Kami wanita, ketika jatuh di tangan pribumi akan dibelenggu dalam tradisi. sedang ketika jatuh di tangan londo, akan disekap dan ditelanjangi dalam tangsi-tangsi.
Aku tak bisa untuk menyembunyikan semuanya. Orang tuaku sudah tahu tentang hal ini. tentang perasaanku kepada Steve yang tidak bisa aku tutupi dari apapun. Hal ini tentunya membuat amarah Mas Subekan meluap-luap. Dirinya seperti seseorang yang kesetanan saat mengetahui ada pakaian di lemariku.
“Siapa Namanya? Jawab Sati!” bentakan demi bentakan aku terima dari kakak laki-lakiku.
Aku tidak bisa menjawab apapun. Aku adalah seseorang wanita yang kuat. Namun, sekuat-kuatnya wanita, ketika dibentak seperti ini, akan luruh juga tangisnya.
Kulirik raut Bapak yang lebih kepada berserah dengan apa yang terjadi. Dan Ibu yang tidak bisa menahan rasa bersalahnya. Wanita paruh bay aitu menangis dengan suara yang ditutupi oleh tangan kanannya.
“Jawab!” sekali lagI Mas Subekan memberikan nada bentakannya.
Aku terkesiap sebentar. Dan memandang wajah kakak laki-lakiku itu.
“Steve Mas, Namanya Steve,” kuucapkan nama itu dengan kesedihan yang tiada pernah aku sangka akan seperti ini.
“Kamu cinta sama londo itu Nduk?” tanya Bapak kali ini dengan nadanya yang lebih lembut dari semua orang.
Aku menggeleng dengan tegas.
“Ndak Pak. Sati hanya ditolong selepas Sati akan diperkosa oleh salah satu dari serdadu,” jawabku dengan tangisan.
“Mas tidak percaya. Setelah kau ditolong, terus kalian diam-diam bertemu di loji, dan tadi kamu diantar oleh londo thengik itu! kau kira Mas tidak tahu?” tegas Mas Subekan sekali lagi.
“Tidak Mas, Sati ke loji hanya untuk menemui Fatonah. Tidak lebih dari itu. dan selanjutnya, entah secara kebetulan saja, Sati bertemu dengan Steve dan diantarkan pulang,” jawabku dengan tidak ada keraguan sedikit pun.
Isak Ibu tidak terdengar lagi. Barang kali dirinya telah menerima semua yang ada. Termasuk juga tentang seragam itu.
Semua orang yang berada di ruang tengah lalu bubar kepada kamar masing-masing. Kecuali dengan diriku yang masih duduk di atas tanah dan bersimpuh. Bayang-bayang Mas Subekan telah hilang. Dan aku pun mulai untuk beranjak dari tempat itu.
***
Malam berbisik sendu. Udara yang menerpa membuat anak-anak yang berada di langar agak kedinginan. Lihatlah baju yang kami kenakan untuk mengaji. Warnanya sudah pudar karena termakan oleh usia dan pemakaian.
Satu lagi yang membuat baju itu terlihat tidak pantas adalah ketika yang mengenakan memiliki badan yang kecil dan tidak berdaging. Jatah mereka makan seperti jatah yang lain. Dibagi-bagi dengan saudara kandung atau tiri mereka yang lain. Jumlahnya bisa sampai selusin.
Aku beruntung, terlahir dengann tidak memiliki adik banyak-banyak. Karena yang pastinya, pendidikan dan semua hal yang ada di dunia ini, hanya akan dibagi dua oeh orang tuaku. Yakni kepada Masku dan diriku sendiri.
Ohh iya, aku juga ingin mengatakan. Semua orang di sini, mengatakan jika banyak anak akan banyak rezeki. Meski pun peribahasa ini selalu saja membuat semua orang yang memiliki banyak anak akan optimis akan rezeki itu sendiri. Ketahuilah, jika aka nada banyak anak yang mati kelaparan karena harus berbagi dengan saudaranya yang lain.
Itu miris. Kau bisa lihat Amir, anak berusia tujuh tahun dengan dagu dengan rambutnya yang kemerahan karena kebanyakan berenang di sungai. Dii dalam rumahnya ada sekitar selusin saudara. Dia adalah anak terakhir. Anak yatim yang karena harus ditinggalkan Bapaknya. dan dirinya hanya sanggup untuk menggunakan pakaian yang ditambal beberapa kali dengan sarung usang.
“Lho, Zaenab kemana ini?” tanyaku kepada semua anak yang mengaji.
“Mboten semerap Mbak,” jawab mereka serentak.
(Tidak tahu Mbak)
Panggilan Mbak kepadaku dari anak-anak ini adalah karena aku yang menjadi teman sekaligus guru untuk mereka. Mbak dalam istilah ini diibaratkan sebagai seorang saudara kandung. Dan itulah yang aku senangi. Pendidikan dengan berbau Islam akan lebih mudah untuk masuk karena aku menanamkan sifat keluarga yang saling memiliki satu dengan yang lain.
Aneh, memang. Di saat ada santri yang tidak masuk dan teman-teman mereka mengatakan hal tidak tahunya. Padahal rumah mereka saling dekat satu dengan yang lain. Ada apa ini sebenarnya?
“Sepertinya sudah mau kawin,” timpal salah seorang santri yang membuat jantungku berdebar dengan tak terkendali.
“Apa maksudnya Kasiati?” tanyaku.
“Aku diceritain sama Zaenab tentang dirinya yang akan dijodohkan dengan salah seorang teman Emaknya,” jawab Kasiati dengan sangat lugu. Keluguannya terdengar sekali seperti apa yang terjadi sebenarnya. Aku tidak bisa menyangka jika Zaenab benar-benar akan dijodohkan.
Saat ini kami memang masih berada di jilid enam. Masih ada banyak hal yang belum aku dan santri-santri lain pelajari.
Ya, jika di rumah mertuanya nanti, mungkin ada yang disuruh mengaji dan tetap diperintah untuk sholat. Namun, jika tidak? Dan mendapatkan mertua yang tidak terlalu kuat dengan agama, maka anak itu akan sia-sia hidupnya.
“Nanti Mbak coba buat ke sana ya. Kali ini, ngajinya kita akhiri, semoga Gusti Allah senantiasa memberikan kebarokahan untuk kita semua. Dua’an.”
Jumani tidak datang malam ini untuk mengajar mengaji, karena ada masalah di keluarganya. Sedang temanku yang satunya, juga sudah akan kembali untuk bersekolah lagi.
Tinggallah aku sendiri.
Kulihat, seseorang yang persis aku tidak salah mengenalinya berdiri dan menempelkan tubuhnya di sebuah pohon asem.
Dirinya adalah Steve. Aku tahu, jika pasti ada sesuatu yang akan dibuatnya.
Aku menutup wajahku dengan kerudung. Lalu, kakiku melangkah kepada jalan yang lain. Aku sangat terburu-buru. Namun baru beberapa langkah. Steve berlari dan langsung menghalangi jalanku.
“Tolong jauhi aku Steve,” kataku kepada Steve yang saat ini telah berada di depanku.
“I tidak tahu apa yang kamu maksudkan,” jawabnya dengan nada yang penuh kebingungan.
“Menjauhlah Steve. Keluargaku tidak senang denganmu!” bentakku dengan nada kasar.
Laki-laki itu tidak melakukan hal apapun. Matanya hanya memandangku dengan dalam.
“Mooi meisje, apa yang kamu katakan itu? hah? Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Apakah salah?” tanyanya sekali lagi.
Aku menarik nafas dengan berat. Kuhembuskan perlahan dengan berat hati.
“Steve, pergilah. Orang tuaku akan memarahiku saat mereka tahu aku jika bersamamu. Aku tidak perlu kau antar. Aku bisa menemukan rumahku sendiri.”
“Ohh, jadi itu maumu mooi meisje. Oke. Aku akan pergi menjauh dari kehidupanmu. Namun, izinkanlah aku sebentar menengok keluargamu. Barang kali ini yang terakhir.”