.
.
.
Jika urusan salat kau anggap sepele.
Maka apa sebenarnya yang kau anggap penting?
-Hasan Al-Bashri-
.
.
.
"Amierra? Aku salat magrib dulu ya?"
"Hm."
"Aku akan segera kembali. Assalamualaikum," ucap Afran sambil mengecup kening Amierra sebelum ia melenggang pergi.
"Wa'alaikumussalam."
Mereka baru kembali ke kamar pukul 4 tadi, karena Afran membenarkan perkataanya. Setelah pagi hingga siang tadi mereka habiskan di kamar Jihan, Afran mengajaknya jalan-jalan menyusuri rumah sakit hingga terakhir di taman. Amierra tidak habis pikir dengan suaminya itu. Malah ketika ia meminta Afran untuk kembali saja ke kamar daripada harus kelelahan mendorong kursi rodanya. Suaminya itu menjawab yang membuat kupu-kupu terasa berterbangan di perut Amierra.
"Tidak lelah ya, Sayang. Asalkan berdua seperti ini, lelahku akan hilang. Kan, daripada hanya tidur di kamar, lebih baik seperti ini."
Afran benar-benar tidak bisa berhenti merayu pacar halalnya itu. Karena menurutnya, itu adalah salah satu cara agar Amierra mau menerima dirinya dengan utuh dan ikhlas. Bukan hanya menerima sebagai suami, tetapi juga menerima bahwa dirinyalah yang menyebabkan Amierra seperti sekarang.
Saat ini, Amierra sedang bersandar di ranjang, dengan tangannya yang masih memegang tasbih digital pemberian Jihan. Amierra kemudian kembali teringat percakapannya dengan Jihan pagi tadi. Ya, sepeninggal Afran ke kantin, mereka benar-benar berbicara layaknya perempuan biasanya. Mereka saling curhat, dan menceritakan masa lalu mereka. Dan Amierra cukup kaget setelah tahu kehidupan Jihan yang sebenarnya. Saat usianya 7 tahun, ayahnya yang sepulang dari tauziyah, meninggal karena di bunuh oleh perampok, kakaknya menyusul setelah 3 tahun kemudian, karena kecelakaan. Akhirnya dia putus sekolah, karena memilih bekerja membantu ibunya, lalu kenyataan pahit yang harus ia terima, jika ia mengidap kanker paru-paru stadium 4.
"Bagaimana kamu bisa sekuat ini, Jihan?"
"Penerimaan yang ikhlas, Kak. Penerimaan tanpa menyalahkan diri sendiri dan siapapun. Sebelumnya, aku memang tidak bisa menerima. Tapi aku belajar dari ibuku. Ia sosok yang tegar, ia tidak pernah mengeluh ataupun menyalahkan siapapun atas cobaan yang ia terima. Saat ayah meninggal, ia sosok yang kuat di antara aku dan kakak. Dan sejak saat itu aku mulai mengerti akan takdir Tuhan. Saat kakak tiada, aku tidak bisa menyalahkan si penabrak, tidak bisa menyalahkan kakakku yang tidak hati-hati dalam berkendara, tidak bisa menyalahkan kantornya yang memulangkan Kak Dzikri lebih awal, tidak bisa menyalahkan hujan yang membuat jalanan licin, sehingga truk itu bisa menabrak kakak.
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun dan apapun itu, Kak. Karena itu sudah rencana-Nya. Kita sesungguhnya juga tidak punya hak untuk menyalahkan. Jika sudah takdir hari itu kakakku kembali kepada-Nya, aku harus menerimanya dengan lapang. Ya, walaupun aku harus kehilangan sosok pengganti ayah. Karena itu yang mungkin yang menurut Allah baik, Kak. Aku sakit seperti ini, juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Di hati ini, tumbuh keyakinan, jika semua kesakitan ini, kesedihan ini, cobaan ini, akan berbuah manis di akhirat kelak. Aku yakin, ayahku dan Kak Dzikri di sana, juga tidak mau melihatku lemah, jadi aku harus tumbuh menjadi gadis yang kuat."
Amierra menangis tersedu-sedu atas jawaban Jihan tersebut. Ia trenyuh dan merasa tertampar. Hidupnya lebih beruntung daripada Jihan. Ia hanya kehilangan penglihatan dan mimpinya, namun ia kadang masih menyalahkan Afran bahkan Allah dalam diamnya.
"Sudah, Kak. Jangan menangis. Aku tidak pantas dikasihani. Aku malah bahagia dengan diriku yang seperti ini. Karena aku percaya Allah memberi cobaan seperti ini, tak lain Dia akan menggantikannya yang lebih baik di akhirat kelak." Ucapan Jihan itu malah membuat Amierra tidak bisa menghentikan tangisannya. Ia semakin malu dengan Jihan.
"Kak Amierra? Apapun cobaan hidup, Kakak. Jangan jauh dari Allah ya, Kak. Itu tuh kode dari Allah, agar Kak Amierra semakin dekat sama Allah. Dan doktrin itu juga yang membuatku bisa setegar ini, Kak. Karena ketika kita dekat sama Allah, hati tuh rasanya tenang sekali. Oh iya. Ini aku ada tasbih digital nih untuk Kakak. Tenang saja masih baru kok. Ini agar Kakak selalu ingat sama Allah dengan selalu berzikir kepadaNya."
Ketika mengingat kembali. Amierra merasa semakin dijatuhkan. Apalah dirinya yang semenjak ia sakit seperti ini, sudah berani meninggalkan salat, sudah berani menyalahkan Allah. Dan itu membuat Amierra merasa bersalah dengan Tuhannya. Tidak seharusnya juga ia seperti itu. Jihan pun yang notabennya lebih muda darinya, bisa tegar dalam menghadapi semua cobaan Allah yang diberikan. Pikirannya saja yang tidak bisa dewasa karena hanya fokus pada permasalahan mimpinya yang tidak bisa terkabulkan.
"Hiks, tidak. Tidak seharusnya aku seperti ini. Aku harus memperbaiki semuanya. Aku harus salat sekarang, dan memohon ampun pada Allah," ucapnya sambil menyeka air mata lalu menaruh tasbih digital tadi di nakas sampingnya. Dan dengan sedikit keberanian. Amierra beranjak dari ranjang. Pelan-pelan menuntun kakinya ke kamar mandi untuk berwudhu sambil berpegangan dengan tembok. Karena ia tidak tahu tongkat penyangganya dimana, jadi ia hanya berpegangan dengan tembok. Jangan tanya Amierra bisa tahu kamar mandinya dimana. Karena selama dua minggu ini, tidak mungkin dia tidak hafal dimana tempat kamar mandinya.
Amierra pelan-pelan berjalannya. Sesekali ia meringis ketika kakinya sakit digunakan untuk menapak. Namun naas, tiba-tiba dirinya menabrak kursi roda yang sebelumnya tidak ia ketahui keberadaannya. Karena ia tidak siap menerima, akhirnya dirinya limbung dan jatuh ke lantai. Amierra hanya bisa menangis. Karena kakinya benar-benar sakit saat ini. Apa ini tanda jika Allah marah padanya? Hanya ingin salat saja, dirinya harus jatuh dulu. Seakan ada ribuan jarum yang menancap tepat di ulu hatinya. Sakit, perih. Tangisan pilu itu semakin deras. Ia hanya bisa berharap jika suaminya cepat kembali, dan Allah mengabulkan doanya.
Ceklek. Pintu ruangan terbuka menampilkan sosok Afran yang sudah kembali dari mushola . Ia terperanjat saat melihat Amierra sudah terjatuh tidak jauh dari ranjang. Dengan cepat ia menghampiri Amierra.
"Astaghfirullah, Amierra. Apa yang kamu lakukan!"
"Aa... Aku ingin ke kamar mandi untuk berwudhu, Kak. Hiks. Tapi aku tidak tahu ada kursi roda di sini."
Afran pun dengan sigap menggendong Amierra dan menempatkannya kembali ke ranjang.
"Kamu bisa menungguku dari mushola kan! Taruh dimana otakmu, Amierra! Jangan sok bisa melakukannya sendiri!"
Bentakan Afran pun membuat nyali Amierra menciut, air matanya pun semakin deras. Pasalnya selama ini, ia belum pernah mendengar Afran marah, bahkan saat ia dulu memarahinya, suaminya itu tetap sabar.
"A... aa... aku hanya ingin salat. Ma... maaf selalu merepotkanmu," ucap Amierra yang masih menangis tersedu-sedu. Ia tidak tau bagaimana caranya menghentikan tangisnya. Hatinya terlalu sakit atas perkataan Afran yang kasar tadi.
Kemudian Afran merasa bersalah ketika melihat wajah Amierra yang menyiratkan ketakutan. Sesekali ia melihat Amierra meringis di sela tangisannya karena kakinya mungkin masih sakit karena terjatuh tadi. Dengan sigap ia menarik istrinya ke dekapannya. "Maaf. Maafkan aku Amierra. Tidak seharusnya aku membentakmu." Afran merasa sangat bersalah membuat Amierra sakit hati karena perkataannya.
Amierra menggeleng. "Tidak. Hiks. Harusnya aku sadar aku tidak akan bisa apa-apa tanpa orang lain."
"Sssttt. Jangan berkata seperti itu. Aku hanya mengkhawatirkanmu tadi. Kamu tidak bersalah. Seharusnya aku bisa mengendalikan emosiku. Tapi yakinlah. Aku mengkhawatirkanmu. Sangat. Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Jadi, maafkan aku Amierra."
"Apa kamu ingin salat?" Amierra hanya mengangguk. Kemudian Afran melepaskan pelukannya, dan beralih mengusap air mata di pipi istrinya itu dengan kedua tangannya.
"Sebentar. Akan ku ambilkan air untuk berwudhu. Jangan menangis lagi ya. Apa gunanya aku di sampingmu, jika kamu ingin melakukannya sendiri." Afran mencium kedua mata Amierra sebelum ia beranjak untuk ke kamar mandi. Lagi-lagi Afran berhasil membuat jantung Amierra berdetak tak normal.
.
.
.
"Kakak tidak salat ke mushola? Sudah adzan lho, Kak," ucap Amierra saat menyadari Afran tidak beranjak dari ranjangnya.
Saat ini, mereka memang sedang menonton televisi, ralat hanya Afran saja, sambil memakan buah anggur. Dengan Afran yang juga duduk di ranjang istrinya itu sambil memeluk pinggang Amierra dengan tangan kirinya. Dan dengan manja, Amierra juga bersandar di bahu Afran.
"Isshh, Kak Afran kenapa diam saja. Kakak masih marah sama aku?" Amierra jengkel karena ucapannya tidak direspon oleh suaminya itu.
"Tidak. Aku mau salat berjamaah saja denganmu di sini."
"Jangan seperti itu, Kak. Laki-laki itu salat fardhunya wajib berjamaah di masjid."
"Nanti jika aku tinggal. Kamu akan berbuat senonoh seperti tadi."
"Tidak. Aku janji. Aku akan menunggu Kakak kembali, baru aku salat Isya. Jangan buat Allah marah sama aku, karena aku yang menyebabkan Kakak meninggalkan kewajiban Kakak." Afran tersenyum mendengar jawaban dari istrinya itu. "Janji ya, tunggu aku kembali."
"Iya janji."
"Ya sudah. Aku akan berangkat. Anggurnya di habiskan ya. Aku akan segera kembali." Amierra mengangguk. Kemudian Afran melepaskan pelukannya, beranjak dari ranjang, dan berlalu pergi. Namun tiba-tiba ia berhenti ketika sudah sampai di pintu, dia berbalik, dan menghampiri Amierra kembali.
"Ada yang ketinggalan Amierra."
"Apa?" Amierra merasa bingung. Biasanya Afran jika ingin salat tidak membawa apa-apa. Celananya pun sudah panjang, jadi tidak perlu memakai sarung.
"Ini"
Cup.
Afran mencium kening istrinya itu. Seketika membuat Amierra gelagapan.
"Kakak! Cepet salat, ketinggalan nanti!"
"Yah, yang blushing," ucap Afran sambil terkekeh.
"Udah mau iqamat, Kak! Cepet sana berangkat!"
"Iya iya, istriku,"
"Assalamualaikum." Afran pun benar-benar melenggang pergi.
"Wa'alaikumussalam. Ya Allah. Jantungku," ucap Amierra sambil memegang dadanya.
"Kak Afran bisa-bisa membuatku serangan jantung."
"Husshh. Tidak boleh bicara seperti itu."
Seketika Amierra terperanjat dengan siapa yang bicara. "Kak Afran! Kenapa balik lagi sih!"
"Ngambil dompet Kakak yang ketinggalan, sayang. Sekalian nanti beli makan malam."
"Serah! Ah serah!" ucap Amierra dengan mengerucutkan bibirnya.
"Jangan marah dong. Aku benar-benar berangkat sekarang nih," ucapnya seraya mengusap pucuk kepala Amierra gemas.
"Hm."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam.
.
.
.
To be continued.
Tue November 9, 2021