"Yang terburuk dari adegan-adegan di panggung itu adalah orang menjadi begitu terbiasa dengan kebohongan sehingga mereka terbiasa melontarkan kekaguman dan bertepuk tangan"
(Dr. Eduard Dowwes Dekker dalam bukunya Multatuli)
“Loh, loh, loh kok murung begitu. Ada apa memangnya di dalam?”
Paklik Yayan tidak akan tahu apa yang sedang kualami. Dengan rautnya yang seolah tidak tahu apa-apa itu, dirinya bertanya kepadaku. Padahal jelas-jelas sudah terlihat di wajahku kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Dirinya masih saja bertanya.
“Ayo pulang, tidak ada apa-apa,” kataku kemudian. Paklik Yayan hanya menurutiku, dan memutar sepeda ontelnya dengan berat hati. Ada sesuatu yang ingin dilihatnya lebih dari tempat terkutuk itu.
Aku tidak memandang lagi tempat itu, sudah terlalu jengkel dan kesal. Bolehkah aku patah hati? Tentu saja. Saat perempuan telah mendapatkan kalimat manis dari seseorang, pastilah dirinya akan senang dibuatnya. Itu sudah berdasarkan teori. Siapa pun yang dicintai, pasti akan membalas dengan cinta yang sama.
Ohh, apa aku dibual saja. Atau hanya Steve mengambil manfaat dariku. Rasanya masih belum bisa ikhlas. Ada rasa yang ingin menarikku ke tempat itu lagi, mendengar apa yang akan dirinya katakan untuk berlindung di balik alasan.
“Araa!” seperti ada seseorang yang memanggilku. Aku tidak menghiraukannya.
“Lintang ing angkoso (bintang di angkasa)
Katon sumebyar ning dodo (terlihat bertaburan di d**a)
Nalikane, mrih sliramu (ketika dirimu)
Neng ngarepe motoku (di depan mataku)
Nanging, jarak (namun jarak)
Kang misahne rogo iki (yang memisahkan raga)
Saiki, kudu ikhlas ati” (Sekarang hati harus ikhlas)
Paklik Yayan mendendangkan lagu yang cukup enak didengar. Maknanya seakan masuk ke dalam sukmaku. Ohh, itu seperti lagu yang cocok untukku saat ini. Nada dan isinya sangat kental dengan suasana sedih ditinggal ke kasih.
Jika Steve adalah bintang yang jauh, izinkan aku yang kerdil ini bisa menggenggam bulan itu. Meski tak punya tangan yang panjang, setidaknya aku punya hati yang bisa untuk menerimanya kembali. Ketahuilah, menyimpan rasa yang ada di dalam hati adalah hal yang cukup sulit.
Aku terisak mendengar nada demi nada yang terlontar di mulut Paklik Yayan. Dirinya adalah pujangga. Penyair dan sastrawan desa yang selalu menciptakan karya dalam bentuk lagu atau puisi.
Seperti nadanya kali ini. Tangisku tidak terbendung. Suasana hatiku remuk seperti dihantam gada berkali-kali.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke dalam. Tanpa salam atau pun berbicara kepada Ibuku yang khawatir dengan kedatanganku. Paklik Yayan yang dicecar pertanyaan. Aku tidak menjawabnya dan memilih untuk langsung membaringkan tubuhku di atas bayang kamar. Menyimpan tangisku di bawah bantal dan sedikit menjerit untuk menghilangkan rasa sesak yang ada di dalam dadaku.
“Nduk, Sati. Ada apa lho?” Ibuku masih ingin mengetahui apa yang terjadi.
“Sati cuma capek Bu, Ibu tenang saja. Sati hanya mau istirahat sekarang,” kataku kepada Ibuku.
Malam panjang dengan tangis. Hatiku sedang patah.
***
Aku terbangun saat mentari telah berkacak pinggang di setengah tombak. Aku tidka melakukan sholat subuh, karena aku ada halangan. Emosi yang tidak stabil membuat diriku hanyut dalam kemalasan. Ibu membiarkan aku tidur karena mengira diriku yang benar-benar lelah. Dan sudah menjadi kebiasaaanku, ketika haid di hari pertama, aku akan sangat kerepotan. Entah yang mengeluh perut nyeri, p******a yang sakit, tulang punggung yang seperti digepuki orang sekampung, dan betis yang terasa berat untuk melangkah. Ibu memberikan dispensasi untukku tidak bangun sangat pagi.
“Ibu ke mana Pak?” tanyaku kepada Bapak yang saat ini sedang sibuk dengan tulisannya.
Bapak menengok diriku sebentar, lalu pandangan matanya mengarah ke arah kamar Ibu.
“Ibukmu sakit. Kecapean,” ujarnya dengan senyuman.
Aku langsung berjalan ke kamar Ibu. Melihat orang tuaku yang biasanya tersenyum ceria, saat ini hanya terbaring lemah di atas bayang.
“Ibu sakit?” tanyaku.
Beliau mengangguk dengan batuk yang begitu keras. Dadanya yang naik turun menandakan dirinya sedang sesak napas.
“Nggak apa-apa nduk,” ujarnya dengan nada yang terputus-putus. Mencoba untuk membuat napasnya tidak memutus suaranya itu.
“Kamu mens kan? Pakaian yang kotor besok saja dicuci. Kamu istirahat dulu saja,” ujar Ibu kepadaku dengan belaian tangannya yang lembut di lenganku.
Selambu kusingkap, mataku menjurus kepada bak besar yang ada di sana dengan banyak tumpukan baju kotor.
“Sati nggak sedang sakit kok. Mungkin besok sakitnya,” kataku kemudian. Aku saat ini menahan mati-matian segala rasa yang ada di dalam tubuhku. Jika tidak aku yang akan menuntaskan segala pekerjaan rumah, lalu siapa lagi. Ibu sedang sakit, tidak sopan rasanya jika melimpahkan pekerjaan kepada Bapak atau Mas Subekan. Meski bisa saja, namun tidak etik. Aku masih teringat bayangan saat aku dan Ibu ke rumah Mbah Buyut karena Mbah Buyut sakit. Dan Mas Subekan yang mencuci baju di kali. Dirinya diteriaki oleh ibu-ibu sebagai seseorang yang kebencongan. Sudah cukup saat itu dirinya marah. Jangan lagi.
“Sati berangkat ke kai ya Bu, Ibu jaga diri baik-baik,” kataku pada akhirnya.
Sebuah wedang jahe sudah berada di atas lemari kayu, itu tandanya, ibu sudah dibuatkan wedang oleh Bapak. Aku tidak perlu membuatnya lagi.
Dengan langkah gontai aku membawa pakaian yang menggunung. Sedikit mendung di pagi ini membuat langkahku ikut pendek. Tidak ingin terburu diriku. Sakitnya badanku sangat terasa.
Kulihat Jumani yang telah pulang dari kali. Dirinya sudah mandi juga. Aku terlambat.
“Kok baru kelihatan Sati?” tanyanya kepadaku.
Aku hanya mengangguk. “Iya, Ibu sakit,” jawabku sederhana.
“Eh, eh, eh, itu mata jadi benjol gitu habis ditonjok sama siapa?” tanya Jumani mengomentari mataku.
Seketika aku langsung memegang kedua mataku. Sembab, habis nangis.
“Atau jangan-jangan. Kamu nangis ya Sati semalam. Iya kan, nangis. Ehh nangisi siapa? Mas Soleh iya? Atau, si londo itu. Siapa namanya, Steve, iya Steve,” ujar Jumani seolah tidak mengerti aturan. Dua orang yang ada di antara mereka melihatku dengan tatapan merendahkan.
“Owalah, benar Sati kamu disukai sama londo ihh amit-amit jabang bayi. Jangan sampai nasibku kayak Fatonah. Dijual Ibu Bapaknya untuk dapat uang banyak. Mewah sih, tapi ya jadi gundik,” timpal satu orang yang ada di belakang Jumani. Aku tak kuasa untuk tidak marah.
“Permisi, aku pamit dulu. Nanti nggak selesai-selesai,” jawabku langsung pergi dari mereka bertiga yang jago ngerumpi.
Aku tidak bisa memaksa mereka untuk tidak bicara, namun setidaknya mereka tahu tentang perasaan seseorang. Bayangan Steve tiba-tiba terlintas begitu saja. Entah ini halusinasi atau imajinasiku.
Sosok Steve seakan berlari ke arahku. Pria yang sedang berdiri di bawah pohon bambu seakan mengejarku.
Apa yang akan dilakukannya kepadaku kali ini? Sungguh, aku tidak siap bertemu dengannya hari ini. Setelah diriku mengetahui dirinya berbuat tidak senonoh kemarin.