.
.
.
"Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan kegelisahan."
-HR. Al-Hakim Shahih-
.
.
.
Pagi yang cerah. Afran sudah siap dengan setelan tuxedo shawl lapel-nya berbahan velvet yang berkesan mewah. Setelan tuxedo tersebut, ia padukan dengan kemeja hitam yang warnanya lebih muda dibandingkan dengan tuxedo-nya, ditambah dasi kupu-kupu berbahan velvet sehingga memberikan kontras penampilan yang baik meskipun menggunakan warna all black. Sepatunya yang ia kenakan pun berbahan patent leather yang akan memberikan kesan mengkilap sehingga penampilannya pagi itu sangat terkesan mewah, tetapi tetap elegan. Jika saja ia tidak akan menghadiri acara pernikahan sahabat dekatnya, ia tak sudi memakai pakaian yang semewah ini. Bahkan pakaian yang ia kenakan sekarang, hasil kerjaan usil sahabatnya.
Flashback on
Bugh... lemparan beberapa brosur di atas meja kerjanya membuat Afran yang sedang fokus memeriksa laporan dari bagian keuangan mendongakkan kepala. "Zacky. Lebih sopanlah kepada atasanmu," ujar Afran dengan nada yang datar pada seseorang yang baru saja melemparkan lembaran brosur tepat ke hadapannya.
"Aku kesal hari ini! Kamu seharusnya menghiburku, bukan malah memarahiku." ucap Zacky, sahabat sekaligus sekretaris pribadi Afran di perusahaan di mana Afran menjabat sebagai direktur utama. Zacky memang adalah sahabat Afran yang sifatnya seperti perempuan. Cerewet, manja, blak-blakan, pemaksa, dan mudah terbawa suasana.
"Berapa yang kamu butuhkan?" tanyanya lalu kembali memeriksa laporannya.
"Aiisshh. Kamu memang sahabat terbaikku. Tahu saja aku kemari untuk meminta uang," jawab Zacky dengan cengirannya.
"Kamu tau kan? Aku akan menikah. Dan hari ini, aku baru saja membicarakan paket-paket pernikahan dengan calon mertuaku. Dan kamu tahu apa! Karena itu pernikahan anak tunggal mereka, mereka ingin pernikahan putrinya diadakan dengan mewah. Zahra memang tak menginginkan pernikahan mewah. Tapi malah orang tuanya yang meminta, menyebalkan! Lihat brosur itu! Mereka menginginkan paket pernikahan seperti itu, dengan harga yang fantastic. Sedangkan tabungan pernikahanku tidak sampai segitu." Nah kan, sifatnya yang cerewet mulai keluar.
Sekilas setelah membaca brosur tersebut, Afran tertawa. "Apa kamu akan merampok jika tidak kuberikan?"
"Hahaha. Seorang pangeran ice sedang berusaha melawak. Dan receh sekali lawakannya."
"Siapa juga yang melawak," ucapnya dingin. Zacky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kalau sudah berbicara dengan sahabatnya itu, dia selalu kalah.
"Ya Tuhan dosa apa hingga Engkau memberikan aku sahabat seperti dia," Zacky merutuki nasibnya.
"Zack. Aku masih bisa mendengarnya."
"Eh. Iya-iya. Lupakan."
"Berapa yang kamu butuhkan? Cepat. Aku tak punya banyak waktu sekarang."
"Emmm. Berapa ya? Setengah dari itu. Bisa kan?" ucap Zacky dengan wajah memohon.
"Ini," jawab Afran sambil menyodorkan uang yang ia ambil dari laci mejanya dengan jumlah sama yang di minta Zacky.
"Terimakasih, Mr. Ice."
"Apa yang barusan kamu katakan, Zack?"
"Oh. Tidak tidak. Terimakasih, Pak Bos. You are my best friend, okay."
"Sama-sama. Silakan keluar jika tidak ada urusan lagi."
"Baru saja mengusirku, huh? Baiklah. Aku akan keluar. Bahkan keluar dari perusahaanmu ini. Tunggu surat pengunduran diri dariku."
"Silakan saja. Jika kamu tidak takut jadi pengangguran, lalu pernikahanmu batal karena tidak direstui oleh orang tuanya Zahra. Bahkan jika aku mau, kamu tak perlu mengundurkan diri, aku akan memecatmu." Bayangan dia dipecat lalu menjadi pengangguran dan pernikahannya dengan Zahra batal, mengiang-ngiang di pikiran Zacky. Dan seketika membuat Zacky merasa gamang.
"Eh, jangan dipecat. Aku hanya bercanda, Pak Bos. Membayangkan saja sudah horor, apalagi jika menjadi nyata," ucapnya bergidik ngeri.
"Ya sudah. Tunggu apalagi."
"Oke. Aku keluar. Terimakasih sekali lagi. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam.” Afran tersenyum, melihat punggung sahabatnya yang perlahan menghilang dari balik pintu.
Zacky dengan segala sifatnya seperti itu, namun Afran tetap menyayanginya. Persahabatan yang terjalin sejak mereka SMA tidak akan pernah pudar. Dua minggu kemudian setelah itu, Afran menerima sebuah paket yang tidak diketahui pengirimnya. Saat membukanya, Afran kaget bukan kepalang. Paket itu berisi setelan tuxedo mahal lengkap dengan sepatunya. Dan di dalam paket itu, ada secarik surat pendek. Lalu ia buru-buru membacanya.
Assalamualaikum
Dear, Pak Bos
Tuxedo dan sepatu ini ku belikan untukmu. Sebenarnya. saat aku meminta uang darimu, niatku bukan untuk membayar paket pernikahan, tetapi untuk membelikan tuxedo yang mahal ini. Hehehehe. Aku tidak suka dengan penampilanmu yang biasa-biasa saja, walaupun saat menghadiri acara formal sekalipun. Padahal kau sendiri orang kaya. Aku tahu kau tidak ingin riya atau apa. Tapi aku mohon saat hari pernikahanku nanti kau memakai apa yang kubelikan ini. Tidak ada alasan untuk menolak. Aku ingin melihat kau mengenakan pakaian yang terlihat mewah. Sekali lagi maaf. Jika waktu itu aku jujur mengatakan niatku sebenarnya meminta uang, pasti kau tidak akan memberikannya. Dan jangan marah pada sahabatmu ini ya. Nanti uangnya akan aku kembalikan jika kamu tidak ikhlas memberikannya. Barangkali saat kau menghadiri pesta pernikahanku. Kau akan bertemu dengan jodohmu nanti, jadi kau harus terlihat tampan dan menarik. Hehehe. Sudah sampai sini saja suratku. Jangan marah teman.
Zacky Ardha
Flashback off
Afran dibuat tersenyum ketika ia teringat kembali surat dari sahabatnya tempo lalu itu. Apalagi saat sahabatnya berfikir bahwa ia mungkin akan bertemu dengan jodohnya saat ia menghadiri pesta pernikahannya. Bahkan kini, ia sudah menjadi suami perempuan yang ia nantikan sejak setahun lalu.
"Amierra?" Afran menghampiri ranjang Amierra, lalu duduk di kursi sampingnya. "Aku pergi ke acara pernikahan sahabatku dulu. Mungkin akan lama, sampai sore nanti. Tapi tak apa. Aku sudah memesan adikku untuk menunggumu, dia akan sampai sini sebentar lagi."
Ya, hari ini Afran menyuruh adiknya untuk menjaga Amierra. Karena sejak Amierra sadar dari komanya, jika Afran kerja, saban hari yang menjaga Amierra adalah umi atau abinya. Jadi dia berusaha untuk tidak merepotkan mereka lagi.
"Jangan lupa makan ya. Kamu mau kubelikan apa nanti? Buah, makanan, atau apa?"
"Buah anggur saja."
Ini sudah hari ketujuh Amierra sadar dari komanya. Dan ia sekarang memang sudah sedikit terbuka dengan Afran. Walaupun tempo lalu ia kadang menolak perlakuan Afran saat ia kembali teringat akan semua yang menimpa dirinya adalah perbuatan suaminya itu. Tapi hati perempuan itu lembut, mau siapapun dan bagaimana pun orangnya, tak bisa dipungkiri bahwa hati perempuan dipenuhi kehangatan. Sesulit apapun mendekatinya, jika sedikit saja kamu bisa menyentuh hatinya, maka kamu sudah menang. Ia akan menerimamu dengan segenap hatinya.
Begitupun dengan Afran. Afran yang dikenal semua orang adalah laki-laki yang berperangai dingin, namun punya cara tersendiri untuk membuat Amierra merasa lebih istimewa dari wanita manapun. Sehingga Amierra berangsur-angsur sikapnya berubah. Tidak pernah lagi menyalahkan Afran atau menolak Afran. Mungkin Amierra juga mulai paham, jika tidak baik lama-lama membenci seseorang. Apalagi orang yang ia benci adalah suaminya sendiri. Ia takut jika dilaknat Allah nanti. Bagaimana pun juga walaupun Afran yang telah membuat dirinya seperti itu, ia akan berusaha untuk menerima Afran, dan mengikhlaskan mimpi-mimpinya secara perlahan.
"Baiklah nanti akan kubelikan," jawab Afran lalu mengecup kening Amierra lama.
"Ups. Aku datang di saat waktu yang tidak tepat." Afran langsung berdiri dan menoleh ke arah sumber suara.
"Masuklah, Key."
"Apa sudah selesai romantismenya?” Keysha langsung mendapat tatapan tajam dari Afran.
"Eh. Iya-iya kak," ujarnya dengan cengiran
"Ngomong-ngomong kamu terlihat sangat tampan dan mewah kak hari ini? Biasanya saja hanya sederhana penampilannya. Jangan-jangan kamu mau mencari perhatian wanita di sana, Kak?"
"Hei! Jaga ngomonganmu Keysha! Aku seperti ini karena yang meminta Zacky sendiri. Jangan berfikir macam-macam. Lagian mana mungkin aku mencari wanita lain, sedangkan wanita yang kutunggu-tunggu sudah hadir di hidupku." Mendengar jawaban Afran tersebut, membuat Amierra tersenyum malu-malu.
"Kamu bisa menggombal juga ya, Kak. Hehehe."
"Terserah. Aku akan berangkat sekarang. Jaga Amierra baik-baik. Jangan sampai dia telat makan. Setelah aku berangkat, suapi dia, dia belum sarapan tadi. Kamu harus membujuknya jika dia tidak mau. Oh iya, Amierra kalau makan tidak bisa di ruangan ini. Kamu harus membawanya ke taman rumah sakit. Obatnya ada di laci nakas. Dan langsung hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi hal yang tidak-tidak pada kalian terutama Amierra."
"Siap laksanakan, Komandan!"
"Aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Keysha dengan terkekeh geli. Ia tidak menyangka kakaknya yang suka berbicara irit itu menjadi lebih cerewet jika menyangkut tentang kakak iparnya. Bahkan kata-kata romantis tak jarang ia lontarkan.
"Kakak Ipar? Maaf aku baru bisa mengunjungimu. Tugas kuliah menumpuk. Hehehehe," ucap Keysha sambil duduk di sebelah ranjang Amierra dan menempatkan buah-buahan yang ia bawa di atas nakas.
"Aku heran dengan kakakku. Dia itu orangnya irit bicara, bahkan denganku sekalipun, tapi kalau menyangkut dirimu dia bisa cerewet juga ya? Bahkan tidak segan-segan ngegombal buat kakak ipar. Kakak ipar pasti sangat berharga bagi kakakku." Amierra hanya membalasnya dengan senyuman.
"Oh iya. Kenalkan namaku Keysha, Kak. Nama kakak ipar, Amierra kan?" Amierra mengangguk sebagai jawabannya.
"Ngomong-ngomong umur kakak baru 18 tahun ya, Kak? Berarti aku lebih tua satu tahun dari kakak."
"Oh ya?" Amierra pun akhirnya angkat bicara.
"Iya. Tapi tak apa kan aku memanggilmu Kakak? Karena kamu adalah kakak iparku, jadi biar lebih sopan."
"Iya. Tak apa. Kamu masih kuliah sekarang, semester keberapa?"
"Alhamdulillah sudah semester enam, Kak"
"Di umurmu yang baru 19 tahun?"
"Iya, Kak. Dulu aku waktu SMP sama SMA sekolahnya hanya dua tahun. Jadi saat umurku baru 17 tahun sudah kuliah."
"Kamu anak cerdas rupanya."
"Tidak juga, Kak. Lebih cerdas dari Kak Afran. Di umur 25 tahun dia sudah menjadi orang sukses. Aku iri dengannya."
"Kalian beruntung ya, bisa sekolah hingga perguruan tinggi. Masa depannya juga terjamin."
"Kak, tidak boleh seperti itu. Kami juga tidak akan seperti ini jika dulu tidak ada wanita baik hati yang mau menolong kami. Kami tidak seperti yang kakak pikirkan, yang hidupnya selalu kecukupan. Dulu aku dan Kak Afran juga pernah melalui masa-masa sulit."
"Masa-masa sulit?"
"Iya. Sekarang sarapan saja dulu, Kak. Kapan-kapan aku ceritakan pada kakak. Kakak sekarang, hanya perlu ikhlas menerima dengan apa yang menimpa kakak. Pasti Allah akan memberi balasan terbaik buat kakak."
.
.
.
"Melelahkan sekali hari ini. Masya Allah. Ngomong-ngomong, sekarang jam berapa?"
"Jam setengah tiga sore."
"Hufh. Sebentar lagi sudah mau ashar. Eh, kamu benar-benar tampan hari ini teman." Zacky terkekeh melihat Afran benar-benar menuruti kemauannya. Dan Zacky akui Afran benar-benar tampan hari ini. Hanya menggunakan pakaian seadanya saja dia tetap tampan. Apalagi memakai pakaian mewah seperti itu, lebih dari tampan.
"Hm."
Ya, setelah selesai acara resepsi pernikahan. Mereka memilih duduk santai, dan bersandar di kursi undangan yang sudah kosong, sambil menikmati kopi dan camilan yang tersedia. "Aku merasa rendah sekali tadi, masa sebagian mengira kamu mempelai prianya." Zacky mencebik ketika mengingat kejadian di acara pernikahannya. Mungkin karena saking tampannya Afran, para tamu undangan mengira jika mempelai prianya adalah Afran. Dan saat itu juga Zacky ingin bertukar wajah dengan sahabatnya itu.
"Siapa juga yang menyuruhku memakai pakaian ini," jawab Afran dingin.
Zacky melempar Afran dengan kacang yang baru saja ingin ia masukkan ke mulut.
"Ye. Aku tidak tahu akan terjadi seperti tadi. Ah, sudahlah. Aku memang sudah takdir tidak bisa mengalahkan ketampananmu."
"Ngomong-ngomong tentang masalah uang. Aku akan mengembalikannya. Dan maaf, aku sudah berbohong kepadamu."
"Tak apa. Tidak perlu dikembalikan." Afran kembali menyesap kopinya.
"Bener tak apa? Ikhlas tidak?"
"Apa aku pernah memintamu mengembalikan uang yang kamu minta. Tidak 'kan."
"Ah iya, benar. Terimakasih banyak, Pas Bos."
Sejenak keheningan menerpa keduanya, sebelum Afran kembali berbicara. "Zack? Bagaimana rasanya sudah menikah?" Afran menoleh pada Zacky yang masih asik memakan kacangnya.
"Astaga. Kamu tanya padaku seperti itu, seakan-akan kau belum menikah Fran."
"Apa kamu bahagia?"
Zacky tersenyum. "Sangat. Bahkan satu hari ini, tidak bisa diganti dengan seribu hari yang telah aku lewati. Tetapi, mengapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Semua orang yang menikah pasti bahagialah."
"Ya, mereka bahagia jika saling mencintai," ujar Afran lalu mengalihkan pandangannya dari Zacky.
Namun bukan Zacky namanya jika tidak peka dengan sahabatnya itu. Ia merasa ada yang tidak beres dari Afran. Lalu dia bangun dari sandarannya. Dan beralih menatap Afran yang duduk di sebelahnya dengan tatapan intimidasi.
"Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu, Fran?"
"Bukan begitu maksudku, Zack," jawab Afran seraya tertawa kecil. Zacky mengangkat alisnya, tidak mengerti apa maksud dari sahabatnya itu.
"Lalu?"
"Ahh. Sudahlah, lupakan." Afran meraih kopinya yang meja lalu menyesapnya.
"Astaghfirullah hal adzim. Untung sahabatku," ujarnya sambil memijat pelipisnya.
"Kamu pasti akan terkejut bila kuberitahu hal ini."
"Terserahlah. Terserah." Zacky memejamkan mata dan kembali bersandar di kursi. Dia tidak ingin lagi dibuat penasaran oleh sahabatnya itu.
"Amierra, istriku. Dia wanita yang setahun ini aku kagumi."
"Yayaya," acuh Zacky. Namun tak lama kemudian.
"Apa! Istrimu itu, gadis yang kalau tidak salah baru lulus SMA? Gadis yang biasa kamu ceritakan padaku. Cantik juga menurutku."
"Ingat sudah punya istri."
"Dasar. Pencemburu ulung."
"Hmm."
"Aku tidak percaya ini. Ini bukan hanya kebetulan. Kamu hanya korban, dan dia juga korban. Ah sudahlah, mungkin memang sudah takdirmu, Fran. Ngomong-ngomong, apa dia juga mencintaimu?" Afran hanya menghela nafas pelan dan menggelengkan kepala.
"Aku yakin pasti sebentar lagi dia akan mencintaimu teman. Hanya wanita bodoh, yang menolak sahabatku yang super duper baik ini."
"Tak perlu berlebihan, Zack. Aku juga hanya manusia biasa. Orang baik seperti Nabi Muhammad SAW saja, masih ada yang tidak menyukainya."
"Iya aku tahu. Tapi setidaknya kamu tidak boleh menyerah untuk mendapatkan cintamu itu. Kau harus meluluhkan hati istrimu."
"Tanpa kamu meminta pun, aku sudah melakukannya. Tetapi, cinta itu tidak bisa dipaksakan, Zack. Kita bisa berencana menikah dengan siapa saja, tapi tidak untuk mencintai. Cinta itu datangnya bukan direncanakan. Datangnya spontan dari hati."
"Sejak kapan kamu mulai puitis seperti ini? Belajar dari siapa kamu?" Afran hanya membalas dengan senyuman kecil.
"Ada-ada saja kamu ini, Fran."
"Sudah mau ashar. Ayo pergi ke masjid," ucap Afran sambil bangkit dari duduknya. Zacky kemudian menengok jam yang ada di tangannya. "Masih lima belas menit, Fran. Duduklah kembali, dan menikmati camilan ini lagi."
"Tidak, Zack. Lebih baik kita menunggu saja di masjid, daripada telat nanti," kata Afran sebelum berlalu meninggalkan Zacky.
"Iya. Tapi tunggu aku, Fran."
.
.
.
To be continued.
Sun November 7, 2021