Pengkhianat

3541 Words
Pengkhianat Story By Ratuqi . "Sudah aku bilang. Semua ini salahmu! Andai kau tidak merayuku waktu itu, kita tidak akan berakhir seperti ini. Aku tidak akan kehilangan Alice, wanita yang kucintai." Kemarahan Anthony membuat emosi Dorothy terpancing. Wanita itu balas berteriak, "berhenti mengatakan kalau kau mencintai wanita lain. Nyatanya yang kini menjadi istrimu adalah aku! Bukan Alice atau wanita lainnya!" "Dan aku amat menyesali itu! Asal kau tahu, hidupku bahagia saat bersama Alice dia wanita yang seratus persen berbeda darimu. Tidakkah kau bisa melihat itu? Jika bukan karena tipu muslihatmu, saat ini aku pasti sudah bahagia bersama Alice dan anak-anak kami." Anthony lalu pergi begitu saja meninggalkan ruang makan. Tak ia pedulikan segala hidangan makan malam yang sudah dihidangkan di atas meja. Melihat sang suami pergi begitu saja membuat Dorothy murka ia berteriak marah lalu menghempaskan piring makan dan gelas yang berada tepat di hadapannya hingga bunyi pecahan kaca mengagetkan seorang bocah laki-laki yang sejak tadi bersembunyi menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Umpatan kasar juga tangis Dorothy malam itu lagi-lagi menjadi penghantar tidur sang bocah. *.*.*.*. Selalu seperti ini. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, yang ada hannyalah kemarahan juga u*****n satu sama lain. Kesalahan sedikit saja pasti akan membuat Anthony murka dan terus menerus mengungkit kesalahannya di masa lampau. Alhasil pertengkaran selalu terjadi dan ia akan menangisi hal itu semalaman hingga matanya bengkak. Dan pagi-pagi sekali Anthony akan memilih kembali ke Leutonia tanpa berpamitan padanya. Andai bisa Dorothy ingin menyesali apa yang sempat terjadi dulu. Tapi jika ia lakukan itu, rasanya ia lebih kejam karena sama saja ia menyesali hadirnya sang putra ke dunia ini. Dorothy berbalik dan kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang besar yang selama lima tahun ini hanya dipakai olehnya. Menatap ke sisi kosong yang selalu dingin karena tak pernah ditempati siapa pun. Kepala Dorothy mulai pusing karena tak bisa tidur dan hanya menangis semalaman, lebih baik ia mencoba tidur agar ia tak jatuh sakit. *.*.*.*. Dari Machesta ke Leutonia memerlukan waktu satu hari penuh untuk sampai. Lelah sekali rasanya, tapi Anthony memilih langsung masuk ke ruang kerja dan membaca beberapa laporan mengenai bisnis perdagangan keluarga. Menyibukkan diri dengan pekerjaan adalah hal yang selalu Anthony lakukan lima tahun terakhir ini. Sejak putus pertunangan dengan Alice, hari-harinya tak lagi sama. Ia bagai kehilangan semangat untuk menjalani hari. Baru saat Tommy, anaknya, lahir ke dunia ia merasa Tuhan masih memberikan secercah harapan untuknya melanjutkan hidup di tengah rasa bersalah pada sang mantan tunangan. Setelah menikah dengan Dorothy, ia memboyong wanita itu tinggal di Machesta, berusaha menyembunyikan wanita yang tiba-tiba menikah dengannya setelah ia mengumumkan hubungan pertunangan dengan Alice yang batal. Ia tidak ingin keluarganya jadi gunjingan para bangsawan lain jika tahu wanita yang ia nikahi tidaklah lebih baik dari mantannya. Dari segala hal Alice memang jelas lebih unggul, perempuan anggun dari keluarga bangsawan cukup berpengaruh di Inggris, memiliki wajah secantik bidadari juga perilaku yang sangat santun. Banyak dari teman-temannya yang selalu bilang bahwa ia sangat beruntung menjadi kekasih Alice dan akhirnya bertunangan. Sayang, hanya karena nafsu semua itu musnah. Ia tergoda menjalin hubungan dengan Dorothy yang merupakan sahabat Alice sendiri hingga Dorothy hamil. Alice yang mengetahui pengkhianatan kedua orang terdekatnya marah dan memutuskan hubungan dengan Anthony, laki-laki yang sudah bersama dengannya selama tiga tahun. Dengan tangis, Alice mengembalikan cincin pertunangan mereka. Wanita itu bahkan sempat mendoakan kebahagiaan untuk Anthony dan Dorothy lalu berharap bahwa mereka tak akan pernah lagi bertemu di masa yang akan datang. Dan sepertinya doa Alice terkabul, karena sudah lima tahun mereka tak pernah sekalipun bertemu. Kabar terakhir yang ia dengar Alice pergi ke Prancis dan menetap di sana. Meninggalkan Inggris, kota kelahirannya juga semua kenangan mereka saat masih bersama. Bagaimana kabar wanita itu sekarang? Apakah luka darinya masih sulit untuk disembuhkan? *.*.*.*. "Ada apa Marcus?" Seorang lelaki gagah menunduk hormat sebelum bicara pada Anthony yang masih sibuk di balik meja kerjanya. "Ada seseorang yang mengantar surat untuk Anda My Lord." "Dari mana asal surat itu?" "Pengirimnya mengatakan bahwa surat itu adalah undangan pesta dari Lord Frans Edward." Anthony mendongak mendengar nama salah satu teman lamanya. Dengan semangat lelaki itu meminta surat dari tangan pengawal pribadinya untuk dibaca sendiri. "Undangan pesta," gumam Anthony. Ia senang karena salah satu teman yang sudah dua tahun ini tak bertemu kembali mengundangnya dalam sebuah acara, dengan begitu mereka dapat kembali bertemu dan jika bisa kembali membicarakan bisnis bersama. *.*.*.*. Pesta malam itu semeriah biasanya. Acara untuk para kaum atas seperti Anthony yang datang dengan penampilan terbaiknya. Di undangan, tidak ditulis keharusan membawa pasangan, jadi Anthony tidak perlu meminta Dorothy untuk menemaninya. Beberapa kenalan Anthony baik laki-laki atau perempuan terlihat menyapa dan mengajak untuk berbincang singkat. Dari salah satu tamu, Anthony mendengar bahwa pesta malam itu diperuntukkan untuk wanita yang baru sebulan Frans nikahi di Prancis. Kata lainnya, ini adalah pesta perayaan atas pernikahan yang diadakan di prancis dan tak dapat mengundang banyak tamu. Tepuk tangan meriah menyambut pengumuman bahwa tuan rumah pesta akan memasuki aula acara. Sejenak nafas Anthony tercekat melihat siapa wanita yang memeluk lengan Frans dengan erat. Wanita itu, Alice-nya. Mantan terindah yang sampai saat ini tak tergantikan. Wanita pertama yang mampu membuat ia jatuh sejatuhnya pada cinta, kini melangkah anggun di sebelah teman baiknya. Jadi, Alice baru menikah sebulan yang lalu? Sepanjang acara Anthony terus memperhatikan gerak gerik kedua pasangan baru itu. Terlebih ekspresi wajah Alice yang sangat bahagia dengan status barunya. Anthony mendekat setelah tak banyak tamu lagi yang mengucapkan selamat pada Frans dan Alice. Frans menyambutnya dengan antusias namun berbeda dengan sang istri. Tak jauh berbeda dengannya, Alice sangat terkejut bertemu kembali dengan seseorang dari masa lalu. "Akhirnya, kita bisa bertemu lagi. Tak kusangka menghilang cukup lama dari Inggris membuat statusmu berubah." Frans tertawa, "aku menghilang sebab suatu alasan." Melirik pada sang istri di sampingnya ia melanjutkan, "mengejar cinta seorang wanita." Baik Frans dan Anthony terkekeh kembali. Entah Frans sadar atau tidak dengan perubahan sikap Alice yang gelisah tak nyaman. Merasa obrolan suami dan Anthony masih akan lama berlanjut, Alice undur diri untuk duduk dan mengambil minuman. Ketika Frans menawarkan untuk menemani, Alice menolak. Area balkon di lantai dua gedung itu adalah salah satu sudut yang sepi. Alice rasa orang-orang mulai sibuk menikmati pesta. Wanita itu pun melangkah pelan dengan segelas minuman ditangannya. "Aku tak menyangka kau baru menikah sebulan yang lalu." Alice menoleh ketika suara dari belakang punggung mengejutkannya. "Apa yang Anda lakukan di sini My Lord. Pesta masih berlangsung di dalam." Kata Alice dingin. Terkekeh Anthony mendekat, "tak kusangka kau menikah dengan salah satu temanku. Apa kau mencintainya My Lady?" Tanya Anthony serius. "Aku rasa Anda tidak memiliki hak untuk bertanya tentang perasaanku. Dan asal Anda tahu, suamiku tidak pernah menyebutkan bahwa Anda adalah temannya." "Frans mungkin tidak menyebutkan namaku karena ia tahu, kau masih terpengaruh akan hal tentang diriku." Kata Anthony percaya diri. Tertawa sinis Alice tatap pria di hadapannya serius. "Apa pun hal tentang Anda, sudah tidak lagi dapat mempengaruhiku. Karena bagiku, tak ada lagi yang tersisa. Baik rasa ataupun kenangan. Semuanya telah usai lima tahun lalu." "Tapi tidak bagiku Alice," akhirnya Anthony menyebut kembali nama Alice, "sejak lima tahun lalu, yang ada dalam hatiku hanyalah penyesalan. Aku tak bahagia menikah dengan Dorothy. Alasanku bertahan dengannya semata karena anak kami." "Hati ini ..." Anthony menunjuk dadanya sendiri, "Masih milikmu, aku menyesal pernah menduakan cintamu Alice. Aku minta maaf." Lirih Anthony sedih. Alice menggeleng pelan, "Anda tak dapat berkata seperti itu. Bagaimanapun manusia memiliki kisahnya masing-masing. Takdir kita tidak bersama dan aku sudah merelakannya. Jadi, cobalah menerima takdir itu dari pada terus menyalahkannya." Alice lalu pamit meninggalkan Anthony seorang diri. Ia tak ingin berlama-lama dan membuat orang-orang atau suaminya salah paham. "Jadi dia orangnya?" Alice tersentak begitu sang suami mencekal lengannya. Sejak kapan Frans berada di sana? Apa lelaki itu mendengar semuanya? "Mmh ... Frans, apa yang kau maksud?" Tanya Alice gugup. "Tak usah ditutupi, aku mendengar semua yang kalian bicarakan. Jadi, benar Anthonylah orangnya?" Alice mengangguk pelan. Saat Frans masih gencar mendekatinya, Alice selalu bilang kalau ia takut laki-laki yang mendekatinya hanya akan menyakitinya. Namun Frans tak pernah menyerah hingga Alice menerima lamaran lelaki itu. Alice juga menceritakan masa lalunya namun tak menyebutkan nama. "Benar-benar. Dunia ini sempit sekali ya?" "Maafkan aku Frans, aku tak langsung memberitahumu jika dialah orangnya." Sesal Alice. "Tak apa, kulihat Anthony juga sama terkejutnya denganmu." Frans lalu memeluk Alice erat. Langkah kaki yang mendekat berhenti ketika jalan yang akan dilaluinya tertutup dua orang yang sedang berpelukan. "Anthony," Alice segera melepaskan diri ketika mendengar nama yang Frans sebutkan. "Aku-" "Aku sudah tahu kisah kalian. Sejujurnya aku ingin marah pada seseorang yang sudah menyakiti Alice di masa lalu, namun mendengar tak bahagianya hidupmu kini, aku turut prihatin." "Semua setimpal atas apa yang telah aku lakukan pada istrimu." Anthony mengakui kesalahannya kembali. "Aku tak dapat membenarkan apa yang kau lakukan bersama sahabat Alice dulu, namun aku rasa semua ini bagian dari takdir. Aku bisa bersama dengan Alice kini secara tidak langsung karena kau." Anthony diam mencerna apa yang Frans katakan. "Dan aku yakin jika Alice bisa bahagia, kau pun bisa bahagia bersama keluargamu kecilmu. Berbahagialah Anthony ... maafkan dan lupakan masa lalu kalian." *.*.*.*. Saat kembali ke kediamannya, Anthony terus saja memikirkan perkataan Frans. Memaafkan ... Memaafkan masa lalu ... Masa lalu mereka ... Masa lalu dirinya, Dorothy dan juga Alice. Lima tahun memendam semuanya, ia pikir tidak ada obat untuk hatinya selain kehadiran Alice. Namun keyakinan itu pun tak tepat. Hanya mengikhlaskan dan memaafkanlah obat dari segala kesakitannya selama ini. Semua kecewa, semua penyesalan, dan semua kesedihan. Semua bisa diobati jika sejak awal ia menerima lapang d**a konsekuensi dari apa yang ia lakukan bukannya malah terus merasa bersalah dan melimpahkan semuanya pada Dorothy. Dorothy, wanita malang yang selama lima tahun ini tak pernah ia lihat lagi senyumnya. Wanita pertama yang membuatnya takjub karena begitu mahir mengendalikan kuda meski ditentang. Karena peraturan yang berlaku, wanita tidak diperbolehkan menunggangi kuda sendiri tanpa kepentingan mendesak. Anthony lebih dulu mengenal Dorothy. Beberapa kali mereka menghabiskan waktu bersama ketika bertemu di pesta. Banyak teman lelakinya yang menaruh hati pada Dorothy, namun urung mendekat karena status keluarga Dorothy yang meskipun keluarga bangsawan namun berada di tingkat bawah serta tidak memiliki kekuasaan. Saat akhirnya Alice hadir, perasaan cinta itu langsung muncul, tak menunggu lama ia mulai mendekati Alice yang entah bagaimana bisa berteman dekat dengan Dorothy. Ia memilih Alice ketimbang Dorothy karena menurutnya Alice sangat pantas dijadikan istri. Tak ia pedulikan sinyal ketertarikan Dorothy padanya. Kisah mereka terjalin rumit dan berakhir sakit. Tapi kini, Alice sudah bahagia, maka kini giliran dirinya dan Dorothy yang bahagia. *.*.*.*. Pada pesta Frans dan Alice kemarin diumumkan juga pesta selanjutnya. Sebuah pesta rutin untuk para bangsawan dan semua yang telah menikah di haruskan membawa pasangan. Kesempatan inilah yang Anthony rasa bisa menjadi titik balik dari hubungan antara Alice dan Dorothy. Jika ia sudah merasa semuanya mulai terang, berbeda dengan Dorothy. Wanita itu harus bertemu dengan Alice, meminta maaf dan setelahnya jika bisa, memulai kisah yang lebih baik dengannya. *.*.*.*. Malam tiba, waktunya Dorothy dan Anthony menghadiri pesta. Seperti biasa, bagi Dorothy pesta para bangsawan kelas atas tidak ubahnya menjadi ajang pencarian jodoh atau pamer kekayaan dan kekuasaan. Tapi bagi Anthony, pesta malam ini berbeda. Dirinya ingin Dorothy bisa bertemu dengan Alice. Jika bisa, Anthony berharap Alice mau memaafkan Dorothy dan menyambung kembali persahabatan yang telah putus meski pasti ada canggung. Ia juga bertekad melupakan masa lalu dan mencoba menerima kehidupannya kini. "Sepertinya kita sedikit terlambat." Dorothy melihat ruang pesta yang sudah dipenuhi banyak tamu. Kalimat pembukaan pesta juga sepertinya sudah terlewati. Seseorang lalu menghampiri Anthony, membicarakan tentang pekerjaan. Awalnya Dorothy tetap berdiri mendampingi Anthony namun lama kelamaan ia merasa kakinya lelah dan pamit untuk duduk dan mencari minuman. Beberapa menit kemudian, Anthony berniat menyusul Dorothy namun matanya menangkap keberadaan Alice dan Frans. Ia pun melangkahkan kaki menemui pasangan itu. "Anthony, kau datang?" "Iya, Frans." "Kau sendiri?" "Tidak. Aku hadir bersama Dorothy." Anthony perhatikan wajah Alice yang sedikit tak nyaman. Namun jika bukan sekarang, kapan lagi mereka bisa mengurai sedikit demi sedikit masa lalu mereka. "Bersediakah kau bertemu dengan Dorothy kembali?" Alice menatap suaminya meminta dukungan saat Frans mengangguk menyetujui, Alice menghembuskan nafas pelan lalau mengangguk juga. "Terima kasih Alice, terima kasih Frans." "Bukan apa-apa, aku juga ingin benar-benar tidak ada yang mengganjal dihati istriku lagi." Ucap Frans. Mereka pun memutuskan untuk sedikit menyingkir ke sudut gedung yang tak begitu ramai dan sedikit terhalang hiasan guci-guci mahal. Frans memilih undur diri sejenak karena baginya hal ini adalah urusan antar tiga orang saja. Anthony hendak mencari Dorothy namun melihat wajah Alice yang sedikit tegang, Anthony bertanya, "Sebelumnya maaf, Apa kau benar-benar tak keberatan untuk bertemu Dorothy?" Alice tersenyum pelan, "sejujurnya aku ragu, apa kami masih bisa baik-baik saja saat bertemu kembali?" "Ya, aku mengerti. Seperti kita, awalnya aku juga tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu, bahkan dengan yakin mengatakan bahwa aku tidak bahagia menikah dengan Dorothy. Karena perasaan cintaku padamu, sulit bagiku menghilangkan rasa penyesalan akibat kesalahan yang telah aku buat pada hubungan kita." *.*.*.*. Dorothy mulai resah karena Anthony tidak terlihat dari pandangannya. Saat berusaha mencari, matanya melihat Anthony berjalan dan diikuti oleh dua orang di belakangnya. Ia memang tidak mengenal sang pria, tapi wanita di sampingnya, Dorothy tak mungkin lupa. "Alice ..." Gumam Dorothy tanpa sadar. Setelah sekian tahun ia tak pernah tahu kabarnya kini ia melihat wanita itu berada begitu dekat dengannya, juga Anthony. Dorothy lalu mengikuti ke mana orang-orang itu pergi. Jantungnya berdebar seiring perasaan tak nyaman timbul. Lelaki yang bersama Alice menjauh, hanya tinggal Anthony dan Alice yang terlibat percakapan, Dorothy mencoba semakin mendekat dan berhenti saat mendengar kalimat yang suaminya ucapkan. "... dengan yakin mengatakan bahwa aku tidak bahagia menikah dengan Dorothy. Karena perasaan cintaku padamu, sulit bagiku menghilangkan rasa penyesalan akibat kesalahan yang telah aku buat pada hubungan kita." "Bagus sekali!" Alice dan Anthony menoleh terkejut melihat Dorothy yang melipat tangan di d**a, menatap mereka dengan pandangan menghakimi. "Oh ... lihatlah dua sejoli sedang melepas rindu." "Dorothy, ini tidak seperti yang kau lihat. Aku-" "Kau sedang berduaan dengan mantan tunanganmu. Itu yang kulihat Anthony." "Dan kau ... sepertinya kau sudah menikah," Dorothy melihat cincin di jari manis Alice, "tapi mengapa kau masih menggoda suami orang?" Suara keras Dorothy mengundang pandangan penuh tanya dari tamu yang melintas. "Apa yang kau katakan?" Tanya Alice terkejut. Ia berada di sini karena Anthony memintanya untuk bertemu wanita itu. "Kau masih mau menyangkalnya? Kau di sini, berdua saja dengan suamiku dan membahas masa lalu kalian yang penuh cinta, apa namanya kalau bukan selingkuh?" Orang-orang berkerumun dan mulai berbisik sebari melihat Alice dengan pandangan ingin tahu. "Dorothy, diam! Kau tidak tahu apa-apa, kau salah paham." Anthony membela diri. "Tidak ada salah paham. Aku melihat dan mendengar pembicaraan kalian." Tukas Dorothy tajam. "Ada apa ini?!" Frans datang dengan raut tak bersahabat. "Alice ada apa?" Tanya Frans kembali. "Oh ... jadi Anda suami dari wanita ini? Saya ingatkan pada Anda, jaga istri Anda agar ia tidak mengganggu suami orang." "Apa maksudmu?! Kau pikir istriku serendah itu, hah?!" Murka Frans tak terima. "Dorothy cukup! Kau salah paham. Alice tidak salah. Kaulah yang salah paham pada kami." Lerai Anthony panik. "Kau yang diam! Kalian salah dan tidak mau mengakuinya." Sentak Dorothy tak mau kalah. Sebenarnya Dorothy tidak tahu apa yang sedang Anthony dan Alice bicarakan namun ia merasa tak terima saja kalau hanya dia yang sengsara karena tidak diinginkan Anthony, makanya dia berteriak menuduh Alice supaya tamu-tamu termakan gosip. Anthony menggeleng kecewa pada sikap istrinya yang membuat malu dengan keributan yang terjadi. Tanpa berkata apa pun ia lalu menarik tangan Dorothy menjauh dari tempat tersebut. *.*.*.*. Anthony terus menarik pergelangan tangan Dorothy ke sisi gedung yang jauh dari acara berlangsung. Tepat saat mereka berada di lorong yang sepi Anthony menghempaskan tangan istrinya hingga wanita dengan gaun merah gelap itu terhuyung. "Apa yang kau lakukan?! Tidakkah kau bisa menjaga sedikit sikapmu itu? Kau tidak saja mempermalukan aku, tetapi juga Alice!" "Memang kenapa? Apa yang salah jika aku mempermalukannya? Kau tidak terima, begitu?" Tanya Dorothy menantang. Anthony menggeleng. Tidakkah Dorothy tahu, ia bicara dengan Alice karena ingin hubungan mereka bertiga kembali membaik. Namun sikap Dorothy membuat emosi Anthony terpancing. "Tidak tahu malu. Sikapmu saat ini benar-benar menunjukkan siapa dan dari mana kau berasal. Sama sekali tidak bisa menjaga tata krama di muka umum." "Aku tidak akan berperilaku seperti ini jika bukan kau yang memulai. Bagaimana mungkin seorang lelaki bangsawan sepertimu masih bisa merayu perempuan lain yang merupakan istri dari temannya sendiri. Apa kau juga tidak memiliki tata krama?" "Kenapa tidak?" Potong Anthony emosi. "Apa kau lupa, bagaimana kau menggodaku yang saat itu adalah tunangan sahabatmu? Kau lupa pada dosamu sendiri?" Hilang sudah kesabaran Anthony. Dorothy jelas salah paham dan harusnya ia coba jelaskan. Bukan malah membahas kesalahan masa lalu. Nafas Dorothy mulai sesak karena tak terima terus disalahkan. "Semua tidak akan terjadi jika kau setia. Kau-" "Kau apa?! Jelas-jelas semua salahmu. Kaulah asal mula semua kesialan ini terjadi. Kau bagai mimpi buruk yang tidak pernah usai." "Kesialan? Aku?" Dorothy terkekeh tanpa suara, "kaulah sumber kesialan dalam hidupmu sendiri dan mantan tunanganmu itu. Kau hanyalah lelaki pengkhianat rendahan!" Plakkk!!! Baik Dorothy maupun Anthony sama-sama terkejut. Wajah Dorothy tertoleh ke kanan. Sembari menyentuh pipi kirinya yang berdenyut sakit ia menatap Anthony yang masih terkejut dengan apa yang baru saja tangannya lakukan. Beberapa saat suasana hening seolah membeku. "D-Dorothy aku-" Anthony gelagapan. "Kurasa ... apa yang kau katakan benar, akulah sumber kesialan bagi kita semua." Dorothy tersenyum miris setelah terdiam cukup lama. "Kita memang tidak akan pernah bisa bahagia jika tidak ada yang mau mengalah. Jadi, kenapa kita tidak berpisah saja?" "Dorothy, maaf, aku tidak bermaksud me-" "Tidak Anthony, kau tidak salah." Sekali lagi, Dorothy menyela ucapan Anthony. "Aku yang akan mengajukan perpisahan kita. Jadi kau tidak perlu memberiku sepeser pun hartamu seperti peraturan yang ditetapkan oleh King." "Apa yang kau bicarakan? Tidak ada perpisahan karena kita memiliki Tommy. Aku minta maaf sudah berbuat kasar Dorothy." Pinta Anthony mencoba mendekat pada istrinya, namun wanita itu memilih mundur menghindar. "Aku tetap ingin bercerai, Anthony. Mari kita sudahi mimpi buruk ini." Dorothy berbalik dan mengangkat gaunnya agar bisa berlari menjauhi suaminya. Kacau. Harusnya ia tidak lepas kendali seperti tadi. Anthony sendiri tidak langsung mengejar, ia tahu apa yang ia lakukan tadi tidak dibenarkan. Karena peraturannya, pantang bagi lelaki bangsawan, memukul wanita apa lagi istrinya. Ia membiarkan Dorothy menenangkan diri dulu, dan ia akan pergi kembali ke tengah pesta untuk meminta maaf pada Frans dan Alice atas kekacauan yang sempat terjadi. *.*.*.*. Air mata masih berderai saat Dorothy memacu kereta kudanya seorang diri. Pelayan yang menjadi kusir kereta tersebut tidak ia perbolehkan ikut dan ia minta untuk menunggu Anthony yang mungkin kembali ke tengah pesta tanpa peduli dengan kondisi istrinya. Air mata kembali mengalir di ke dua pipi Dorothy. Angin malam yang menerpa dan gelapnya malam tak membuat ia takut. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana dirinya sampai secepat mungkin di rumah. Rasa perih masih terasa di salah satu pipinya. Bekas tamparan yang baru pertama kali ia dapatkan. Ironis, tamparan itu dilayangkan oleh suaminya sendiri. Lelaki yang menikahinya sejak lima tahun lalu. Perlakuan dingin Anthony serta kemarahannya selama ini masih bisa Dorothy toleransi. Bahkan ketika lelaki itu terus mengungkit kesalahan mereka dan perasaannya pada Alice ia masih bisa bertahan. Tapi tadi, saat Anthony lebih membela Alice ketimbang ia sebagai istri, hingga tak segan menampar pipinya, Dorothy sadar. Kalau kisah mereka harus berakhir. Kisah cinta yang tak pernah ada di antara mereka harus usai sampai di sini. Mereka tak akan bahagia jika memaksa bertahan hanya karena anak. "My Lady? Kenapa Anda pulang berkereta sendiri?" Marcus yang menyambut Dorothy di depan pintu masuk terkejut melihat penampilan majikannya yang sudah tak serapi tadi dan hanya seorang diri. "Marcus, tolong urus kuda ini. Dia pasti lelah karena kupaksa berlari secepat mungkin. Dan setelah itu siapkan Maggie, aku akan pergi menggunakan kudaku." Dorothy masuk dengan langkah terburu-buru. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk ke kamar Tommy yang sudah terlelap dan membangunkan anaknya. "Ada apa Mama? Kenapa kita harus pergi?" Tanya Tommy saat sang ibu memasukkan baju-bajunya dengan tergesa. "Kita sudah tidak bisa tinggal di rumah ini Sayang. Mama akan menjelaskan padamu semuanya, tapi tidak sekarang. Ayo, cepat!" Dorothy menarik lembut pergelangan Tommy agar ikut bersamanya. Saat keluar dari kamar tersebut, Tere sudah berdiri di luar dengan raut khawatir. "My Lady, maafkan saya. Tapi Anda akan ke mana malam-malam begini?" Tere melirik cemas pada tas yang dibawa Dorothy. "Kami akan pergi Tere. Untuk lebih jelasnya kau bisa bertanya pada Lord Anthony." Dorothy melihat pada Tommy dan meminta anaknya itu untuk lebih dulu menunggu di luar. "Tere, aku sangat berterima kasih padamu, selama dua tahun ini menjaga Tommy. Aku dan Tommy akan pergi dan memulai kehidupan kami sendiri. Tolong sampaikan juga rasa terima kasihku pada maid yang lain. Aku pergi Tere." Saat di luar, Maggie kuda betina yang ia bawa ke rumah ini ketika menikah dengan Anthony sudah siap dipakai. Marcus menatap khawatir dan berusaha kembali mendapatkan jawaban ke mana tujuan Dorothy. Tere bahkan sampai menangis karena Dorothy bilang tak akan kembali ke rumah itu. "Mulai saat ini, aku bukan lagi Lady kalian. Kalian akan bekerja hanya untuk Lord Anthony. Terima kasih, sampaikan salamku pada maid yang lain." Dorothy menaikkan Tommy lebih dulu lalu ia naik setelahnya. Menatap sekali lagi bangunan yang sudah ia tempati beberapa tahun ini Dorothy lalu menghela kudanya. Selamat Tinggal Anthony Charteris ... . . Memang begitu, kan? Apa pun yg dimulai dari keburukan pasti berakhir buruk juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD