.
.
.
Setelah sampai di taman rumah sakit, Afran menuju kursi panjang yang berada di bawah pohon. Ia duduk di sana, dan menempatkan Amierra berada di depannya. Suasana taman memang cukup ramai, banyak anak-anak yang juga bermain di sana.
"Makan sekarang, Amierra?" Afran mengambil alih mangkuk yang berisi bubur tadi dari tangan Amierra. Amierra hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia memang sudah tidak tahan menahan laparnya.
"Baiklah. Ayo buka mulutmu," titah Afran lalu menyuapkan buburnya. "Bagaimana rasanya?".
"Hm."
"Kalau ditanya baik-baik itu, jawabnya juga harus baik."
"Lumayan."
"Lumayan? Lebih enak masakanku pasti."
"Memangnya kamu bisa memasak?"
"Bisa saja. Nanti akan kubuktikan selepas kita pulang ke rumah. Akan kubuatkan makanan spesial untukmu."
"Jangan sombong dulu," ucap Amierra sambil memutar mata jengah.
"Bukan bermaksud sombong. Tapi memang begitu kenyataannya. Terima saja, kalau suamimu ini memang handal dalam memasak."
"Yayaya. Kamu bermaksud mengejekku yang tidak bisa memasak ini."
"Hei? Bukan seperti itu. Kalaupun kamu belum bisa memasak, nanti akan kuajari."
"Kamu lupa atau berpura-pura lupa, jika aku ini buta?"
"Apakah dengan gangguan penglihatanmu itu, membuat seolah-olah kamu tidak bisa apa-apa, hm?" timbal Afran, tak luput menyuapi Amierra dengan telaten.
"Ta...,"
"Jangan bicara saat makan, Amierra." Afran sengaja meregas perkataan Amierra, karena ia tak mau Amierra kembali mengungkit kekurangannya.
"Kam...,"
"Jangan bicara, Sayang."
Amierra jengah. Ia mengunyah makanannya dengan cepat. "TAPI KAMU YANG MENGAJAKKU BICARA SEDARI TADI KAK AFRAN!" ucapnya meninggikan satu oktaf.
"Ya jangan dijawab," ucapnya terkekeh.
"Bentar. Tadi kamu memanggilku apa?" Atensinya beralih ke Amierra dan menatap lekat wajah istrinya itu.
"Terserah!"
"Kakak? Kamu tadi memanggilku kakak? Cukup bagus. Aku tidak terlihat tua dengan panggilan itu." Seutas kurva tercipta di kedua sudut bibir Afran.
"Hm." Amierra benar-benar ingin menenggelamkan diri sekarang. Padahal dia ingin marah kepada Afran, dan membuat pria itu merasa bersalah. Tetapi karena kepandirannya dalam berucap tadi malah membuat Afran bahagia.
Afran kembali fokus menyuapi Amierra. Ia tahu sebenarnya jika istrinya itu sedang merajuk. Tetapi ia membiarkannya. Ia akui jika Amierra lebih cantik saat merajuk seperti itu.
"Sebenarnya aku tidak membutuhkan istri yang bisa memasak, atau mengerjakan pekerjaan rumah seperti istri pada umumnya," ujar Afran memecah keheningan. Kemudian perhatian Amierra terfokus pada perkataan Afran. Ia berusaha menelaah makna tersurat yang ada pada ucapan pria itu. Namun, nihil. Ia tidak menemukannya. "Maksudnya?"
"Aku hanya membutuhkanmu. Tidak perlu istri yang pada umumnya."
"Aku? Kamu bergantung pada diriku yang buta ini?"
"Amierra. Cukup! Jangan jadikan buta sebagai alasanmu seolah-olah tidak bisa apa-apa."
"Tapi kenyataannya seperti itu."
"Ini bukan masalah nyata atau tidaknya. Tapi bagaimana usahamu untuk tetap bisa melakukan apa-apa, terlepas dari penglihatanmu yang terbatas."
"Katakan! Apa yang bisa dan harus aku lakukan huh?"
"Tetap disisiku. Jangan pergi. Bahagiakan aku dan patuhi aku."
"Bagaimana caranya aku bisa mematuhi dan membahagiakanmu, sedangkan aku di sini tidak bisa melakukan apa-apa?"
"Itu lagi, itu lagi. Berhentilah mengucapkan aku tidak bisa apa-apa. Kamu di sini, menganggapku ada, mau menerimaku, mau menerima segala perlakuanku, itu sudah membuatku bahagia. Kamu bahagia, tertawa karena aku, itu pun sudah cukup."
"Lalu siapa yang akan melakukan pekerjaan rumah coba?"
"Di rumahku sudah ada pembantu. Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah."
"Hei, siapa di sini yang membuatku tidak bisa apa-apa? Bahkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tidak kamu perbolehkan."
"Karena banyak hal lain yang bisa kamu lakukan selain pekerjaan rumah. Aku hanya merasa khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak tidak kepadamu."
Memang benar adanya alasan Afran seperti itu. Ia tidak mau membahayakan Amierra dengan penglihatannya kini. Karena masih banyak hal yang Amierra bisa lakukan tanpa ada bahaya mengekorinya. Seperti menjadi makmumnya saat ia salat, mencium tangannya saat ia hendak bekerja, dan menyambutnya dengan senyuman kala ia pulang dari kerja, membangunkannya dengan sayang di pagi hari, bersendau gurau sebelum alam mimpi menjemput mereka, dan masih banyak lagi.
"Dan kini aku ingin bertanya. Kenapa kamu mau menikahiku? Memilihku sebagai istrimu. Kurasa kamu laki-laki sholeh, kaya, dan pintar. Perempuan sepertiku tidak pantas mendapat laki-laki sepertimu. Masih banyak perempuan lain yang lebih dari aku, dan pantas menjadi pasanganmu. Walaupun kamu yang menyebabkanku seperti ini, setidaknya aku tidak meminta pertanggungjawabanmu untuk menikahiku." Mendengar ucapan Amierra barusan, Afran sedikit terhenyak. Raut mukanya menyatakan tidak senang. Istri kecilnya bisa-bisanya berfikir sejauh itu. Padahal dia sama sekali tidak pernah memikirkannya.
Afran langsung menaruh bubur yang tinggal sedikit tadi di kursi. Lalu memegang kedua tangan Amierra, guna meredam amarah yang sudah sampai di ubun-ubunnya. "Karena aku jodohmu. Kamu bukan pilihanku, tetapi pilihan Allah. Dan aku tau pilihan Allah itu jauh lebih baik daripada pilihanku sendiri. Dan yang tentang masih banyak perempuan yang jauh lebih baik darimu, yang pantas menjadi pendampingku. Amierra? Hanya Allah yang tahu betul tingkat-tingkat akhlak kita. Jadi jangan merendahkan diri. Kita diciptakan berbeda, untuk saling melengkapi. Aku akan menuntunmu untuk menjadi istri yang sholeha. Dan kamu, ingatkan aku jika aku salah dalam memperlakukanmu sebagai istri. Jadi kita saling melengkapi untuk meraih surga-Nya. Jangan berfikir seperti itu lagi. Aku tidak suka. Aku ingin kamu apa adanya."
Jawaban Afran tersebut membuat Amierra merasa ada kupu-kupu berterbangan di perutnya. Secara ekstase, senyum mengukir di bibir mungilnya itu. Dan bohong, jika Afran tidak mengetahuinya. Amierra senyum seperti itu pun, membuat Afran bahagia. Dan Afran baru tau, kalau istrinya memeliki lesung pipit saat ia tersenyum. "Pradugaku salah. Ternyata kamu lebih cantik tersenyum seperti ini daripada merajuk seperti tadi." Mendengar perkataan Afran tersebut. Membuat senyum Amierra pudar. Ia baru sadar jika ia tadi tersenyum.
"Senyuman bak bidadari-bidadari surga. Dan semoga kau memang salah satu dari mereka kelak. Bahkan ratu dari bidadari-bidadari di surga nanti."
Jangan tanyakan keadaan Amierra sekarang. Menghirup oksigen pun dia sekarang kesusahan. Jantungnya juga berdetak sangat cepat. Wajahnya merona merah dan senyum dengan lesung pipitnya pun berusaha ia sembunyikan dari Afran dengan menundukkan kepala.
"Tidak perlu kau sembunyikan wajahmu, Amierra," ucap Afran sambil terkekeh. Hal yang akan menjadi kebiasaan kini adalah merayu Amierra.
"Kita kembali saja ke kamar sekarang," ucap Amierra berusaha datar sambil mendongakkan kepalanya.
"Kenapa? Buburnya belum habis."
"Ya terserah! Aku ingin kembali ke kamar sekarang!"
"Baiklah-baiklah. Kurasa memang benar. Sudah mau adzan magrib, dan aku juga mau sholat di mushola."
"Yasudah ayo! Nanti buburnya kamu habiskan saja."
"Iya, sayang. Apapun untukmu." Afran pun bangkit lalu menyerahkan buburnya kepada Amierra dan mendorong kursi rodanya.
"Aisshh. Dia ini menyebalkan sekali! Bisa tidak berhenti menggombal. Jantung ini tidak bisa berkompromi kalau dia terus menggombal. Bisa-bisa aku mati perlahan karena jantungan! Ya Allah. Naudzubillah," gerutu Amierra dalam hati.
Awan merah yang bergelantung di ufuk barat, burung-burung yang berterbangan kembali ke sarangnya, angin sore yang berhembus lembut, dan tumbuhan-tumbuhan yang bergoyang tertiup angin menjadi saksi. Awal kebahagiaan dua orang insan yang sama-sama memiliki kesedihan mendalam. Sore yang indah bagi mereka. Dan semoga seterusnya akan seperti itu. Tanpa ada dendam dan kebencian.
Semoga seterusnya seperti itu.
.
.
.
To be continued..
Sat November 6, 2021