“Kau tak memakai alas kaki apa pun?” tanya Steve melihat arah kakiku.
“Aku sudah terbiasa dengan ini,” jawabku singkat.
“Di malam hari seperti ini ada banyak duri di jalan yang bisa membuat kakimu terluka.”
“Aku sudah terbiasa seperti ini, Steve,” sahutku.
“Naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu!” titahnya.
Aku menggelengkan kepala, tanda penolakan.
“Jangan membantah!” Steve berkata dengan gurat ototnya yang bisa aku lihat.
Steve adalah seorang londo yang sangat keras hatinya. Bangsa Eropa selalu saja membanggakan darah Eropanya. Jumawa dengan perintahnya yang tidak mau ditolak oleh siapa pun.
Aku pun dengan berat hati naik ke punggungnya yang begitu lebar itu dengan perasaan ragu-ragu. Jiwanya hampir serupa dengan Mas Subekan. Kedua laki-laki yang tidak akan membiarkan kakiku kotor menginjak tanah. Dari belakang tubuh laki-laki londo itu, aku seakan terperdaya dengan aroma maskulinnya kembali.
Di jalan, kami tidak banyak bicara. Aku lebih banyak diam. Barangkali londo yang menggendongku merasakan beratnya beban tubuhku yang ada, hingga dirinya ikut diam dan seolah mengatur nafasnya agar teratur.
Sekali-kali memang londo harus diberikan pelajaran.
Sekitar satu kilo berjalan, Steve menurunkan diriku dengan pelan-pelan. Agaknya memang londo ini memiliki rasa terhadapku. Apapun yang dilakukannya seolah tulus untuk menghormatiku.
“Kau cinta terhadapku?” tanyaku setelah aku berhasil turun dari punggungnya.
“Iya, mooi meisje, bagaimana aku tak mencintaimu. Kau adalah wanita pribumi yang berani. Aku jatuh cinta dengan keberanianmu,” katanya dengan nada memelas.
Aku tak bisa memungkiri, agaknya rasaku juga sama dengannya. Namun, sebagai wanita Jawa yang selalu senantiasa menjunjung tinggi darah Jawa, aku tidak boleh terbawa suasana. Bulan yang masih indah merekah itu, memantulkan sinar di kornea berwarna biru milik Steve, di sana menyiratkan akan ketulusannya dalam mengatakan rasanya itu padauk.
“Namun, aku tak bisa untuk bersamamu, maaf,” kataku dengan langsung berlalu pergi darinya.
Tanganku lagi-lagi dicekal.
“Mengapa?” tanyanya dengan seolah tidak terima dengan penolakanku.
“Mooi meisje, kau adalah satu-satunya pribumi yang aku cintai. Tiada yang lain,” ujarnya. Tanganku dengan lembut ditarik, dicucupnya pelan-pelan. Pupil matanya tidak sedikit pun berpaling dari mataku.
Ohh Tuhan, baru kali ini aku mendapatkan kecupan manis dari seseorang yang juga aku cintai.
“Maaf Steve. Aku tidak bisa. Aku harus pulang,” kataku sembari menggeser tangannya dengan lembut dari genggaman tanganku.
Aku pergi meninggalkannya dengan rasa kecewa. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri jika aku benar-benar mencintainya. Terlebih dari apapun.
***
“Jumani tadi mengetahui dirimu datang ke loji londo, benar?”
Ku tahu Mas Subekan sedang marah terhadapku. Tak pernah aku pulang setelah matahari hilang seperti ini. Aku sangat takut jika Jumani mengetahui aku bertemu dengan Steve.
“Sati hanya ingin bertemu dengan Fatonah. Tidak ada yang lain. Sati ke sana untuk itu,” jawabku dengan meremas ujung kebayaku sehingga membentuk sebuah lintingan kecil. Aku tak bisa menatap mata Mas Subekan yang sedang marah.
“Lekas sholat. Kau telah meninggalkan Ashar dan juga maghribmu!” perintahnya.
“Enggeh Mas,” jawabku berlalu meninggalkan Mas Subekan dengan amarahnya.
Pertemuanku dengan Fatonah tadi, ternyata telah diketahui oleh Mas Subekan. Dinding rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu bisa dengan mudah aku dengarkan perbincangan antara Bapak dan juga kakak laki-lakiku itu.
Mereke berdua terdengar serius membicarakan tentang bertemunya diriku dengan londo.
“Nduk sudah selesai?” tanya Ibu dari depan pintu. Aku langsung bangkit dari menguping di dinding sesek.
“Sudah Bu. Ada apa ya?” tanyaku dengan takut-takut.
Tubuhku masih berselimut mukena, bagian yang bawah juga masih bersarung.
“Ibu boleh masuk?” tanya Ibu selanjutnya. Tentu saja aku mengangguk.
Aku melepas mukenaku dulu. Sedang Ibu hanya duduk diam. Pandangannya menyisir seluruh penjuru kamar.
“Ada apa Bu?” tanyaku ketika aku sudah selesai. Aku duduk di samping Ibu.
“Nduk, tadi Kyai Syukur ke sini dengan Umi Amanah, mereka memberikan ini untukmu.” Ibu menerogoh sesuatu dari balik jariknya. Ujung jariknya yang dibebet di atas pusar itu biasa digunakan menyimpan koin. Kali ini berbeda. Sebuah liontin emas terlihat anggun di atas telapak tangan Ibu yang kering.
“Ka-kalung Bu?” aku tergagap melihat liontin itu.
Memakai perhiasan, bagi rakyat jelata bagi kami adalah sesuatu hal yang sangat luar biasa. Lihatlah di kedua telinga kami. Hanya ada lidi yang digunakan agar lubang untuk anting tidak terbumpet.
Sesederhana itu memang, berharap jika sudah bertemu dengan jodohnya akan dihiasi oleh mereka. Begitulah cara kami bergantung kepada orang lain.
“Ohh maksudnya seperti apa Ibu? Tidakkah Mas Sholeh lebih baik menyimpannya untuk nanti ketika dirinya satu rumah dengan Sati?”
Ada banyak orang yang memberikan perhiasan untuk calon istrinya seperti ini. namun bagiku, sebelum akad diijabkan, aku akan tetap berdiri tegak tidak mau menerima apapun dari orang lain.
Kalian tahu soal pelet dan susuk? Aku takut akan hal itu.
“Jika yang kau khawatirkan soal harga diri, kau boleh untuk mengenyampingkan harga diri kamu Nduk. Kamu sudah dipinang, sudah selayaknya kamu diberikan perhiasan seperti ini.”
Ibu mencoba untuk meyakinkanku agar mau menerima perhiasan dari Mas Sholeh itu.
Aku tetap pada pendirianku. Menggelengkan kepala untuk menolak pemberian perhiasan itu.
“Jika Ibu bisa menyimpannya, tolong, Ibu saja yang menyimpan. Aku tidak akan menyimpan barang punya siapapun di kamar Sati,” kataku dengan nada tegas.
Ibu mengambil perhiasan itu dari tangan kanannya. Dengan senyuman dirinya memasukkan perhiasan itu kembali ke bebetan jarik yang digunakannya.
Aku tersenyum sekilas.
“Yo wis Nduk, kalau itu yang kamu inginkan. Satu hal yang harus kamu ingat. Jadi manusia harus bisa tegas dengan apa yang dikatakannya. Terkhusus wanita. Karena salah satu penghuni terbanyak di neraka adalah wanita yang tidak bisa menjaga mulutnya.
Ibu sudah mengetahui apa yang ada di dalam lemarimu. Kamu tidak bisa menyembunyikan sesuatu apapun dari hati Ibu,” kata Ibu langsung beranjak keluar dari kamar.
Aku tercengok sebentar. Sembari berpikir apa maksud dari perkataannya itu, aku pun baru tersadar. Jika aku mempunyai salah satu barang di lemari. Adalah baju tentara dari serdadu yang bernama Steve.
Ibu sudah mengetahuinya?
Bisa jadi, ini adalah kiamat untukku. Bagaimana mungkin aku menolak perhiasan dari calon suamiku, sedangkan di lemariku ada baju dari lelaki lain yang bahkan tidak mempunyai ikatan apa pun denganku.
Ohh Gusti, tolonglah aku.