Part 8: Gadis yang Malang

1319 Words
. . . Amierra berulang kali menggerakkan kakinya. Gips yang membungkus kakinya selama 23 hari sudah dilepas. "Coba berdiri, dan tapakkan kakimu pelan-pelan. Jangan di tahan," pinta Kirana, perawat kepercayaan Reyhan yang telah membantu Amierra dalam masa pemulihan kakinya. Lalu Amierra sekarang akan dilatih untuk tidak menggunakan tongkat penyangga lagi. Selain membantu Amierra berjalan, sebenarnya ia juga membantu Amierra menghafal tiap sisi-sisi rumah. Pribadinya yang lembut dan ramah, membuat Amierra senang, dan memiliki dorongan kuat agar cepat pulih. Buktinya, dokter memprakirakan jika Amierra baru bisa berjalan sepenuhnya setelah satu bulan kemudian, namun baru hari ke-23 ia sudah bisa berjalan tanpa tongkat penyangga. "Tidak apa-apa tapaki saja. Biar cepat pulih," ujar Kirana saat melihat Amierra meringis saat menapakkan kakinya. "Hehehe. Linu, Tante." "Nanti linunya perlahan juga hilang. Ayo tapakkan lagi." Amierra pun menuruti perkataan Karina. "Sudah tidak sakit, Tante!" serunya senang rasa linu di kakinya sudah tidak terasa lagi. Kirana membelai puncak kepala Amierra yang tertutup jilbab berwarna hijau. Dua minggu merawat Amierra terhitung sejak di rumah sakit, membuatnya ia mengenal sosok Amierra dewasa sepenuhnya. Gadis cantik, ramah, dan sopan. Dan Kirana berusaha membuat Amierra semangat dalam pemulihan kakinya, bertujuan agar ia tidak lagi mengingat tentang rasa sakit dihatinya. Karena Kirana juga sudah diceritakan oleh Hana sebab muasal putri sahabatnya itu seperti sekarang. Tetapi tak arang ia merasa terenyuh melihat gadis itu, dulu ia mengenal Amierra adalah gadis kecil yang periang, hobi menulis dan membaca, dan bercita-cita sebagai penulis. Namun cita-cita itu harus musnah, bahkan sebelum ia ingin masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Tetapi Kirana langsung lega saat memikirkan Amierra memiliki suami yang begitu perhatian dan menyayanginya. Tuhan memang begitu adil. "Ini hari terakhir Tante menemaninu." Kirana membawa tubuh Amierra ke dalam pelukannya. "Sekarang kamu sudah bisa berjalan, jadi Tante akan segera kembali ke Jakarta." "Yahh, nanti aku jarang bertemu lagi sama Tante." Wajah Amierra seketika mendung, kemudian ia melepaskan pelukannya. "Nanti, Tante usahain menjengukmu lagi. Tante juga akan membawa suami dan anak Tante ke sini." "Janji, Tante?" "Insya Allah." "Oh ya, Tante jangan bilang dulu aku bisa berjalan ke Kak Afran ya. Biar aku jadikan kejutan saat ia pulang kerja nanti." "Iya, Sayang. Apapun untukmu." . . . "Assalamualaikum. Kak Amierra. Aku pulang!" Terlihat Keysha memasuki rumah dengan gembira. Ya, sejak Amierra tinggal di rumah itu, suasana sepi dan dingin perlahan lenyap. Digantikan dengan kehangatan menyapa. Apalagi ada Keysha yang berubah cerewet jika sudah bersama kakak iparnya. Layaknya sahabat yang sudah kenal lama. "Wa'alaikumussalam, Key," jawab Amierra dari arah ruang keluarga. Ia sedang memakan camilan sembari mendengarkan murottal Al-Qur'an "Kak Afran belum pulang, Kak?" Keysha duduk di samping Amierra, lalu ikut memakan camilan yang Amierra pegang. "Belum. Jam berapa sekarang, Key?" Keysha melirik jam tangannya. "Jam setengah lima." "Key?" "Ya, Kak?" "Tolong tuntun aku ke ruang tamu." Amierra menaruh camilannya di meja depannya, kemudian dengan perlahan ia bangkit dari duduknya. "Tongkat Kakak mana?" tanya Keysha saat menyadari tidak ada tongkat penyangga di sekitarnya. "Aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat, Key." "Benarkah, Kak? Alhamdulillah." Keysha membawa Amierra ke pelukannya. "Kak Afran sudah tahu?" "Belum. Makanya nanti akan kubuat kejutan saat ia pulang kerja. Akan aku sambut dia." "Ya Allah. Kakak iparku ini. Ya sudah ayo, aku antar ke ruang tamu." Keysha pun menuntun Amierra dengan pelan-pelan ke ruang tamu. "Kakak duduk sini ya." "Kak, Amierra sudah tahu pintu utamanya?” Amierra mengangguk. "Ruang tamu ini ada di sebelah kirinya pintu utama 'kan?" "Iya, Kak. Kakak tinggal berjalan ke kanan saat menyambut Kak Afran nanti. Tenang, Kak. Di sini tidak ada apa-apa yang akan menghalangi jalan, Kakak." "Terimakasih ya, Key." "Sama-sama, Kak. Aku ke atas dulu ya. Mau bersih-bersih diri." Amierra mengangguk menyetujui. Cukup lama sosok yang Amierra tunggu tidak datang-datang. Namun akhirnya terdengar deritan pintu, yang langsung membuat Amierra bangkit dari duduknya. "Itu pasti, Kak Afran." "Assalamualaikum." "Wa'alaikumussalam, Kak." Amierra kemudian menghampiri suaminya itu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Namun tiba-tiba tubuhnya terhuyung karena jalannya sedikit cepat. Tetapi Afran cepat menyadari dan dengan sigap ia menahan tubuh Amierra. Bahkan tas kerja yang ia pegang tadi, ia lempar begitu saja. "Hei! Pelan-pelan, tongkatmu dimana?" tanya Afran yang begitu khawatir. "Aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat, Kak." "Sure?" "Iya. Sebenarnya aku mau membuat kejutan untuk Kakak. Tapi malah aku hampir terjatuh saking semangatnya." "Lain kali jangan diulangi lagi," ujar Afran sambil mengecup kedua pipi Amierra. "Kakak tidak senang aku bisa berjalan?" "Ya senang. Kenapa memangnya?" "Tapi Kakak seperti biasa saja mengetahuinya." "Karena kamu baru saja ingin mencelakakan dirimu sendiri, Anak Nakal." Afran menyentil dahi Amierra. "Kakak berlebihan. Terjatuh 'kan hanya masalah sepele." "Iya, kalau nanti kamu tidak cedera atau apa. Aku hanya tidak mau mengambil risiko, Sayang." "Isshhh. Bilang saja Kakak memang biasa saja mengetahuinya." Amierra mencebik. "Ayo duduk dulu." Afran membawa Amierra kembali duduk di sofa. "Kamu tadi bertanya, apa aku senang kamu sudah bisa berjalan hm?" Amierra hanya bergeming. Ia sudah kecewa dengan suaminya itu. "Jawabannya ya, sangat senang. Tidak mungkin aku tidak senang mengetahuinya," ucapnya sembari menyelipkan anak rambut Amierra yang keluar dari jilbab. Di rumah memang ada 2 pelayan laki-laki yang bertugas membersihkan rumah, jadi Afran menyuruh Amierra selalu memakai jilbab, selain berada di kamar mereka. "Tapi rasa khawatirku lebih besar, Ra. Aku takut kamu kenapa-kenapa saat melihatmu ingin terjatuh tadi. Terlebih kakimu yang baru pulih itu juga masih rentan jika terkena benturan. Kalau cedera lagi bagaimana?" "Melihatmu tersenyum saja aku sudah bahagia. Jadi jangan berfikir aneh-aneh." "Maaf," kemudian Amierra merasa bersalah dengan sikapnya yang kekanak-kanakan. Tidak seharusnya ia meragukan Afran. Padahal suaminya itu hanya khawatir pada dirinya. Afran membawa Amierra ke dekapannya. "Sudah tidak apa-apa. Yang penting jangan diulangi lagi. Kalau mau jalan harus pelan-pelan." Amierra mengangguk patuh. . . . "Bagaimana ujianmu, Key?" "Tumben tanya?" "Tidak boleh?" Saat ini mereka dan juga Amierra sedang makan malam, dengan Afran yang begitu telaten menyuapi istrinya. "Baik-baik saja." "Keysha 'kok malah ketularan Kak Afran," celetuk Amierra, saat menyadari adik iparnya itu berubah jadi irit bicara. "Tidak ah, Kak. Baru benci sama tuh ice kutub." Keysha melirik Afran dengan malas. "Hahaha. Benci bilang-bilang, Key." "Biar sadar yang dibenci." Bel rumah berbunyi, menghentikan percakapan mereka. "Buka sana, Key," perintah Afran. "Iya-iya. Tukang suruh." Tetapi Keysha baru saja ingin bangkit. Bi Ela malah mencegahnya. "Biar Bibi saja yang buka. Kamu kembali makan." "Terimakasih, Bi." Tidak lama kemudian, gadis memakai dress muslimah berwarna hijau toska, dengan pashmina yang warnanya senada, menghampiri mereka yang sedang makan malam itu. "Assalamualaikum." "Wa'alaikumussalam," jawab Afran, Keysha, dan Amierra bersamaan. Sesaat, setelah Afran mengetahui siapa yang datang. Wajahnya mengguratkan rasa tidak suka pada gadis itu. Rahangnya mengeras, tangan yang tidak ia gunakan menyuapi Amierra mengepal. Ada amarah yang berusaha ia pendam. "Key? Kamu mengundang dia?" "Iya." "Tanpa seizinku!" "Kenapa harus izin dulu?" "Beraninya kamu! Gara-gara gadis sialan itu, sekarang kamu bertindak semaumu!" "Kak Afran! Aku mohon. Ia sudah berungkali meminta maaf padamu. Tidak sepenuhnya ia salah. Ku mohon maafkan dia." Afran menggebrak meja makan, sontak semua yang ada di ruang makan kaget. Terutama Amierra yang ada dalam posisi kebingungan saat ini merasa ketakutan. Ia tidak tahu siapa yang datang, hingga suaminya marah besar. Bi Ela akhirnya datang setelah mendengar keributan. Ia sudah menduga akan terjadi seperti ini. "A' Afran! Sudah! Kemarahanmu membuat istrimu takut." Sesaat, Afran mengalihkan atensinya ke Amierra yang ada di sebelahnya. Rasa bersalah merayapi hatinya, saat melihat d**a Amierra naik turun karena katakutan mendengarkan dirinya marah. Dengan segera ia membawa Amierra ke pelukannya. "Maaf. Jangan takut." "Bi Ela. Nanti makanan saya dan Amierra tolong bawa ke kamar. Saya ingin makan di sana saja." Bi Ela mengangguk. "Ayo ke kamar saja, Sayang." "Ke.. kenapa?" tanyanya lirih dan tergugu. Afran lagi-lagi menghiraukan perkataan Amierra. Ia malah langsung membantu Amierra berdiri lalu menuntun Amierra ke kamar mereka. Sedangkan dua gadis yang masih di ruang makan tadi, hanya terdiam melihat suami istri itu melenggang pergi. Gadis yang baru datang tadi, hanya dirundung rasa bersalah yang kian dalam. Dia sebenarnya hanya gadis malang yang terlihat jahat di mata Afran. . . . To be continued. Thu November 11, 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD