8

1217 Words
“Seharusnya kamu jangan datang ke sini,” ucap wanita yang sudah dibebaskan Dea. “Diamlah, kepalaku pusing mendengar suaramu,” eluh Dea yang sibuk memijit kepala. Toni sedang berusaha membuka pintu, tapi sudah 30 menit berlalu, pintu itu tak kunjung terbuka. Drrttt... drrttt... getaran ponsel yang ada di saku membuat Dea spontan mengambilnya. “Pulanglah. Di rumah akan ada tamu,” ucap Aiden di seberang telepon. Wanita itu langsung memutar kedua bola matanya. “Itu kan tamumu, kenapa aku harus ikut menyambut mereka?” “Kamu itu istri CEO. Sudah sepantasnya menyambut semua tamuku yang berkunjung ke rumah. Aku tidak mau tau, pokoknya cepat pulang sekarang.” ‘Tut!’ telepon langsung terputus. Rasa bengah menyeruak di dalam diri Dea. Laki-laki itu sekarang memaksanya memenuhi kewajiban sebagai seorang istri CEO, padahal dalam perjanjian tertulis bahwa tak boleh mencampuri urusan tiap individu. “Madam tolong mundur,” perintah Toni dengan wajah gelisah. Tanpa banyak bicara Dea langsung mengikuti perintah komplotannya, wanita sandera pun berdiri di belakang Dea dengan gemetar. Toni sudah menfokuskan moncong senapan ke daun pintu, lebih tepatnya di lubang kunci. Dalam hitungan detik... ‘Dorrr!!!’ Suara senapan yang sangat keras memaksa kedua perempuan itu menutup telinga. Dengan sigap Toni langsung memberi obat penenang pada Nyonyanya, ia tau tindakan ini akan memicu trauma wanita itu. Beberapa menit kemudian, kondisi Dea sudah stabil. “Sudah Madam?” tanya Toni yang sedari tadi menjadi sandaran majikannya. Dea menganggukkan kepala pelan. “Kalau begitu, kita pulang sekarang Madam. Tuan Aiden sudah menunggu di rumah.” Ketiga orang itu langsung keluar dari apartement. Ketika sampai di parkiran. Dea menoleh ke arah wanita yang baru saja ia selamatkan. “U-um aku langsung pulang ke rumah. Kalian bisa pergi,” pungkas wanita itu dengan jari tangan yang tertaut. “Tidak apa-apa?” tanya Dea khawatir. “Saya sudah pesankan taksi online Madam, dia ada di sana.”Toni menunjuk mobil yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Dea tersenyum melihat kinerja rekannya yang kilat tanpa diperintah terlebih dahulu. “Bagus sekali Toni,” puji Dea tanpa melupakan bulan sabit di bibirnya. Pipi lelaki itu langsung berubah menjadi merah dan lesung pipi bertengger di sebelah kanan pipinya. “Kalau ada apa-apa silakan hubungi nomor saya.” Toni segera memberikan kartu nama miliknya. Tangan wanita itu bergerak ragu menerima secarik kertas yang pria di depannya. “Thanks.” “Tidak masalah. Mari Madam.” Toni langsung membuka pintu mobil dan mempersilakan Dea untuk segera masuk. “Langsung simpan nomor itu di ponselmu. Hubungi kami jika ada hal berbahaya seperti tadi, jangan turunkan kewaspadaanmu,” nasihat Dea dan langsung masuk ke dalam kamar. Wanita itu menganggukkan kepala tanda mengerti omongan Dea. Setelah itu, ia segera masuk ke taksi yang sudah dipesankan Toni. Tak butuh waktu lama, mobil yang ditumpangi Dea sudah terparkir di halaman rumah. Ia segera turun menghampiri Aiden yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. “Bukankah kita sudah membuat perjanjian untuk tak mengusik kehidupan masing-masing? Kenapa kamu selalu mengangguku?” tatapan tajam tertuju pada kedua manik lelaki itu. Tak mau kalah, Aiden juga memberikan tatapan tajam kepada Dea. “Ini sudah tugasmu. Kamu tidak membaca perjanjian di barisan terakhir?” ucap lelaki itu dengan sudut bibir terangkat. Jari telunjuknya langsung menempel ke pundak Dea. “Tugasmu sebagai istri CEO harus terpenuhi dengan baik Dea.” pundak wanita itu terdorong oleh jari Aiden. “Aku tidak mengganggu kehidupan pribadimu, ini soal tanggung jawabmu secara formalitas.” Dea mendengkus kesal mendengar perkataan Aiden. Ia tak tau jika ada perjanjian seperti itu. Ia harus mengeceknya. Ketika melangkah kakinya meninggalkan Aiden, tiba-tiba tangan wanita itu ditahan suami kontraknya. Lirikan tajam saling tertuju satu sama lain. “Lepaskan. Aku harus mengganti pakaian yang lebih layak untuk menyambut tamumu,” sungut Dea penuh emosi. Dadanya naik turun menahan emosi. “Baiklah.” Aiden langsung melepas cengkramannya. Kini wanita itu dapat berjalan dengan nyaman tanpa mendapat hambatan dari manusia yang menjengkelkan. Sebelum mengganti pakaian, perempuan itu membasuh wajahnya terlebih dahulu, pikirannya berkeliaran tanpa arah. ‘Siapa orang yang mempermainkanku seperti ini?’ Ia semakin gelisah karena mendapat teror kedua kalinya. Ia merasa jika ini bukan ulah Mr.Bad, orang itu berbicara akan menjaganya. Sedangkan, lelaki bertopeng tadi seakan sedang mengancamnya. “Hahhh...” wanita itu hanya bisa menghela nafasnya berkali-kali tanpa menemukan jawaban. Telepon yang tergeletak di atas meja rias itu langsung ia sambar. Mencari nomor Mr.Bad, ia harus menanyakannya secara langsung. Tutt... tutt... tutt... “Hallo...” sapa orang di seberang dengan nada yang dipanjangkan. “Apa kau yang membuat ulah hari ini?” tanya Dea to the point. Ia tak ingin bertele-tele. “Bukan. Are you okay?” “Sure. Jangan berani berbohong padaku Mr.Bad.” “Aku tidak berbohong. Aku di sini ingin melindungimu Dea, aku bukan orang jahat. Ayolah kita ketemu, aku akan menjelaskan semuanya,” jelas lelaki itu dengan nada memelas. “Lain kali saja. Aku masih banyak urusan!” ‘Tut!!!’ sambungan telepon itu terputus tanpa adanya aba-aba. “Ya tuhan! Kepalaku pusing memikirkan konspirasi ini. Kenapa kamu membuat hidupku tidak tenang begini!” banyak keluhan yang keluar dari mulut wanita itu, jarinya sibuk memijit pelipis agar nyeri di kepalanya menghilang. “Astaga! Aku sampai lupa menjenguk Mr.Hando!” Hari ini semua rencananya rusak seketika. Dilirik jam dinding masih menunjukkan pukul dua siang, masih ada sore hari untuk menjenguk sahabat karib ayahnya itu. Tanpa berlama-lama, ia langsung mengganti pakaiannya dan segera menyelesaikan tugas dari suami kontraknya. Meskipun sedikit kesal, tapi mau tidak mau ia harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai istri CEO. Untungnya di dalam wall closet terjajar banyak jenis pakaian yang bisa ia pilih. Dia tau jika semua itu pilihan dari ibu mertuanya, meskipun setelah pernikahan berlangsung Dea belum bertemu dengan Rita. Tapi wanita itu sering mengirimkan berbagai barang yang diperlukan Dea. Matanya tertuju pada dress cream berbahan satin, ia langsung mengambil pakaian itu. Ketika terpasang di badannya, ia merasa dress itu sangat simple tapi pantas jika dipakai untuk menyambut tamu suaminya. Sedikit polesan make up nuansa nude, heels 5 cm dengan strap tali simple dan kalung berlian kecil menambah kesempurnaan penampilan Dea siang ini. Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin. ‘Perfect!’ senyum simpul terpampang jelas di wajah wanita itu. Kepuasan tersendiri ketika melihat dandanan yang sempurna. Tok... tok... tok... suara pintu terketut membuat kepala wanita itu menoleh. “Madam, Mr. Aiden sudah menunggu di bawah.” suara Mrs.Asih menggerakkan kaki Dea untuk keluar dari kamarnya. “Apa tamunya sudah sampai?” “Belum. Tapi tuan ingin Madam segera menemuinya,” jelas wanita itu. Dea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dan melesat ke suami kontraknya. Di ruang tamu terlihat, pria berpakaian kaos polo dan celana chino dengan menikmati minuman di tangannya. Suara ketokan heels Dea berhasil menarik perhatiannya. Aiden melirik penampilan istrinya dari atas sampai bawah tanpa berkedip. “Apa masih lama?” tanya Dea yang mulai kegerahan berada di satu ruangan bersama lelaki paling mengesalkan di dunia ini. “Sebentar lagi akan sampai, duduk lah dulu.” Dea menuruti perintah lelaki itu, dengan bibir yang mengerucut ia bahkan enggan melihat Aiden. “Kamu hanya perlu memberikan salam kepada mereka Dea. Setelah itu, kamu bisa pergi,” jelas Aiden menatap Dea lekat. “Ya.” Wanita itu merasa risih mendapat tatapan Aiden. Siluet beberapa orang membuat Aiden dan Dea segera berdiri. Nahasnya, manik Dea melebar ketika melihat salah satu tamu yang datang ke rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD