Chapter 5
Surat Untuk Larasati
Bandung, 7 Syawal 1320 H
Untukmu adikku, Nimas Larasati
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dik, bagaimana kabar Adik? Kang Masmu di sini selalu berdoa, semoga adik, Ibu, Bapak, dan Mas Subekan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala. Kang Mas di sini dalam keadaan baik-baik saja kok. Adik tidak usah khawatir. Semuanya dalam keadaan sehat wal afiat.
Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Barangkali satu windu, atau lebih. Saya tidak bisa memberikan harapan banyak kepadamu, semoga ada kesempatan untuk bisa bertemu dengan engkau secepatnya. Aamiin.
Dik, Insya Allah tanggal 28 Syawal Mas sampai rumah. Tergantung nanti ada kesempatan untuk pulang atau tidak. Rencananya Mas mau ikut cikarnya Pakdhe Sumantri. Lama, namun yakinlah, tidak ada kata lama dalam cinta.
Adik di sana jangan lupa untuk makan, konsumsi air putih yang banyak ya. Menjelang musim kemarau seperti ini, ada banyak penyakit yang datang. Jaga ksehatannya ya Dik.
Sudah, tidak Panjang-panjang Kang Mas menulis surat ini. Jangan lupa doakan Kang Mas semoga selamat sampai tujuan nggih.
Nuwun.
Tertanda,
Muhammad Sholeh Prasaja
Sepucuk surat telah aku baca dengan perlahan. Sangat pelan, sehingga aku bisa untuk memahami kata per kata yang telah dituliskan oleh Kang Masku. Rasanya sangat bahagia. Bagaimana tidak? Ketika kita bisa mengetahui tentang keadaannya di sana.
Mempunyai calon suami di tanah seberang membuat hati siapa pun orang akan merasakan seolah dikejar anjing setiap hari. Ada sebuah rasa ketidaknyamanan dan kekhawatirannya tersendiri.
“Gimana? Sudah selesai dibaca?” sebuah suara berat itu lagi-lagi membuat aku terkesiap.
Dasar Mas Subekan ini, kalau masuk kamar dan bertanya selalu saja membuat orang kaget. Aku menggerutu dalam hati.
“Iya, Mas. Kalau begitu Sati keluar dulu ya, harus menyiapkan makan siang,” kataku dengan melipat surat itu asal, dan melewati badan Mas Subekan untuk keluar kamar.
“Jumani bilang kalau kemarin malam kamu digoda sama londo iya?” ucap Mas Subekan yang membuat aku terkesiap.
Jumani adalah seseorang yang selalu membuat kabar-kabar meluas seantero desa. Kejadian kemarin aku kira hanya ada aku saja di tempat itu, nyatanya memang Jumani selalu akan mengendap-endap dan memberikan kabar secara cepat.
“Iya, Mas,” jawabku dengan menunduk.
“b******n!” suara Mas Sholeh seolah tepat berada di telingaku. Sangat keras, dan itu yang membuatku sampai terjingkat.
“Diapain kamu? Siapa Namanya? Biar Mas yang menyelesaikan masalah ini. Sudah tau dilarang untuk menggoda siapapun wanita pribumi, masih saja ada saja b******n-b******n itu yang melawan!”
Mas Subean sudah kepalang marah. Matanya yang memerah dan otot yang membelah di dahinya itu cukup membuat aku ngeri melihatnya.
“Sudah Mas, Sati tidak diapa-apakan. Tenang saja. Barang mencolek saja tidak. Hanya saja kemarin tidak sengaja bertubrukan. Sudah itu saja,” jawabku mencoba untuk menenangkan Mas Subekan.
Matanya yang memerah awalnya kali ini agak lebih memudar. Kedua tangan laki-laki yang sangat gagah itu menyentuh kedua pundakku. Matanya menyorot ke netraku.
“Tidak akan ada seorang pun yang bisa menyakitimu, adikku. Mas janji, mulai hari ini, Mas yang akan antar jemput kamu mengajar ngaji,” ujar Mas Subekan dengan wajah yang sangat serius.
Aku bukannya ikut serius malah saat ini ingin tertawa. Seseorang yang biasanya suka menjahiliku saat ini bisa seserius itu kepadaku. Aku tidak bisa menyangka saja.
Kutarik hidungnya dengan kencang-kencang. Mas Subekan berteriak keras. ”Sati …”
Dirinya hanya bisa memanggil namaku dengan teriakannya. Aku lari untuk segera ke ruang makan.
Kulihat Bapak dan Ibu sudah ada di sana. Mereka melihatku dengan saksama.
“Ada apa to Nduk, kok lari-lari seperti itu?” tanya Ibu dengan rautnya yang tersenyum kecil.
Aku hanya bisa menunduk malu. Tanganku secepat mungkin mengambil centong, memberikan beberapa centong di atas nasi gaplek tepat di piring Bapak.
Aku juga menyiapkan nasi itu di atas piring Mas Subekan. Tak lupa segelas air yang kutuang dari kendi.
Makan siang, hanya dilakukan oleh sebagian orang di desa kami. Barangkali bisa dibilang khusus untuk orang-orang tertentu. Makan nasi pun hanya untuk orang-orang tertentu, kami hanya makan nasi dari gaplek. Nasi yang terbuat dari singkong yang ditumbuk dan dikukus.
Mas Subekan datang, wajahnya berseri-seri. Aku seperti mendapati sebuah gelagat yang aneh. Kadang seperti ini, dirinya seperti akan memangsaku. Lirikannya begitu menusuk ke arahku yang hanya bisa menunduk dalam dan duduk di sisi Ibu.
“Panen kali ini, rasa-rasanya susah Bu. Semenjak kompeni membuat keputusan enam puluh persen hasil panen harus diberikan untuk mereka, kita yang hanya bisa mendapatkan empat puluh persen hasil panen bisa apa. Belum lagi untuk perawatan, mungkin paceklik kali ini akan lebih parah dari masa-masa sebelumnya,” Bapak berujar dengan suaranya yang parau.
Aku sampai tidak bisa menelan ludahku sendiri. Apa yang terjadi di ladang adalah hal yang menyakitkan. Apalagi melihat kondisi yang ada. Di tengah-tengah penjajah yang biadab itu, orang kecil seperti kami tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa yang mereka katakan dan perintahkan.
“Kita nggak bisa terus-terusan seperti ini Pak. Ditindas, diinjak-injak, kalau terus seperti ini kita bisa mati!” geram Mas Subekan. Tangan kirinya yang tidak membawa apa-apa itu mengepal di atas meja.
Kulihat dari ekor mata, Ibu menarik nafas panjang, wajahnya pasrah begitu saja.
“Ya sudah Pak, mau bagaimana lagi, semuanya sudah ada yang mengatur. Jika kita mati karena lapar, itu tidaklah mengapa, semua yang ada di dunia ini sudah diaturkan oleh Gusti Allah. Mati karena membela tanah air adalah sebuah kehormatan,” jawab Ibu.
Aku sebagai anak perempuan, hanya bisa diam. Meski demikian, hatiku cerewet dengan semua ini. Kami geram dengan londo-londo yang tidak memiliki rasa iba apapun. Hatinya yang sekeras batu itu selalu saja membuat rakyat kami menderita.
Hatiku mencelos, aku ingat betul sesaat aku akan masak tadi singkong yang ada di daringan hanya tinggal beberapa ombyok saja. Mungkin masih cukup untuk makan dua sampai tiga hari. Untuk hari lain, semoga panen bisa untuk makan satu bulan selanjutnya.
Mempunyai persediaan makan adalah hal yang sangat luar biasa bahagianya. Kebanyakan orang di desa kami, hanya bisa makan hasil dari hari ini. Jadi jika tidak membawa bahan dari kebun untuk hari ini, maka bisa dipastikan akan tidak makan juga.
Busung lapar seolah menjadi penyakit biasa, dan mati karena kelaparan adalah sesuatu hal yang lumrah.
Mataku melihat ke arah tubuh Bapak yang memasukkan perlahan gaplek ke dalam mulutnya.
“Suatu saat nanti, para londo itu akan menjadi tikus yang bisa dengan mudah aku injak dengan sebelah kakiku,” tegas Mas Subekan dengan tangannya yang mengepal kuat. Pandanganku yang semula melihat kea rah Bapak, kini beralih melihat wajahnya.
“Termasuk juga londo yang dengan semena-mena menggoda adik perempuanku!” tambah Mas Subekan.
“Maksudmu Le?” tanya Ibu dan Bapak berbarengan.