7

1173 Words
‘Apartement Ginaya nomor 150. Datanglah secepatnya sebelum korban berjatuhan!’ tulis surat itu. Mood Dea langsung turun drastis saat mendapat ancaman itu. Kata-kata yang sangat ia benci, cara yang licik untuk memancingnya keluar dari kandang. Ini benar-benar menyebalkan. “Panggil Toni sekarang!” perintah Dea pada Mrs Asih yang setia mendampinginya. Perempuan itu langsung melesat menjalankan perintah dari majikannya. Kepergian wanita paruh baya itu, membuat Dea langsung menyambar smartphone yang tergeletak di sampingnya. Sambungan telepon yang berdering cukup lama membuat Dea mengumpat berkali-kali. “Hallo...” suara serak terdengar di seberang. “Apa kamu yang mengirim surat ini! Apa maumu sialan!” bentak Dea. Emosinya kini tersungut seperti bara api. “Surat apa? Kenapa pagi-pagi sudah marah?” “Berhentilah berbohong Mr Bad. Aku tau ini ulahmu.” “Ya tuhan. Aku bahkan tidak tau surat apa yang kamu maksud Dea. Coba fotokan isinya, aku akan mencari tau siapa yang mengirim surat itu.” Dea terdiam mendengar perkataan Mr Bad. Lelaki menyebalkan itu mengatakan semuanya dengan jujur. ‘Berarti bukan Mr Bad. Lalu siapa?’ batinnya menerka kemungkinan yang terjadi. Pikirannya hanya tertuju pada orang yang diteleponnya. ‘Apa pria yang kemarin berdebat denganku di rumah sakit?’ terkanya. “Hallo Dea. Apa kamu masih ada di sana? Cepat kirimkan sekarang, aku akan mengatasinya-” Tanpa menjawab pertanyaan Mr.Bad. Dea langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. “Sial! Kenapa ada teror seperti ini.” Dea nampak frustrasi meremas surat di tangannya. Ada satu foto yang membuat emosinya membeludak, wanita tengah terbekap dengan tubuh yang terikat di sebuah kursi membuatnya bergidik ngeri. “Permisi Mrs. Dea,” suara lelaki itu membuyarkan lamunan wanita di depan meja rias. “Tutup pintunya!” Dengan segera Toni menutup pintu kamar, dan Mrs Asih terpaksa menunggu kedua orang itu di luar. “Apa kau tau siapa yang mengirim surat ini? Lihat tanda tangan di bagian bawah.” Dea menyodorkan sepucuk surat dan foto itu kepada Toni. Lelaki itu meneliti setiap detail dengan rinci. Ia bahkan membolak-balikkan kertas itu berkali-kali. “Tidak tahu Nyonya.” Dea mendengus mendengar jawaban Toni. Emosinya benar-benar diuji kali ini. Foto itu berhasil memprovokasi dirinya. Degup jantungnya melaju seiring amarah dalam hatinya. “Kurang ajar!” Wanita itu menggertakkan giginya, Toni yang berdiri di sampingnya langsung mundur. Takut jika wanita itu akan kehilangan kendali dan memukulinya. Lelaki itu sudah tau watak majikannya bahkan sebelum ia bekerja. Itu semua sudah dipelajarinya beberapa bulan lalu, bahkan ia harus menghafal apa yang disukai dan tidak disukai Dea. “Saya akan menyiapkan mobil Nyonya. Saya tunggu di bawah.” Toni segera kabur sebelum amarah wanita itu memuncak. Mrs Asih yang berada di depan pintu merasa bingung mendapat kode dari lelaki itu. Toni menyuruh wanita itu agar segera menjauh dari kamar majikannya. “Cepat lari Mrs Asih!” Sayangnya perempuan paruh baya itu tak mengerti maksud dari Toni dan memilih menunggu majikannya untuk keluar dari kamar. Brakkk...! Bantingan pintu tersebut sukses membuat Mrs. Asih terkejut, ia memegang dadanya yang beritme cepat. “Aku harus pergi.” Dea berjalan cepat meninggalkan wanita itu. “Tapi Madam.” Mrs. Asih mencoba menghalangi Dea tapi tak sanggup. Ia memilih mengikuti langkah majikan lewat belakang. Ketika akan keluar dari rumah, Dea berpapasan dengan Aiden. “Mau ke mana?” tanya lelaki itu dengan suara ramah dan senyum lebar. ‘Tidak seperti biasanya,’ batin Dea yang merasa aneh dengan gaya bicara Aiden. “Bertemu teman.” “Hati-hati.” Tak menggubris Aiden, Dea langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan Toni. “Ke alamat yang ada di dalam surat Madam?” “Ya. Cepat!” Mobil buntut itu langsung melaju dengan cepat memecah jalanan yang lumayan padat di Semarang. Aiden terhenti sebentar melihat kepergian istri kontraknya, karena moodnya sedang bagus ia tak memberikan komentar apapun dengan sikap Dea yang sebenarnya kurang sopan. “Mrs. Asih, siapkan camilan dan kopi. Akan ada tamu yang berkunjung,” perintah Aiden. Pria itu langsung menuju kamar pribadinya. Merebahkan tubuhnya sembari mengingat dinner romantisnya bersama Wendy. “Baru berpisah sebentar aku sudah rindu seperti ini. Tunggu dua tahun lagi Sayang,” gumam Aiden menatap langit-langit kamar. Mrs. Asih langsung menjalankan tugas yang diberikan tuannya. Beberapa pelayan langsung dikoordinasi menyiapkan hidangan untuk tamu. Sedangkan perempuan paruh baya itu menuju ruang kerja majikannya guna menaruh dokumen-dokumen yang baru saja diserahkan padanya. *** Suara bel dari kemacetan menambah ramainya pagi ini. Dea semakin emosi karena mobil melaju dengan lambat. Sedangkan Toni sudah pasrah menghadapi kemarahan majikannya. Ketika mobil sudah terparkir, perempuan itu langsung menuju apartemen bernomor 150. Toni mengikutinya di belakang sembari membawa senjata dalam rompinya. Ini bertuan untuk menjaga keselamatan majikannya. Tugasnya bukan hanya sekedar sopir, melainkan bodyguard juga. “Saya ijin berjalan di depan Madam.” “Tidak, biar aku saja. Kamu cukup pastikan keamananku di belakang.” Dengan bibir mencebik, Toni terpaksa menuruti perintah Dea. Pintu apartemen nomor 50 itu sedikit terbuka. Kening Dea berkerut melihat kejanggalan tersebut. Berbagai pikiran buruk keluar masuk ke dalam otaknya. ‘Kenapa tempat penyekapan terlihat sangat aneh. Bahkan pintu itu tak dikunci?’ bingung Dea. Namun, karena tak sabar wanita itu langsung masuk. Matanya menelusuri keadaan sekitar, tak ada siapapun. Kakinya mulai melangkah ke dalam, dengan mata yang waspada takut ada jumpscare. Ujung matanya menangkap siluet seseorang, ia segera berlari menghampirinya. Dan benar saja, terlihat seorang wanita yang terikat di kursi. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Dea pada wanita itu. Ia melangkahkan kakinya secara perlahan menghampiri korban. “Dasar bodoh! Kenapa kau datang ke sini!” teriak lawan bicaranya. Mata Dea terbelalak mendengar bentakan itu, bukannya berterima kasih wanita itu justru memakinya. Ini sangat melukai hatinya. “Hallo, aku di sini untuk menyelamatkanmu.” “Aku tak butuh. Cepat pergi dari sini sekarang!” “What!?” “Pergi!” Plok-plok-plok, suara tepuk tangan itu membuat kedua orang yang sedang bersiteru langsung menoleh. Seorang lelaki berbadan tegap sedang berjalan ke arah mereka. Toni yang berada jauh dibelakang Dea langsung menghampiri majikannya, tak lupa pistol yang sedari ia pegang kini mengarah pada orang tersebut. “Umpanku sangat menggoda bukan?” tanya pria itu dengan bibir tersenyum lebar. Sebagian wajahnya tidak bisa terekspos karena orang itu memakai topeng di bagian wajah atas, menyisakan lubang mata untuk jalan pengheliatannya. Mendengar suara serak itu, mata Dea sontak melebar. ‘Suara ini!’ Cekrekk... suara tangkapan kamera terdengar begitu jelas di ruangan ini. Tak ada tanda-tanda dikeluarkannya senjata oleh pria itu. “Akhirnya kita bertemu lagi Nona,” lanjut lelaki itu. Tiba-tiba kepala Dea terasa nyeri dan napasnya tersenggal-senggal. Memori 2 tahun lalu kembali hadir memenuhi isi kepalanya. “Siapa kamu? Berani-beraninya menyekap orang untuk memancingku datang ke sini.” “Aku siapa? Itu tidak penting buatmu. Jangan lupa kuncinya!” Seringai nakal dipamerkannya pada Dea. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung menjatuhkan diri dari balkon meninggalkan mereka bertiga di dalam apartement. Toni langsung berlari mengerjar lelaki itu, tapi tidak bisa karena penyekap sudah pergi memakai tangga tali di bawah helikopter. “Bye...!!!” Karena merasa lelaki itu tak akan terkejar, Toni langsung menuju pintu keluar. “Sial! Kita terkunci Madam!” teriak Toni. Kedua wanita itu hanya terdiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD