Demi Kamu

2255 Words
Demi Kamu Story By Ratuqi . . "Papi tidak setuju! Sampai kapan pun Papi tidak akan merestui hubungan kalian berdua!" "Papi tidak bisa larang aku terus. Selama ini, aku selalu ikuti apa yang Papi mau. Sekolah, jurusan, teman, bahkan hobiku pun Papi yang atur. Apa pernah aku mengeluh, Pi?" Neo menggeleng sedih. Dalam ingatannya apa yang Papi ucapkan selalu ia jalankan. "Aku belum pernah minta sesuatu sama Papi dan Mami. Semua hadiah yang Papi sama Mami kasih karena pencapaianku, itu bukan aku yang mau, bukan aku yang minta. Aku hanya menerima. Tapi sekarang aku punya satu permintaan. Izinkan aku untuk memilih pasanganku sendiri. Biarkan aku menikah dengan wanita yang memang aku cintai." "Sampai kapan pun, tidak akan Papi setuju kamu menikah dengan dia! Wanita miskin, tidak jelas asal usulnya. Bisa kenal dari mana kamu orang macam itu?!" "Pi, sabar Pi. Ingat jantung Papi." Nami terisak sembari mengelus lengan suaminya pelan. Khawatir akan kesehatan sang suami. "Biar Mi. Biar saja jantung Papi kumat. Biar anak ini tahu kalau sifat keras kepala anak kita ini penyebab orang tuanya sakit!" "Papi!!" Nami dan Neo berteriak menegur. "Papi jangan bicara begitu Pi ... kita istirahat dulu ya, Pi. Neo, sudah ya, jangan bahas masalah ini lagi. Mami enggak mau Papi sakit." Nami mengajak sang suami berdiri dari sofa ruang keluarga. Namun baru berbalik mereka kembali menoleh karena perkataan putra mereka. "Aku tetap pada pendirianku. Ada atau tidaknya restu Papi dan Mami, aku bakal tetap menikah dengan Sandra." "Pergi kamu! Jika kamu masih ngotot sama pilihanmu maka pergi dari sini. Jangan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini lagi, sampai kapan pun!" Ancam Rahadian. Neo berdiri, menarik nafas dalam lalu mengucap kata perpisahan, "aku akan pergi Pi. Terima kasih untuk semua yang Papi dan Mami kasih untuk aku. Selamat tinggal." Nami terisak, ingin ia kejar sang anak namun ia pun belum bisa menerima pilihan putranya. Selama ini, Neo selalu jadi anak berbakti, putra yang membanggakan. Semua terkontrol sesuai arahan mereka sebagai orang tua. Tapi kini, hanya karena jatuh cinta pada seorang wanita, Neo berani mengambil keputusan besar sendiri. *.*.*.*.*. "Kamu yakin sama keputusan kamu ini?" Neo hanya bergumam sebagai jawaban. Sandra memilin jari-jari kurusnya sembari menghela nafas penuh beban. Tidak terpikir kisah cintanya dengan Neo akan menghadapi tembok rintangan begitu tinggi. Restu orang tua. Urutan paling atas dari daftar rencana pernikahan. Segala doa dan harapan akan pernikahan yang bahagia tercurah dari restu itu. Sayang sampai saat ini mereka belum mendapatkannya. Bukan Sandra tak ingin, tapi meski sudah mengenal Neo sejak lelaki itu duduk di bangku akhir SMA, ia tidak pernah tahu di mana letak rumah juga wajah orang tua lelaki itu saat ini. Ketika ia bertanya, Neo hanya memberitahu alamat rumah lamanya yang kini dibiarkan kosong. Seakan ia tahu bahwa tidak akan ada kata setuju untuk hubungan mereka. "Tapi mereka orang tua kamu Neo. Bagaimana pun mereka yang merawat kamu dari kecil. Segala pencapaian kamu saat ini juga ada andil besar mereka." "Kamu takut?" Neo berdiri dari duduknya. Melangkah dan berhenti di depan Sandra yang tatapannya menyipit bingung. "Kamu takut hidup susah sama aku setelah Papi dan Mami ambil semua fasilitas yang aku miliki?" Mendengkus tak percaya, Sandra berucap kembali, "aku bahkan sejak dulu sudah hidup lebih susah dari kondisi kamu sekarang. "Terus apa yang membuat kamu enggak yakin sama hubungan kita?" "Bukan enggak yakin." Bantah Sandra cepat. "Aku yakin sama hubungan kita. Tapi aku tidak bisa mengabaikan hubungan kamu dan orang tua kamu yang buruk karena aku." Kata Sandra sedih. "Bukan kamu," Neo maju memeluk Sandra erat. "Memang aku yang sejak dulu ingin keluar dari kungkungan orang tuaku. Hadirnya kamu hanya mempercepat keinginan aku itu." Jelas Neo lemah. Ia juga lelah. Setelah pertengkaran dengan Papi dan Mami yang berujung pengusiran juga dipecatnya ia dari perusahaan keluarga. Sandra malah ikut kecewa atas keputusannya. Aku takut hidup kita tidak akan lancar dan bahagia Neo. Sandra balas memeluk erat tubuh tegap lelakinya. Merasai suhu tubuh panas yang semakin menguar karena tidak adanya jarak satu sama lain. *.*.*.*.*. Hari pertama menjadi sepasang suami istri. Tidak ada perayaan setelah mereka pulang dari mengucap janji pernikahan. Satu hari Neo dan Sandra habiskan hanya di dalam rumah. Sandra membantu Neo untuk membereskan barang-barang milik lelaki itu yang akan ditaruh ke dalam lemari. Menyusun beberapa helai pakaian berdampingan dengan milik Sandra yang jumlahnya tak banyak. Beberapa hari sebelum menikah, Neo menumpang di apartemen salah satu temannya. Dan baru pindah ke rumah Sandra hari ini, setelah hubungan mereka resmi terikat. Matahari sedang terik-teriknya ketika Neo menjahili Sandra yang sibuk memasak untuk makan siang mereka. "Neo berhenti!" Namun nampaknya Neo sedang bahagia karena teriakan kesal dari sang istri terus diabaikan. Lelaki itu kembali memeluk dari belakang atau mencuri cium pada pipi tirus istrinya. "Neo aku lagi masak. Kalau kamu enggak bisa bantu mending kamu duduk dan tunggu!" "Kamu galak!" Keluh Neo kesal dibuat-buat. Bagai anak lelaki yang kena omel ibunya, Neo duduk di meja makan sembari merengut. Sandra hanya geleng-geleng kepala lalu melanjutkan masakannya. "Ayo makan. Sini, biar aku ambilin nasinya." Sandra menyendok nasi ke piring Neo dan berhenti untuk bertanya, "segini cukup?" Tapi Neo menolak untuk menjawab. Tak mau meladeni sikap kekanakan suaminya, Sandra lanjut mengambil sayur dan lauk. "Aku lagi kesal, kok kamu malah makan?" Gerutu Neo saat melihat sang istri malah menyuap sendok pertama ke mulut. "Habis aku lapar. Nunggu kesal kamu hilang, lama. Mending aku makan duluan." Sandra lalu terkikik melihat wajah Neo semakin masam. Aroma tumis kangkung dan tempe goreng membuat perut Neo menjerit. Akhirnya ia pun menyuap masakan istrinya dengan diiringi suara menahan tawa dari perempuan di hadapannya. *.*.*.*.*. "Besok temanku ada yang mau ke sini, boleh?" Usapan tangan Sandra pada rambut Neo berhenti. Wanita itu menunduk untuk menatap suami yang menjadikan pahanya sebagai bantal. "Siapa?" "Rudi sama Andi. Masih ingat, kan sama mereka?" Terakhir bertemu memang sudah sangat lama. Sekitar delapan tahun yang lalu. Tapi selama ini Sandra tak asing mendengar nama keduanya dari cerita Neo. Salah satunya bahkan adalah pemilik unit apartemen tempat Neo menumpang setelah diusir dari rumah. "Aku udah lupa sih, wajah mereka." Jujur Sandra. "Besok jam berapa mereka mau datang?" Tanyanya. "Mungkin jam satu." "Oke. Nanti biar aku masak lebih supaya bisa makan siang bareng mereka." "Makasih ya, Sayang." "Apa?" Tanya Sandra. "Kamu manggil aku apa tadi?" Tuntut Sandra. "Sayang. Memang kamu sayangnya aku, kan?" Neo bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk menghadap Sandra. "Malu ih, jangan panggil Sayang, Neo." Rajuk Sandra menutup kedua pipinya yang menghangat. "Terus kamu mau aku panggil apa? Beb, Cinta atau-" "Neo! Udah ah, panggil nama aja lebih enak." "Itu enggak romantis ... " Neo berdiri lalu memanggil kembali, "Sayang." Dan berlari menjauh setelah mendengar jeritan Sandra. "Neo!!" Sandra ikut berdiri hendak memberi pelajaran pada sang suami. Begitu Sandra menggelitik pinggang Neo, ternyata suaminya sama sekali tak geli membuat wanita itu mendengkus sebal. Neo lalu membalik keadaan dan menggelitiki pinggang dan perut istrinya yang langsung berteriak minta berhenti. "Ampun, Neo. Berhenti!" Tawa mereka berbaur di sunyinya malam sebelum tiba-tiba Neo terdiam memperhatikan wajah sang istri dari dekat. Dengan jarak begitu dekat baik Sandra dan Neo seakan tahu apa yang harusnya mereka lakukan selanjutnya. Mengarungi indahnya malam dengan penuh kasih dan cinta. *.*.*.*. Dua lelaki yang umurnya sepantaran duduk di dalam mobil sembari menikmati lagu yang diputar oleh penyiar radio. Andi menoleh pada Rudi yang begitu menghayati lagu galau milik penyanyi perempuan jebolan acara pencarian bakat. "Rud, lo enggak kepikiran sama permintaan nyokapnya Neo?" Senandung lagu dari mulut Rudi terhenti. Ia menoleh pada sahabatnya yang fokus menyetir. "Kenapa sama permintaannya Tante Nami?" Desah lemah terdengar. "Ya, gua enggak enak aja harus bohong sama Neo. Padahal dia sahabat kita udah dari SMA. Masa minta kita sembunyiin alamat dia dari orang tuanya aja kita enggak bisa?" "Ndi, apa yang kita lakuin bukan berarti kita mengkhianati Neo. Justru kita peduli sama dia. Kalau kita terus tutupi keberadaan dia dari tante Nami, kasihan juga. Beliau sayang banget dan khawatir sama anaknya meski belum bisa sepenuhnya terima pilihan Neo." "Iya sih. Semoga Neo enggak tahu ya, kalau nyokapnya yang suruh kita bawa barang-barang di belakang." Harap Andi merujuk pada barang-barang seperti pakaian, sepatu, alat dapur juga sembako yang ada di bagasi mobil. Rudi tergelak, "yailah, Ndi. Takut amat lo! Kita tinggal bilang hadiah pernikahan, pasti mereka percaya." Andi tersenyum tipis setuju lalu mengingatkan Rudi tentang sesuatu. "Jangan lupa nanti tawarin Neo buat kerja di perusahaan sepupu lo." "Siap! Semoga dia mau.” Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan lebih hening ditemani lagu bergenre K-Pop yang langsung Rudi tukar karena tak mengerti dengan bahasa yang dinyanyikan. *.*.*.*. "Wah repot-repot banget Bro." Neo menggeleng takjub akan bawaan dua kawan baiknya. "Ini hadiah dari kita Bro. Kemarin kan pernikahan kalian kita enggak bisa hadir. Jadi kita baru bisa kasih hadiahnya sekarang." Jelas Rudi. Mereka berdua memang tidak bisa hadir karena terhalang pekerjaan juga karena Neo tidak mau menyebutkan di mana gereja tempatnya mengucap janji pernikahan. Neo tersenyum dan berterima kasih. "Ya sudah, masuk yuk! Istri gua masak banyak buat kita." "Cie ... Sekarang panggilannya udah istri gua." Ledek Rudi membuat Neo terkekeh. "Enaknya sekarang kita manggil apa ya, ke istri lo, Neo?" Tanya Andi pelan. "Terserah kalian aja. Pakai panggilan yang menurut kalian nyaman aja." Usul Neo santai. "Eh, sudah datang ya?" Sandra muncul dari arah dapur dengan raut terkejut. "Iya Bu." "Iya Mbak." Jawab Andi dan Rudi tak serempak. Mereka lalu saling melirik kesal satu sama lain. "Panggil saja senyaman kalian. Saya tidak masalah." Ucap Sandra menyudahi perang tatapan antar tamunya. Rudi lebih dulu mendekat untuk bersalaman dengan Sandra, "Ibu masih ingat kan, sama kita? Cowok-cowok ganteng penghuni bangku belakang waktu jam bimbel Ibu." Andi menarik mundur kawannya sebelum pertanyaan konyol lain keluar. "Apa kabar, Mbak Sandra?" Andi ikut menyalami tangan wanita di depannya. "Baik, baik. Kalian apa kabar? Sudah lama sekali ya, kita enggak bertemu?" "Kami baik, Bu. Iya, lama sekali kita enggak ketemu sama Ibu. Padahal dulu Ibu pengajar bimbel favorit." Rudi kembali cengengesan ketika Sandra tertawa, "bisa aja, kamu." Begitu pun Neo yang hanya dapat menahan tawa melihat sikap konyol Rudi begitu awet tak termakan usia. "Kita langsung makan aja yuk, kebetulan masakannya masih hangat. Kalian pasti lapar berkendara dari Jakarta ke Bogor." "Boleh Bu. Kebetulan memang dari tadi perut sudah ngasih sinyal." Sandra memandang penuh tanya sebelum tertawa akan jawaban Rudi. "Sinyal kekosongan Bu. Alias lapar." Sandra dan Neo berjalan lebih dulu sedang ke dua tamunya berada paling belakang. Andi menyikut Rudi dan berbisik, "kita panggilnya Mbak Sandra aja. Jangan ibu. Beliau kan, udah jadi istri Neo." "Memang kenapa, Ndi? Kurang sopan, ya?" "Bukan. Tapi biar lebih enak di dengar aja. Beda umur kita juga cuma enam tahunan." "Ayo, silakan duduk. Maaf ya, keadaannya begini. Masakannya juga cuma masakan rumahan." "Iya, Mbak enggak masalah. Kita justru lebih suka masakan rumahan." Sepanjang acara makan semua orang tampak menikmati. Sesekali obrolan atau sekedar pujian akan rasa masakan terdengar dari salah satunya. Rudi bahkan sangat menikmati teri pedas honje dan cumi sambal ijo yang tersaji. Makanan bercita rasa pedas yang dimakan siang hari. Cocok sekali untuk dirinya dan Andi yang penggemar kuliner pedas. Andi baru saja menghabiskan es jeruk di gelasnya ketika Rudi tanpa malu mengambil sesendok besar nasi serta lauk pauk. Di bawah meja Andi menyenggol sedikit kaki sahabatnya dan hanya mendapat sekilas lirikan sebagai balasan. "Mmh ... itu barang-barang di depan punya siapa?" Tanya Sandra yang sudah meninggalkan meja makan dan tak sengaja melihat banyaknya barang serta kebutuhan pokok ada di sofa lusuh ruang tamunya. "Itu semua mereka yang bawa. Katanya buat kita." Neo yang menjawab. "Banyak sekali. Harusnya enggak usah serepot ini." Andi tersenyum sungkan, sebenarnya hadiah pemberian Andi dan Rudi tak seberapa. Lebih banyak pemberian yang dititip oleh ibu Neo tanpa sepengetahuan pasangan pengantin baru itu. "Anggap aja hadiah pernikahan dari kita Mbak. Neo kan sahabat kami, jadi wajar kalau hadiahnya sebanyak itu." Rudi ikut menimpali ketika nasi dan lauk pauk di atas piringnya habis dalam waktu singkat. Menyadari panggilan Rudi yang berubah, namun Sandra tak mempermasalahkannya. Ia pun mengucapkan banyak terima kasih pada dua laki-laki yang dulu pernah menjadi murid didiknya. *.*.*.*. Malam tak ada lagi pendingin ruangan yang bisa ia atur suhunya ketika badan mulai terasa panas dan gerah. Kini di dalam kamar yang luasnya tak sampai setengah ukuran kamarnya di rumah dulu, hanya ada satu kipas angin yang bisa dijadikan sebagai pengusir rasa panas. Meski begitu, sang istri masih betah bergelung dalam pelukannya yang tidak menggunakan baju. "Rudi nawarin aku kerja." Mulai Neo. "Kerja di mana?" Sandra berusaha mempertahankan matanya yang tinggal beberapa watt lagi. Badannya terasa lelah setelah melayani sang suami. Dengan alasan tak mau menunda momongan lelaki dua puluh enam tahun itu membuatnya tak mampu menolak. "Di kantor sepupunya. Astama Team Studio." "Lokasi kantornya?" "Masih di Bogor juga." Jawab Neo. "Yaudah dipikir dulu aja, terus terima kalau kamu sudah yakin. Teman-teman kamu itu baik sekali sama kita." "Hmm." Gumam Neo. Ia lebih senang memperhatikan wajah sang istri dalam dekapan ketika mata wanitanya terpejam namun mulut masih bisa merespons. Gemas Neo mengecup kembali bibir yang menjadi candu untuknya. Erangan protes Sandra terdengar. Namun Neo kembali melanjutkan aksinya. Berharap wanita itu dapat hamil secepatnya. Berdoa, suatu saat ada kesempatan untuknya bertemu dengan Papi dan Mami. Dan sekali lagi Neo akan meminta kesediaan mereka berdua memberikan restu untuk pernikahannya. Bukankah banyak orang tua luluh karena melihat cucunya? Untuk sekarang, ia bahagia meski hidup sederhana. Asal bersama wanita dalam dekapannya, Neo rasa ia bisa menghadapi apa pun. . . . Ada yang bisa tebak Sandra umur berapa? Dulu, guru bimbel saya waktu sekolah juga masih pada muda-muda *Untuk Short Story Vol.2 sudah terbit di KBMApp. Berisi beberapa lanjutan cerita dari Short Story By Ratuqi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD