Selusin Usianya

1057 Words
Chapter 6 Selusin Usianya Si anak manusia kecil itu tak juga bisa belajar tawakkal! Dalam kepala dan hatinya yang gila itu berhuru-hara ratusan pikiran-pikiran yang memberontak. Ia merasa begitu kesepian di tengah-tengah mereka yang sepanjang hidup Bersama dengannya. Oh, memang orang bisa saja menjadi abang dan adik, Bersama sepanjang hari, tapi kalau jiwa mereka tidak bersesuaian, mereka tetap menjadi orang asing satu daripada yang lain. (Surat Panjang, Agustus 1900, dari Kartini kepada Nyonya Abendanon)   “Ku dengar-dengar kamu akan menikah bulan besok ya Sat?” tanya Budhe Srimi. “Inggih Budhe, insya Allah,” jawabku dengan menunduk. Ku lanjutkan kegiatanku memetik daun kangkung di pinggiran sawah. Budhe Srimi adalah ibu kandung Fatonah. Meskipun Fatonah adalah teman dekatku, aku masih belum bisa untuk bercengkrama  dengan baik bersamanya. Entahlah, aku hanya ingat betul, amarahnya saat aku mengajak Fatonah pergi jauh sekali pada hari pernikahannya. Usia kami baru menginjak dua belas tahun, aku tidak mau Fatonah pergi begitu saja dan meninggalkan ku untuk main sendiri. “Kalau Fatonah saat ini sudah hidup enak di sana. Tidak perlu cuci baju, tidak perlu ambil air, apalagi cari kangkung seperti ini. Hidup Fatonah enak, mapan, mujur, makmur,” kata Budhe Srimi. “Alhamdulillah Dhe,” jawabku dengan senyuman. Aku tidak tahu, kemana Fatonah dibawa oleh salah seorang londo yang usianya katanya dua puluh lima tahun lebih tua darinya. Barangkali aku akan ke sana, melihat keadaan sahabatku yang sangat aku cintai itu. Sekadar melihat kembali perutnya yang dulu selalu dibuncit-buncitkan disaat aku bertanya kepadanya sudah makan atau belum. Pun biasanya seperti ini, suasana sawah yang biasa ramai karena tawanya, kali ini sangat sepi. Seperti kehilangan nyawa. Aku rindu Fatonah. Sungguh aku sangat rindu. “Kalau Fatonah pulang, Sati titip salam nggeh Dhe,” ujarku dengan takut-takut. “Fatonah nggak akan pulang. Dirinya sudah nyaman di sana. Budhe berdoa malah biar nggak pulang sekalian. Anak perempuan di rumah nggak ada gunanya. Nggak bisa ngasilin duit, malah menghabiskan beras di lumbung. Sudah, Budhe lebih senang kalau dirinya berada di tangsi,” ujar Budhe Srimi. Aku hanya bisa menunduk dalam. Tidak mengherankan. Perempuan di zamanku ini terus-teruslah selalu saja dianggap menjadi beban. Tak mengherankan jika ada banyak anak perempuan yang lebih baik dijodohkan kecil-kecil sebelum baligh daripada di rumah dan tidak ada kerjaan. Beberapa usia di antara mereka bahkan belum sampai selusin. Budhe Srimi mengangkat bakulnya. Matanya mengekor melihat seorang wanita dengan b****g sintal dengan langkah yang terlihat sangat menggoda siapa saja lawan jenis yang melihatnya. Aku menyipitkan mata, dan ku ketahui jika itu adalah Nyai Lasipah. Seseorang yang menjadi penadah gadis-gadis desa yang biasa dijual ke londo untuk dijadikan gundik. “Nyai … Nyai Lasipah … “ panggil Budhe Srimi dengan suara cemprengnya. Budhe Srimi setengah berlari mendekati perempuan yang aku tahu seumuran dengan ibuku itu. Hanya saja memang tubuhnya lebih terawat. Jadilah dirinya terlihat lebih muda dari sebayanya. Aku tidak bisa menyimak apa yang sedang diperbincangkan oleh kedua wanita itu. Bakulku masih kosong mlompong. Masih belum cukup untuk kubawa pulang. Masih perlu banyak isian. “Ini uang dari mantumu kemarin, masih sisa setengah, akan dibayar nanti,” aku mendengar lamat-lamat perbincangan itu. Uang koin yang bertubrukan satu dengan yang lain membuat aku teringat dengan sosok sahabatku. Fatonah. “Kok cuma segini Nyai. Padahal beras di lumbung sudah mau habis,” protes Budhe Srimi. “Jangan banyak protes. Terima saja lah yang ada. Aku tadi sudah cari kamu ke rumah, tidak ada kamu. Kusempatkan untuk ke sawah seperti ini, ini semua karena permintaan Fatonah di sana yang minta supaya aku bertemu denganmu. Anakmu di sana baik-baik saja. Dirinya sudah bahagia dengan majikannya,” terang Nyai Lasipah. Aku tidak tahu. Mengapa tiba-tiba hatiku mencelos begitu saja. Ada rasa ketidakrelaan Fatonah dikata bahagia. Aku ingat betul waktu dirinya ditarik dengan paksaan untuk masuk dalam mobil kompeni, air matanya yang jernih itu tidak bisa bohong. Dua wanita tadi pun saling berpamitan. Budhe Srimi berjalan ke arah selatan dan Nyai Lasipah berjalan ke arah barat. Segera aku menjunjung bakulku dan kutaruh asal. Jarikkku ku jinjing tinggi-tinggi aku segera berlari mengejar Nyai Lasipah. “Nyai …” panggilku setengah berteriak. Perempuan dengan tusuk konde berasal dari emas itu menoleh, melihat ke arahku, memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Kenapa aku baru sadar kalau kamu ada di desa ini. Anak siapa kamu?” tanya Nyai Lasipah. Gigi taringnya sebelah kanan berwarna emas juga. “Saya Larasati, anaknya Kusrini,” jawabku sembari mengulurkan tangan. “Mau ke rumahnya londo juga?” tanyanya. Aku langsung menggeleng cepat. “Aku sudah dijodohkan Nyai. Kedatangan saya ke sini, saya ingin bertemu dengan Fatonah, sahabat saya, apakah bisa?” tanyaku dengan berani. “Kamu harus membayar beberap upeti sebelum masuk loji. Atau kamu mau ditelanjangi bulat-bulat nanti.” Aku memundurkan langkahku beberapa langkah. Sedangkan Nyai Lasipah tersenyum kecut. Tangannya mengeluarkan sebuah rokok dan korek api, dirinya tiba-tiba menyulut lintingan tembakau itu. Menghisap asapnya dalam-dalam dan disemburkan ke wajahku dengan perlahan. Aku sampai terbatuk. “Tak usah kaget. Kamu gadis yang cantik. Aku tau siapa ibumu. Aku akan ke rumahmu besok untuk mengambil onde-onde. Bersiaplah,” ujarnya dengan senyuman. Kali ini senyumannya terlihat sangat tulus. “Nyai kenal Ibu?” tanyaku. “Tentu saja. Kusrini teman lamaku. Hanya saja aku tidak tau kalau dirinya punya anak secantik kamu nduk. Yo wes, aku pergi dulu,” ujar Nyai Lasipah. Membuatku senang bukan main. Aku masih mematung, melihat wanita itu yang berjalan menggeol-geolkan bokongnya. Dirinya tidak takut sama sekali dengan pakaian yang sangat terbuka seperti itu. Petani-petani yang masih di sawah kulihat menyiuli beberapa kali. Perlahan, siluet seseorang yang dipanggil dengan sebutan Nyai itu, hilang di antara cahaya langit senja yang berganti biru matang. *** Aku melihat bulan di langit. Tampak indah dan bercahaya. Meski tak seutuh kemarin, aku masih bisa melihat rautnya yang bahagia. Tanganku membawa sebuah pena beserta tintanya. Di atas pangkuanku, ada sebuah buku hadiah dari Mas Sholeh beberapa waktu lalu. Aku ingin menulis sesuatu. Namun pikiranku masih buntu. Ada banyak kebahagiaan hari ini. Aku tidak bisa menuliskannya semuanya. Tentang serdadu yang menyelamatkanku, tentang Mas Sholeh yang mengirimkan surat untukku, atau juga bahkan kabar untukku bisa berjumpa dengan sahabatku. Aku sangat senang. Bisa mendapatkan semua kebahagiaan ini hari ini. Namun, di antara kebahagianku itu, aku harus memilih salah satu. Harga kertas sama dengan harga sekarung beras. Aku tidak akan menuliskannya untuk sesuatu hal yang tidak penting. Hatiku sepakat, untuk menuliskan tentang serdadu yang menyelematkanku tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD