.
.
.
"Amierra? Apa kamu sudah makan?" Hana beranjak dari sofa setelah ia menempatkan Nadira yang tertidur, dan kembali duduk di samping ranjang Amierra. Nadira memang tertidur tadi, setelah ia menuntaskan ceritanya. Amierra pun hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mau umi suapin?". Amierra kembali menggeleng pelan.
Sejenak. Keheningan meramu di ruangan itu, sebelum Amierra akhirnya angkat bicara. "Umi? Apa benar Umi-lah yang menyuruh Afran menikahiku sebagai bentuk tanggung jawab?"
"Iya, kenapa?" Hana mulai khawatir jika sang putri akan membencinya.
"Apa Umi tidak memahami perasaanku?"
"Umi hanya ingin yang terbaik untukmu, Amierra."
"Umi takut, ya? Jika tidak ada laki-laki yang mau meminang Amierra?" ucap Amierra dengan nada getir, matanya pun berkaca-kaca.
Ada jamuan jeda, setelah getar suara itu berhenti. Hana, yang ditanya pun hanya diam. Memang benar ia menikahkan putrinya itu dengan Afran, karena ia takut jika tidak ada laki-laki yang mau menikahi Amierra. Tetapi tidak sepenuhnya seperti itu. Ia dan Reyhan sudah mempertimbangkan matang-matang.
"Kenapa Umi hanya diam? Hufh... Yang aku katakan memang benar. Seharusnya aku tak lagi bertanya." Amierra mengembus napas kasar, lalu mengalihkan kepalanya membelakangi Hana.
"Amierra. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Percayalah pada umi, ini yang terbaik untukmu. Lagipula, Afran laki-laki baik dan saleh. Ia pasti bisa menjagamu dan membahagiakanmu, Amierra,"
"Umurku masih 18 tahun, Mi. Seharusnya aku masih menikmati masa-masa remajaku bersama teman-teman di luar sana. Bukan malah dinikahkan seperti ini. Apa karena aku buta, dan Umi berfikir jika aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa."
"Amierra! Jangan bicara seperti itu, Nak." Hana pun langsung memeluk Amierra. Kegamangan melanda hatinya, saat melihat anaknya rapuh seperti ini. Karena yang dari dulu ia lihat adalah Amierranya yang selalu ceria, tidak pendiam, dan berkata lembut dengan orang tuanya, bukan Amierra yang seperti ini, gadis yang seperti kehilangan semangat hidupnya.
"Amierra yang umi kenal adalah Amierra yang kuat. Gadis remaja yang tangguh. Jadi, umi yakin kamu pasti bisa melewati ujian ini, Amierra," ucap Hana sambil menengadah melihat langit-langit ruangan, kemudian memejamkan mata. Sakit, pedih. Itulah yang dirasakan seorang ibu jika melihat anaknya rapuh tidak berdaya.
.
.
.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Semburat awan merah menghiasi cakrawala, tanda sang senja akan mengakhiri petualangannya. Dan burung-burung pun berbondong-bondong kembali ke sarangnya, menghiasi langit Kota Bogor.
Sore di kota itu sangat damai. Begitupun juga dengan suasana RS Bakti Husada yang kembali tenang. Tak terkecuali dengan kamar nomor 54 Ahmad Dahlan, yang penghuninya pun hanya saling terdiam. Canggung. Itulah yang dapat menggambarkan suasana kamar itu.
"Amierra? Makan ya, Sayang?" bujuk Afran sembari mengusap pelan pucuk kepala Amierra yang tertutup kerudung.
Dipanggil "sayang" oleh Afran membuat semburat merah di pipi Amierra, dan membuat jantungnya berdetak tak normal.
"Tenang, Amierra. Ingat, dia yang menyebabkanmu seperti ini," batin Amierra Memang bukan hanya kali ini Amierra dipanggil sayang oleh Afran. Saat bertengkar tadi pun, Afran sering memanggilnya seperti itu. Tetapi ini berbeda. Amierra dalam keadaan sadar, tidak seperti tadi.
"Apa kamu ingin jalan-jalan di taman rumah sakit? Mungkin kamu juga membutuhkan refreshing agar tidak diam terus seperti ini?". Mendengar tawaran Afran itu, Amierra sangat antusias. Lagipula ia jenuh hanya duduk di atas ranjang seperti ini. Ia pun juga tidak berselera makan karena bau obat-obatan yang menyengat.
"Apa boleh?"
"Boleh saja. Tapi aku izin dahulu ke dokter. Sekalian meminjam kursi roda dan membelikanmu bubur lagi."
"Bubur yang tadi sudah kamu makan? Kenapa harus beli lagi?"
"Belum. Biar aku yang makan nanti. Akan kubelikan bubur yang hangat untukmu."
"Baiklah. Tetapi, kenapa harus memakai kursi roda?"
"Apa kamu lupa jika kakimu masih sakit?"
"Iya iya. Keadaanku seperti ini memang hanya merepotkan."
"Ssstt... Tidak boleh berbicara seperti itu atau kita tidak jadi jalan-jalan."
"Tidak jadi, ya sudah." Amierra mencebik.
"Hei? Kenapa kamu malah merajuk seperti ini? Baiklah, kita akan jalan-jalan, tapi kau harus makan saat di taman nanti." Amierra pun hanya mengangguk setuju.
"Apa aku harus mengajakmu jalan-jalan dulu, agar kau mau makan, hm?" goda Afran sambil mencubit gemas pipi kanan Amierra.
"Bau obat-obatan menyengat ini, yang membuatku tidak berselera makan. Jangan salahkan aku," jawab Amierra sambil mengerucutkan bibirnya.
"Siapa yang menyalahkanmu? Jika kamu tidak mau makan di ruangan ini. Berarti aku mendapat tugas baru. Yaitu mangajakmu keluar saat jam makanmu. Baiklah. Aku akan menemui dokter. Sekalian membeli bubur untukmu di kantin. Dan kamu tetap di sini. Aku akan segera kembali." Afran pun bangkit, tak lupa ia mengecup kening Amierra sebelum pergi.
Dan tinggalah Amierra sendirian di dalam ruangan. Rayhan, Hana, dan Nadira tadi memang sudah pulang sejak pukul empat sore. Karena jika pulangnya terlalu malam, kasihan Nadira yang besok masih sekolah. Amierra pun teringat dengan nasihat Abinya sebelum ia pulang.
"Amierra? Dengarkan Abi. Kamu memang belum bisa menerima Afran. Tapi berusahalah, Sayang. Berusahalah akan kehadirannya, berusahalah menghargai dia sebagai suamimu, berusahalah untuk menerima perlakuannya. Abi tahu, sangat tahu, dialah yang telah menjadikan putri kesayangan Abi seperti ini, Abi tahu betul akan perasaanmu, Amierra. Tetapi Abi percaya, dia laki-laki yang dipilihkan olehNya untukmu, yang akan membahagiakanmu, yang akan menuntunmu menjadi istri yang saleha. Percaya sama Abi, Abi tidak akan menyerahkan putri kesayangan Abi kepada laki-laki yang tidak baik. Memang awalnya Abi dan Umimu lah yang mendesak dia agar menikahimu. Tetapi sebelum itu, kami sudah mempertimbangkannya matang-matang, bukan asal menikahkanmu saja. Amierra? Sekali lagi Abi mohon, berusahalah Amierra. Bukalah hatimu untuknya. Jangan sampai kamu menyesal, ketika kamu baru menyadari bahwa kamu mencintainya, saat dia telah pergi meninggalkanmu. Pikirkan sekali lagi, Sayang. Jangan jadikan Allah melaknatmu, karena membenci suami sendiri. Abi sangat mencintaimu."
Yang dikatakan abinya memang benar. Tetapi, apakah mudah mencintai seseorang, yang kamu sendiri saja belum mengenalnya, apalagi, dialah yang telah membuatmu menderita? Itu sulit, atau bahkan tidak mungkin. Untuk mengatakannya memang mudah, tetapi sulit untuk melakukannya. Lalu sekarang? Bisakah ia mencintai Afran? Menerima Afran sebagai penggenap imannya?
.
.
.
Tidak lama kemudian, Afran kembali dengan mendorong kursi roda dan membawa semangkuk bubur yang masih hangat di tangan kanannya. "Dokter memperbolehkanmu jalan-jalan Amierra. Tetapi infusnya belum boleh dilepas," ucap Afran sambil menaruh sementara bubur tadi di meja, lalu menempatkan kursi roda ke dekat ranjang.
"Hufh. Menyusahkan."
"Jangan bangun dulu. Biarkan aku yang memindahkanmu ke kursi roda." Amierra hanya menurut.
"Hati-hati menggendongnya."
"Iya, sayang. Kalau sakit katakanlah." Afran langsung menggendong Amierra dengan hati-hati dan lembut, lalu mendudukannya di kursi roda.
"Tangan kanannya mu sakit tidak, Amierra?"
"Tidak, lumayan."
"Baiklah. Kamu nanti pegang buburnya untuk sementara, lalu aku yang mendorong." Afran pun langsung mengambil infus dan bubur tadi.
"Ini, peganglah, akan ku pasangkan infus ke tiangnya" ucapnya sambil memegangkan mangkuk bubur ke tangan Amierra. Afran tadi memang memilih kursi roda yang sudah dilengkapi tiang infus, saat dokter bilang jika belum diperbolehkan infus Amierra dilepas.
"Aku sangat merepotkan ya, hanya untuk makan saja?"
"Apa yang kamu katakan, hm? Ini sudah tanggung jawabku. Selagi itu kau yang merepotkanku, aku malah senang. Karena di sini, aku merasa dibutuhkan olehmu." Mendengar jawaban dari Afran, membuat hatinya berdesir, seperti terkena sengatan listrik.
"Minum obatnya di sini saja ya, sayang?"
"Iya, terserah," jawab Amierra berusaha biasa, padahal jantungnya sudah mau lepas karena dari tadi Afran hanya merayu saja.
"Baiklah. Mari kita jalan-jalan.". Akhirnya mereka keluar ruangan. Jalan-jalan menikmati pergantian waktu. Dalam hati, Afran sangat senang, dan ia berharap ini adalah awal kebahagiaan untuk hubungan mereka..
.
.
To be continued.
Mon September 27, 2021