Part 5: Laki-Laki Nirmala

2259 Words
. . . "Jika engkau berharap berkah dari Tuhan, berbuat baiklah pada umatnya." -Abu Bakar- . . . Sore itu di kamar inap Amierra. "Kak, Amierra? Aku sholat ashar dulu ya di mushola. Tidak akan lama," ucap Keysha lalu bangkit dari duduknya. Amierra hanya mengangguk sebagai jawaban. "Assalamualaikum, Kak." "Wa'alaikumussalam." Setelah Keysha berlalu meninggalkan kamar. Amierra kembali diam seperti biasa sambil bersandar di ranjang. Pagi tadi. Mereka habiskan untuk bermain di taman. Dan menceritakan pengalaman yang menarik yang pernah mereka alami. Lalu siangnya, mereka habiskan membicarakan novel-novel yang pernah mereka baca, dan juga tentang dunia kepenulisan. Ya mungkin kebetulan hobi mereka sama, yaitu sama sama suka membaca cerita fiksi. Dan akhirnya mereka mengobrol tanpa terasa waktu ashar sudah tiba. Amierra tiba-tiba teringat percakapannya dengan Keysha pagi tadi. Ia masih penasaran dengan apa yang diucapkan Keysha, tentang ia dan kakaknya pernah mengalami masa-masa sulit. Masa-masa sulit seperti apa? Walaupun sudah tujuh hari ini ia dekat dengan Afran. Namun ia belum tahu banyak tentang Afran. Seperti tentang hal apa yang Afran sukai, pekerjaannya, pengalaman hidupnya. Ia hanya tahu, jika Afran dan Keysha sudah tidak memiliki orang tua. Dan kini mereka tinggal di rumah megah warisan orang tuanya itu. Itupun ia tahu bukan dari Afran maupun Keysha, ia diberitahu oleh Abinya beberapa hari lalu. Sejak ia dekat dengan Afran tujuh hari ini, menurutnya, Afran adalah laki-laki yang tertutup dari hal yang menyangkut tentang kehidupannya. Dan ini membuat Amierra penasaran. Namun. Tak lama kemudian. Deritan pintu yang terbuka, membuat Amierra bangun dari lamunannya. "Assalamualaikum." "Wa'alaikumussalam. Sudah selesai sholat, Key?" "Sudah, Kak. Ngomong-ngomong, sore ini kita habiskan di taman lagi ya, Kak," ucap Keysha sembari menghampiri Amierra. "Boleh." "Baiklah. Aku ambil kursi rodanya dulu, Kak." Kemudian Keysha mengambil kursi roda yang ada di sudut ruangan dekat sofa. "Ayo, Kak. Duduk dulu." Sebenarnya, sejak tiga hari terakhir ini, Amierra sudah berlatih berjalan dengan perawat kepercayaan Abinya. Tetapi terkadang, Afran malah masih memanjakannya dengan menggunakan kursi roda. Bahkan ke kamar mandi sekalipun. Katanya ia khawatir jika terjadi apa-apa pada Amierra. Dan dengan keadaan Amierra yang tidak bisa melihat, menambah rasa waswas pada Afran. "Hati-hati, Kak. Kakinya nanti sakit," ucap Keysha saat melihat Amierra yang begitu cepat beralih duduk di sisi ranjang. "Tidak apa apa, Key. Memang harus dilatih seperti ini." "Tapi ya, Kakak harus hati-hati. Kalau terjadi apa-apa dengan, Kakak. Bisa-bisa aku kena omelan dari Kak Afran." "Ah, sudahlah. Sekarang bantu aku ke kursi roda. Kursi rodanya dimana?" "Di sebelah kanan Kakak." Kemudian Keysha membantu Amierra beralih ke kursi roda dengan memapahnya. "Sudah, selesai. Mari kita jalan-jalan." Amierra bersyukur memiliki adik ipar seperti Keysha. Gadis baik hati, humoris, dan periang. Yang bisa ia jadikan teman bercerita walau baru satu hari ini ia mengenalnya. Namun ketika ia teringat tentang Afran, kakaknya yang telah menjadikannya seperti ini, Amierra merasa kecewa. Kenapa ia dipertemukan dengan Afran dan Keysha, dengan cara seperti ini? Bukankah lebih menyenangkan lagi jika dipertemukan dengan cara yang lebih baik. Tidak ada rasa sakit yang terpendam seperti yang ia rasakan saat ini. Namun, apa yang menurut kita baik. Belum tentu baik dimata Allah. Dan yang menurut kita buruk, belum tentu buruk dimata Allah. . . . Saat ini Keysha sedang mengajak Amierra menyusuri taman. "Kakak mau aku ceritakan pengalaman lucuku dengan Kak Afran waktu kecil?" "Apa?" "Tetapi Kakak janji tidak boleh bilang ke Kak Afran kalau aku menceritakan pengalaman ini." "Iya iya. Aku janji." "Saat itu usia Kak Afran lima belas tahun. Dan aku sembilan tahun. Waktu itu, malam hari, aku dan Kak Afran diajak Mama pergi ke mall, menemani Mama berbelanja. Tetapi kemudian hujan turun deras, dan lama sekali redanya. Jadi kami tidak bisa pulang. Lalu, tiba-tiba Kak Afran mengajak aku dan Mama pergi ke bioskop, sembari menunggu hujan reda. Waktu itu, baru populer-populernya film horor yang judulnya, aku lupa, Kak. Dan kata Kak Afran, teman-teman sekelasnya selalu membicarakan film tersebut, jadi dia tertarik melihatnya. Kemudian Mama dan aku menyetujuinya. Aku dulu memang suka sesuatu yang menguji adrenalin, Kak. Jadi ya aku mau-mau saja diajak melihat film horor tersebut. Akhirnya kami memesan tiket nontonnya. Dan kebetulan jam tayangnya pukul delapan malam, jadi tidak terlalu malam." Keysha berhenti sejenak berusaha mengatur diri agar tidak tertawa saat melanjutkan ceritanya. "Tetapi, saat film ditayangkan, dan waktu horor horornya, yang hantunya keluar itu, Kak. Hahaha. Tiba-tiba Kak Afran berkeringat, teriak-teriak dan menangis di lengan Mama. Ya, kami duduk bertiga bersampingan dengan Mama yang ada di tengah. Kak Afran terlihat sangat ketakutan dan lucu sekali wajahnya saat itu. Hahaha, lucu sekali Ya Allah. Bahkan disepanjang akhir film dia tidak melihatnya, ia membenamkan wajahnya di lengan Mama, sesekali ia menutup telinganya jika ada suara suara horor." Dan kini tidak hanya Keysha yang tertawa. Amierra pun juga tertawa karenanya. "Dan lucunya lagi, Kak. Setelah keluar dari bioskop. Aku mendapati celana belakang Kak Afran basah. Yang kebetulan saat itu ia memakai celana jeans warna cream, jadi kan kelihatan sekali. Lalu aku tanya ke dia. Celananya bisa basah kenapa? Tidak mungkin kan kalau keringat sampai di situ. Kak Amierra tebak Kak Afran kenapa?" "Mengompol mungkin?" tebak Amierra. "Hahahaha, benar sekali, Kak. Dia menjawab kalau dia mengompol dengan cengirannya. Aku dan Mama langsung kaget, kemudian tertawa geli. Bukannya dia tadi yang mengajak liat film horornya, tetapi kenapa dia yang ketakutan, bahkan sampai mengompol. Malah menurutku waktu itu, filmnya juga tidak terlalu horor juga. Dan sejak hari itu, Kak Afran takut melihat film-film horor sampai sekarang. Coba nanti Kak Amierra ajak Kak Afran melihat film horor. Bagaimana reaksinya ya?" "Key." Sepersekian sekon, Keysha tau ada yang salah dari perkataannya. "Eh. Maaf, Kak. Maksudku..." Perkataan Keysha terhenti karena ponsel yang ada di saku bajunya berbunyi. Sedikit ada rasa syukur dengannya. Ia lega tak perlu melanjutkan obrolannya dengan kakak iparnya yang sekonyong-konyong menjadi serius. "Bentar, Kak Amierra. Ada telepon dari kapten." "Halo. Assalamualaikum, Key?" "Wa'alaikumussalam. Ada apa, Kak?" "Kalian dimana?" "Di taman rumah sakit, Kak" "Cepat bawa Amierra kembali ke kamarnya. Aku sudah pulang, dan ini ada di kamar inap Amierra." "Siap kapten, laksanakan!" "Assalamualaikum." "Wa'alaikumussalam." "Kak Amierra. Kak Afran sudah pulang dan sekarang dia menyuruhku untuk membawamu ke kamar inap." "Hmm. Baiklah." "Siap. Mari kita bertemu dengan pangeranmu, Kak Amierra".... "Kak?" "Iya, sayang." Amierra sekarang memang memanggil Afran dengan embel-embel Kakak. Ia merasa bingung ingin memanggil Afran apa. Dan tidak sopan juga, jika ia hanya memanggil nama saja. Secara ia terpaut 7 tahun dengan Afran. Jadi, dengan terpaksa ia memanggil suaminya itu dengan panggilan Kakak. "Kita mau kemana?" tanya Amierra. Karena sedari tadi Afran terus mendorong kursinya rodanya. "Em. Kita akan menghabiskan hari ini untuk menyusuri rumah sakit." "Hah?" Amierra sedikit terjengit mendengar jawaban dari Afran. Suaminya apa sudah tidak waras, ingin menghabiskan hari ini keliling rumah sakit. Kakinya bisa mati rasa nanti. Karena rumah sakit ini dulu tempat kerja Abinya, jadi dia mahfum betul seberapa luasnya. "Kenapa harus kelilingi rumah sakit sih? Kan lebih baik tidur di kamar." "Karena besok pagi kamu sudah boleh dibawa pulang. Aku rasa, ide yang bagus jika hari ini kita quality time berdua sambil jalan-jalan." "Ishh, membosankan." Amierra mengerucutkan bibirnya. "Tidak akan bosan, nanti akan kupertemukan kamu dengan seseorang." "Seseorang? Siapa?" "Tidak akan kuberitahu." Dijawab seperti itu Amierra hanya mendengus kesal. . . . "Assalamualaikum?" Afran membawa masuk Amierra ke kamar rawat inap yang penghuninya wanita paruh baya, yang terlihat duduk di samping ranjang tempat putrinya terbaring di sana. "Kak, kita dimana?" tanya Amierra lirih. Ia tahu jika kamar yang dimasukinya bukan kamarnya. "Ini yang kumaksud tadi, Sayang." Sang perempuan paruh baya menyadari siapa yang datang, ia langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka. "Wa'alaikumussalam. Nak, Afran kan?" "Iya, Bu. Masa baru kemarin bertemu sudah lupa sama saya," jawabnya seraya mencium tangan wanita paruh baya tadi. "Cuma memastikan saja, Nak Afran. Ibu kan sudah tua juga, jadi wajar. Ngomong-ngomong, ini istrinya Nak Afran ya?" Wanita paruh baya tadi beralih menatap Amierra. Amierra menjadi bingung. Bagaimana bisa ibu itu tahu jika ia istrinya Afran. Dan sebenarnya Afran ingin mempertemukannya dengan siapa? "Benar, Bu. Kenalkan ini istri yang biasa saya ceritakan sama ibu. Namanya Amierra." Oh. Jadi ia sering menjadi bahan obrolan oleh suaminya dan ibu ini. "Namanya cantik, wajahnya juga cantik pula. Kamu beruntung dapetin dia." "Bagaimana gak beruntung, Bu. Orang dapet duplikatnya bidadari surga," ucap Afran terkekeh. Amierra malu sendiri saat-saat seperti ini. Bisa-bisanya suaminya itu menggombal di depan orang lain. "Istrinya malu ini lho, Nak Afran. Yaudah, ayo sini. Duduk sini dulu, Ibu biar bangunin Jihan." Ibu menuntun Afran untuk duduk di sofa yang tersedia. "Tidak perlu bangunin Jihan, Bu. Kasihan Jihannya." "Tidak apa-apa, Nak. Orang Jihan tidurnya juga sudah lama. Ibu tahu kalau kalian ke sini untuk bertemu dia. Jadi kalau gak dibangunin, kalian nanti nganggur. Udah ya, gak perlu sungkan." Amierra kemudian paham, orang yang ingin Afran temukan dengan dirinya adalah Jihan itu. Yang ia tebak, adalah anak dari Ibu tadi. Namun, ia masih belum tahu, maksud Afran mempertemukan dirinya dengan Jihan tersebut. "Kak? Orang yang kakak maksud adalah Jihan tadi?" "Iya, Amierra." "Lalu siapa dia? Aku tidak mengenalnya." "Maka dari itu. Aku ingin mengenalkanmu dengan dia. Dia itu adik dari sahabat kakak yang sudah meninggal. Umurnya juga baru lima belas tahun. Dan dia sekarang hanya hidup bersama ibu tadi, yang tak lain ibunya sendiri." "Terus, dia sakit sekarang. Sakit apa?" "Dia mengidap kanker paru-paru." "Sudah lama dia dirawat di sini?" "Sudah. Tapi, aku baru mengetahuinya dua hari lalu. Aku tidak sengaja lewat kamar ini, dan berpapasan sama ibunya, yang kebetulan dia juga akan keluar kamar." "Lalu. Biaya pengobatannya bagaimana? Ibu tadi tidak bekerja kan?" "Katanya. Mereka sudah menjual beberapa aset berharga milik mereka. Karena sejak Dzikri meninggal, sudah tidak ada lagi yang manafkahi mereka." "Dzikri itu teman, Kakak. Dan juga kakaknya Jihan." "Iya. Dan aku menyesal bertemu dengan mereka baru saja. Kalau dari dulu, aku juga ingin membantu biaya pengobatan Jihan. Karena Dzikri juga sudah banyak membantuku." "Sudah. Tidak apa-apa, Kak. Sekarang Kakak juga masih bisa membantu mereka kok." "Ya, semoga belum terlambat." Kemudian obrolan mereka terhenti. Dilanjut dengan ibu tadi yang memanggil mereka. "Nak, Afran. Nak, Amierra. Kemarilah. Jihan, sudah bangun. Temani mereka dulu ya. Ibu mau keluar sebentar." "Oh iya, Bu," jawab Afran kemudian mengajak Amierra mendekati ranjang Jihan. "Assalamualaikum, Jihan." "Wa'alaikumussalam." Bibir Jihan yang pucat itu tersenyum. "Bagaimana kabarnya?" "Alhamdulillah baik, Kak. Ini, Kak Amierra ya?" "Iya, Amierra," yang menyahut kini Amierra sendiri. "Salam kenal kakak. Aku Jihan," ucap Jihan sambil mengulurkan tangannya. Namun, seketika ia ingat. Jika Amierra tidak bisa melihat. Dengan segera ia kembali menarik tangannya, namun urung ketika Amierra tiba-tiba mengulurkan tangan juga. "Amierra, tanganmu," bisik Afran. Dan Amierra segera paham. "Iya, salam kenal juga, Jihan," jawabnya dengan senyuman. "Kak Amierra cantik ya, Kak Afran?" "Ya jelas. Istrinya siapa dulu." "Kalian sama-sama cantik dan tampan. Cocok sekali." Amierra semakin penasaran akan wajah suaminya itu. Pasti 'kok semua orang mengatakan jika Afran itu tampan. Bahkan ada yang bilang terlewat sempurna. Namun, apa daya, mungkin sampai akhir hayatnya pun, ia tidak ditakdirkan melihat wajah itu sepenuhnya. "Jihan, kamu sudah benar-benar membaik?" "Ya, seperti itulah, Kak Afran. Tidak ada yang membaik dari orang yang mengidap kanker paru-paru stadium 4 ini." "Tidak boleh seperti itu Jihan. Jangan putus harapan. Aku yakin kamu pasti sembuh. Iya kan Amierra?" "Iya, pasti. Jihan itu perempuan yang kuat." "Kak Amierra bisa saja. Tahu dari mana aku itu kuat?" "Nebak saja, mungkin benar," jawab Amierra yang terlewat jujur. Dan kemudian ruangan itu diisi oleh tawa. "Nah. Seperti ini, dong. Jangan tegang-tegang suasananya, bikin ngeri nih," "Istriku bisa ngelucu juga ya," ucap Afran gemas, sambil mengacak pucuk kepala Amierra yang tertutup jilbab, dan kemudian tiba-tiba mengecup singkat pipi kanan Amierra. Seketika kedua pipi Amierra merah merona setelah dikecup Afran. Suaminya itu tidak tahu tempat untuk berbuat romantis maupun merayu. "Ehem. Yang jomblo permisi, numpang lewat." "Iri bilang sajalah kau Jihan," sahut Afran. "Iya iya. Tapi ya jangan romantis-romantis di sini. Kasihan yang jomblo. Jomblo yang dari lahir ini." "Makanya cepet sembuh. Terus cari jodohnya, kasian tuh jodohmu nyariin kamu. Padahal kamu kan cuma disini," celetuk Afran. "Bisa saja kamu, Kak. Ngomong-ngomong, almarhum Kak Dzikri dulu bilang, Kak Afran itu laki-laki yang irit bicara. Tapi ini Kak Afran yang ada di depanku 'kok, berbanding terbalik ya?" "Tidak juga." "Iya, benar Jihan. Tidak bagaimana, orang kata adiknya sendiri juga seperti itu." "Benarkah, Kak Amierra?" "Sudahlah, jangan membicarakan aku. Sekarang kita makan saja ya, ngomong-ngomong Jihan sudah makan?" Jihan menggeleng sebagai jawaban. "Baiklah. Aku akan membeli makanan di kantin rumah sakit. Silakan ngobrol layaknya wanita kebanyakan ya. Yang suka curhat-curhatan. Aku akan segera kembali." "Tapi. Aku sudah makan tadi, Kak." "Tidak masalah, sayang. Tidak akan membuatmu gemuk." Amierra hanya memberengut kesal. "Assalamualaikum." Afran kemudian melenggang dari balik pintu. "Wa'alaikumussalam," sahut Amierra dan Jihan bersamaan. "Kak, Amierra?" "Ya?" "Kamu benar-benar beruntung mendapatkan suami seperti, Kak Afran." "Beruntung bagaimana?" "Kak Afran itu, sahabat yang selalu dibangga-banggakan almarhum Kakakku. Bahkan Kak Dzikir selalu bilang padaku, cepat besar ya Jihan. Nanti akan aku nikahkan kamu dengan sahabatku Afran. Hahahah. Lucu sekali memang." "Bernahkah kakakmu bilang seperti itu?" "Iya benar, Kak. Saking kagumnya dia akan sosok Kak Afran, yang katanya laki-laki tampan berperangai baik dan saleh, walaupun kaya tapi tetap sederhana, yang sudah sukses diusianya yang masih muda, yang hatinya tidak pernah tersentuh oleh wanita. Maka kamu benar-benar beruntung, Kak. Bahkan aku tahu, banyak wanita yang menginginkan posisimu sekarang. Tapi tidak termasuk aku sih, Kak." Apakah dirinya benar-benar beruntung mendapatkan Afran? Mungkin sedikit. Karena sebuah fakta yang tidak bisa ia hilangkan, jika orang yang menyebabkan dirinya seperti ini tak lain adalah Afran itu sendiri. Yang dikatakan Jihan akan benar, jika ia dan Afran disatukan dengan cara yang baik. Bahkan mungkin dirinya akan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. . . . To be continued. Mon November 8, 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD