Mencoba Kabur

1068 Words
Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dunia nenek moyangnya. Aku segera menarik tangan Fatonah. Tekadku bulat mengajaknya untuk kabur dari loji yang membuatnya seperti orang yang tersekap seperti ini. Kehidupannya akan bebas di luar. Lihatlah, betapa malangnya nasibnya ini. Kakinya yang sudah tak mampu membawa, barang berat tubuhnya sendiri. Terpaksa aku menggendongnya. “Aku takut Nyai Lasipah tahu soal ini,” ujarnya dengan takut-takut. “Kau tak percaya denganku? Waktu kamu di usia dua belas tahun, siapa yang menculikmu? Barang tentu aku bukan. Aku yakin, semuanya sama seperti yang dahulu, kita akan dengan mudah keluar loji ini tanpa akan ketahuan siapapun,” ujarku meyakinkan Fatonah yang berada di punggungku saat ini. Mataku terus menyisir. Melihat ke sana dan kemari, memastikan jika semuanya aman. Loji yang sangat besar. Aku tidak tahu ujung dari loji ini di mana. Sesaat aku kehilangan arah. “Kau tak mengetahui mana jalan keluarnya?” tanyaku pada Fatonah. Dirinya menggeleng. “Dasar monyet! Mau kemana kau!” kudengar suara seperti orang kesetanan itu meneriaki kami seperti meneriaki maling yang sedang mencuri sesuatu. Jantungku bergejolak, hatiku tak keruan rasanya. Nadiku berdengyut dua kali lebih cepat. “Bagaimana Sati, kau tidak pernah pikirkan bagaimana nasibku nanti,” ujar Fatonah yang malah membuat aku semakin bingung. Mataku melirik, aku segera untuk lari. aku tak tahu harus melarikan diri kemana. Sial, jalanan buntu. “Mau kemana kamu monyet-monyet hah! Segera masukkan dia ke dalam penjara!” ujar seseorang yang kuketahui dirinya adalah suami dari Fatonah. Fatonah menggenggam tanganku dengan sangat erat. Matanya berarir. Aku masih cukup berani untuk menentang mereka. Satu di antara dua pengawal dengan memakai seragam cokelat lengkap itu membawa rotan. Punggungku kena beberapa kali sabetan. “Mau kamu bawa kemana wanita itu?” tanya seseorang di belakangku. Dua orang yang mencambuki punggungku berhenti melakukan aktivitasnya tadi. Seseorang yang kutahu suami dari Fatonah pun memberhentikan langkahnya. “Para monyet ini berniat kabur, aku akan memberikannya hukuman di penjara bawah tanah!” sergap suami Fatonah. Aku diam, masih belum melihat laki-laki tersebut. “Kalau kamu mau ingin menjadikan dia sebagai teman ranjangmu, ambillah salah satu monyet itu, dia adalah sahabat dari gundikku,” ujar suami Fatonah. Aku terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suami Fatonah barusan. “Hey dasar londo tengik! Kau sebut temanku sebagai gundik? Sedangkan kau yang meminta dia di hadapan orang tuanya untuk dijadikan istri? Dasar londo kurang ajar! Bebaskan kami!” kataku sengit. Aku yang awalnya meringkuk saat ini berdiri dengan tegap. Jariku kutunjukkan di hadapan hidung laki-laki bengis seperti suami Fatonah. Kurasakan Fatonah di bawahku, dia yang tidak bisa berdiri itu menangis dan menarik-narik jarikku. “Sudah Sati, sudah,” ujarnya lirih yang masih mampu aku dengar dengan baik. Gurat-gurat kemarahan terlihat jelas di wajah suami Fatonah yang meradang atas apa yang aku katakan tadi. Sangat jelas urat lehernya yang seakan mau keluar. Matanya yang memerah dan wajah putihnya yang ikut memerah padam. Sekali-kali urat nyaliku tidak akan pernah putus. Prokk … prokk … prokk … Suara tepuk tangan itu membuat aku mngalihkan pandangan. Kulihat seseorang yang bertepuk tangan itu memandang diriku seolah tanpa kedipan setelahnya. Memoriku berjalan. “Steve?” panggilku kepada laki-laki yang tidak akan salah aku menyebutnya. “Lasarati?” panggil dia kembali yang masih saja salah menyebutkan namaku. “Kalian semua pergi, biarkan aku dengan wanita ini di sini,” perintah Steve yang mendadak membuat semua orang yang mengepungku tadi keluar, termasuk suami Fatonah yang membawa Fatonah seperti menyeretnya. Hatiku was-was melihat Fatonah diperlakukan seperti itu.  “Untuk apa kamu ke sini?” tanya Steve dengan nada yang sangat dingin. Tidak seperti kemarin yang sangat terdengar enak didengar. Tatapan matanya yang seperti elang itu seolah menginterupsikan sesuatu hal yang bernama kesalahan. “Aku ingin membebaskan sahabatku dari neraka ini,” jawabku dengan berani. “Jalang itu sahabatmu?” tanyanya. “Jangan sebut temanku dengan sebutan itu. dirinya gadis desa yang tak tau apa-apa,” koreksiku. Steve mengangkat bibirnya ke atas sebelah. Alisnya yang tebal itu terlihat Bersatu dengan yang lain. Perlahan tubuhnya bergerak seolah mendekat ke arahku. Aku harus mundur sampai beberapa langkah, hingga pada akhirnya punggungku menyentuh tembok loji yang sangat terasa dingin ini. “Semua wanita pribumi yang masuk di loji ini adalah jalang. Ja-lang,” ejanya. Suaranya sangat lembut persis berada di telinga kiriku. Hembusan nafasnya terasa hangat di area leherku. Aku tidak tahu, bau mulut Steve sangat menyengat. Seperti bau alcohol. “Kau mabuk Steve?” tanyaku padanya dengan mendorong sedikit dadanya yang sangat lebar itu. “Kau yang mabuk. Aku menunggumu hampir setengah hari di bawah pohon asem yang sudah kita janjikan sebelumnya. Namun, kamu tidak ada di sana sampai siang hari. Nyatanya kamu memilih datang ke kandangku. Tidaklah mengapa. Itu sangatlah bagus bukan?” Mulutku menganga. Aku lupa atas janjiku yang seharusnya datang pagi tadi untuk mengembalikan seragamnya. Ohh, rasa-rasanya aku seperti diberikan satu amanah namun aku tidak bisa untuk menjaganya. Begitu terhinanya aku saat ini. “Maaf, aku tidak sengaja melupakan janji itu, aku akan secepatnya mengembalikan seragam tentaramu,” kataku dengan takut-takut. Cup… Aku merasakan bibirku bertubrukan dengan benda kenyal yang hangat. Singkat. Namun aku tak bisa menghilangkan debaran jantungku yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Kulihat manik mata biru Steve yang bersinar. “Mooi meisje, kau memiliki bibir yang sangat indah,” ujarnya dengan memegang bibir kecilku dengan telunjuknya yang begitu besar itu. Aku masih diam mematung. Kesadaranku entah jatuh kemana. Sedetik aku seolah terpana dengan apa yang ada di dalam diri Steve. Sentuhan lembut itu mampu membuatku seolah ikut mabuk. Pipiku panas, aku malu dibuatnya. Tiba-tiba bayangan Mas Sholeh sekelibat menyadarkanku atas masalah besar ini. Bagaimana aku bisa membalas perasaan yang diberikan oleh londo ini terhadapku. Padahal aku sudah akan menjadi istri orang lain. “Maaf, aku harus pergi,” kataku dengan mendorong tubuhnya agak menjauh. Aku mengencangkan larianku, Steve segera menarik tanganku. “Mooi meisje, akan pergi kemana kamu?” tanya Steve “Hari sudah petang. Aku akan pulang segera,” jawabku dengan tegas. Steve melihat sinar matahari yang perlahan hilang di balik pohon-pohon yang menjulang. “Aku akan mengantarkanmu,” ujar Steve, aku menggelengkan kepala. “Kau tidak tau buasnya kawan-kawanku saat melihat gadis manis sepertimu. Atau, kalau kamu mau, kamu akan dibuat mati kelaparan di penjara bawah tanah atas penculikan temanmu tadi,” katanya yang persis sebuah ancaman. Aku tidak bisa apa-apa selain mengangguk. Steve segera mengambil tanganku, dirinya lalu menggandengnya seolah aku adalah miliknya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD