Part 7: Bahagiamu adalah Bahagiaku

1409 Words
. . . Matahari bersinar dengan terangnya seakan memberikan sebuah senyuman pada dunia. Burung-burung pun berterbangan kesana-kemari dengan kicauan khasnya. Dan lembutnya angin tak segan untuk menyapa. Pagi yang hangat dan tenang. Namun berbeda dengan salah satu ruang rawat inap RS Bhakti Husada yang sedang terjadi keributan kecil. Penghuninya tidak berhenti untuk mempertahankan keinginannya, dan tidak ada yang mau mengalah. Siapa kalau bukan Amierra yang pagi ini sudah diperbolehkan pulang, namun ia ingin pulang ke rumah abinya. Sedangkan sang umi melarang Amierra karena ia sudah punya suami. "Amierra pokoknya ingin pulang ke rumah Abi!" "Hei! Kamu sudah punya suami, jadi ikut suamimu lah. Mau jadi istri pembakang?" "Tapi, Umi! Nanti di sana aku kesepian. Kak Afran pasti kerja, sedangkan Keysha juga sibuk dengan ujiannya. Kalau aku di rumah Umi kan ada Umi yang nemenin aku. Ada Nadira juga." "Tidak, Amierra! Kamu mau Allah marah sama kamu, karena tidak nurut sama suami!" "Ish. Umi! Kak Afran pasti ngizinin Amierra tinggal di rumah Umi ya." "Amierra! Dengar! Kamu itu sebagai istri harus ikut suamimu dimanapun ia berada. Kalau kamu mau tinggal di rumah abi, lalu suamimu bagaimana? Mau kamu tinggalin gitu di rumahnya." "Kak Afran ya ikut sama aku." Di ranjang, Amierra dan uminya sedang bergelut mempertahankan keinginan mereka masing-masing. Sedangkan dua laki-laki yang duduk di sofa sudut ruangan sambil menyesap teh hangat yang tersedia, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan antara anak dan ibu tersebut. "Afran? Sepertinya kamu harus menghentikan mereka. Abi sudah tidak tahan mendengar ocehan mereka yang sama-sama tidak mau mengalah." Afran hanya terkekeh mendengar pernyataan Reyhan. Kemudian menolehkan kepalanya ke ayah istrinya itu. "Apakah Abi mengizinkan Amierra jika tinggal di rumah Abi?" "Mengizinkan saja. Tapi benar kata Hana. Dia sudah menjadi tanggung jawabmu. Dia tidak boleh kekanakan, ia harus belajar jadi istri penurut dengan cara ikut denganmu dimanapun kamu berada." "Tapi sebenarnya saya mengizinkan saja Amierra tinggal di rumah Abi." "Ya itu keputusanmu. Pesan Abi, hanya jangan memanjakan Amierra. Jangan mudah menuruti semua kemauan Amierra. Ia masih belum dewasa, takutnya nanti dia memanfaatkan sikap manjamu dengan hal yang tidak tidak." "Iya Abi. Saya mengerti." "Hm. Abi percayakan Amierra kepadamu. Ya sudah, lerai mereka sekarang. Sebelum tetangga sebelah memarahi kita karena membuat keributan pagi-pagi." "Hahaha. Bisa saja Abi ini." Kemudian Afran menyesap tehnya sebelum bangkit lalu menghampiri istri dan mertuanya itu. "Umi. Sudahlah. Tidak apa-apa kalau Amierra belum mau tinggal bersama saya. Saya izinkan dia tinggal bersama kalian." "Loh. Jangan gitu, nanti nih anak makin manja karena semua hal yang ia mau kamu turutin." Amierra hanya memberengut kesal mendengar uminya berkata seperti itu. "Tidak apa-apa, Umi." "Oke. Baiklah, Umi ngalah. Amierra jangan rindu sama Afran. Umi tidak mau nanggung kalau kamu nangis gara-gara rindu." "Kak Afran, kamu tidak ikut aku?" "Ya tidak Amierra. Rumahku siapa yang mau jagain, hm?" "Ada Keysha 'kan Kak." "Tapi masa aku ikut tinggal di rumah orang tuamu, sedangkan aku sudah memiliki rumah sendiri. Tidak sopan, Sayang." "Kalau aku rindu bagaimana?" "Makanya nurut sama Umi deh. Kamu tinggal sama suamimu saja." "Hana. Jangan ikut campur. Kemarilah, biarkan mereka berdua berbicara." Hana pun mengiyakan perkataan Reyhan. "Kak. Ikut ya?" "Tidak bisa, Amierra," jawabnya sembari duduk di kursi yang Hana tempati tadi. "Kalau aku rindu Kakak bagaimana?" "Makanya kamu tinggal sama aku saja. Tidak kesepian nanti 'kok. Keysha pasti menyempatkan waktu sama kamu. Kamu tahu 'kan, kalau dia sangat menyayangimu, dan dia pasti bahagia kalau kamu mau tinggal sama kami. Di rumah juga ada Bi Ela yang bisa kamu anggap sebagai ibu. Kakak kerjanya kadang juga cuma sebentar. Tidak sampai malam. Jadi mau ya?" "Kak..." Amierra sebenarnya merasa bimbang. Ia tidak ingin berjauhan dengan suaminya, tapi jika tinggal di rumah baru, dirinya gamang. Terlebih penglihatan yang masih terbatas, jadi harus banyak perkenalan tentang sisi-sisi setiap rumah bukan? "Sssttt. Tidak perlu khawatir ya," ucapnya sembari menggenggam erat tangan Amierra. "Ada aku, Keysha, serta Bi Ela yang akan membantu setiap kegiatanmu. Tante Kirana 'kan juga ada, beliau jadi perawatmu sampai kamu bisa jalan kembali. Bagaimana, mau tidak?" Amierra hanya mengangguk skeptis. Tapi ia percaya penuh pada suaminya. "Pintar." Setelahnya Afran mengecup kening Amierra lama. Sepasang suami istri yang sedang duduk di sofa, hanya bisa tersenyum lega melihat Afran dan Amierra. Berharap bahagia akan terus menyelimuti keduanya. "Kita tidak salah menyerahkan putri kita kepada laki-laki seperti Afran, Sayang." . . . "Assalamualaikum," salam Afran ketika memasuki rumahnya. "Eh, A'a. Wa'alaikumussalam," jawab wanita paruh baya yang muncul dari arah dapur. Kemudian Afran memapah Amierra untuk duduk di sofa ruang tamu. "Keysha kemana, Bi?" tanyanya sembari mencium tangan wanita paruh baya itu. "Keysha sudah berangkat kuliah dari tadi, A'." "Bi Ela. Tolong ambilkan air putih." "Eh, iya A'." "Tuan? Ini barang-barangnya." Terlihat sopir pribadi Afran masuk ke dalam rumah dengan tangan kanan mendorong kursi roda yang terdapat tas isinya barang-barang keperluan semenjak di rumah sakit. Sedangkan tangan satunya membawa tongkat penyangga. "Taruh di situ saja. Makasih, Pak," ujar Afran dengan tersenyum tulus kepada sopirnya. "Sama-sama." "Ini A', air putihnya," Bi Ela sudah datang dengan membawakan segelas air putih. "Makasih, Bi. Oh ya. Bibi sudah buat sarapan?" "Sudah, A'. Kenapa?" "Pak Andi sarapan dulu! Ngambil makanan sendiri di dapur, Pak," perintah Afran kepada sopirnya. "Eh, tidak perlu, Tuan." "Tidak terima penolakan. Tadi juga belum sempat sarapan. Sarapan dulu sana, Pak." Kalau Afran sudah seperti itu, tidak ada celah untuk tidak menuruti perintahnya. Dan Pak Andi pun kemudian melenggang ke arah dapur. "Kak Afran pemaksa sekali 'sih," ujar Amierra lirih. "Ini minum dulu, Sayang." Afran menghiraukan ucapan Amierra. Dan Amierra hanya kesal di buatnya. "Ini Amierra ya? Istri A'a?" "Iya, Bi." "Cantik sekali, A'," yang di puji hanya tersenyum rikuh. "Dihabiskan minumnya Amierra," perintah Afran ketika istrinya hanya minum sedikit. Dan dengan telaten ia meminumkan lagi air putihnya ke Amierra, hingga tandas. "Pintar," katanya dengan mengusap-usap gemas puncak kepala Amierra yang tertutup jilbab. Kemudian gelas yang sudah kosong tadi, ia tempatkan di meja. "Bi Ela? Kamarnya sudah dipindahkan?" "Sudah, A'. Diganti di bawah kan?" "Iya, makasih Bi. Dan tolong barang-barang itu dimasukkan ke kamar, Bi. Setelah itu Bibi bisa istirahat dulu." "Ah iya. Lagian udah selesai beres-beres rumah. Ya udah, Bibi bawa dulu ini ke kamar ya." Afran hanya tersenyum menanggapi. "Sayang. Kamar kita kalau di bawah sementara tidak apa-apa 'kan?" Tangan kanan Afran beralih memeluk bahu istrinya. "Kenapa memangnya?" "Aku tidak mau kamu naik turun tangga. Bisa berbahaya." "Em. Baiklah. Asalkan sekamar sama, Kakak," celetuk Amierra seraya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Afran gemas melihat Amierra tersenyum seperti itu. Apalagi lesung pipit yang tercetak jelas di kedua pipinya, menambah kesan lucu, tapi masih tetap cantik juga. "Makin sayang Kakak sama lesung pipitmu ini," ucapnya dengan mengecup berungkali pipi Amierra. "Ish Kak. Udah ih." Afran kemudian berhenti dengan kegiatannya. Dan beralih mengelus lembut pipi Amierra yang ia kecupi tadi dengan tangan kirinya. "Tapi suka kan?" "Tidak." "Ini pipinya merah merona kenapa?" "Ya karena Kakak cium terus tadi jadi merah." "Ah masa? Aku cium lagi nih biar tambah merah." "Isshhh Kak Afran, jantungku kasian," kesal Amierra yang kemudian menyembunyikan wajahnya di d**a Afran. "Jantungnya kenapa, Sayang? Coba kakak periksa." Amierra memukul pelan d**a Afran. "Modus ihhh." Afran hanya terkekeh berhasil menggoda Amierra. "Lah 'kok modus sih? Pikirannya jangan kotor-kotor deh." "Au ah." Amierra semakin menenggelamkan wajahnya di d**a Afran, kemudian memeluk suaminya itu dengan kedua tangannya. Dan Afran juga memeluk Amierra tak kalah erat. "Kamu tahu Amierra?" "Hm." "Bahagiamu adalah surgaku. Dan bahagiaku adalah surgamu. Jadi..." "Jangan lupa bahagia," ucapnya dengan menekan sisi pinggang Amierra dengan telunjuknya. Sontak membuat Amierra terjengit, karena di bagian itu adalah kelemahannya. "Kak Afran!!!!! Jail!!!" Amierra pun tidak berhenti memukul-mukul d**a Afran. "Hahahahaha. Stop sayang. Udah udah, janji itu yang terakhir. Buat hari ini. Hahahahaha." "Kakaakkk. Hiks." "Eh, 'kok nangis?" Afran gelagapan saat menyadari punggung Amierra bergertar karena menangis. Apa kelakuannya keterlaluan? Dengan segera ia melepas pelukannya dan beralih menangkup kedua pipi Amierra yang basah. "Hei? 'Kok malah nangis? Aku keterlaluan ya? Maaf kalau gitu." Amierra menggeleng. "Aku hanya terharu bisa punya suami baik banget seperti Kakak. Rasanya lebih dari bahagia." "Ya Allah, kirain. Ternyata nangis bahagia. Cintaku nambah ini dapat gombalan." Amierra tersenyum mendengar perkataan Afran. "Udahan nangisnya. Kamu cantik kalau senyum," bujuk Afran sambil mencium kening Amierra lama. Lalu mengecup kedua mata Amierra yang terpejam. "Sini peluk lagi, tidur dipelukan Kakak." Amierra dengan cepat berhambur memeluk Afran kembali, dan menempatkan kepalanya nyaman di d**a Afran. "Tidur ya. Nanti biar aku yang gendong ke kamar," ucap Afran dengan mengusap-usap punggung Amierra dan sesekali mengecup puncak kepala istrinya itu. . . . To be continued. Wed November 10, 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD