Nyai Lasipah

1157 Words
Ketika dunia memberikan banyak tuntutan kepada perempuan dengan yang harus bisa masak, harus bisa macak, dan harus bisa manak. Berbeda dengan laki-laki yang bahkan diharuskan nakal, badung, tidak menurut. “Ibu kenal sama Nyai Lasipah?” tanyaku pada Ibuku yang saat ini sedang membuat adonan onde-onde. Onde-onde adalah sebuah jajanan pasar tradisional yang terbuat dari ketan dan di atasnya terdapat wijen yang melingkupi sisinya. “Semua orang desa kenal sama dia. Lhawong pekerjaannya saja seperti itu,” jawab Ibu dengan ujung senyuman. “Lho memangnya Nyai Lasipah itu bekerja jadi apa to Bu?” tanyaku masih bingung. “Sebutan Nyai itu, sebutan untuk wanita yang bekerja menjadi pemuas nafsu londo Nduk. Kasarannya g***o. Kamu kan sudah tau juga, yang menjual gadis-gadis desa kepada londo ya Nyai Lasipah itu,” terang Ibu kembali yang membuatku manggut-manggut baru paham. Aku mengingat kembali perempuan kemarin yang memakai pakaian serba mewah. Anting emasnya, tusuk konde emasnya, ada juga kalung, gelang, bahkan sampai giginya pun berwarna emas. “Kamu sudah pernah bertemu dengan Nyai Lasipah?” tanya Ibu. Aku mengangguk. “Kemarin, saat ambil kangkung dari pematang sawah Bu. Aku melihatnya. Terlihat sangat berkecukupan hidupnya ya Bu?” Pandanganku menerawang jauh. “Kamu tidak tahu saja. Jika Nyai Lasipah pernah ditelanjangi oleh londo-londo di atas rel kereta api. Waktu itu, Ibu sama Bapak menolongnya, kondisinya sangat memprihatinkan. Semua yang terlihat enak di mata kita, belum tentu enak bagi orang yang melakukannya. Maksudnya, barang kali kamu melihat kehidupan Nyai Lasipah enak, berkecukupan. Namun, kamu tidak akan tahu, jika kehidupannya di sana selalu mendapatkan paksaan dari londo. Sudahlah, ayo diselesaikan buat onde-ondenya, nanti nggak selesi-selesai malahan,” ujar Ibu. Aku membuat bulatan kecil dan kuisi dengan kacang hijau di dalamnya. Sembari pikiranku berkecamuk atas apa yang terjadi. Apa yang terjadi dengan Fatonah di sana. Apa dia baik-baik saja? Sewaktu aku mendengar cerita Ibu tentang Nyai Lasipah, aku menjadi semakin takut akan kondisi Fatonah di sana. Ditelanjangi oleh laki-laki biadap di tanah yang lapang adalah sesuatu hal yang sangat melukai batin. “Ini berapa Kusrini semuanya?” tanya Nyai Lasipah sesaat dirinya telah sampai di rumahku. “Ndak usah. Dibawa saja. Buat teman lama, sudahlah aku bagi dengan percuma,” kata Ibu dengan senyuman khasnya. “Kalau seperti itu, terima kasih banyak yo. Itu Subekan ada ndak di rumah?” tanya Nyai Lasipah sembari mencari keberadaan Mas Subekan. “Biar Larasati saja yang antar. Subekan masih cari rumput buat kambing,” kata Ibu. Aku tidak usah susah-susah untuk meminta izin ke loji londo. Barang kali ini adalah rezeki untukku, bisa bertemu dengan Fatonah nanti secepatnya. “Oh hiya Nduk. Sama kamu aja wes, bakulnya bawa yo,” perintah Nyai Lasipah. Aku mengangguk, sebelum pergi aku menyalami punggung tangan Ibu dulu, lalu berpamit. Aku hanya berjalan di belakang Nyai Lasipah yang sangat pelan jalannya. Entahlah, aku hanya merasa jika cara jalan Nyai Lasipah seperti digeyol-geyolkan. Beberapa orang di sawah yang melihat kami berjalan seolah menggoda. Bukan aku yang digoda, melainkan Nyai Lasipah. Beberapa kali suitan itu, sangat menganggu telinga, dan Nyai Lasipah hanya tersenyum dengan bangga. “Kita sudah sampai, kamu bisa meletakkan onde-ondenya di atas meja sana,” ujar Nyai Lasipah. Kupandangi dulu tempat yang disebut dengan loji ini. Sebuah tempat sebesar istana, pikirku. Dengan ornament modern. Kulihat di sekeliling jendela yang besar-besar itu terdapat gorden yang sangat panjang. Aku sampai terkagum, melihat banyak lukisan terpampang di dinding-dindingnya. “Sati!” pekik Nyai Lasipah kembali. Aku yang tersadar atas lamunanku segera menaruh onde-onde di atas meja yang ditunjuk oleh Nyai Lasipah. Aku terdiam, melihati suasana mewah yang ada. Aku tidak pernah masuk ke dalam rumah seperti ini. “Sati! Dasar gadis desa. Nggak pernah lihat barang-barang mewah! Kalau sudah, kamu bisa pergi!” kata Nyai Lasipah dengan nadanya kesal. “Nuwun Nyai, saya mau bertemu dengan Fatonah. Tidak bisakah Nyai mengantarkan saya?” kataku mengingatkan. “Ohh, aku lupa jika memberikan janji kepadamu soal itu. Sebentar, aku akan merapikan dulu kondeku, baru setelahnya aku antarkan kamu menemui sahabatmu,” katanya. Setiap Gerakan yang dilakukan oleh Nyai Lasipah dalam menggulung rambutnya itu aku lihat betul-betul. Gelungannya sangat berbeda dengan gelungan yang orang desa lakukan. Barangkali memang itu adalah bukan budaya gelungan dari kami. Dan jangan lupakan sebiah tusuk kondenya yang emas itu. warnanya yang berpantulan dengan cahaya matahari membuat mata silau melihatnya. “Ayo, ini sebagai bentuk balas jasa Ibumu karena dulu pernah menolong aku,” ujarnya dengan menggandengan tanganku. Aku diajak untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang tak kalah besar dengan yang tadi. Di tengah-tengah bangunan yang super megah ini, terdapat lapangan di tengahnya. Tidak hanya satu orang yang menghuni, ada banyak orang penjaga, kaum pribumi yang disuruh-suruh menjadi jongos, dan ada wanita-wanita seperti Nyai Lasipah, berparas Jawa namun mengenakan baju asal Belanda. Kedatanganku yang seolah seperti tamu asing, dilihat oleh banyak orang. Termasuk para londo-londo yang seolah memandangku dengan tatapan lapar. Aku menjadi risih dilihati seperti ini. “Wie is zij?” tanya seorang londo dengan rambutnya yang putih. (Siapa dia) “Adikku,” jawab Nyai Lasipah cepat. Dirinya mengamit tanganku dengan lebih rekat. Aku mengerti, Nyai Lasipah bukan seseorang sejahat yang kukira sebelumnya. Aku dilindungi di sini. Karena memang aku hanya ingin bertemu dengan Fatonah. Setelah berjalan cukup jauh dari gerbang awal. Akhirnya aku berdiri di depan sebuah kamar yang berpintu kayu jati sangat besar. Barangkali ukuran lebarnya dua meter dan tingginya tiga meter, di depannya terdapat besi yang digunakan sebagai alat ketukan. “Wat is er mis?” tanya seorang laki-laki dengan peluh di dahinya. Aku berpikiran laki-laki ini usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Uban di atas kepalanya sudah penuh. (Ada apa) “Saya mau bertemu dengan Fatonah. Boleh? Lima menit saja,” ujar Nyai Lasipah. Kedipan sebelah matanya menjadi penanda akhir di ujung kalimatnya. Setelah Nampak berpikir, londo itu pun memanggil Fatonah. “Bedank,” ujar Nyai Lasipah dengan senyuman centilnya. Londo itu pun menyingkir, dirinya pergi kea rah lain. Pandanganku beralih melihat Fatonah yang saat ini wajahnya sembab. Aku tau dirinya menangis. Mata yang bersinar itu saat ini telah berganti dengan mata yang sayu. “Temui sahabatmu lima menit. Semua londo di sini sangat disiplin terhadap waktu, aku tinggal,” ujar Nyai Lasipah langsung pergi dari kami berdua. Aku memeluk Fatonah dengan erat. Beberapa minggu terakhir aku tak pernah bertemu dengannya. Wajahnya pucat pasi, seolah tidak diberi makan selama satu minggu. Badannya kurus kering, kulihat lagi kondisi bibirnya yang bengkak dan beberapa tanda merah terlihat di sekeliling lehernya. “Apa londo itu menyakitimu?” tanyaku dengan sorot mata dalam. Fatonah tidak menjawab, dirinya menggeleng. “Apa kamu diperlakukan dengan baik di sini?” “Apa kamu diberikan makan dan minum?” “Kamu tidak disiksa kan?” “Kenapa kamu menangis? Pertanyaanku menggantung begitu saja. Fatonah tidak menjawabnya. Dirinya hanya diam membungkus semua katanya hanya dengan satu air mata yang jatuh. “Pergilah Larasati, tidak usah kamu menemuiku,” ujarnya dengan menahan isak. “Kita akan pergi dari neraka ini. Yakinlah, aku akan membawamu pergi!” tekanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD