“Mr.Hando sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku yang membawanya, tapi sekarang kuserahkan pada Toni,” jawab Dea. “Sakit apa dia?” “Komplikasi, sempat struk ringan.” “Hah...” Wijaya menghela napasnya. “Siapa sangka orang sekuat Hando bisa sakit parah.” “Em...” Dea bergumam tapi tak kunjung mengatakan sesuatu. “Kenapa?” Dengan sorot mata Dea terlihat bingung. Namun pada akhirnya wanita itu mengatakan, “Sayangnya... Mr.Hando tiba-tiba hilang. Kata Toni dia dipindahkan cucunya ke rumah sakit lain. Jadi aku tidak kabar terbarunya.” “Dia punya cucu?” “Punya, em... tapi Mr.Hando tidak mengakuinya. Aku tidak tau kenapa, tapi sempat ada konflik ketika cucunya datang. Mr.Hando tidak marah ke aku, tapi cucunya yang marah padaku karena dianggap lancang membawa Mr.Hando tanpa sepengetahu

