kesunyian menemani perjalanan keduanya. Tanpa disadari oleh Lili, pria di balik kemudi mencuri pandang akan penampilannya yang menawan. Saat tepergok Rangga berdeham dan pura-pura bertanya.
"Papa kamu sudah berangkat?"
Dahi Lili mengerut, seingatnya Rangga sudah menanyakan itu saat pertama sampai ke rumahnya. Ah, mungkin lelaki itu lupa.
"Sudah, Mas. Papa berangkat lebih dulu."
Sampai di satu hotel ternama tempat acara berlangsung. Rangga dan Lili memasuki ballroom berdampingan beberapa pasang mata menatap terpukau akan penampilan keduanya. Sial bagi Rangga, ia dapat melihat jelas mata pria-pria tidak tahu diri yang menatap Lili begitu intens tak peduli bahwa mereka telah membawa pasangan masing-masing.
Lili langsung menghapiri meja tempat Kusuma duduk bersama dua orang temannya. Sedang Rangga setelah menyapa dan bersalaman pada orang-orang yang ada di situ undur diri bergabung dengan kawannya di meja lain.
"Kenapa nggak gabung sama calon mertuamu?"
Pertanyaan itu menyambut ketika Rangga bergabung dengan tiga teman sejawat.
Rangga memilih tak menjawab dan memulai obrolan lain. Saat Kusuma Negara dipanggil ke atas panggung untuk berpidato singkat, teman Rangga kembali berbisik. "Kudengar, Pak Kusuma memberimu kasus cukup besar akhir-akhir ini. Karirmu pasti makin cemerlang, ya?"
Belum sempat menjawab, seorang lainnya menimbrung obrolan, "Pasti lah! Rangga, kan calon mantu yang akan memegang Kusuma N Partners. Iya, kan Rangga?"
Rangga terkekeh sembari menggeleng pelan. "Dari mana kalian bisa berpikir begitu? Hubunganku dan Lili tidak seperti yang kalian pikirkan."
"Tapi Lili cantik Ngga. Meski sudah punya anak satu aku masih mau sama dia. Apalagi dia putri Kusuma Negara. Untuk pengacara junior seperti kita, pastilah perlu pengakuan meski hanya sebagai menantu."
Rangga meminum minumannya santai sembari mendengarkan kata-kata temannya. Entah kenapa ia kurang suka cara pandang orang terhadap Lili dan keluarganya.
"Aku bahkan sudah pernah coba pendekatan, tapi sayang, putranya tidak menyukaiku, jadi aku memilih mundur."
Rangga mengernyit, tidak sadar jika sudah ada laki-laki yang berani melakukan pendekatan pada Lili.
"Beruntung kamu Ngga, bisa dekat dengan anaknya bahkan dipanggil Papa."
Meski hatinya panas Rangga tetap menjawab santai, "itu semua hanya karena tanggungjawab. Pak Kusuma sudah memberikanku amanat dan aku berusaha memenuhi janji tersebut."
"Masa sedikit pun kamu nggak punya perasaan sama wanita itu? Terlepas dari kesalahannya punya anak di luar nikah. Dia wanita cantik dan sopan." Ujar teman di samping Rangga dengan suara lebih kecil.
Tapi Rangga yang malas menjawab hanya menggeleng cuek. Tidak sadar jika tak jauh dari sana Lili yang bermaksud memanggil Rangga mendengar percakapan mereka.
Sepanjang berjalannya pesta, Lili mengikutinya dengan pikiran yang entah ada dimana. Hatinya sedih namun tidak tahu harus bagaimana.
Saat Kusuma menegur, Lili tersenyum kaku lalu pamit untuk keluar menelepon ART yang menjaga Tinky di rumah.
"Liana?"
Suara itu ...
Mata Lili membesar melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
Tidak. Mengapa dia bisa ada di sini?
*.*.*.*.
Kusuma Negara meminta Rangga untuk mencari putrinya yang lima belas menit lalu pamit keluar ballroom untuk menelepon dan sampai kini tak juga kembali.
Dan di sinilah Rangga. Melihat Lili berdiri membelakanginya, sedang terlibat pembicaraan serius dengan seorang pria berambut coklat yang sialnya Rangga tahu sebagai ayah biologis Tinky.
Laki-laki pengecut yang mencampakkan Lili saat wanita itu mengandung. Rangga ingat beberapa tinju dari Kusuma Negara, juga tendangan darinya membuat lelaki banci asli Australia itu tumbang sebelum diseret oleh polisi setempat.
Bisa-bisanya, setelah dirusak, tak diakui dan ditinggalkan. Lili masih mau bertemu laki-laki itu. Bicara berdua serasa mereka tak memiliki masalah di masa lalu. Membuat Rangga geram setengah mati.
"Lili!"
Geraman marah juga tarikan di lengannya membuat Lili menjauh seketika dari Colin Dominic.
"Saya rasa, anda sudah lupa dengan janji anda lima tahun lalu." Ucap Rangga tajam. Sedang lawan bicaranya mendengkus sinis melihat seseorang yang dulu ikut memukulinya.
"Apa yang salah? Aku tidak mengganggu Liana, aku hanya menemuinya untuk menanyakan keberadaan anak kami, apa salah?" Tanya Colin santai dengan bahasa Indonesia yang fasih.
"Salah. Perjanjiannya kau tidak akan muncul lagi di hadapan Lili apapun alasannya. Sekarang, pergi dari sini!" Tunjuk Rangga kasar pada arah keluar.
"Mas Rangga," Lili menarik turun tangan Rangga yang menyuruh Colin keluar. "Tenang Mas. Biarin aja dia di sini, lebih baik kita-"
"Kamu belain dia?" Potong Rangga tajam.
"Aku bukan belain dia, tapi aku takut kita jadi pusat perhatian, lebih baik kita masuk dan tinggalkan dia di sini "
Menatap benci pada lawannya, Rangga lalu memilih ikut tarikan Lili untuk masuk kembali ke tempat acara berlangsung. Mengabaikan pertanyaan bagaimana lelaki bule itu bisa berada di kawasan hotel juga.
"Kita pulang!"
Rangga lalu mengubah arah ke tempat di mana mobilnya di parkir.
"Loh, kenapa Mas? Acaranya belum selesai, Mas!"
"Kamu khawatir sama acara atau mau ketemu sama si pengecut itu lagi?"
Menatap kebingungan, Lili menggelelng, "acara di dalam belum selesai, Mas. Aku cuma merasa kurang sopan kalau kita pulang duluan, apalagi aku belum pamit sama Papa."
"Bohong. Saya yakin kamu masih mau berduaan lagi sama mantanmu itu, kan? Kalau saja saya nggak datang. Pasti kamu sudah balikan lagi sama dia."
"Kamu kenapa sih, Mas? Nuduh orang sembarangan. Aku bahkan nggak tahu kalau dia ada di Indonesia. Sebelum kamu datang aku dan dia berdebat. Aku marah-marah sama dia. Tapi tiba-tiba kamu datang dan sekarang marah sama aku. Salahku apa?" Tanya Lili frustasi.
"Salah kamu adalah kamu bodoh masih mau ketemu sama pengecut itu. Kamu terlalu naif, makanya gampang dibodohi, ditiduri dan ditinggalkan." Hardik Rangga kasar.
"Cukup!" Teriak Lili tak terima.
"Tidak sebelum kamu sadar." Rangga tetap ngotot tidak peduli kata-katanya menyakitkan.
"Aku bilang cukup!" Teriak Lili marah. Rangga tersentak mendengar teriakan itu. Tak pernah selama mereka dekat, Lili berteriak emosi seperti itu. "Aku memang bodoh. Aku memang naif tapi bukan berarti aku perempuan yang mudah ditiduri oleh laki-laki." Suara Lili bergetar. Sial! Rangga tidak sadar sudah berkata sekasar itu.
"Tidak ada yang mau jatuh cinta lalu ditipu oleh orang yang katanya akan menjaga. Andai tahu, aku tidak akan minum minuman yang diberikan hingga hilang setengah kesadaran-"
"Li-Lili, maaf saya-"
"Ditiduri, dicampakkan, lalu menanggung malu karena hamil dan mengecewakan keluarga. Itu bukan yang aku mau. Tapi aku bisa apa? Semua sudah terjadi." Lanjut Lili dengan sedih.
"Li, maaf saya salah bicara. Saya hanya terlalu terkejut melihat b*j*ng*n itu lagi."
Mengangguk lemah Lili tetap menunduk menghindari tatapan bersalah Rangga.
"Kalau Mas Rangga merasa lelah, Mas Rangga bisa berhenti sekarang. Selama ini mungkin Papa sudah meminta sesuatu yang berat ke Mas Rangga. Tapi tenang aja, Mas. Mulai sekarang Mas nggak usah lagi jagain aku atau Tinky. Mas nggak usah terbebani janji sama Papa karena detik ini aku anggap tugas Mas Rangga selesai. Makasih Mas sudah bersedia, bertanggung jawab atas apa yang bukan kewajiban Mas."
Gelagapan, Rangga menghalau Lili yang akan pergi dengan panik, sayang wanita itu memilih pergi masuk kembali ke tempat acara dan duduk di samping ayahnya. Tidak ada sedikit pun celah untuk Rangga meminta maaf kembali pada Lili. Saat acara berakhir, Rangga masih berharap jika di perjalanan nanti mereka dapat kembali bicara dengan kepala dingin. Namun naas, Lili memilih pulang menumpangi mobil Kusuma.
Dan esok harinya, sebuah pesan dari nomor Kusuma Negara membuat Rangga tak dapat berkata-kata.
'Lili sudah cerita semuanya sama saya semalam. Saya minta maaf kalau sudah membuat kamu sulit dengan tugas menjaga anak dan cucu saya. Bertanggung jawab atas mereka yang bukan kewajibanmu. Sekarang tugas kamu selesai, terimakasih banyak atas bantuanmu selama ini.'
Tidak. Kenapa seperti ini?
Tugasnya selesai sampai di sini.
.
.
.
End~
NB: Boleh dikoreksi kalau ada typo atau salah penulisan lainnya. Terimakasih^^