19. Delusion of Happiness (2)

1242 Words
Chapter 19 : Delusion of Happiness (2) ****** SUASANA perjalanan mereka ke kantin sangatlah sunyi. Tidak ada yang memulai obrolan, atau lebih tepatnya… tidak ada yang berani berbicara. Situasi yang baru mereka lihat tadi sangatlah menyakitkan. Harin juga diam saja di sepanjang jalan. Dia berjalan… tetapi pikirannya melanglang buana. Dia tidak benar-benar melihat jalan. Otaknya mereka ulang semua yang barusan ia lihat. Sudah dua kali Harin melihat Jaekyung dan Seulhee bersama. Seulhee juga menelepon Jaekyung semalam, di waktu yang ‘terlalu malam’ untuk disebut teman biasa. Banyak orang yang sudah melihat kemesraan mereka hingga rumornya beredar luas. Oh, bukan hanya Seulhee, melainkan banyak perempuan. Jaekyung sering terlihat bersama banyak perempuan. Menggoda, mengobrol akrab sambil ‘menyentuh’… Hampir semua orang sudah melihat itu. Namun, Seulhee adalah yang paling dirumorkan secara signifikan, soalnya gadis itu sangat populer di kampus. Dia dan Jaekyung sudah jadi “pasangan ideal”. Tadi, dia dan Jaekyung juga telah membuktikan pendapat itu. Mereka memakai jaket yang sama (entah itu kebetulan atau bukan) dan terlihat serasi sekali, seperti power couple kampus yang berdiri di koridor. Harin merasa kecil sekali karena dia hanyalah anak MIPA yang biasa saja dibandingkan mereka. Jaekyung juga terlihat sangat produktif, segar, siap tampil di depan publik, sementara Harin merasa berantakan di dalam. Sebenarnya, Harin jauh lebih berprestasi daripada Seulhee, tetapi hatinya terlalu tergores untuk melihat kelebihannya sendiri. Dia dikenal sebagai salah satu mahasiswi ‘emas’ yang selalu memenangkan olimpiade Matematika, selalu mengantongi prestasi akademik, dan juga cantik. Namun, ya… dia memang tidak se‘beken’ Seulhee yang terkenal karena kecantikan, fashion, dan kekayaannya. Ibaratnya, kalau Harin adalah ‘profesor pintar yang cantik’, Seulhee adalah ‘supermodel cantik yang sangat kaya dan terkenal’. Apa yang Jaekyung dan Seulhee lakukan di koridor itu? Well, Student Center memang seperti jantungnya kampus, tetapi… mengapa mereka harus mesra-mesraan di tempat umum begitu? Mengapa tidak di gedung Bisnis saja? Entahlah. Harin malas memikirkannya. Sesampainya di kantin, Harin langsung menuju mesin otomatis. Tidak ada keraguan dalam gerakannya saat menekan layar, membayar, dan mengambil secarik kertas kupon. Dia mengantre dengan tenang di depan konter, mengambil nasi goreng yang masih mengepul, lalu berjalan menuju meja di pojok yang agak jauh dari keramaian. Semua itu dia lakukan bersama Areum dan Yumi yang sesekali mengecek keadaannya dan saling melirik, ragu-ragu untuk berbicara. Areum dan Yumi duduk berhadapan dengan Harin. Pelan-pelan, mereka mulai memakan makanan mereka masing-masing. Harin menyuapkan sesendok nasi goreng itu ke mulutnya. Rasanya hambar, seperti mengunyah kertas, tetapi dia tetap mengunyahnya dengan ritme yang teratur. Ekspresinya datar. Setelah sekian lama berada di dalam keheningan yang menyiksa itu (well, sudah beberapa menit kalau dihitung dari saat mereka berjalan ke kantin tadi!), akhirnya Areum mendengkus dan meletakkan sendoknya ke atas nampan dengan kuat. Dia tidak tahan lagi. Spontan saja, Harin dan Yumi menatap ke arahnya. “Harin,” ujar Areum. “Putuskan saja Jaekyung itu.” Harin dan Yumi langsung terdiam. Mata mereka melebar samar, tetapi hanya sejenak. Harin langsung paham mengapa Areum mengatakan itu… begitu pula Yumi. Mereka bertiga sama-sama berhenti makan. Yumi menghela napas. Dia menatap Harin dengan prihatin. “Iya, Harin. Aku tahu kalau mungkin itu sulit untukmu mengingat kalian sudah menjalin hubungan selama lima tahun, tetapi Jaekyung memang sudah keterlaluan.” Di otak Areum dan Yumi, sudah ada dugaan kalau Harin akan sedikit menolak untuk langsung putus. Mereka menebak kalau Harin mungkin akan sedikit keras kepala, sedikit menunda, atau sedikit… berpikir. Maka dari itu, mereka harus meyakinkan Harin sekarang. “Dia tidak memikirkanmu sama sekali,” ujar Areum. “Dia sadar bahwa dia masih berhubungan denganmu, dia sadar bahwa dia bermesraan dengan Seulhee di tempat ramai, dia sadar bahwa itu jam makan siang dan kemungkinan besar kau akan melihatnya. Dia melakukan semuanya dalam keadaan sadar. Dia tidak menghormatimu.” Harin hanya diam. Saat menyimak Areum, ekspresinya masih datar. “Benar.” Yumi mengangguk. “Itu seperti menghinamu. Meludahimu. Berita soal mereka sudah beredar luas, Harin. Jika kau terus diam, orang-orang akan menganggapmu... tidak punya harga diri." “Lagi pula, apa spesialnya si Seulhee itu?!” ujar Areum. “Dia hanya—" “Dia adalah primadona di universitas ini, Areum,” jawab Harin dengan tenang, padahal hatinya teriris saat mengatakan itu. Areum jadi kesal. “Hah?!! Dia tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu!!! Dia hanya menang kaya saja!! Kau cantik dan kau jauh lebih cerdas darinya!! Semua pakaian dan gayanya yang seperti artis itu, kan, karena uangnya!!” “Harin,” panggil Yumi. Dia juga merasa ‘panas’. Rasanya dia ingin melihat Harin dan Jaekyung putus sekarang juga. “Ini sudah terjadi berkali-kali. Kita bertiga sudah sering mendengar atau melihat Jaekyung bersama perempuan lain. Kita juga sudah beberapa kali membicarakan masalah ini. Untuk yang kali ini, tolong jangan diam saja, Harin. Ini sudah keterlaluan.” “Ya. Jaekyung sudah menyakitimu berkali-kali sejak beberapa bulan belakangan,” ujar Areum. “Aku tahu kalau kau masih berpikir panjang karena histori kalian, terutama dia dulunya tidak begitu, tetapi sekarang kenyataannya sudah berbeda. Aku tahu ini berat, tetapi tolong, Harin, aku tak tahan melihat situasi ini. Sebagai temanmu, aku ingin kau terlepas darinya dan melupakannya meskipun itu sulit.” “Iya,” tambah Yumi. “Ini adalah tahun terakhir kita juga. Sebentar lagi kita wisuda dan kau takkan bertemu dengannya lagi. Kami akan menemanimu agar kau tak merasa kesepian.” Areum menghela napas. Dia menyentuh punggung tangan Harin yang terletak di atas meja. “Putuskan dia, ya? Hari ini juga, Harin.” Areum dan Yumi menunggu jawaban Harin dengan jantung yang berdegup kencang. Mereka waswas. Mereka takut Harin akan memberikan respons yang sama seperti sebelumnya, seperti: diam saja, ‘Aku akan memikirkannya’, atau ‘Aku akan melihat situasinya terlebih dahulu’. Namun, ternyata… respons Harin kali ini seratus persen berbeda. Responsnya itu sukses membuat Areum dan Yumi membelalakkan mata sekaligus lega. Soalnya, responsnya adalah: “Rencanaku begitu.” Ya. Benar. Tidak ada masa depan untuk hubungan seperti ini. Ini sama sekali tidak layak untuk dipertahankan. Areum dan Yumi senang bukan kepalang saat mendengar keputusan Harin. Mereka hampir melompat di kursi, memegangi tangan Harin, lalu lanjut menghina-hina Seulhee di depan Harin sambil makan. Harin hanya diam. Setelah makan, Harin pun langsung mengirimkan sebuah pesan kepada Jaekyung. Seo Harin 1.30 PM Jaekyung, ayo bertemu sebentar sore ini. Balasan dari Jaekyung datang dengan cepat. Jae❤️ 1.31 PM Sayang, seharusnya aku memang pulang bersamamu seperti biasa, tetapi hari ini aku tak bisa 😟 Aku baru mau mengabarimu kalau aku ada urusan dengan Ayah. Nanti malam, aku ada pertandingan balap. Boleh aku menjemputmu? Aku ingin kau datang melihatku. Temani aku, ya, Cinta? —Read, 1.31 PM Oh, rasanya sungguh ironis melihat kata-kata manis Jaekyung itu, terutama setelah Harin menyaksikan adegan romantisnya bersama Seulhee. Sayang? Cinta? Harin menggeram. Tangannya terkepal. Napasnya tak beraturan. Dia menyesal telah membiarkan pemuda itu menyentuhnya semalam. Lagi pula, ‘urusan dengan Ayah’? Biasanya, Jaekyung tak mau bertemu dengan ayahnya. Pemuda itu membenci ayahnya. Akhirnya, Harin pun membalas pesan Jaekyung. Baiklah, kalau itu yang Jaekyung mau. Harin akan memutuskan Jaekyung di arena balap liar itu. Jaekyung biasanya akan menang. Setelah pemuda itu menang… …Harin akan memutuskan hubungan mereka, lalu langsung pulang. Dia akan memutuskan Jaekyung di tempat yang paling Jaekyung banggakan. Seo Harin 1.35 PM Baiklah. Jae❤️ 1.36 PM Kau mau? Thank you, Cinta. Aku sudah tak melihatmu seharian, jadi aku sangat merindukanmu. Nanti malam adalah hadiah untukku. Aku akan menjemputmu jam 7 malam. Mau makan dahulu atau langsung pergi saja, Sayang? I love you so f*****g much, My Queen. —Read, 1.36 PM Hah?! []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD