21

1388 Words

"Maafkan putri kami,” sesal Wijaya karena menunjukkan hal yang tidak pantas pada menantunya. Dia sendiri merasa tidak becus menjadi ayah sampai-sampai putrinya berbicara tak senonoh di depan Aiden. Rasanya seperti ditampar beribu cambuk di wajahnya. “Dea seperti itu karena terpancing dengan nama mantan tunangannya, Airon. Jika Papa tak mengucapkan nama itu dia dia tak murka,” tambah Lusi menenangkan suaminya. Aiden berusaha memahami kedua mertuanya. Ditambah yang dikatakan Dea memang benar, dia sendiri tak mengakui jika wanita itu adalah istrinya, hanya sebatas rekan kerja untuk mendapat keuntungan.“Tidak masalah Ma Pa.” Lusi dan Wijaya saling bertatapan, ada perasaan senang karena mendapatkan menantu pengertian seperti Aiden. Lalu mereka pun tersenyum tulus membuat Aiden semakin kikuk.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD