Semua hal yang bernama cinta dan ketertarikan memang tidak ada jauh bedanya. keduanya kadang ikut terbaur satu sama lain. Dan membuat beban tersendiri bagi siapa saja yang menyangganya.
“Apa yang kau katakan Steve? Bisa jadi mereka akan membunuhmu nanti.”
Steve memandangku dalam. Dirinya tak terus bersuara. Alis matanya naik sebelah. Dan aku tidak tahu apa artinya itu. Lalu ketika aku pandang dirinya dengan lebih dalam juga, malah dirinya tersenyum.
“Aku lebih baik mati, karena memperjuangkan cintaku Ara, daripada diriku yang harus kehilangan dirimu,” lanjutnya kembali.
“Kau bisa ambil wanita pribumi manapun Steve. Tapi tidak bisa dengan diriku. Aku sudah milik orang lain,” kataku.
Mata dengan kornea biru itu pun meredup. Persis seperti putri malu yang terkena sentuhan.
“Mengapa?” tanyanya.
“Aku sudah akan menjadi milik orang lain. Pernikahan akan digelar beberapa bulan lagi,” jawabku.
Steve hanya diam. Lalu pundaknya naik sebelah. Kornea matanya kian meredup.
“Baiklah, jika itu maumu. Aku akan mencari penggantimu saja. Masih ada banyak wanita yang bisa aku taklukkan,” katanya dengan nada jumawanya itu.
Steve lalu berjalan menjauh. Tanpa kalimat perpisahan atau apapun itu. punggungnya yang biasa terlihat gagah, namun malam ini terlihat turun itu seakan bercerita. Tentang beban dan kepahitan yang ia dera karena cinta.
Aku berjalan dengan cepat selanjutnya. Semua hal yang bernama cinta dan ketertarikan memang tidak ada jauh bedanya. Hanya saja memang keduanya kadang ikut terbaur satu sama lain. Dan membuat sebuah beban tersendiri bagi siapa saja yang menyangganya.
“Assalamu’alaikum, lho Buk. Ini ada banyak wingko dan kue basah mau diantar ke mana?” tanyaku kepada Ibuk ketika melihat ada banyak jajanan pasar di depan rumah.
“Waalaikumsalam. Sudah sana ganti pakaian dulu Nduk,” kata Ibu dengan nada yang cemas.
Aku langsung buru-buru masuk ke dalam. Mengganti pakaianku. Menyanggul rambutku seperti biasa.
“Nyai Lasipah pesan banyak jajanan pasar malam ini. karena dirinya yang memaksa buat menerima uangnya di pasar sore kemarin, Ibu terpaksa menerima uangnya. Karena memang tidak ada pilihan lagi Nduk.
Tapi masalahnya sekarang Masmu belum pulang. Agaknya memang Masmu akan tunggu sawah sampai pagi mengingat tikus di sana ada banyak. Bapakmu juga akan pulang tengah malam nanti karena harus darus di rumah Pakdhe Jadhi yang ditinggal meninggal istrinya tujuh hari lalu.
Nyai Lasipah belum ke sini. dan takutnya kalau kemalaman nanti kuenya nggak kemakan. Terus gimana ini Nduk?” tanya Ibu dengan nada paniknya.
Batinku membatin dengan sangat susah. Apa-apaan ini. mengapa harus ada kondisi seperti ini. Loji dan segala hal yang berhubungan Steve bukanlah harus aku hindari dengan segera. Karena itu sangat berbahaya untuk diriku. Lalu, jika diberikan masalah seperti ini, aku bisa apa.
Makanan bagi kami adalah hal yang diagung-agungkan. Karena memang memakan kue seperti ini juga hal yang cukup mewah bagi kami. Yang lebih berat adalah karena tidak bisa mengemban amanah dari orang lain. Setelah dititipi uang dan tidak bisa untuk memberikan makanan yang dipesan.
“Kalau gitu, kamu saja ya Nduk. Berangkat sama Paklikmu Yayan. Coba biar Ibu yang bilang ke orangnya,” ujar Ibu yang langsung gugup ke rumah Paklik yang ada di sebelah.
Tidak lama, Ibu datang bersama Paklikku yang masih bujang itu. dirinya sudah siap dengan sepeda ontel yang dipunyainya.
“Sudah Nduk. Ndang cepet berangkat, nanti keburu kemalaman,” kata Ibu yang langsung aku menyambut tangannya dan berpamit dengan terburu-buru.
“Hati-hati ya Nduk, Waalaikumsalam!” pekik Ibu sembari melambaikan tangan.
Jalan yang kami lewati, persis dengan jalan yang pernah aku lewati bersama dengan Nyai Lasipah. Memang tidak terlalu gelap karena bulan masih belum terlalu hilang dari peredaran. Namun tetap saja, jalan bergelombang dan hal apapun seperti tiba-tiba ada ular sawah yang melintas membuat aku terkejut.
Untungnya Paklikku bisa membawa sepeda ontel dengan baik. Jadi kami tidak sampai terjatuh.
“Masya Allah, ini tempat londo itu ya Sati?” tanya Paklikku ketika kami telah sampai.
“Iya Paklik. Benar,” jawabku sekenanya sembari merapikan jarikku yang agak tersingkap karena perjalanan.
“Kalau gitu Paklik nunggu di sini saja ya Nduk. Kamu ke dalam. Berani kan?” tanya Paklik.
Aku tersenyum kikuk. Paklik mungkin belum tahu kalau sebenarnya akua da masalah besar dengan salah satu londo yang ada di sana.
“Eumm Paklik, sebenarnya—” kataku menggantung.
“Nah itu, Nyai Lasipah. Nyai! Nyai!” panggil Paklik Yayan dengan suaranya yang keras.
Perempuan dengan rambut terurai dan baju berenda itu pun datang yang tentunya dengan langkah menggoda. Tak lupa, aku dengan salah satu giginya yang berwarna emas, dan tusuk kondenya dengan warna yang sama.
“Loh Yayan. Makin ganteng aja kamu Yan,” ujar Nyai Lasipah dengan gemulainya menunjuk Paklikku.
Aku sebagai perempuan memelototkan mataku ketika melihat Nyai Lasipah seperti itu. sedangkan, Paklikku, dirinya senyum-senyum dan merasa senang ditanyai wanita seperti ini. tentu saja, karena dirinya yang joker alisan joko kerak dan masih membujang di usianya yang akan menginjak kepala empat. Ohh, sungguh, yang bisa aku lakukan saat ini hanya geleng-geleng kepala.
“Ehm,” pada akhirnya aku memilih untuk berdehem. Membuat suasana yang awkward menjadi suasana yang lebih focus kepada hal yang menjadi tujuan kami untuk datang kemari.
“Owalah. Larasati. Sejak kapan kamu di sini Nduk?” tanya Nyai Lasipah.
Aku yang akan menjawab langsung ditubruk dengan ucapannya lagi.
“Ohh, iya. Langsung masuk Nduk. Ayo langsung masuk. Bawa kuenya masuk,” pinta Nyai Lasipah yang membuatku bingung.
“Kenapa tidak Nyai bawa sendiri?” tanyaku dengan tak suka.
Pandangan Nyai Lasipah seolah tidak suka kepadaku. Namun aku tetap tersenyum seolah bersikap membodoh.
“Kalau begitu, biar aku saja Nyai.” Sanggah Paklik ikut-ikut.
Aku langsung melayangkan pandangan yang tidak suka kepada Paklikku yang genit itu.
“Sudah, biar Sati saja kalau begitu,” tukasku yang langsung membawa tampah berisi jajanan pasar itu.
Nyai Lasipah berjalan terlebih dahulu. Dan aku menguntit di belakangnya. Suasana hampir sama dengan waktu pertama kali aku masuk ke dalam ruangan yang sama.
Ohh, tidak-tidak. Ini malah lebih ramai. Lampu yang bersinar di loji-loji depan. Saat ini hanya temaram di dalam ruangan. Dengan music yang tersetel di sebuah alat music. Beberapa di antaranya ada yang membawa pasangannya untuk berjoget. Yang lainnya, saling mengobrol dan b******u dengan lawan jenisnya.
Ini pemandangan yang membuat mata pedih melihatnya.
“Nduk, seperti biasa ya. Tata kuenya di ujung sana dengna rapi. Kalau sudah nanti kamu bisa pulang. Nyai tinggal dulu ya,”
“Nyai sebentar. Soal jumlahnya bagaimana? Nggak dilihat dulu?” tanyaku mencegah Nyai Lasipah yang telah melangkah satu langkah menjauh.
“Sudah. Nyai percaya dengan Ibumu. Taruh saja di sana,” kata Nyai Lasipah dengan senyumannya. Tangannya yang mulus itu memegang lenganku.
“Ohh iya Nyai,” kataku.
Perempuan itu lalu hilang di balik punggung orang-orang yang saling berdansa.
Aku menata kue yang dibuat Ibu dengan baik di meja yang telah ditunjuk oleh Nyai Lasipah sebelumnya.
Ketika pandangku beralih, karena telah selesai menyelesaikan pekerjaanku, betapa terkejutnya diriku saat melihat laki-laki dengan rambut kuning ke merahan yang tengah duduk di sofa dan di depannya sudah ada perempuan binal yang duduk di pangkuannya. b******u satu dengan yang lain dengan Hasrat yang memburu-buru.
Ohhh, betapa sakitnya hatiku saat mengetahui Steve yang melakukan perbuatan keji itu dengan wanita lain.